Tuhan, Kesetiakawanan dan Berbelanja di Toko Tetangga

Senin, 12 Agustus 20190 komentar

Tuhan, Kesetiakawanan dan Berbelanja di Toko Tetangga


Terinspirasi dari beberapa seruan  bernada kesetiakawanan yang sering didengungkan seperti beli produk dalam negeri, belanja ke tetangga sebelah dan lain sebagainya, sepeda motor ku yang baru saja keluar rumah menyeberang jalan pun langsung berhenti di depan sebuah toko baru milik tetangga. “Ikut nge-larisin”, fikirku sambil memarkir kendaraan.

Pagi Pak..sapaku sambil menyebutkan barang yang kubutuhkan. Selanjutnya, sambil menyampaikan permohonan maaf karena tidak membawa uang pas, kuberikan selembar pecahan Rp 100.000,oo pada sang pemilik toko. “waduh….sebentar ya mas, saya tukar uangnya dulu”, ujarnya sambil mempersilahkanku duduk di kursi yang dia sediakan. Beliaupun langsung menyalakan sepeda motornya dan tancap gas. Sepertinya beliau menukar uang agar bisa memberikan kembalian pas padaku. “Indahnya berbelanja di toko tetangga”, gumamku dalam hati sambil buka HP mengecek massage yang masuk.

10 (sepuluh) menit berlalu, sang pemilik warung tidak juga muncul. Namun, semangat ber-tetangga membangunkan maklum dan menjauhkan dari perasaan jengkel. Ku pilih menikmati “masa tunggu” ini dan sekaligus meresapi makna ber-tetangga sesungguhnya. Alhamdulillah, akhirnya beliau datang juga dan sesaat kemudian aku berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. 

Sesudah menancap gas, teringat rambut sudah mulai panjang dan kriwil. Rasanya udah waktunya dirapikan. Apakah ke salon ataukah ke tempat cukur rambut yang biasa?. 2 (dua) pilihan ini berputar di kepalaku sambil menunggu traffic light berubah hijau. Seketika ter-ide untuk ke tempat cukur rambut saja.Tempat cukur rambut memang tidak senyaman salon, namun menawarkan keramahan lokalitas dengan dialek khas penuh ketulusan. 

Ada keunikan di tempat cukur rambut ini dimana pelanggan tidak bisa memilih tukang cukurnya karena menggunakan system bergiliran.  System ini mengusung  semangat berbagi kesempatan dalam urusan rezeki.  Mereka tidak  bersaing satu sama lain, tetapi memilih bekerjasama dan saling mendo’a kan untuk kesuksesan bersama.  Mereka menyambut setiap pelanggan yang datang dengan penuh keramahan dan kemudian mempersilahkan temennya yang kebagian giliran untuk melayani. Ini system kekeluargaan yang sangat kental kesetiakawanan. Mereka memilki   keyakinan tinggi bahwa setiap orang pasti diberi Tuhan rezeki sepanjang ikhlas dalam berusaha.  

Sayangnya, saat petugas cukur  beraksi di rambutku, ter-lupa menanyakan bagaimana seandainya kalau pelanggan yang datang hari itu hanya 2 (dua) orang sementara mereka berjumlah 4 (empat) orang. Apakah mereka berbagi rezeki ataukah mengikhlaskan bahwa hari itu meng-ikhlaskan temennya yang memperoleh rejeki?.  Satu hal yang pasti, sampai saat ini mereka masih eksis. Di sisi lain, mereka juga mengajarkan tentang semangat  kekeluargaan dan kesetiakawanan, yang akhir-akhir ini banyak terkikis oleh derasnya virus egoisme berikut penularannya yang  demikian massif.    
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved