MENGHIMPUN “PAHALA PASSIVE“ LEWAT “MENULIS”

Rabu, 21 Juli 20210 komentar

MENGHIMPUN “PAHALA PASSIVE“ LEWAT “MENULIS”


Pembuka
Tulisan ini bukan buah karya seorang professional atau expert dalam urusan tulis menulis. Mungkin lebih tepat tulisan ini dikatakan semacam testimony tentang  proses belajar yang belum usai dan terus berlangsung  dalam hal “menulis” 

Sejujurnya, saya pun tak pernah punya percaya diri untuk mengatakan “ya” ketika ditanya apakah tulisan-tulisan saya bisa dikategorikan “ilmiah”, karena profesi saya bukan akademisi. Saya pun tidak berani gagah mengatakan tulisan saya masuk dalam kategori bagus apalagi berkualitas, karena saya pun tidak memiliki latar berlakang profesi jurnalis. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau tulisan saya lebih bercorak opini atau sekedar mengabarkan hal-hal sederhana yang terjadi di sekitar kehidupan yang sekiranya berpoteni meng-inspirasi dan meng-energi lahirnya kebaikan-kebaikan baru. 
Teringat satu kalimat yang mengutip pada satu hadist yang  sering didengungkan oleh poro kyai dan guru, khususnya saat upacara pemberangkatan jenazah. Dalam pidato itu disebutkan bahwa apabila manusia  meninggal, maka terputuslah segala amalnya kecuali 3 (tiga) perkara,yaitu : (i) sedekah jariyah ; (ii) ilmu yang bermanfaat dan; (iii) anak sholeh yang selalu mendo’akan kepadanya;. Pidato ini berhasil menggiring saya pada kontemplasi yang berujung  pada satu tanya besar, yaitu, “apa yang sekiranya bisa dilakukan sejak dini untuk menjadi amal yang terus mengalir ketika hak hidup dicukupkan oleh Sang Khalik?”. “menulis”, kata itu pun muncul dipenghujung lamunan di sore menjelang maghrib itu sekitar 5 (lima) tahun lalu.

Kata “menulis” itu pun terus memenuhi fikiran yang membawa pada beberapa tanya tak bertemu jawab dan dibarengi munculnya keraguan yang cenderung meracuni semangat, seperti; “menulis tentang apa?..saya kan tidak memiliki keahlian dalam urusan tulis menulis..media apa yang digunakan untuk menyebarkannya sehingga memiliki nilai manfaat yang luas?...kalau tulisannya jelek alias tak bermutu pasti akan di ejek orang lain… atau bisa aja kemudian ada yang berpendapat menulis adalah bentuk pamer saat men-sharenya”. Alhamdulillah, deretan kegelisahan panjang itu pun mulai menemukan titik damainya pada satu kalimat,”sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya” 

Teringat kembali hal yang melatarbelakangi keresahan ini, yaitu tentang “amal yang tidak terputus walau sudah meninggal” . Kalimat “niat yang baik pasti bertemu jalannya” pun tiba-tiba terngiang dan menjadi pemantik lompatan semangat untuk merealisasikan “satu kata” yang tiba-tiba menjadi begitu magis disepanjang malamku, yaitu “menulis”. 

Nekad itu pun bermula. Namun, kerumitan baru pun muncul saat mau memulai,” menulis tentang apa?”. Untungnya teringat jurus jitu yang biasa disarankan guru saat menghadapi ujian, “kerjakan lebih dahulu pertanyaan yang mudah”. Ingatan pesan guru inipun menginspirasi untuk mulai menulis tentang “perasaan”, pilihan tema yang tidak memerlukan energy layaknya menulis sebuah karya ilmiah. Ternyata jurus ini ampuh sebagai permulaan, cukup menuangkan apa yang dirasa atau mem-benak maka sebuah ceritapun terbentuk.      


Berkemauan Berproses
Memegang teguh kalimat bijak “be your self” ternyata juga efektif membangun percaya diri untuk membentuk kebiasaan menulis. Bersikap cuek dalam arti abai dengan segala komentar orang lain sangat penting di tahap awal belajar menulis. Tak perlu berfikir apa reaksi orang lain. Bahkan tidak perlu tergoda bertanya dalam hati “apakah tulisan ini akan disenangi pembaca atau tidak”, sebab itu akan membebani fikiran, bisa merusak percaya diri dan bahkan  menghilangkan gairah untuk menulis. Trik semacam ini perlu dipertahankan sampai mencapai tahap “terbiasa”. Pengalaman ini pun menegaskan kebenaran satu kalimat yang sering disampaikan para motivator “ mulai dulu baru ahli dan bukan ahli dulu baru memulai”. Tegasnya, kemauan memulai menjadi kunci dan ketekunan berproses akan membentuk capaian berkelanjutan. Dengan kata lain, perulangan yang terus menerus akan menjadi kebiasaan. Selanjutnya, kebiasaan yang diikuti penghayatan yang sungguh-sungguh  akan membangunkan dan memupuk: percaya diri, insting dalam hal bergagasan; kepekaan yang melahirkan inspirasi dan ; keterbentukan kemampuan menuangkan segala ide, rasa atau fikiran ke dalam tulisan dengan cepat. Demikian seterusnya hingga konsistensi membuat kebiasaan menulis itu perlahan seperti “menubuh” dan menjadi refleks alam bawah sadar. Hal ini sama halnya ketika seorang ahli bela diri yang secara spontan mengeluarkan jurus pertahanan kala terkagetkan oleh sesuatu atau dikagetkan oleh seseorang.   


Ketika Mulai Peduli  “content” dan “Respon”
Pada titik tertentu dimana “menulis” sudah menjadi kebiasaan yang ditandai dengan kejelian menemukan ide dan kecepatan dalam menuangkan ke dalam tulisan, biasanya akan mulai tergoda berfikir tentang kualitas dan kedalaman arti dan makna sebuah tulisan. Pada fase ini biasanya muncul kesadaran tentang efektivitas pemilihan kata dalam satu kalimat sehingga tidak terjadi perulangan kalimat dalam satu paragraf. Kesadaran semacam ini, dengan sendirinya akan membangunkan skill dalam membentuk kalimat, membangun hubungan satu kalimat dengan kalimat berikutnya dan membangun relevansi antara satu paragraf dengan paragraf berikutnya. Tanpa idsadari, karakter tulisan pun akan mulai tampak dan dan menjadi “ciri khas” yang melekat pada setiap tulisan orang tersebut.

Saat percaya diri menulis sudah menguat dan atau sudah menjadi habit yang menubuh, biasanya tergiring untuk berfikir tentang respon pembaca. Sang penulis akan mulai mengukur efektivitas ketersampaian ”pesan sebuah tulisan” kepada para pembaca yang diharapkan. Layaknya pasca update status di lini massa facebook, Instagram dan twitter, biasanya setiap beberapa menit tergiring untuk  melihat dan memperhatikan kuantitas pembaca dan respon yang beragam. Kedua hal ini juga bisa menjadi referensi obyektif untuk mengukur tentang target dan harapan pembaca.  


Be Your Self
Menjadi diri sendiri adalah sebentuk kemerdekaan yang nyata dan tak tergugat sepanjang tidak bertabrakan dengan hukum dan nilai-nilai sosial. Sementara itu, berjalan atau hidup dengan cara orang lain pasti melahirkan  ketersiksaan yang berpotensi membunuh karakter dan daya kreatif seseorang. Sama  halnya dalam urusan tulis menulis, setiap orang harus menjadi dirinya sendiri tanpa perlu tergoda atau ter-obesi menulis dengan gaya orang lain sekalipun orang itu  penulis terkenal tingkat internasional. Seorang penulis harus menemukan kenyamanannya sendiri dalam memilih kata atau menuangkan kalimat. 

Mungkin bisa menjadi inspirasi khususnya menekan rasa minder,  berikut disajikan satu cuplikan perbincangan ringat beberapa tahun lalu yang erat kaitannya untuk selalu menjadi diri sendiri. “Mas..aku mengikuti dan sering membaca tulisan-tulisan yang sering kamu unggah di webmu, kayaknya tulisanmu perlu di poles  lagi lho agar lebih keren dan terkesan ngilmiah”, ungkap seorang sahabat (sebut saja namanya Mas X) disuatu sore saat nongkrong santai bertiga di angkringan seputar kampus. Satu rekan lainnya juga seorang aktivis yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan salah satu koran harian nasional (sebut saja namanya Mas Y). Mendengar saran Mas X, Mas Y pun langsung menyampaikan protes keras ala aktivis…”NO…aku sama sekali tidak sependapat dengan saranmu. Ini saran menyesatkan yang bisa membunuh karakter sebuah tulisan dan menegasikan kebebasan ber-ekspresi. Hari ini kamu telah mengurangi makna kemerdekaan baginya ketika tetap memaksakan saranmu atau menyarankan dia menulis dengan gayamu. Aku lebih setuju dia tetap menulis dengan gayanya sendiri. Bahkan, Mr Z (menyebut namaku) sudah mulai dikenal lewat tulisannya. Itu artinya bahwa gayanya menulis memiliki ciri khas dan mulai disukai pembaca. Bahkan, hari ini orang mulai  mengenal Mr Z cukup  lewat tulisannya walau belum pernah bertatap muka. Hal ini membuktikan tulisannya memiliki karakter dan fungsi penerimaan yang terus tumbuh. Kamu bisa liat juga dari statistic pertumbuhan pengunjung blognya yang mulai tumbuh secara bertahap. Jadi, kalau kamu memaksakan pendapatmu pada Mr Z, aku akan menjadi orang terdepan yang membelanya agar tetap menulis dengan gaya sekarang”. Nada protes keras penuh teatrikal bercampur senyum itu pun berujung dengan penerimaan di sisi Mas X.

Paragraf diatas memang hanya perbincangan ringan dari 3 (tiga) orang aktivis di sekitar 4 (empat) tahun lalu Namun, ada pesan menarik yang bisa dijadikan hikmah, yaitu “setiap orang perlu percaya dengan potensi diri sendiri tanpa perlu menjadi seperti orang lain, tidak terkecuali dalam urusan tulis menulis”. 


Penjiplakan, kompensasi dan Pahala Passive
Sub judul ini juga terinspirasi dari satu perbincangan santai sekitar (dua) tahun lalu dengan seorang kader NU. Hal yang kami bahas saat itu adalah tentang rancang prototype IT yang didalamnya juga juga menyangkut tentang website. Kebetulan kawan satu ini aktif menulis dan juga pernah menjalani profesi wartawan. Beliau sempat meng-utarakan secara jujur tentang kegundahannya karena salah satu artikel yang beliau unggah di salah satu web di jiplak alias di re-publish pada web lain tanpa izin. Merespon hal itu, pertama saya menunjukkan empati dan sangat memahami alasannya mengingat untuk membuat satu tulisan  memerlukan energy dan waktu yang tidak sedikit. 

Saat mendapati beliau sudah mulai tenang, saya coba menawar kegundahan itu dengan sesuatu yang tidak biasa. Saya ber-ide bagaimana kalau beliau menukar gundah itu dengan rasa syukur penuh kegembiraan. Saya menggodanya pada  satu pepatah yang  berbunyi  “sekali berenang dua pulau terlampaui”. Relevansinya, semakin banyak pihak yang me-repost  atau mere-publish tulisannya maka semakin banyak pula potensi orang membacanya yang berarti semakin meluas manfaat tulisan itu. Saat itu terjadi, semakin banyak pula potensi orang yang memperoleh informasi, tercerahkan atau bahkan bukan tidak mungkin terinspirasi dan  meng-energi lahirnya kebaikan-kebaikan baru. Demikian seterusnya hingga tulisan itu melahirkan manfaat yang terus meluas dan bahkan tanpa sepengetahuan sang penulis. 

Andai saja setiap satu orang pembaca mendatangkan pahala bagi si penulis, maka berapa pahala yang diperoleh ketika semakin banyak orang yang terinspirasi. Oleh karena itu, tidak berlebihan berkesimpulan bahwa menulis merupakan “cara cerdas” untuk memperoleh pahala passive. Bagaimana tidak, bisa jadi si penulis tengah pulas dalam tidurnya namun memperoleh tambahan pahala karena diwaktu yang sama ada seseorang membaca tulisannya melalui sebuah web atau hasil re-share di sebuah group WA. Dalam cara baca demikian, dalam hal meng-imani Allah Maha Adil dan mempercayai janji Allah tentang kepastian balasan kebaikan atau keburukan walau sebiji zarroh, adakah alasan untuk ragu tentang kompensasi dari semua hal baik yang dilakukan?. Bukankah dalam urusan rezeki pasti tidak akan ada yang tertukar?. Bukankah  sudah ditegaskan juga bahwa masa edar seseorang akan dicukupkan bila hak atas rezekinya sudah terpenuhi sesuai yang dituliskan di lauful mahfudz?.

Alhamdulillah, tawaran “cara baca” itu disambut dengan senyuman pertanda setuju. Tidak tampak lagi raut kegalauan pada wajah kawan satu ini. Bahkan, dipenghujung tersepakati untuk terus memproduksi tulisan-tulisan, baik itu sekedar berbagi cerita sederhana, menuangkan ide, berbagi ilmu atau mengabarkan hal-hal inspiratif yang berlangsung di lingkar kehidupan.  Juga terbangun lompatan semangat untuk sama-sama belajar melakukan sesuatu semata-mata atas niat ibadah dan sebagai upaya mempertinggi kemuliaan dipandangan sang Khalik, selebihnya cukup menyerahkan sepenuhnya pada  Allah.  
  

Penghujung
Pada akhirnya, dalam tinjauan semangat untuk terus berkarya, menulis adalah tentang kebiasaan yang mengawalinya hanya memerlukan niat dan kemauan kuat yang dilanjutkan dengan ketekunan berproses. Dalam cara baca demikian, setiap orang sesungguhnya berpotensi menjadi penulis, karena hakekat menulis hanyalah tentang menuangkan sesuatu yang terfikir atau ter-benak ke dalam susunan kalimat yang berhubungan satu sama lain.  Persoalan besarnya justru  terletak pada beberapa tanya berikut ini; (i) apakah ada kemauan untuk memulai?; (ii) adakah terbersit memanfaatkan “tulisan” sebagai media strategis untuk meng-edukasi atau meng-campaign hal-hal keren yang berpotensi melahirkan kebaikan-kebaikan baru?; (iii) Ataukah tertarik menjadikan “sederet tulisan” yang di unggah di sebuah web sebagai bahan edukasi yang nyata pada anak cucu di kemudian hari?; (iv) adakah tergoda memaknai “menulis” juga sebagai cara jitu menumpuk pahala passive?; Terbayangkah betapa indahnya saat ajal menjemput di saat yang sama seseorang di luar sana sedang membaca tulisan anda di sebuah web?

Demikian tulisan ini disajikan oleh orang nekad yang “belajar menulis-nya” masih berproses. Insha Allah, tulisan ini disajikan dalam niat baik yang terjaga dan tidak bermaksud mengurui atau mengajari siapapun. Tulisan ini hanya menandaskan bahwa setiap orang berpotensi melahirkan tulisan-tulisan keren yang inspiratif.  Semoga tulisan sederhana ini meng-energi kebaikan, khususnya dalam menumbuhkembangkan “gairah menulis” para pembaca. 


Note : Gambar dalam tulisan ini hasil searching di google

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved