MAAF..KAMU TER-PHK

Kamis, 26 Januari 20120 komentar


Baru saja mukzi dan istrinya  memasuki rumah setelah mengantar  anak-anaknya ke sekolah, tiba-tiba HP nya berbunyi menandakan ada SMS masuk. Dia langsung baca dan ternyata dari partner kerjanya di sebuah institusi kesehatan  yang kebeteulan menjabat sebagai penanggungjawab medis.  “Slmt pg pak, ini skdr masukan, mslh saudara Guntur, sampai sekarang mnrt kami tidak ada perkembangan dalam kinerja, sehingga hal ini merepotkan teman sejawatnya. Saya khawatir  hal  ini mempengaruhi  kualitas pelayanan kita pada pasien,  Bgmn mnrt pak Mukzi? Apa ada calon krywn lain?. Ini Hal ini sekedar masukan pak, tmsk complain dr semua teman dokter . Mtrnwn pak, semua demi kelancaran pelayanan. Mudah-mudahan bisa mendapatkan karyawan baru  yg bisa diajak kerjasama dengan baik”. Demikian bunyi SMS itu. ”Oke Dok, segera saya tindaklanjuti”, Jawab Mukzi.

Setelah sekejap berfikir cepat, mukzi langsung memanggil Guntur ke rumah mukzi lewat SMS. Beliau bermaksud mendiskusikan hal ini dengan bijak, mengingat keluarga Mukzi  dekat dengan keluarga karyawan ini. Tak lama berselang, Guntur sudah tiba di rumah mukzi.

Mukzi memulai pembicaraan ringan dengan menanyakan kabar keluarga dan juga tentang kelancaran kuliahnya (kebetulan Guntur masih berstatus mahasiswa semester 6 di sebuah perguruan tinggi  swasta terkenal). Setelah menemukan momentum dan suasana santai, Mukzi baru masuk ke inti persoalan mengapa  Guntur dipanggil.  ”Mas Guntur, sepertinya kawan-kawan di kantor sudah kehilangan motivasi  berpartner dengan anda. Cara2 dan perubahan sikap yang coba ditampilkan mas Guntur sebagai respon komplain pertama tak cukup membuat mereka merasa nyaman. Saya sebenarnya  tak menginginkan hal ini terjadi, tetapi penerimaan yang rendah atas karakter dan segala sikap mas  Guntur di  lingkungan temen-temen   bisa berpengaruh pada kualitas pelayanan secara menyeluruh.  Menurut mas Guntur, sebaiknya langkah bijak apa yang sebaiknya kita ambil. Demikian kalimat Mukzi sambil menunjukkan SMS tersebut pada Guntur.  Sesaat setelah membaca nya, Guntur kemudian menjawab; ” Sebenarnya saya sudah merasakan perbedaan sikap temen-temen 2 (dua) minggu terakhir. Mereka cenderung kurang respek dan cuek  pada saya. Disisi lain, saya menyadari bahwa kinerja saya juga memang buruk dan sering melakukan kesalahan. Ntah kenapa, saya tak punya gairah untuk melakukan yang terbaik saat kerja. Saya kurang fokus dan sering SMS saat jam kerja berlangsung. Sebenarnya saya malu pada Bapak . Saya minta maaf  kepada Pak  Mukzi, karena sudah menjadi beban bagi bapak. Menurut saya, sebaiknya saya mengundurkan diri saja Pak mulai hari ini dan lebih fokus pada kuliah. Ini pelajaran yang baik buat saya ke depan. Kalimat Guntur itu mengalir  dalam nada yang pelan dan disertai wajah menunduk. Kemudian Mukzi menjawab; ” Ya..saya berfikir itu hal terbaik yang harus dilakukan, karena ini komplain ke-2 dari temen-temen di kantor tentang kinerja Mas Guntur. Saya sepakat dengan Mas Guntur untuk menjadikan hal ini sebagai pelajaran yang baik. Mas Guntur masih muda dan masih punya waktu yang panjang dalam merangkai masa depan. Fokus pada kuliah dan menjadikan ini pengalaman dalam menata hidup yang lebih bijak layak dijadikan prioritas Mas Guntur ke depan. Tak perlu patah semangat, sebab ini bukan tentang masalah ”ketidakcerdasan”, tetapi tentang kebelum-mampuan melakukan penyesuaian diri sehingga fungsi penerimaan lingkungan menjadi rendah. Saya tak berfikir ini sebuah akhir dari karir pribadi Mas Guntur , tetapi ini sebagai awal  untuk memasuki jenjang karir yang sesungguhnya nanti ketika Mas Guntur sudah menjadi seorang sarjana.   So...kalau memang itu sudah menjadi keputusan Mas Guntur, saya meghormatinya dan akan menyampaikan hal ini pada kawan-kawan di kantor”. Sesaat Mukzi berhenti bicara dan membiarkan efek psichologis kalimat itu masuk ke dalam fikiran Guntur. Setelah Mukzi meyakinkan Guntur tegar dan bersemangat, Mukzi melanjutkan pembicaraannya; ” oh ya Mas Guntur, kalau Mas Guntur memerlukan surat pengalam kerja, nanti saya akan terbitkan. Namun, agar  tidak keliru dalam hal data diri, tolong saya di emailkan data pribadi Mas Guntur ya mulai dari nama lengkap, NIK, tempat dan tanggal lahir.  siapa tahu ada perubahan data dari yang dulu.” Kemudian Guntur menjawab; ”baik pak Mukzi, akan saya emailkan nanti sore. Terima kasih Pak Mukzi atas kesempatan yang sudah diberikan kepada saya. Saya juga mendapat banyak pelajaran selama ini baik dari proses kerja maupun dari nasehat2 bapak. Kalau begitu, saya mohon izin pamit dulu Pak”.

Akhirnya Guntur berpamitan pada mukzi dan istrinya sambil mengucapkan sekali lagi permohonan maaf dan terimakasih. Kemudian Mukzi dan istrinya mengantar Guntur sampai ke depan rumah dan sesaat kemudian Guntur berlalu dengan sepeda motornya. Sepulangnya Guntur, Mukzi menghela nafas panjang dan tak kuasa menahan tetes air matanya. Sejak dulu, mukzi paling benci kalau harus ada karyawan yang keluar karena bermasalah dalam kinerja. Disisi lain, mukzi harus bersikap profesional dan mengutamakan kepentingan institusi. Di akhir keterperanjatan rasa, dia berkesimpulan bahwa kejadian ini menjadi masukan berharga bagi dirinya untuk lebih bisa membina karyawan/ti yang bekerja di lingkungannya.

Sore harinya, saat mukzi dan istrinya sedang menemanin anaknya nonton sinetron ”tendangan si Madun”, tiba2 HP mukzi berbunyi pertanda ada email masuk. Untuk menghormati suasana asik nonton bareng anak-anak, mukzi membuka email tersebut saat ada jeda iklan. Hmmmm.. ternyata email dari Guntur. Sesaat Mukzi menarik nafas panjang sebelum membaca detail email. Awalnya mukzi menduga hanya sebatas informasi nama, alamat, NIK dan tempat tanggal lahir. Ternyata, Guntur juga menyertakan hasil kontemplasinya sepanjang hari sejak pagi tadi.    
        
Ketika merenung dan melihat : dari air wudlu, kita belajar ketenangan... dari batu hitam, kita belajar ketegaran... dari kupu-kupu, kita belajar perubahan... dari padi, kita belajar rendah hati... dari Rasulullah saw, kita belajar kasih sayang yang sempurna... melihat ke atas memperoleh semangat untuk maju... melihat ke bawah kita belajar bersyukur atas semua yang ada... melihat kesamping kita bisa menjalin kebersamaan... melihat kebelakang kita memperoleh pengalaman... melihat ke dalam kita belajar intropeksi diri... melihat ke depan untuk sesuatu yang lebih baik... Hidup ini PENUH MAKNA bila kita senantiasa  mengharapkan Ridho Allah SWT...
   
 Terima kasih atas Kesempatan yang sudah bapak berikan. Semoga ini menjadi pengalaman yang berharga buat saya...

Sebuah pesan bijak yang menggambarkan keluasan dan kebijakan pandangan.  Guntur sama sekali tak menyangka kalimat bijak ini bisa keluar dari seorang Guntur yang masih tergolong usia labil.  
mukzi meyakini bahwa kejadian ini akan menjadikan Guntur menjadi orang besar di suatu waktu....selamat jalan Guntur, aku yakin kamu akan menjadi laki-laki yang membanggakan lewat karyamu yang luar biasa......
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved