KETIKA KETUA KOMITE SMP AL-IRSYAD MENUNJUKKAN "KETEGASANNYA" DI LAMPU MERAH

Senin, 12 Agustus 20190 komentar


KETIKA KETUA KOMITE SMP AL-IRSYAD MENUNJUKKAN 
"KETEGASANNYA" DI LAMPU MERAH



Seperti biasanya, pagi  ini jalanan di sepanjang HR Boenyamin   padat  dimana setiap pengendara sama-sama mengejar jam 07.00 Wib sampai di sekolah atau di kantor. Semua tidak ingin putera/i nya terlambat masuk sekolah.  Akibatnya, Detik-detik pergantian warna trafict light ke warna merah biasanya menjadi sedikit renggang kepatuhan. Masing-masing memanfaatkan detik-detik terakhir bisa melewati garis pembatas pemberhentian, sehingga berstatus bebas jalan. Namun demikian, acap kali kendaraan pun menumpuk ditengah, apalagi bila satu ruas jalan diisi 2 (dua) shaf. Hal ini biasanya menimbulkan persoalan  ketika   di depan ada becak atau kendaraan yang berhenti parkir. Tak ayal lagi, sisi seberang  yang berstatus lampu hijau pun menjadi  terhalang untuk melintasi jalannya, khususnya yang mau berbelok. 



Hal ini terpaksa kami  alami lebih dikarenakan  berangkat dari rumah 10 (sepuluh) menit lebih lambat dari biasanya. Jalanan crowded dan setiap orang seperti ingin mendahului lainnya, baik anak sekolah yang berangkat sendirian dengan motornya, para pegawai pemerintah dan BUMD yang juga harus sampai di kantor jam 07.00 Wib dan tidak ketinggalan juga para  orang tua yang mengantarkan putera/i nya ke sekolah.  Belum lagi ketika berada di belakang kendaraan yang jalannya lamban dan santai  karena sedang  tidak di buru waktu, maka bunyi klakson pun saling bersahutan walau tak pasti mendapat respon seperti yang diharapkan. Itulah yang terjadi  saat kami  melintasi perempatan pasar Glempang, Purwokerto. Kami memilih sabar dan beberapa kendaraan di belakang memilih untuk mendahului dengan memanfaatkan sisi kanan yang menurut mereka tidak terlalu padat. Namun, persoalan muncul saat menjelang traffic light dimana kendaraan yang didepan kami tak kunjung menambah sedikit kecepatannya sehingga memberi peluang kendaraan dibelakang bisa melintas dengan lancar.



Takut terjebak pada lampu berwarna merah, kami mencoba lebih mendekati kendaraan yang didepan. Alhamdulillah, kami berhasil melewati batas pemberhentian beberapa detik sebelum traffic light  berganti merah. Kendaraan yang persis di belakang kami pun turut serta. Satu jalur dengan dua shaft kendaraan pun berlangsung. Ironisnya, kami di sisi kanan sehingga harus lebih hati-hati karena disatu sisi  takut bergesekan dengan kendaraan yang di barisan kiri dan disisi lain menjaga sisi sebelahnya yang sebentar lagi pasti jalan dari arah yang sebaliknya karena lampu sudah hijau. Apesnya, deretan becak dan mobil yang parkir di sisi kiri pasar memaksa kendaraan baris kiri memaksa bergeser ke sisi kanan. Akibatnya, kendaraan yang masih di area tengah pun terhenti sehingga menghambat kendaraan dari arus balik yang mau berbelok ke sisi kanan. 



Sebuah sepeda motor yang mau belok ke kanan (baca: ke arah pasar glempang) pun terhalang. “ Itu lampu merah”, ungkapnya dengan nada tinggi sambil menunjukkan traffic light yang baru kami lalui beberapa detik lalu. Lucunya, ternyata bapak yang sedang bernada tinggi itu pun akhirnya sedikit terkaget dan amarah berganti senyum saat kami menurunkan kaca samping.  Namun, senyum itu hampir tak tampak jelas  karena beliaunya mencoba memanfaatkan sela jarak dengan kendaraan yang di belakang kami untuk berbelok ke arah masuk pasar glempang. Beliau kami kenal dekat dan  merupakan salah satu wali murid di sekolah Al Irsyad. Beliau juga  adalah   Ketua Komite Sekolah SMP AL Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto.   



Sesudah crowded berlalu dan jalan lancar kembali, pristiwa singkat itu pun menjadi tema bahasan yang mengundang senyum sampai kedua anak kami sampai di sekolah tepat waktu alias belum terlambat.  Awalnya ingin langsung berkirim WA sambil menyampaikan permohonan maaf telah membuat beliau sedikit snewen dan kemudian mengajak  bercanda untuk melupakan galau hati di jalanan tadi. Namun, sepertinya lebih asik dan lebih luas hikmahnya ketika peristiwa singkat ini dikemas dalam tulisan edukatif dan disajikan dalam sebuah blog sehingga lebih banyak orang bisa membacanya. Setidaknya, saat tulisan ini di share, jengkel beliau berganti sumringah sebab berpotensi ikut dapat pahala ketika tulisan ringan dan sederhana ini dikonsumsi oleh para pembaca setia. 

Tulisan ini bukanlah upaya menandaskan bahwa kami mutlak benar dan juga bukan  menegaskan bahwa amarah Pak Ketua berlebihan, sebab hal itu sangat wajar dan siapapun mungkin akan bereaksi sama bila mengalami hal serupa.



Setidaknya tulisan ini berpesan agar antar anak sekolah tidak terlalu mepet waktunya dengan jam masuk sehingga tidak terjebak pada kejadian serupa. Terlepas dari dinamika rumit jalanan pagi tadi, berangkat lebih gasik adalah pilihan yang lebih baik dan menjauhkan dari resiko berkendaraan. Itu catatan dan pesan terbaik dari peristiwa singkat tadi pagi. Disisi lain, mungkin ada baiknya menjelang jam-jam masuk sekolah dan kantor, setiap pengendara yang melintasi jalan-jalan menuju sekolah juga perlu memahami situasi sehingga menyesuaikan kecepatannya sehingga memperlancar lalu lintas menuju sekolah.



Semoga pembaca mendapat hikmah dan juga Pak Ketua Komite SMP Al Irsyad Purwokerto pun  menjadi tersenyum.

NB: gambar hanya illustrasi dan hasil seraching di internet



Bocoran Info:
Alhamdulillah, saat di konfirmasi lewat WA, Pak Ketua meng-izinkan saat mengkisahkan peristiwa singkat tadi ke dalam tulisan di blog ini agar lebih edukatif dan meluas hikmahnya.  








Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved