MENELISIK WIRAUSAHA

Rabu, 27 Juli 20110 komentar

A. Pendahuluan
Hidup adalah persoalan pilihan dan kesempatan. Namun semangat untuk tetap hidup dan membuat hidup lebih hidup, menggiring semua orang berjuang menciptakan sumber kehidupan dengan mengoptimalkan segala potensi/talenta yang ada padanya.

Berbicara tentang sumber kehidupan, secara umum pilihan yang tersedia ada 2 (dua) yaitu; (i) mengikuti dan; (2) mandiri dan atau bahkan diikuti. Pada pilihan ”mengikuti”, anda bisa mengikuti negara (menjadi PNS bila berkesempatan) dan atau mengikuti perusahaan (menjadi karyawan). Konsekuensi dari pilihan ini adalah harus patuh dan taat terhadap yang diikuti. dari sisi lain, keteraturan hidup biasanya lebih terjamin dalam pilihan ini. Sementara itu, kendala yang selalu dikeluhkan pada pilihan ini adalah terbatasnya kesempatan, sehingga untuk mendapatkannya harus bersaing dan saling mengalahkan satu sama lain mengisi tempat yang terbatas.

Sementara itu, pada pilihan mandiri dan atau diikuti, anda pada posisi pengatur untuk diri anda sendiri dan juga untuk orang yang mengikuti anda. Disisi lain, kebenaran pengaturannya hanya terukur dari hasil akhir sebuah perjuangan. Dari sisi keteraturan, pilihan mandiri tampak lebih tidak teratur dan lekat dengan kebelumpastian walau mengandung peluang untuk mendapatkan yang lebih besar. Sementara itu, dari sisi kesempatan terbuka bagi siapapun dan kapanpun, karena memasuki wilayah ini tak memerlukan ”pengajuan lamaran”.

2 (dua) pilihan tersebut masing-masing memiliki sisi enak dan sisi tidak enak. Namun demikian, pada manapun pilihan sepenuhnya terserah anda. Hanya saja, sebelum melakukan pilihan, sadari betul konsekuensi yang mengikutinya. Dengan demikian, anda akan terhindar pada penyesalan di kemudian hari.


B. Setiap kelahiran memiliki hak atas hidup dan kehidupan.
Tuhan Sang Pencipta memiliki sifat maha penyayang dan penuh tanggungjawab atas setiap ciptaan-Nya. Artinya, setiap kehidupan yang dihadirkan Nya selalu diikuti dengan hak atas hidup. Bentangan alam dengan segala isinya, siang dan malam yang berganti secara beraturan, pergantian musim adalah ragam ciptaan Tuhan yang mengindikasikan adanya peluang kehidupan. Tuhan pun melengkapi manusia dengan ”rasa dan akal” sebagai bekal untuk menterjemahkan dan mengolah segala ciptaan Nya bagi mendukung keberlangusngan kehidupan. Tuhan hanya berpesan untuk senantiasa bijaksana dan tidak menyebabkan kerusakan di muka bumi. Tuhan juga memberi tuntunan agar manusia tetap pada lingkar kasih sayang-Nya. Disamping itu, Tuhan pun mendefenisikan segala bentuk sikap dan tindakan yang memancing amarah-Nya.

Alinea diatas menjadi penjelas yang nyata bahwa tak ada alasan yang cukup bagi manusia untuk menyerah dan tidak berbuat apa-apa. Keberhasilan tidaklah sebentuk hadiah yang datang tiba-tiba. Keberhasilan adalah anugerah dan keberpihakan–Nya atas upaya manusia yang sunguh-sungguh dalam proses pencapaiannya.


C. Keadilan Tuhan di Pencapaian Berbeda
Dalam proses keterciptaan pertahanan dan sumber kehidupan, ada orang yang bekerja tak kenal waktu dan ada pula yang bekerja hanya 6 atau 8 jam per hari. Ada yang bekerja di belakang meja dengan memeras otak, ada pula yang membanting tulang dari pagi sampai sore. Ini menarik menjadi bahan renungan, sebab hal ini benar-benar terjadi di sekitar kita dan bahkan kita sendiri juga mengalaminya.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan manusia untuk mempertahankan dan membentuk warna hidupnya, ada satu kenyataan dimana masing-masing memiliki hasil akhir berbeda. Perbedaan ini pula yang kemudian melahirkan istilah kaya, miskin, fakir, sederhana dan lain sebagainya. Terbersit tanya apa yang menjadi penyebabnya?.

Dalam pemaknaan yang keliru, bisa jadi si miskin akan mempertanyakan keadilan Tuhan dan si kaya akan menjadi pongah dan merasa lebih mulia dari yang lain. Dalam pemaknaan bijak, keterpeliharaan dan keterjagaan keyakinan bahwa Tuhan selalu adil, si miskin akan tetep mensyukurinya sekaligus melakukan auto koreksi untuk menemukan apa yang harus diperbaiki untuk hasil yang lebih baik. Si kaya akan menysukurinya dengan memahami bahwa apa yang diperoleh adalah sebentuk cobaan yang harus diterjemahkan dengan bijaksana demi keterpeliharaan daya dukung Tuhan dalam hidupnya. Pada akhirnya, terbersit tanya...untuk apa sesungguhnya kita bekerja dan susah payah melakukan sesuatu dalam hidup kita...???


D. Niat Berwirausaha

Menekuni wirausaha sesungguhnya adalah permasalahan pilihan dan komitmen yang mendasarinya. Sebelum memulai terjun, sebaiknya di dahului dengan penegasan ”niat ”. Sekilas penegasan semacam ini tampak mudah, tetapi hal ini sangat penting dan mempengaruhi segenap fikiran dan tindakan seseorang dalam menjalankan profesi wirausaha.

Sekedar bersaran, apapun defenisi ”niat” yang terbangun hendaklah mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
1.Unsur menyemangati diri sendiri untuk terus berbuat yang terbaik dan menjauhkan dari kemungkinan untuk menyerah.
Fakta lapangan sering menunjukkan bahwa kenyataan tak seindah bayang. Ragam kesulitan kerap kali melemahkan semangat dan bahkan tak jarang terbawa pada kondisi ketiadaan asa. Pada titik inilah diperlukan ketangguhan mental dan keterpeliharaan berfikir positif dan optimis bahwa harapan selalu ada...dan selalu ada...sepanjang anda berfikir ada.
2.Unsur kepedulian kepada sesama.
Masuknya unsur kepedulian (seperti ingin bermanfaat bagi banyak orang, ingin menolong orang lain lewat penciptaan kesempatan kerja dsb) dalam menjalankan wirausaha seringkali mempengaruhi kadar keberpihakan Tuhan dalam hasil akhir dari sebuah perjuangan. Sebagaimana dijelaskan pada alinea2 sebelumnya, bahwa setiap kelahiran manusia, Tuhan memberi hak atas rejeki. Di sisi lain, besar kecil rejeki seseorang sangat ditentukan oleh kesungguhan dan keberpihakan Tuhan. Dengan demikian, ketika anda memiliki banyak karyawan, itu artinya pada diri anda terdapat kepercayaan dari Tuhan untuk mendistribusian rejeki yang ditetapkan Tuhan pada mereka melalui anda. Disinilah letak kemuliaan wirausaha itu sesungguhnya..KAH??.
3.Unsur Tuhan dalam pencapaian impian.
Tuhan adalah fakta penentu atas segala sesuatu yang hadir dan hilang dari hidup manusia. Tuhan sesungguhnya sesuai prasangka hamba-Nya. Artinya, keberpihakan Tuhan terhadap segala upaya yang dilakukan manusia sangat dipengaruhi seberapa jauh seseorang memposisikan Tuhan dalam setiap fikiran dan tindakannya.


E. Mentalitas dalam wirausaha
”kepastian terletak pada ketidakpastian itu sendiri”. Itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan dunia wirausaha. Tak ada yang bisa menjamin apa yang terjadi satu detik dari saat ini, tak ada yang bisa menjelaskan secara pati apa yang terjadi esok hari, tak ada yang bisa menjamin berapa hasil penjualan esok hari, tak ada yang bisa mengatakan bahwa esok toko anda masih berdiri tegak seperti hari ini, tak ada yang menjamin bahwa jumlah pelanggan yang datang sama, lebih sedikit, atau lebih banyak besok hari, bahkan tak seorang yang menjamin bahwa besok anda masih hidup. Dengan demikian, dimanakah sesungguhnya letak kepastian itu..???

Ketika mengambil pilihan wirausaha, setelah mendefenisikan ”niat”, hal selanjutnya yang harus disiapkan adalah ”mentalitas tangguh’. Seorang wirausaha tidak boleh hanya terbuai pada mimpi indah, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk hasil yang terburuk sekalipun. Seorang wirausaha harus senantiasa memelihara ”fikiran positif” tanpa meniadakan ”kewaspadaan” atas setiap langkah yang dilakukan. Seorang wirausaha harus senantiasa optimis dan semangat dalam menjalani segala tahapan menuju keberhasilan. Seorang wirausaha harus membangun cara fikir yang menyemangati, bukan menjebakkan diri pada cara berfikir yang melemahkan dan menggiring pada ketiadaan asa.

Seorang wirausaha harus ikhlas dan mensyukuri atas sebuah pencapaian apapun bentuknya. Ketika ada ketidakpuasan didalamnya, maka hal itu akan dijadikan sebagai bahan auto koreksi untuk berbuat yang lebih baik diselanjutnya. Ketika hasil akhir benar-benar memuaskan, seorang wirausaha akan menghindarkan diri dari sikap eforia (berlebihan) dan senantiasa memelihara kewaspadaan dan mempersiapkan diri untuk lebih baik di waktu berikutnya.

Apapun yang dijalankan seorang wirausahawan hanya akan berakhir pada 2 (dua) hal; ”berhasil” dan ”belum berhasil”. Seorang wirausahawan harus siap pada situasi manapun. Disinilah mentalitas menjadi penting bagi seorang wirausahawan. Bagaimana dengan anda, siap KAH???


F. Memulai Menekuni Wirausaha

Anda bisa memulai menekuni wirausaha kapanpun dan dimanapun anda menghendakinya. Sekedar bersaran, mulailah wirausaha dengan kata ”siapa” bukan dengan kata ”apa”. Seorang wirausahawan selalu berorientasi pada sasaran atau dengan kata lain ”market/pasar”. Selanjutnya, melalui pendalaman market akan memberikan inspirasi dan keberanian pengambilan keputusan tentang ”apa” yang akan ditekuni.

Jual lah apa yang dibutuhkan, bukan menjual apa yang anda punya. Cara ini memberi peluang besar untuk meraih kesuksesan, sebab persoalan anda hanya bagaimana memberi pelayanan yang baik sehingga mereka memutuskan untuk membeli. Berbeda ketika menjual apa yang anda punyai, dimana kemungkinan mereka memang tidak membutuhkannya.


G. Penutup
Pada akhirnya, wirausaha adalah persoalan semangat, keberanian dan kemauan belajar pada diri sendiri (pengalaman) dan juga pada orang lain, serta permasalahan keyakinan akan keberpihakan Tuhan. Instuisi dan kecepatan merespon dan memanfaatkan peluang yang ada menjadi alat bantu dan menggiring anda pada pencapaian-pencapaian yang dahsyat. Kesabaran, keikhlasan, kesungguhan dan keterpeliharaan Tuhan dalam setiap fikiran dan tindakan anda sesungguhnya menjadi faktor penentu atas perjuangan panjang dan berliku. Semoga Tuhan senantiasa mendukung setiap langkah dan upaya kita untuk melakukan hal terbaik untuk sebuah mimpi yang telah terdefenisi. Amin
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved