SANG MENTERI KOPERASI & UKM RI DI ERA-90-AN DALAM PANDANGAN SANG PEMBELAJAR

Rabu, 08 Juli 20200 komentar

Prolog
Tulisan tentang profile Bapak Dr (HC) Subijakto Tjakrawerdaja ini diinspirasi oleh permintaan salah satu wartawan media online Cendana News untuk memberi testimoni tentang Bapak Dr (HC) Subijakto Tjakrawerdaja.  Permintaan ini didasarkan pengamatan beliau dan menilai intensitas komunikasi antara penulis dan Bapak Subijakto lumayan sering. Awalnya sang wartawan meminta testimoni dalam bentuk rekaman audio. Namun, penulis memilih untuk membuat tulisan yang kemudian mempersilahkan wartawan tersebut  meng-edit sesuai kepentingan berita Cendana News. 

Naskah asli tulisan tersaji dalam blog ini, namun pembaca setia www.arsadcorner.com juga bisa membaca versi Cendana News yang tersaji dalam 2 (dua) tulisan yang tersaji dalam link sebagai berikut : https://www.cendananews.com/2020/06/dekopinda-banyumas-damandiri-gencar-berdayakan-masyarakat-desa.html  dan https://www.cendananews.com/2020/06/kepedulian-yayasan-damandiri-tak-sekadar-retorika.html

SOEBIJAKTO TJAKRAWERDAJA
DI PANDANGAN SANG PEMBELAJAR
Oleh :
Muhammad Arsad Dalimunte
 (Ketua Dekopinda Kab. Banyumas, Jawa Tengah)


A.     Mengenal dalam 2 (dua) Fase
Saya mengenal pribadi yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai Menteri Koperasi & UKM RI era-90 an ini  dalam 2 (dua) fase yaitu;  (i) saat masih menjadi aktivis koperasi mahasiswa (Koperma) Unsoed Purwokerto dan; (ii)  20 (dua) puluh tahunan kemudian pasca kampus dimana beliau berposisi sebagai Ketua Yayasan Damandiri. 2 (dua) fase ini memiliki intensitas yang sangat berbeda jauh. 

Pada fase mahasiswa,  Saya mengenal beliau sebagai Menteri Koperasi & UKM RI. Saat itu masih era orde baru dibawah Pimpinan Presiden Soeharto dimana jabatan Mentri memiliki aura dan kewibawaan yang demikian sakral. Saya memiliki kenangan tersendiri saat bermaksud mengundang beliau  menjadi keynote speech dalam satu seminar koperasi tingkat nasional yang diinisiasi para aktvis Koperma Unsoed. Berbekal modal semangat dan idealisme, saya dan satu  temen aktvis lainnya berangkat ke Jakarta dengan tujuan Kantor Kementrian Koperasi & UKM RI. Target utamanya adalah  menyampaikan undangan langsung kepada beliau. 

Setelah berjuang di pintu pertama Satpam Kemenkop & UKM RI, kami berhasil melenggang ke lantai atas  menuju ruang kerja beliau. Sayangnya, kami terjebak deretan antrian panjang yang juga ingin menghadap sang mentri. 6 (enam) jam menunggu pada akhirnya  berbuah kalimat dari sekretaris beliau, “Dek, agenda  Pak Mentri sangat padat dan tidak memungkinkan untuk ditemuin. Kalau Adek berkenan, surat undangannya ditinggal saja dan Insha Allah nanti saya akan sampaikan langsung ke Pak Mentri”.  Akhirnya surat undangan  itupun kami titipkan dan kemudian berpamitan pulang dengan perasaan kecewa karena gagal membuat catatan bersejarah dalam hidup, yaitu bertemu dan beraudiensi langsung dengan Sang Mentri. 

Tak di nyana, satu tahun kemudian, ada kunjungan Mentri Koperasi & UKM RI ke kampus Unsoed Purwokerto dan pihak rektorat menginformasikan kalau salah satu agenda beliau adalah berkunjung ke Koperma Unsoed. Layaknya aktivis kampus di era itu, tentu ini merupakan kesempatan yang jarang dan  tidak boleh disia-siakan walau hanya sekedar mengabadikan moment jarang itu. Alhamdulillah, walau masih tergolong junior, saya dilibatkan pengurus Koperma masuk dalam tim penyambutan dan kesempatan berfhoto itu pun benar-benar terjadi. Itu merupakan momen ter-sakral saat itu dan menjadi semacam legacy capaian seorang aktivis.   

Pada fase kedua, juga berawal dari sesuatu yang tidak terencana dan bahkan tak terbenak sama sekali sebelumnya. Suatu siang HP berdering dan pada layar terlihat nomor yang belum ter-list dalam phonebook smartphone saya. Saat menerima telepon, saya langsung terkaget luar biasa karena yang menelepon adalah Bapak Subijakto Tjakrawerdaja. Dalam perbincangan singkat itu, beliau menanyakan apakah saya ada waktu bertemu di Semarang keesokan harinya untuk berdiskusi tentang koperasi. Tanpa fikir panjang langsung saya sangggupi. Setelah perbincangan singkat itu usai, kepenasaran pun muncul mengapa bisa mendapat undangan istimewa ini. Fikiran saya pun langsung tertuju pada salah satu sahabat dekat beliau,  yaitu Profesor Drs. Rubijanto Misman, rektor Unsoed di era 90-an yang juga merupakan  guru dan juga pembina serta pen-support idealisme yang saya pejuangkan hingga kini.  Dari perbincangan lewat telepon bersama Prof Rubijanto Misman, terkonfirmasi bahwa beliau lah yang merekomendasikan nama saya saat Bapak Subijakto bertanya adakah alumnus Unsoed yang concern berjuang di arena perkoperasian.   


B.      Intensitas Interaksi pun bermula
Saya pun mengajak beberapa teman seperjuangan di Kopkun (Koperasi Karya Nusantara) untuk berangkat bareng ke Semarang. Jalanan macet membuat kami mencapai lokasi meeting sedikit terlambat. Sesampai di rumah makan tempat rapat berlangsung, saya mendapati beberapa pejabat Dinkop dan UKM  Jateng dan para aktivis sertapegiat koperasi Jawa Tengah sedang makan malam bersama Bapak Pak Bi (demikian biasa beliau disapa akrab). Kami pun langsung diminta bergabung dan ikut menyantap menu makan malam yang sudah tersaji. Perbincangan santai Pak Bi dengan segenap yang hadir pun berlangsung saat saya bersama rekan-rekan masih menyantap makan malam. Dari pembicaraan yang ada, akhirnya saya pun mengetahui kalau Pak Bi dalam kapasitas sebagai Ketua Yayasan Damandiri akan menjadi keynote speech dalam lokakarya koperasi yang diselenggarakan besok paginya. Fokus thema bahasannya adalah seputar koperasi distribusi. Pak Bi juga menjelaskan visi beliau tentang koperasi distribusi yang rencananya akan di dukung Yayasan Damandiri agar bisa eksis di lingkungan Jawa Tengah.

Saat diberi kesempatan bicara, saya dan temen-temen Kopkun menyampaikan apresiasi terhadap  gagasan besar ini. Kami juga meng-kritisi dari sisi operasional  dengan harapan agar tingkat  keberhasilannya mampu meng-akselerasi tumbuhnya usaha retail di lingkungan koperasi-koperasi di Jawa Tengah. Saat makan malam usai dan diskusi dicukupkan. tersepakati akan bertemu kembali pada lokakarya keesokan harinya. Saat kami sedang menuju hotel, saya ditelepon oleh Pak Bi dan  beliau meminta saya untuk menyajikan  gagasan yang sekilas sempat kami kemukakan saat acara makan malam ke dalam tulisan singkat berbentuk diagram. 

Sesampai di hotel, kami pun langsung menyusunnya dan kemudian mengirimkannya ke beliau. Tak lama berselang, respon beliau tidak terduga dan membuat kami terkaget karena beliau meminta untuk mempresentasikannya di acara lokakarya nanti. Menjadi narasumber dadakan-pun berlangsung. Alhamdulillah, beliau memberikan respon positif atasan paparan kami dan bahkan meminta kesediaan kami ikut terlibat aktif mendukung rintisan koperasi distribusi yang akan segera diwujudkan dengan support penuh dari Yayasan Damandiri. Ada pelajaran menarik dan sangat berkesan atas keterbukaan Pak Bi terhadap gagasan dan memberi kesempatan generasi muda mengujikan keyakinannya. Hal ini tentu menjadi ruang harapan bagi generasi muda kreatif yang memiliki mimpi. Ini menjadi catatan tersendiri bagi saya sebab mencerminkan kebijaksanaan dari seorang Pak Bi. “Tak perlu takut gagal sepanjang kita sudah berusaha maksimal”, kalimat itu sering beliau sampaikan disetiap perbincangan kami yang semakin intens sejak saat itu.  


C. Beberapa sifat khas yang men-ciri pada pribadi beliau.
Pak Bi adalah seorang pribadi visioner. Keterbukaan beliau terhadap pemikiran baru dan  kepekaan terhadap hal-hal baru. Pada wilayah emajuan IPTEK misalnya, beliau mendorong menantang generasi muda agar berani ber-inovasi dan mengembangkan kreasi. Lebih dari itu, beliau juga memberi tauladan dalam hal “cara berfikir dan ber-ide” yang tidak pernah habis. Secara jujur saya mengakui, tak jarang kewalahan melayani ide dan gagasan beliau yang selalu terbarukan. Satu catatan lainnya tentang Pak Bi adalah “disiplin tinggi”, apalagi dalam urusan waktu. Jadi, pastikan anda punya alasan logis kalau terpaksa terlambat bila ada janji ketemuan dengan beliau. Atau sebaiknya, anda disarankan prepare waktu lebih gasik agar tidak membuat beliau menunggu. Saya sangat bisa memahami mengapa “displin tinggi” menjadi ciri khas beliau dikarenakan banyaknya agenda yang harus beliau jalani setiap harinya dari satu waktu ke waktu berikutnya. 


D. Kepedulian Yang Tidak Sekedar Retorika 
concern terhadap pemberdayaan orang miskin melalui koperasi begitu terasa setiap kali berbincang dengan Pak Bi. Pak Bi ingin orang miskin terangkat harkat martabat dan ekonominya melalui koperasi. Beliau akan begitu detail mengkritisi tiap kali berdiskusi seputar pemberdayaan. Dalam semangat kebangsaan yang sering beliau suarakan, Pak Bi selalu ingin meyakinkan pada setiap orang miskin bahwa mereka berhak dan berkesempatan untuk memperbaiki perekonomiannya ke level yang lebih baik, sepanjang mau merubah mindset  dan bekerja keras. Sampai detik ini, Pak Bi masih berkeyakinan bahwa orang miskin bisa menjadi sejahtera melalui treatmen edukatif dan motivasional yang polanya selalu terbarukan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tak pelak lagi, program-program Yayasan Damandiri yang dipimpin beliau begitu gencar  men-temakan tentang pemberdayaan orang miskin, khususnya di pedesaan.

Hal ini   tidak saja mewujud dalam pemberian pendidikan ekonomi, tetapi juga meng-alokasikan sejumlah sumber daya materil agar terbangun aktivitas produktif yang men-sejahterakan hidup orang-orang miskin. Beliau juga tidak segan-segan langsung turun ke lapangan dan berbincang santai sambil mendengarkan keluhan masyarakat. Hal ini sering beliau lakukan walau lokasinya diujung pegunungan sekalipun. Terkadang, saya sendiri yang tidak tega menyaksikannya mengingat usia beliau yang sudah tidak muda lagi. Tetapi, semangat dan kesungguhan menjadikan beliau seperti tidak mengenal kata “lelah”.


E.  Idealisme Mewujudkan “Koperasi Versi Indonesia”  
Berkoperasi itu wajib bagi seluruh rakyat Indonesia”, demikian beliau tandaskan dalam satu rapat di kantor Yayasan Damandiri, Gedung Granadi, Jakarta. Saya kaget kala pertama kali mendengar statemen ini sebab bertolakbelakang dengan prinsip keanggotaan koperasi yang menganut prinsip keanggotaan sukarela dan terbuka. Untungnya saya tidak langsung meng-counter walau saya tidak bersepakat pada awalnya. Alhamdulillah, pada akhirnya saya menemukan nalar logis yang melatarbelakangi statemen beliau yang memposisikan ber-koperasi bagi orang Indonesia itu idealnya bersifat “wajib”. Hal ini terungkap saat saya meminta persetujuan beliau  tentang draft 3 (tiga) materi yang akan saya presentasikan di agenda Up-Grading sekitar 40 (empat puluh) orang Pengurus dan Manager Koperasi binaan Yayasan Damandiri pada minggu ke-2 Juli 2019 lalu di Yogyakarta. 

Saat itu beliau langsung menelepon saya. “Arsad, saya itu ingin koperasi versi Indonesia yang filosophinya me-referensi pada sejarah keterbentukan negara Indonesia. Koperasi Indonesia tidak dibangun diatas semangat individualist yang hanya bergabung ke koperasi bila menguntungkan saja. Koperasi Indonesia harus dibangun diatas semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan sehingga terbangun keberdayaan seluruh masyarakat Indonesia. Keberdayaan itu akan berpeluang hadir bila yang satu memiliki kepedulian terhadap lainnya. Semua orang Indonesia memahami dan menyadari bahwa harus ada nilai manfaat bagi orang lain setiap kali menggunakan hak individunya. Jadi,setiap orang harus merasa menjadi bagian dari lainnya sehingga terhindar dari sikap-sikap primordial, bijak dikeberagaman dalam bingkai bhinneka tunggal ika  dan sekaligus terbangun persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi, materi kamu tentang konsepsi dasar koperasi harus mereferensi pada spirit koperasi Indonesia” Demikian inti telepon beliau berdurasi setengah jam yang membuat saya berinding dan membangunkan spirit kebangsaan saya. Akhirnya saya mempelajari tulisan beliau tentang “koperasi Indonesia” dan kemudian merevisi materi yang saya buat sebelumnya. Alhamdulillah, revisi materi saya disetujui dan beliau pun tak lupa meng-apresiasi saya.    


F.  Penghujung bernada syukur
Secara pribadi, saya sangat bersyukur berkesempatan belajar langsung dengan seorang Mentri Koperasi & UKM RI era 90-an ini. Ini sebuah keistimewaan dari Tuhan yang mungkin tidak dialami banyak aktivis koperasi lainnya. Selama berinteraksi secara intensif dengan beliau,  saya pun mengalami ragam dinamika suasana, mulai dari suasana santai diselingi canda tawa dan beberapa kali juga pernah dimarahi karena saya salah dalam meng-intrepretasikan arahan beliau. Ketika beliau marah, saya sama sekali tidak melihat hal itu sebagai wujud kebencian, tetapi bentuk reaksi alam bawah sadar yang me-refresentasikan  keinginan besar beliau mendapati  koperasi di Indonesia tumbuhkembang  dan mensejahterakan rakyat. 

Suatu waktu saat saya berkesempatan berbincang empat mata di ruang kerja beliau  Saya pun menandaskan persepsi saya atas kemarahan beliau sebagai  bentuk atau cara seorang guru mendidik muridnya. Saya pun mengakhiri perbincangan empat mata tersebut dengan sedikit bercanda, “sebenarnya selalu ada kebanggaan tersendiri bila dimarahi setingkat menteri dan dengan bangga akan saya kisahkan kepada temen-temen seperjuangan, ungkap saya disambut senyum beliau dan kemudian berpamitan.  


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved