AKAN-KAH PEMUDA ITU BERKATA IYA?

Jumat, 20 September 20190 komentar

"sekarang kuliah dimana mas?", tanyaku sesudah memperkenalkan diri melalui WA. Tanyaku ini ter-utarakan sesudah melihat DP WA nya sedang memakai jaket salah satu kampus terkenal di kota mendoan ini. "Engga pak, itu cuma foto jas dapet minjem, sya gx kuliah pak", jawab pemuda tamatan SLTA ini. 

Jawaban inipun memantik gairahku untuk bisa segera bertemu guna menakar kehebatan potensi  anak muda ini. Ketika aku tahu dia meminjam jaket almamater temennya  untuk sekedar bisa ber-fhoto dan kemudian menjadikannya DP di WA nya, seketika aku berkesimpulan bahwa anak muda satu ini punya mimpi dan pasti memiliki energi besar mewujudkan majinasinya tentang hidup. 

Awal mula ketertarikanku bertemu anak ini saat Bung Mujib Sang Sekjen LP Ma'arif memberi informasi seputar potensi dan bakat keren anak ini saat mengikuti ujian seleksi untuk posisi staff IT di lingkungan LP Ma'arif Banyumas. Walau hanya tamat SLTA, namun keahliannya tidak kalah dengan yang tamatan S1 dan hal ini cukup menarik perhatian segenap tim penguji.  Hal ini pula  yang menjadi mula kepenasaranku terbangun atas anak muda yang menekuni IT secara otodidak ini.

Sepertinya aku menyapanya di waktu yang tepat. Posisinya sore kemarin sedang di salah satu pesantren di Bumiayu, tempat dia mengabdikan diri usai menamatkan SLTA-nya di tempat yang sama. Kabar baiknya adalah sore itu dia  berencana pulang ke rumah orang tuanya di Cilongok karena Hari Jum'at merupakan hari libur pondok. Akhirnya, kami pun deal untuk bertemu di Jum'at pagi, tepatnya di sekretariat LP Ma'arif di Kantor PC NU Kab. Banyumas. 

"Saya hanya belajar IT secara otodidak Pak karena memang suka utak atik HP dan juga komputer", ungkap pemuda ini  dalam kesantunan sikap yang terjaga. "Ini kombinasi statemen dan adab yang menarik", simpulku di awal perbincangan. Aku mendapati ada "mimpi hebat"  dalam kalimat bernada rendah dari putera penjual sate keliling itu. Keyakinanpu menguat kalau  anak muda  ini akan membentuk lompatan kapasitas bila diterjunkan ke "arena juang" yang lebih luas. Perluasan arena akan membuat Instuisi dan imajinasinya  IT nya lebih terasah dan melesat.

Dalam suasana ngobrol santai di ruang tamu, akupun mencoba menemukan kedalaman karakter generasi milenial satu ini.  Kali ini mencoba mengajaknya diskusi ringan men-temakan perlu-nya komitmen diri dalam  membangun produktivitas lewat peng-integrasian  potensi, bakat, keilmuan dan keimanan. Kuingatkan tentang pentingnya ketauhidan sebagai dasar bertebaran dimuka bumi agar terbimbing pada jalan yang tepat dan diberkahi. Aku pun memancing reaksinya saat memposisikan akhlak berposisi diatas ilmu pengetahuan. Kutandaskan persepsiku tentang ketauhidan yang terimplementasikan secara continue dan konsisten akan memantik hadirnya rezeki di waktu yang tepat dan dalam takaran yang adil.  Reaksinya cukup menarik  dengan menunjukkan ekspresi dan gestur tubuh pertanda setuju. 

"Didunia ini ada 2 (dua) kelompok manusia, yaitu kelompok yang bisa diajak berfikir dan kelompok yang difikirkan. Dalam semangat ketauhidan, kita harus membangun komitmen diri menjadi kelompok yang pertama lewat  optimalisasi bakat dan pengetahuan yang dititipkan Tuhan pada  diri kita. Namun demikian, kita tak perlu memandang rendah apalagi memaki kelompok kedua, sebab bisa jadi mereka ingin maju tetapi belum bertemu cara atau jalannya.  Atau bahkan mereka sangat berkeinginan berbuat namun tidak punya ruang untuk meng-ekspresikan kemampuan dan ilmu yang mereka peroleh di masa pendidikan. Atas hal itu, kita harus membuka diri dalam semangat saling memberdayakan demi keterbentukan kebaikan-kebaikan baru", ungkapku sambil melihat bagaimana responnya. Aku mendapati binar semangat juang membuncah di wajah lugu sang penjaga perpusatakaan  salah satu pondok pesantren di Kota Bumi ayu ini. 

Dipenghujung, aku mencoba meminta pendapatnya tentang beberapa narasi fikir yang dia dengar disepanjang perbincangan. Katanya dia menyukai narasi kreatif yang coba menghubungkan tauhid dengan produktivitas diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas atas kebaikan Tuhan yang sudah menitipkan ilmu dan bakat. Akhirnya, akupun menantangnya untuk menjadi bagian dari team work yang akan memperjuangkan skenario pembangunan ekonomi dan kewirausahaan yang tengah di gagas/di susun.

Aku sengaja tak memaksanya berkeputusan hari ini, tetapi menyarankan  untuk berfikir tenang, berkomunikasi dengan kyai pesantren tempat dia mengabdi dan meminta pertimbangan atau ridho orang tua. Jika sudah mantap berkeputusan, dia pun dipersilahkan untuk menyampaikan keputusannya via WA. "Pastikan keputusan itu anda sampaikan dalam keadaan berwudhu dan baru selesai istikharoh atau tahajjud, agar tekad jihad ekonomi itu dimulai dalam kawalan Sang Khalik", tandasku.

Tak lama berselang, kami pun berpisah dan meninggalkan kantor PC NU Banyumas. Menarik mendapati pada keputusan manakah anak muda berbakat IT ini pada akhirnya. 

semoga kisah berikutnya lebih inspiratif. Aaamiin 







Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved