MAAFKAN AKU GURU...SELAMAT JALAN TULANG....

Minggu, 19 Desember 20101komentar

Terakhir kali kuingat kau menyapa untuk menanyakan kabarku dua tahun yang lalu, ku katakan aku sedang berjuang sebagaimana kau juga menyampaikan hal yang sama. Sejujurnya aku malu pada diriku sendiri ketika tak bisa menjawab inginmu saat itu. Namun..kamu bijak dan bisa mengerti tentang situasiku yang juga tak jauh denga keadaanmu...sama2 berjuang meraih mimpi.

Lama tak berkabar...ku dengar engkau m

enghilang dari peredaran...menjauh dari lingkar keluarga dan memilih tuk menyendiri. Dari sudut kelelakian, kufahami langkahmu bukan sebuah keasalahan, tetapi bentuk penegasanmu tentang tekadmu untuk menjadi seorang pria. Sedikitpun tak ada dibenakku menilai langkah itu sebagai sesuatu yang keliru..bahkan aku bangga padamu. Kamu telah mengambil tanggungjawab kelelakian untuk membentuk hidup diatas kakimu sendiri. Sebuah sikap yang bisa ditauladani,khususnya bagaimana hidup harus diperjuangkan.

Sebagai murid dan sebagai sesama lelaki yang sama2 masih berjuang...aku ingin melihat karya itu menjadi nyata. Sebagai keponakan, aku juga ingin melihatmu sebagai Tulang yang berdiri tegak oleh buah fikir dan keringatmu....dan aku pun ingin mendudukkan diri sebagai keponakan dihadapan seorang Tulang yang berdiri berlatar karya2 besarnya dan bisa menyemangatiku. Sampai detik ini, aku pun yakin kau menghilang dibeberapa waktu lalu untuk menunjukkan sesuatu pada semua orang disuatu waktu....

Pohon-pohon itu sudah berdiri dan mungkin sekejap lagi akan berbuah...namun kau tak sempat melihatnya,dan mungkin kau pun belum sempat menikmatinya dan bahkan kau tak sempat menunjukkan kepadaku karya itu sebagai bukti tak terbantahkan kebenaran pilihan langkahmu dan sebagai faktor yang memperkuat posisimu sebagai guru di pandanganku..

Kemarin sore..ku mendapat kabar engkau telah pergi untuk selamanya...bahkan aku baru tahu bahwa kamu telah berjuang untuk penyakit yang menggerogotimu...rasa berdosa ini tak terkira. Seketika ingin ku gugat realitasku yang tak ada saat kamu berjuang melawan sakit, saat kamu menghembuskan nafas terakhir untuk memenuhi takdir mu, mengikuti defenisi Tuhan tentang waktu mu. Sebagai murid, aku pun belum bisa menunjukkan karya yang membuatmu bangga, yang membuatmu merasa tak sia-sia telah mendidikku dengan segala upaya lelah mu. Aku belum bisa menunjukkan data dan fakta yang membanggakanmu sebagai mana aku pernah bisa menunjukkan nilai raportku di yogya..aku masih ingat bagaimana ekspresimu sebagai seorang pelatih, aku masih ingat..aku masih ingat bagaimana kamu begitu bersemangat mengantarkanku dengan motor GL mu ke terminal untuk pulang ke kampung berlibur ...

Sumpahku terbangun ketika satu persatu kalian memilih untuk pulang ke kampung halaman untuk menterjemahkan segenap ilmu yang kalian dapat diperantauan dengan segenap mimpi yang membungkusnya. Ku tetap bertahan...dan bertekad akan berkumpul lagi di suatu waktu, membentuk sebuah aktivitas yang menegaskan persahabatan dan persaudaraan kita yang pernah terbina di Yogyakarya, yang menegaskan niat kita untuk membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang....namun saat aku masih berjuang di sini menghimpun bekal...kau telah menggenapi masa mu di dunia ini...aku terhenyak dan hanya bisa menangis. Jarakku tak mungkin untuk bisa melihat jasadmu untuk terakhir kali sebelum kamu berkalang tanah dan menemui Tuhan.

Aku malu..aku malu pada diri sendiri, aku merasa menjadi murid yang belum bisa berbakti..aku merasa menjadi keponakan yang belum bisa berguna. Mengapa secepat ini...mengapa???????...mengapa saat aku belum sempat berterimakasih lewat menunjukkan karya yang membuatmu bangga sebagai seorang guru...Aku tahu ini takdir, aku tak mungkin menggugat Tuhan tentang ketetapan-Nya. Ruang yang tersisa hanya berdoa dan mengucapkan selamat jalan untukmu...semoga linang air mata seorang murid ini menginspirasi Tuhan menempatkanmu di sisi yang mulia...

Aku akan ingat selalu apa yang engkau ajarkan untukku..akan aku jadikan sebagai peganganku dalam mengarungi dan menterjemahkan hidup dalam perluasan kebermaknaan...dengan cara itulah engkau akan senantiasa hadir di hisupku..dengan cara itu pula ku harap Tuhan akan senantiasa menolongmu...

Sekelumit Kenangan Bersamamu
Dengan status yang sama sebagai anak kos, aku tak pernah lupa bagaimana kita urunan untuk membeli indomie, kemudian selalu saling curiga dalam kesamaan takaran tiap mangkok dari kuali yang sama. Aku ingat, bagaimana engkau memobilisasi segenap penghuni rumah kontrakan demi ambisimu mencoba resep masakan baru yang engkau baca di koran. Aku pun terkadang terpaksa bilang enak demi menyemangatimu...tetapi cilakanya itu semakin menyemangatimu untuk terus mencoba menu2 baru yang tertulis di koran/majalah.

Aku pun tak lupa menangis ketika kamu memilih untuk menonton film yang lagi heboh ketimbang mengantarkanku ke sebuah bimbingan belajar. Kontrakan yang engkau komandani dengan penuh cerita, perdebatan kusir kala tangan segenap penghuni rumah sedang menyantap rantang catering telah melahirkan istilah DEMO CRAZY...lebaran yang selalu kita rayakan dengan cara kita sendiri..membuat ketupat ketan yang tak berkualitas hingga aku di gelar "DATU". Perseteruan-perseteruan intlektual yang mengedepankan harga diri ketimbang obyektivitas...

Aku ingat, bagaimana kita selalu terjebak pada matematika dasar hanya urusan hutang piutang yg nilainya terkadang tidak lebih dari Rp 1.000,oo, aku ingat bagaiama semangatnya kamu mengajakku untuk membeli mie ayam demangan tiap kali wesel datang...aku ingat bagaimana engkau menggedor kamarku hanya untuk bercerita yang tak bertema...aku ingat bagaimana mimpimu tentang membangun perkebunan kelapa sawit dan rumah makan di lintas sumatera...aku ingat bagaimana amarahmu ketika aku terkena panah asmara cinta monyet...aku ingat bagaimana kamu selalu menantangku agar berprestasi...aku masih ingat semua...aku masih ingat saat kita semua menjadi anak kos dan menjadi satu keluarga di kontrakan condong catur...aku masih ingat semua itu walau sudah hambir 17 tahun berlalu...kepergianmu membuat rekam jejak itu tertayang kembali di memoriku..

Aku Kehilangan...tetapi aku akan senantiasa mengingatmu lewat kehadiran seluruh ajaranmu dalam langkah-langkahku dalam menterjemahkan kesempatan hidup yang masih di berikan Tuhan..

Selamat Jalan Guruku...Selamat Jalan TULANG IRHAM RITONGA...semoga Allah senantiasa menempatkanmu pada sisi yang mulia...Amin...

Salam Sayang dan penghormatan yang sedalam-dalamnya.....
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

eka novaryanti dalimunthe
20 Desember 2010 08.21

Tak hanya bang arsyad saja yang kehilangan. Tapi kami (eka, fadly, mamak sebagai orang yg dl menitipkan anak2nya di yogya) jg amat kehilangan. Dan aq sendiripun tidak pernah punya kesempatan tuk berbagi ilmu yg kudapatkan di semarang. Padahal semua yg kudapat skr adalah buah tangan dari beliau yg dengan sukarela dulu mengantarkanku memberi semangat ke semarang tuk menuntut ilmu di rantau orang. Terima kasih guru(bagiku beliau jg adl guru segala bidang pelajaran)maafkan kesalahan kami. Semoga Allah menempatkanmu disisiNYa yang mulia.

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved