MEN-DEFENISIKAN HARI ESOK

Sabtu, 09 Juni 20120 komentar


Disampaikan pada acara LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Santri),  di Pondok Pesantren “DARUSSALAM” Dukuhwaluh, Purwokerto, Jawa Tengah, Ahad, 10 Juni 2012

A.  Tentang Kemarin, Saat ini, Nanti, Esok dan Lusa
Tak ada satupun manusia yang tahu dengan pasti apa yang terjadi sedetik kemudian, hari esok atau lusa, sebab itu  hak prerogatif Allah SWT. Kalau kemudian orang mencoba menerawang, maka itu tak lebih hanya lah sebatas proyeksi atau prakiraan yang mendasarkan kebiasaan-kebiasaan berulang, telusur akal berbasis  ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Dalam Al-qur’an, kita mendapati juga bisa mendapati istilah “lauful Mahfuz” sebagai penegas bahwa apapun yang telah, saat ini dan akan terjadi kemudian di muka bumi ini sudah tercatat di dalamnya. Namun tak satupun manusia yang tahu apa isinya, sebab pengetahuan tentang hal itu hanya milik Allah SWT. Karena ketidaktahuannya itu lah,  sebagai ciptaan Allah yang dikarunia akal dan fikiran, dalam memenuhi segala kebutuhan dan pencapaian mimpinya,  manusia wajib berusaha dengan memanfaatkan semesta alam seisinya dengan penuh tanggungjawab . Bahkan Allah pun menegaskan tidak akan merubah nasib sebuah kaum kecuali kaum itu merubahnya. Artinya, dalam dalam siklus manusia mewujudkan mimpinya,  Allah mengambil posisi sebagai pemberi  taufik & hidayah, pemberi restu (baca: meridhoi), melipatgandakan hasil bagi yang dikedendaki-Nya, menjaga dan bahkan bisa juga meniadakannya.


Satu hal lagi, Allah juga senantiasa seperti prasangka hamban-Nya. Atas dasar itu pula sebaiknya setiap hamba senantiasa berfikiran positif dan optimis. Namun satu hal yang layak menjadi perenungan, hamba yang “berkualifikasi seperti apakah” sehingga sikap Allah akan seiring seperti prasangka hamba-Nya. Hal ini bisa ditelusur melalui  ilmu  ketauhidan dan peningkatan kualitas keimanan. Namun demikian, anda tak perlu melakukannya jika keberpihakan-Nya diyakini  “bukan”  bagian terbesar dari kunci meraih sebuah kesuksesan.

B.  Hidup adalah cobaan


 Sebagian dari kita sering meng-identikkan “cobaan” dengan kesedihan atau kebelumberhasilan. Padahal sesungguhnya apapun kondisi yang datang dalam hidup kita, apakah itu senang atau sedih, semuanya  adalah “cobaan”.

Dengan hadirnya cobaan “kesedihan”, manusia diuji  apakah hal itu akan membuatnya  lebih mendekat atau justru lebih menjauh dari Sang Khalik.  Sementara itu, dengan hadirnya “kebahagiaan”, manusia  diuji sejauh mana dia bersyukur, sejauh mana hal ini membuat dia lebih merendahkan hatinya, sejauh mana kualitas kedekatannya dibanding saat  kesuksesan belum datang. Fakta menunjukkan, banyak orang yang lulus dengan kesedihan,kepedihan dan tangguh terhadap ragam rintangan, tetapi tak jarang sedikit orang yang  justru lalai dalam kebehasilan sehingga menjadi sombong dan lupa daratan.
penambahan bangunan pesantren

Kemudian, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, satu tanya layak mengemuka; bisakah “sama” tingkat kekhusu’an berdo’a  dan kadar tetes air mata  seorang hamba baik saat keberhasilan belum datang maupun keberhasilan sudah di genggaman????

C.  Persembahkan Pada Allah Sebentuk Fakta Layak
Setiap orang menginginkan apa yang datang ke hidupnya sesuai  dengan apa yang dia inginkan dan impikan. Namun, dalam kenyataannya tidak selalu demikian.  Lihat dan amatilah di saat yang sama sebagian manusia terlihat ceria dan sebagian lain ada yang tampak muram dengan wajah kusut dan tatapan mata  kosong sebagai ekspresi mewakili kenyataan yang kurang menyenangkan.  

mesjid pesantren
Setiap orang menginginkan keberhasilan, tetapi sebenarnya tidak setiap orang sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan itu sendiri. Hal ini terlihat dari kurang relevan-nya antara “langkah” dengan “mimpi”, sehingga efektivitas langkah yang diambil justru menjauh dari arah mimpi itu sendiri.



Dalam perspektif horizontal, mimpi tak berwujud secara tiba-tiba, tetapi harus melalui rangkaian upaya dan juga memerlukan waktu yang terkadang cukup lama. Bahkan tak jarang dalam perjalanannya menemukan karang terjal yang sering melemahkan semangat.  Perjuangan memerlukan keterjagaan spirit dan mental yang kuat. Keberhasilan tidak tersaji untuk para pemalas atau pecundang, tetapi hanya bagi mereka yang tekun, tak kenal lelah dan tak pernah menyerah dalam mencapai sebuah mimpi. Disamping itu, perjuangan juga memerlukan keikhlasan berkorban dan kesabaran dalam berproses. Sementara itu, dalam perspektif vertikal, keberhasilan hanya tersaji bagi mereka yang layak menurut pandangan Allah SWT  untuk mencicipinya. 

Untuk itu, sebagai langkah terbaik dalam menggapai sebuah mimpi, kombinasi upaya maksimal dan kepasrahan kepada Allah sepenuhnya tentang hasil akhir perjuangan, selayaknya dijadikan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

ketua panitia
Sebagai bahan kontemplasi, sebagian manusia terkadang terjebak men-Tuhan kan logika (akal dan fikirannya), sehingga ketika hasil  akhir dari serangkaian upaya dan pengorbanan   tak seperti inginnya, keputusasaan dan frustasi menghinggapi hidupnya. Manusia tersebut tidak bisa lagi menghadirkan fikiran-fikiran positif dan pembacaan yang menginspirasi  semangat dan energi  terjaga, padahal bisa saja ketertundaan keberhasilan adalah bentuk kasih sayang  Allah yang benar-benar nyata. Sebaliknya, ketika hasil akhir sesuai inginnya, maka manusia tersebut berpotensi jatuh dalam perasaan hebat, lebih baik dari orang lain dan bahkan tak jarang  lupa besyukur pada Sang Pencipta.     

D.  5 (lima) Langkah
Sebagai  stimulan berfikir, berikut ini dijelaskan  sepenggal gagasan tentang 5 (lima) tahap membentuk hidup damai dan sukses, yaitu ; (i) bangun niat   baik; (ii) defenisikan cita-cita setinggi mungkin; (iii) optimalkan potensi, energi dan waktu yang dititipkan Allah SWT; (iv) berdo’alah dengan materi yang tidak egois dan; (v) pasrah kan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah SWT.

E.  Penghujung
Demikian disampaikan sebagai bahan dalam sesi diskusi pelatihan dari kepemimpinan santri. Semoga  menginspirasi dan menambah hasanah berfikir kita semua. Disamping itu, semoga ini juga momentum strategis untuk membangun dan memperluas kebermaknaan bagi manusia lainnya. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved