MEMBONGKAR ISTILAH WIRAUSAHA

Rabu, 24 November 20100 komentar

Disampaikan pada DIKLAT “Entrepreneurship” di Univ. Muhammadiyah Purwokerto Tgl 23 April 2004


I.  Pendahuluan


Dalam proses perjalanan hidup yang panjang, saya mencoba merangkai langkah demi menciptakan harapan untuk mewujudkan impian. Sampai saat ini, proses itu masih berlangsung dan masih jauh dari yang namanya “sukses”.

Oleh karena itu, kalau dikatakan kehadiran saya dihadapan saudara/I peserta Diklat kali ini dipersonifikasikan  sebagai wakil orang sukses, sejujurnya itu betul-betul penilaian yang salah. Tetapi kalau dikatakan mewakili “orang yang punya semangat”, saya relatif setuju.

Oleh karena itu, pada season kali ini, kita manfaatkan untuk saling tukar informasi dan pengalaman.  Dengan demikian diharapkan akan mampu menambah wawasan kita semua dan selanjutnya menambah semangat kita untuk menekuni dunia wirausaha.

II.  Harapan, Probabilitas dan Kapasitas

II.1.  Harapan dan Probabilitas

Kalau dilakukan survey terhadap 1000 (seribu) orang tua yang anaknya diwisuda, saya yakin tidak ada 5% (lima prosen) orang tua yang akan bertanya pada putera/I nya sesudah lulus mau usaha apa?. Akan tetapi sebagian besar akan berharap kalau anaknya akan bekerja di perusahaan besar, bekerja pakai dasi, menjadi pegawai negeri dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dalam harapan itu, namun perlu diingat harapan itu selalu berbanding terbalik dengan peluang yang ada. Sering kita temui, ketika ada perekrutan PNS dimana kapasitas yang tersedia adalah 20 orang, peminatnya/pelamar  mencapai angka sampai 2000 (dua ribu) orang dan bahkan lebih.  Hal demikian juga terjadi pada proses perekrutan calon karyawan BUMN dan atau BUMS. Hal ini pulalah yang kemudian memperbesar angka pengangguran di negara kita tercinta ini. Apakah anda akan menambah angka pengangguran itu ?.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti anda, saya hanya menyampaikan realitas. Namun bukan berarti anda tidak punya peluang untuk menjadi PNS dan atau menjadi karyawan BUMN/BUMS. Semua orang punya peluang yang sama, namun semakin banyak peminatnya, semakin kecil probabilitas anda untuk sampai pada titik harapan. Namun demikian, kalaupun anda memilih untuk tetap ikut antrian lamaran pekerjaan….sejujurnya itu hak anda sepenuhnya. Siapa tahu nasib baik sedang berpihak pada anda.


II.2. Kapasitas Yang Dipertanyakan…..?????

Kalau kita mengamati koran,majalah dan atau media sejenis, sebenarnya hampir setiap hari menampilkan kolom “peluang kerja”. Namun ironisnya, peluang tersebut mencantumkan serangkaian persyaratan yang membuat para pelamar sampai pada titik asa terendah. 

Dari sisi pencari kerja, persyaratan ini memang sangat menjengkelkan. Namun,  dari sudut pandang kepentingan owner/pemilik perusahaan, pencantuman persyaratan yang demikian adalah merupakan hal yang wajar. Setidaknya, ada 2 (dua) alasan logis yang mendukung:
1.    Kalau anda menjadi pemilik perusahaan, anda pasti menginginkan punya karyawan/ti yang mempunyai spesifikasi keahlian yang mumpuni, sehingga resiko kegagalan usaha menjadi lebih kecil. Disamping itu,
2.    Kalau kedatangan anda sebagai karyawan justru menambah biaya dan bukan menambah produktifitas, hanya pengusaha gila-lah yang akanmenerima anda.

Oleh karena itu, kalau anda memang memilih untuk mencari pekerjaan setidaknya ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan :
1.    Model/jenis pekerjaan yang anda idam-idamkan. Inilah langkah awal yang harus anda lakukan, sehingga anda punya target yang jelas. Hal ini harus dilakukan jauh sebelum anda akan berburu pekerjaan.
2.    Memahami dengan jelas segala sesuatu yang berkaitan dengan jenis pekerjaan yang anda idam-idamkan.
3.    Melakukan serangkaian persiapan yang konstruktif sejak dini, sehingga pada saat melamar, anda sudah memiliki keahlian sebagaimana yang dipersyaratkan.

Jika anda tidak melakukan 3 (tiga) hal tersebut diatas, maka bersiaplah bermimpi sepanjang masa.

III.  Kewirausahaan


Disamping mencari kerja, sebenarnya anda memiliki peluang yang tidak terbatas dan terbuka setiap saat kapanpun anda mau memasukinya.  Disamping itu, peluang ini tidak mensyaratkan untuk menulis lamaran dan juga tidak melalui proses rekruitmen panjang.  Akan tetapi hanya memerlukan keberanian,tekad bulat dan keuletan, yaitu berwirausaha.

Kewirausahaan merupakan sikap mental untuk mandiri lewat menciptakan sesuatu yang mampu menambah dan atau menciptakan nilai tambah. Dalam bahasa sederhana, saya selalu membuat 4 (empat) tahapan berfikir  dan selalu menjadi pakem saya dalam proses menjadi seorang wirausahawan, yaitu:

1.    Pada dasarnya wirausaha/bisnis adalah usaha untuk memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita, dengan cara-cara yang disukai Tuhan dan atau Syaitan…..(namun jangan memilih cara yang disukai syaitan).
2.    Bisnis adalah proses menyenangkan orang lain untuk menyenangkan diri sendiri. Ingat, jangan sampai dibalik pernyataan ini.
3.    Pada titik tertentu, bisnis akan berkembang dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, maka bisnis adalah tindakan menolong orang lain disamping anda juga menolong diri sendiri.
4.    Menolong orang lain adalah tindakan terpuji, disukai Tuhan dan merupakan salah satu jalan untuk menuju ke sorga.

Dari 4 (empat) pakem diatas, sesungguhnya wirausaha bukanlah sesuatu yang hina, melainkan mengandung makna ibadah. Jadi…sepanjang dilakukan atas dasar niat untuk ibadah, adakah alasan anda untuk mengatakan bisnis adalah dosa. Namun, perlu diingat menjadi wirausahawan memerlukan waktu, kesabaran dan keuletan. Tetapi sepanjang anda punya keyakinan, Insya Allah anda akan menjadi seperti apa yang anda cita-citakan.


IV.  Kendala Menjadi Wirausahawan

Ketika anda berfikir dan memutuskan untuk menjadi wirausahawan, biasanya anda menghadapi 4 (empat) masalah sekaligus, yaitu:
1.    Faktor Intern diri anda sendiri
2.    Daya dukung keluarga dan lingkungan
3.    Modalnya dari mana ?
4.    Pertanyaan mau usaha/bisnis apa ?

4 (empat) permasalahan mendasar ini hampir selalu datang bersamaaan, sehingga kondisi ini sering mempengaruhi niat seseorang  untuk menggeluti dunia usaha. Tapi, sebelum anda mengalami hal itu, bukanlah hal yang jelek untuk mencoba melihat beberapa cara pandang berikut ini, dengan satu harapan anda mengambil keputusan pada pilihan yang benar.


IV.2. Faktor Intern (diri sendiri).

Apakah aku mampu, malu..ah mosok anak pak…..dodolan, nek ora payu.piye.. isin ah. Perasaan-perasaan dan fikiran semacam ini selalu menghantui ketika anda akan memulai. Oleh karena itu, moment yang terpenting dalam dunia usaha adalah ketika anda mempunyai tekad yang kuat dan siap memulai apapun resikonya. Insya Allah dengan niat yang kuat, tulus dan ikhlas, Tuhan akan berpihak pada anda. Tetapi kalau anda melakukannya dengan niat setengah-setengah, saya sarankan jangan pernah memulainya. Ingat.. dalam dunia usaha ada prinsip…”nek wani aja wedhi-wedhi, nek wedhi aja wani-wani”.


IV.2.  Daya Dukung Keluarga dan Lingkungan

Tidak bisa dipungkiri, keluarga dan  lingkungan ikut berpengaruh dalam proses pembentukan kepribadian seseorang.  Sehingga adalah hal yang wajar, kepribadian yang terbentuk merupakan bagian dari personifikasi lingkungan dan keluarga.  Kalau kontribusi  lingkungan dan keluarga menjadikan seseorang dalam titik yang benar, mungkin hal ini tidak menjadi masalah dan bahkan pantas untuk disyukuri.  Akan tetapi andai sebaliknya, ini bukan hanya menjadi masalah saat ini, akan tetapi juga merupakan gambaran betapa suramnya masa depan anda. Bagaimana dengan kewirausahaan ?

Sejarah kehidupan bernegara menunjukkan bahwa kita pernah dijajah dan dikuasai oleh bangsa lain. Diakui atau tidak diakui, pengalaman pahit itu telah mempengaruhi bangsa kita untuk menjadi  bangsa pengikut (follower) dan bahkan panakut. Sifat penakut merupakan bagian yang terpenting untuk diamputasi, apabila anda ingin menjadi wirausahawan.

Disamping itu, “persepsi  dan ekspektasi/harapan” masyarakat menyekolahkan anaknya adalah agar bisa bekerja pada perusahaan besar dan atau menjadi PNS. Sehingga apabila ada seorang anak ingin menggeluti dunia usaha malah tidak didukung bahkan ditakut-takuti. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat kita lebih suka mengikuti dan bukan diikuti. Bagaimana sebaiknya sikap anda?.

Tanpa bermaksud memprovokasi, ada 2 (dua) cara hidup yang mungkin bisa anda pilih :
1.    Cara Hidup Seperti Kebanyakan Orang, mereka berangkat kerja jam 07.00 pagi, tidur siang jam 15.00, Jam 21.00 tidur dan begitu seterusnya.  Cara hidup demikian dianut kebanyakan orang.
2.    Cara Hidup Diluar Kebiasaan Orang. Ketika kebanyakan orang tidur siang, justru anda sedang bekerja. Ketika orang bekerja, anda juga bekerja. Tentu hal ini tidak lazim dan diluar kebiasaan orang.

Kedua cara hidup diatas memang begitu kontras, Bagaimana hasil akhirnya ?. Berbicara hasil akhir, kita bicara kemungkinan. Kalau merunut dari logika normal, maka kalau orang yang cara hidupnya seperti kebanyakan orang, maka hasil akhirnya dapat dipastikan seperti kebanyakan orang. Akan tetapi bagi cara hidup yang aneh, kemungkinan keberhasilannya melebihi kebanyakan orang dan atau kegagalannya juga melebihi kegagalan orang lain (hancur sama sekali). Cara mana yang anda pilih ?.



IV.3.  Modalnya dari mana ?

Hampir 90% orang yang punya niatan untuk memulai usaha selalu diliputi pertanyaan modalnya dari mana, saya kan nggak punya modal...? Saya sepakat dengan salah satu pengusaha terkenal (Purdi Chandra/Primagama Group) yang mengatakan modal terkuat dalam berusaha adalah motivasi dan kemauan keras. Ketika anda punya motivasi dan kemauan keras, maka apapun akan anda upayakan sepanjang mampu membantu anda sampai pada titik yang anda harapkan. Jatuh bangun adalah hal yang biasa, yang terpenting adalah bagaimana caranya 99 (sembilan puluh sembilan)  kegagalan dapat ditutup dengan 1 (satu) kemenangan (pendapat: Robert Teyosaki).

Dalam konteks motivasi dan tekad, bisnis adalah menjual apa yang anda bisa dan bukan mengeluh dengan apa yang anda tidak punya dan tidak bisa. Jadi mulailah dari hal yang paling sederhana, sebab pemikiran yang besar selalu diawali dari yang kecil, jadi jangan pernah malu dan atau berkecil hati.


IV.4.  Bisnis Apa?.

Ketika anda mau mulai menggeluti dunia usaha, maka mulailah dari kata “Who?”. Hal ini untuk menjawab “siapa” calon konsumen yang menjadi sasaran anda. Kalau anda sudah menemukan jawabannya, kenalilah mereka secara umum dan petakan tentang kebutuhan mereka. Kemudian  juallah apa yang dibutuhkan. Dengan demikian, peluang anda untuk sukses diawal akan semakin besar .

Disamping cara tersebut diatas, dibawah ini saya sampaikan Tips untuk membantu dalam proses pencarian  ide. Misalnya anda mentargetkan calon konsumen anda adalah orang (human). Cobalah berdiri dicermin, coba renungkan sudah berapa bisnis yang tercipta dari ujung kaki sampai ujung rambut, sudah berapa orang yang menjadi karyawan pada perusahaan yang memenuhi kebutuhan dari ujung kaki sampai ujung rambut.  Sekarang tinggal tergantung anda, ujung mana  yang akan anda jadikan bisnis?


V.  Penutup

Demikian beberapa pemikiran saya tentang kewirausahaan, semoga tulisan ini bermanfaat dan berkontribusi dalam proses perwujudan mimpi yang kita idamkan. Amin.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved