KETIKA PERSEPSIKU TENTANG “HIDUP SEHAT” TER-KOREKSI KE TITIK 0 (NOL)

Jumat, 17 Juli 20200 komentar

KETIKA PERSEPSIKU TENTANG “HIDUP SEHAT” 
TER-KOREKSI KE TITIK 0 (NOL)


Mula Men-themakan hidup sehat
Hampir setahun meng-abaikan tawaran seorang tetangga untuk mengikuti program “hidup sehat” yang menjadi bidang kerjanya untuk beberapa tahun terakhir ini  Disisi lain, sudah lama juga kepenasaran membenak atas keputusannya resign  dari satu institusi keren dengan posisi terakhir yang pasti diinginkan begitu banyak orang.   Keputusan itu pasti memerlukan keberanian yang jarang sebab benar-benar diluar kebiasaan banyak orang.

Beberapa minggu lalu usai  subuhan bareng di musholla, saya sempat sedikit bercerita singkat tentang beberapa keluhan tentang kesehatan. Respon singkat beliau membuat saya tergoda datang ke tempat usahanya untuk mengetahui detail “program kesehatan” yang beberapa kali  sempat beliau tawarkan dan menakar apakah menjadi bagian dari program adalah sebuah solusi yang tepat.   Cerita tentang menilik pola hidup sehat ini pun bermula.

selamat pagi, panjang umur, sehat selalu dan banyak rejekinya…”, kalimat itu menyambut kehadiran pertamaku di kantornya tepat pada  jam 06.45 Wib. Kalimat itu keluar serentak dari beliau dan juga istrinya. Rupanya itu standar sapa mereka kepada setiap pelanggan.  Treatmen pertamapun dimulai dengan pengukuran  tinggi badan  dan kemudian dilanjutkan dengan berdiri diatas sebuah timbangan. Sesudahnya, beliau me-record hasil timbangan dan kemudian mulai memaparkan hasilnya. Ternyata timbangan itu bukan timbangan biasa yang hanya mengukur berat badan, tetapi juga bisa mengukur lemak tubuh, lemak perut, kepadatan tulang, kebutuhan kalori, usia sel, massa otot, rating fisik dan kadar air. Waw.. itu timbangan canggih…kesanku tentang timbangan dengan validitas 99%. Ternyata,  timbangan itu juga telah menjadi alat timbang standar yang digunakan NASA untuk mendeteksi kebugaran para astronot sejak beberapa puluh tahun lalu.   

Kesimpulan dari hasil timbangan itu menjelaskan bahwa diriku punya persoalan dalam urusan kadar lemak yang over 17 kg;  usia sel yang  lebih tua dari usiaku; rating fisik (baca : kebugaran) yang hanya setangah dari ukuran normal dan;  menedeteksi  pula kalau minumku kurang dari standar ideal. Fakta data inipun menggiring kesadaran bahwa kesehatanku secara menyeluruh memiliki masalah serius walau saat ini terlihat baik-baik saja. Artinya, solusi harus tertemukan sebelum ragam penyakit datang menyerang akibat dari ketidak-proporsional ini.

Tentang Membangun Kebiasaan Baru
Deteksi musabab pun kami lakukan secara detail dan muaranya berujung pada “kebiasaan hidup” seperti pola makan, ritme bekerja, olah raga dan pola tidur. Defenisi ideal pola hidup yang diungkapkan beliau dapat kuterima dengan akal sehat dan membimbing  untuk berjiwa besar mengakui telah terjebak dalam pola hidup yang keliru dan jauh dari kategori pola hidup sehat.

Penjelasan beliaupun memampukanku untuk menganalisa sendiri bagian mana yang harus dipertahankan dan bagian mana pula dari kebiasaan hidup yang harus dirubah demi hidup sehat dalam arti sesungguhnya. Kesadaran baru tentang realitas takaran kondisi tubuh dan ketertarikanku terhadap hidup sehat pun terbangun. Alasannya utamanya menyangkut 2 (dua) hal penting, yaitu; (i) perlunya memiliki kualitas hidup sehat dihari-hari berikutnya dan; (ii)  tentunya juga tentang masa depan anak-anak yang masih membutuhkan peranku sebagai seorang ayah. Untuk alasan itu, aku pun menyetujui untuk melanjutkan treatmen dan bimbingan sampai proporsional lemak, usia sel, rating fisik dan kadar air mendekati titik idealnya. Akupun menyepakati untuk ikut program” sarapan pagi bareng” selama 10 (sepuluh) hari berikutnya ditempat beliau.

Program 10 (sepuluh) hari sarapan bareng ditempat itupun mulai kujalani. Uniknya, aku tak menemukan nasi sama sekali, tetapi hanya disuguhi dua gelas minuman berukuran setengah liter dan harus habis. Aku sungguh tersiksa pada awalnya namun bisa enjoy dibeberapa hari kemudian setelah menyadari bahwa yang ku minum itu mewakili asupan kalori,gizi dan nutrisi  yang dibutuhkan oleh tubuhku. Hal yang paling menarik adalah saat aku tengah berjuang menghabiskan 2 (dua) gelas minuman itu, sang pemandu memanfaataknnya untukpemaparan “materi kuliah  tentang hidup sehat” yang isi detailnya nya tentang factor-faktor yang mempengaruhi kebugaran tubuh; pola asupan makanan berkadar kalori, gula dan lemak ideal. Juga dijelaskan tentang bagaimana tubuh bekerja dalam 3 (tiga) tahap, yaitu : (i) fase mengolah makanan diantara  jam 12.00 Wib  sampai dengan jam 20.00 Wib; (ii) fase pola penyerapan hasil metabolisme tubuh sejak jam 20.00 Wib sd Jam 04.00 Wib dan; (iii) Fase pembuangan sejak jam 04.00 Wib sd Jam 12.00 Wib.

Penjelasan tentang 3 (tiga) fase  ini pula yang kemudian menjelaskan mengapa makan diatas jam 20.00 Wib tidak disarankan. Session kuliah ini pun menjelaskan jam istarahat ideal yang kemudian membimbingku pada nalar logis mengapa nabi selalu memilih tidur sesudah Isya dan bangun gasik serta istrahat sebentar menjelang zuhur. Pada 2 (dua) hari terakhir dari 10 (sepuluh) hari program sarapan bareng, sang Coach  pun menjelaskan tentang kandungan kalori, karbohidrat dan gula pada beberapa jenis makanan yang biasanya dikonsumsi masyarakat pada umumnya.

Pada akhirnya agenda “sarapan bareng” pun usai sudah. Ragam pelajaran dan penjelasan yang kuperoleh selama 10 (sepuluh) hari masa kuliah itupun sukses mengoreksi persepsi awalku tentang hidup sehat.  Satu hal yang selalu terngiang adalah  “mencapai berat badan ideal  sesungguhnya adalah bonus dari pola hidup sehat”. Akhirnya, akupun berkesimpulan bahwa “herballife”  ternyata “bukanlah tentang menjual produk”, tetapi mutlak tentang membangun kesadaran untuk hidup dengan pola sehat. Artinya, produk “herballife” yang dikonsumsi peserta program hanya bersigat supporting atau media yang fungsinya membantu setiap orang untuk bisa menemukan pola asupan gizi dan kalori  ideal dikeseharian hidup. Alasan lainnya adalah sebagai tambahan dari nutrisi yang ada pada buah dan sayur.

Kesadaran dan Keikhlasan Sebagai Kunci
“Ditimbang” selalu menjadi hal pertama yang dilakukan disepanjang agenda “sarapan bareng” berlangsung. Tujuan utamanya ternyata mengukur perkembangan berat badan, kadar emak tubuh, lemak perut, kepadatan tulang, kebutuhan kalori, usia sel, massa otot, rating fisik dan kadar air dari hari ke kehari selama masa program.  Kerennya, hasil timbangan ternyata menggambarkan tentang perkembangan kesadaran untuk hidup dengan pola baru yang lebih menyehatkan. Timbangan magis itu terlalu canggih sehingga sulit untuk diakali. Timbangan itu benar-benar menjadi alat obyektif menakar kepatuhan dan konsistensi pola asupan ideal, jam istrahat dan juga olah raga.

Sayapun tersenyum sendiri saat timbangan kembali pada grafik sehari sebelumnya saat jam istrahat saya kurang karena harus ronda dimalam sebelumnya. Tidak hanya itu, timbangan pun kembali menunjukkan hasil yang menandaskan pola makan yang salah saat saya menyantap makanan di luar jam standar kerena mengikuti harus menghadiri suatu meeting. Asiknya, timbanganpun selalu menunjukkan keberpihakan dan progress positif saat mematuhi  terhadap pola hidup sehat dan rutin berolah raga sesuai porsi yang disarankan. Timbangan itu benar-benar menolkan kesempatan untuk ngeyel.

Sejujurnya ini bukan hal mudah. Bagaimana tidak?. Di sepanjang program saya harus ikhlas menghindari semua makanan bila tersaji bukan pada jam makan yang disarankan. Bukan hanya itu, juga harus menahan diri untuk meng-konsumsi jenis makanan yang bernada gorengan dan olahan. Tak ayal lagi hal ini sangat membebani  ketika menghadiri meeting di restauran dimana pasti tersaji makanan berselera. Apalagi temen-teman peserta meeting sengaja menggoda untuk melibat ikut melahap makanan yang benar-benar mengundang hasrat. Tidak hanya sebatas itu, tidak semua makanan yang tersaji di rumah boleh di konsums semasa programi. Perjuangan selalu menemukan puncaknya setiap kali  anak-anak pesan go-food dimana saya hanya bisa menyaksikan bagaimana mereka begitu bertenaga melahapnya. Hal serupa terjadi dikantor saat temen-temen sejawat membawa dana tau memesan makanan yang benar-benar menguji konsistensi dan kepatuhan. sudah pernah..sudah pernah..sudah pernah…”, kalimat itu terus terkumandang dan mematri dalam benar untuk melawan ingin setiap kali   kemampuan untuk bertahan hampir menembus ambang batas.    


Memakan Apapun Sesungguhnya Diperbolehkan
Tidak ada makanan yang jahat bila dikonsumsi pada kondisi kebugaran tubuh sudah ideal. Kalimat ini pula yang sukses menjelaskan mengapa saya pusing saat meng-konsumsi daging-dagingan dan juga durian yang sesungguhnya merupakan makanan pavoritku sejak kecil dulu. Tegasnya, bukan makanannya yang jahat, tetapi kondisi kebugaran yang tidak sedang ideal sehingga tubuh tidak siap menerimanya. Jadi, kalau selama program negitu banyak jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi, itu bagian dari upaya mempercepat pencapaian kondisi tubuh ke titik ideal. Kalau kondisi ideal sudah tercapa makan apapun boleh dan dipersilahkan dengan 2 (dua) catatan, yaitu sadar kewajaran porsi  dan berkemampuan menangkal dengan menambah porsi olah raga disbanding biasanya.   


Testimoni Yang Terlalu Cepat     
Mungkin testimoni ini terlalu cepat karena saya sendiri masih dalam tahap berjuang  mencapai titik ideal kondisi tubuh. Berat badan yang didefenisikan sebagai bonus kemampuan membangun budaya hidup baru pun baru berhasil turun sekitar 4 (empat) kg dari 17 (tujuh belas) kg yang menjadi target. Namun, saya berfikir menuliskan ini menjadi begitu penting karena hidup sehat merupakan kebutuhan mutlak dari setiap orang yang masih hidup. Satu hal lagi, ternyata untuk aksi diet memerlukan ilmu dan pemahaman   komprehensif sehingga terhindar dari resiko seperti lesu, pucat dan atau bahkan jatuh sakit.  

Tulisan berisi testimony inipun diharapkan bisa menjadi guideline dasar bagi mereka yang sedang akrab dengan persoalan berat badan; bermasalah dengan kebugaran tubuh dan atau mulai terjebak pada keluhan-keluhan kesehatan yang sesungguhnya akibat dari pola asupan makanan yang kurang tepat, olah raga yang jarang dan minum dalam kadar yang jauh dari kebutuhan tubuh.

Sejujurnya saya pun memiliki kepentingan membuat tulisan ini, sebab persepsi saya “ menulis” berpotensi menjadi salah satu sumber pahala passive setiap kali ada yang membaca atau bahkan terinspirasi membangun kebaikan baru, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Sebagai bentuk terima kasih dan apresiasi terhadap sang coach, saya mengucapkan terima kasih kepada Bung Arief dan Mbak Nurul berikut herballife-nya. Walau saya masih jauh dari pencapaian ideal, segala hal yang telah  kalian ajarkan dan bimbingkan telah membangunkan kesadaran baru  tentang bagaimana seharusnya hidup dengan pola sehat. Disamping itu, karena kalian juga  tulisan ini tersaji sehingga terbuka peluang   untuk  memperoleh pahala passive lewat tulisan sederhana, walau kualitas masih pas-pasan. Mohon do’a kalian untuk bisa sukses seperti peserta lainnya yang sudah tuntas dan tengah berbahagia dengan kebugaran ideal-nya. Saya pun menyadari  untuk selalu konsisten sungguh tak mudah, namun itulah yang memang seharusnya dilakukan .



NOTE:
Bagi pembaca yang ter-inspirasi dan ingin menjadi bagian dari orang yang ingin hidup lebih sehat..silahkan komunikasi langsung dengan Mas Arif atau Mbak Nurul aja ya di Nomor : 0821-1863-0145. Sebab kalau minta penjelasan detail pada saya, khawatir kalian terjebak pada penjelasan yang kurang komprehensif dan berpotensi keliru..salam sehat...!!!!  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved