TULISAN TAK BER-JUDUL dan TAK BERMUASAL

Selasa, 05 April 20110 komentar

Kau bangun kedigdayaanmu dalam judul membangun sebuah kebaikan. Berbagai konsep kau telorkan atas nama pemberdayaan untuk menegaskan eksistensi dan citra diri sebagai orang yang peduli. Kau sisipkan kepentingan pragmatismu dalam setiap pemikiran brilian yang acap kali kau utarakan di berbagai kesempatan.
Bukannya mereka yang mendengar tak tahu atas apa yang ada dibenakmu. Rekam jejakmu diingatan mereka menginspirasi untuk meniadakan kebenaran dalam kalimatmu yang terkadang sesungguhnya mengandung kebenaran. Taat dan patuh, itulah pilihan yang tersedia pada mereka. Sebuah pilihan sikap ditengah ketiadaan pilihan lain yang mereka punya.
Adalah Fakta tak terbantahkan kalau mereka telah hidup dari sebuah komunitas dimana kamu ada didalamnya dan berpengaruh besar. Ketakutan mereka akan sebuah masa depan dan kekurangyakinan atas kedigdayaan Tuhan dalam peta hidup, menjadi 2 (dua) hal yang membentuk jalan mulus atas segala bentuk keinginanmu.
Bersahabat denganmu adalah pilihan yang tersedia, kecuali mereka memilih untuk merubah paradigma dan memutar balik haluan hidup. Tetapi itu tidak dipilih, karena sama saja bertaruh di kegelapan. Kondisi ini pula yang kemudian mereka defenisikan sebagai sebuah tekanan, tanpa merubah spirit mereka untuk mematuhimu karena beban hidup yang harus tetap berjawab. Kamu kah sesungguhnya mesin penjawab??? Ataukah mereka yang terlalu picik mendefenisikan pada dirimu lah satu2 nya jawaban ada.
Berkomunikasi dengan mu dalam keseimbangan adalah mimpi di siang bolong bagi mereka.Kebencian yang lahir mereka redam sebatas dalam hati dan menjadi tumpukan gundah yang tak pernah tersampaikan, atau mereka membicarakan dengan teman sejawat atas nama persamaan nasib dan rasa yang sering kali menggagu ketenangan hidup, itu pun saat kamu lagi bepergian.
Pada titik inilah, penghalangmu hanya Tuhan, kecuali akumulasi korbanmu menggalang kekuatan dan merobohkan keperkasaanmu. Tetapi....hanya intervensi Tuhan yang mendukung niatan itu. Logikamu membuat segalanya menjadi mungkin. Jaringan kekuasaan yang tersistematis terus mengokohkanmu. Kekhawatiranmu tiba hanya ketika rezim berganti, karena saat itulah kamu diliputi kebimbangan..akankah tetap bertahan???.
Kematianmu sesungguhnya dinantikan, sangat dinantikan oleh mereka yang mendefenisikan diri sebagai korban. Mereka akan berduyun menghantarkan jenazahmu atas nama penghormatan terakhir padamu. Sepanjang perjalan menuju kuburmu, sesungguhnya terbersit dalam hati rasa syukur atas kepergianmu untuk selamanya. Sesudahnya..mereka pergi, meninggalkan kuburmu dan bertanya...akan kah penggantimu akan melahirkan "rasa" yang sama ???. Pasrah....hanya itu yang ada ketika ragam tanya tak menemukan jawabnya.
Inikah hidup sesungguhnya???. Adakah kata "keadilan" dan "kebijaksanaan" memang kata yang cukup menarik di pelajari atau diskusikan, atau hanya dijadikan bahan untuk meraup daya dukung untuk menjadi sesuatu???. Adakah tindakan saling memanfaatkan, berteriak diatas jerit dan keringat orang lain, menjadi bagian romantika hidup yang akan selalu ada??. Adakah ragam keterbatasan selalu menggiring untuk sebuah sikap permisif??.Kalau demikian, bukankah kata "ikhlas" menjadi identik dengan bendera putih..???.
"Kematian" mungkin hanya satu-satunya penjawab mana yang "benar dan salah" lewat ragam tanya dan sikap para malaikat atas setiap jawab yang diberikan sang mayat. Ironisnya...yang mati tak pernah kembali dan memberitakan jawaban yang sebenarnya.
Kalau begitu...apa itu sesungguhnya "kebenaran"???. Ragam defenisi dan konsepsi yang dibaca sebagai pengantar tidur selalu termentahkan oleh ragam realitas kala terjaga. Adakah kebenaran berdiri sendiri dan tak berpihak..???, ataukah realitas selalu berhasil membentuk defenisi tentang kebenaran..???.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved