KULIAH DADAKAN “KEBANGSAAN ” DARI SANG JENDERAL (PURN) SUNARTO

Jumat, 03 September 20210 komentar

KULIAH DADAKAN “KEBANGSAAN ” 

DARI SANG JENDERAL (PURN) SUNARTO


Mohon izin…apakah saya bisa bertemu dengan Bapak Jenderal Sunarto…saya mau menyampaikan beberapa pesan dari temen sejawat beliau dulu saat masih sama-sama aktif”, tanyaku saat pintu dibukakan setelah memencat bell untuk kesekian kali. “Maaf banget..bapak lagi kurang sehat…tapi coba saya sampaikan ke beliau dulu ya”, ungkap wanita paru baya dan kemudian masuk ke dalam sambil mempersilahkanku duduk di kursi teras rumah.


Pagi Jenderal Sunarto….” sapaku dan langsung mengambil sikap sempurna sambil memberi hormat ketika melihat beliau berdiri didepan pintu. setelah membalas hormatku, beliaupun mempersilahkan duduk kembali dan perbincanganpun bermula. Ku coba me-remain memory  beliau tentang pertemuan pertama dulu saat bareng isi acara yang di gelar sebuah komunitas dalam rangka Hari Pahlawan 10 November di Purwokerto beberapa tahun lalu. Sepertinya beliau belum berhasil mengingatnya. Akupun menyebutkan nama lengkapku dan coba mengkaitkan dengan beberapa nama sahabat beliau yang kebetulan akrab dan tempatku berguru, seperti Bapak (alm) Subijakto Tjakra werdaja (Mentri Koperasi di zaman orde baru)  dan Prof. Rubijanto Misman, Rektor Unsoed di penghujung 1990 sampai 2000 awal . Seketika beliaupun tersenyum dan kehangatan perbincangan pun bermula. 

Mendapati suasana cair, akupun mulai menyampaikan “special message” dari temen sejawat beliau saat berdinas dulu yang kebetulan bertemu denganku di Jakarta di satu meeting minggu lalu. Target utama terselesaikan dan respon hangat beliau atas message itu pun ikut menyemangatiku. Aku pun melihat semangat beliau membuncah hingga perbincangan pun mengalir demikian derasnya. Perbincangan lanjutan ini lebih tepat disebut “kuliah dadakan tentang kebangsaan” dari sang jenderal. “Ini sebuah keberkahan dan juga kehormatan bisa mendapat pencerahan langsung dari seorang Purnawirawan Jenderal tentang kebangsaan dan nasionalisme”, ungkapku dalam hati.  

 

Pancasila, NKRI, UUD’45 dan bhinneka tungggal ika  itu bukan pilar negara”, ungkap beliau memulai kuliah dadakan itu. “Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga falsafah negara; filosofi negara; pandangan hidup bangsa; pedoman hidup bangsa dan; pegangan hidup bangsa”, lanjut beliau dengan nada khas seorang jenderal. Mendadak serasa seperti sedang berada di antara barisan batalyon lengkap dengan persenjataannya. Selanjutnya, beliau menegaskan bahwa surutnya Majapahit karena mengabaikan "bhina ika tunggal ika tan hana dharma mangrowa". “Anda tahu arti maknanya secara menyeluruh?”, tanya beliau tiba-tiba. Saya hanya menggelengkan kepala pertanda benar-benar tidak tahu.“Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa” berarti berbeda-beda itu, satu itu, tak ada pengabdian yang mendua. “Kita harus mengabdi pada kebenaran takdir, kebenaran yang adil dan kebenaran yang bulat. Kita harus menjunjung sabdo kodrat (ucapan tinggi yang istimewa)”, tegas beliau dipenghujung kuliah singkat nan dadakan itu. 


Perbincangan ringanpun menjadi menu penutup pertemuan kali ini. Beliaupun mempersilahkan untuk datang kembali bila ada pesan lanjutan untuk berliau dan atau sengaja mau belajar berbagai hal kepada beliau. “siap jenderal……”, responku penuh semangat. Sebelum meng-akhiri perbincangan, aku pun minta izin untuk mengambil gambar beliau dengan camera handphone ku. "Pastikan bagus ya...." canda beliau saat aku sudah siap take picture. Selanjutnya, beliau mengajak fhoto bareng...selfi pun berlangsung 2 (dua) kali jepretan camera. Saat beliau memeriksa hasil jepretan camera, aku sempetin bercanda... "aura jenderal nya masih begitu nyata"..beliaupun tersenyum sambil bilang " pensiunan..sudah tua...."     


Sebelum beranjak pamit, beliau menitip salam kepada teman sejawatnya pemberi pesan dan juga sahabat-sahabat beliau yang antara lain; Bapak Mamet Marjono, dirjen koperasi perkotaan di zaman orde baru dan; juga sahabat beliau lainnya yang kebetulan sudah seperti orang tuaku sendiri, Prof. Rubijanto Misman, rektor fenomenal Unsoed di tahun 90-an sampai awal tahun 2000. “siapp Jenderal..insha Allah akan saya sampaikan”, ungkapku sambil berpamitan. Pertemuan itu pun diakhiri dengan salam komando dan akupun mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat sebelum berpamitan.   


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved