REVOLUSI INDUSTRI 4.0 ANTARA PELUANG & ANCAMAN BAGI KOPERASI

Selasa, 19 Maret 20190 komentar


REVOLUSI INDUSTRI 4.0
ANTARA PELUANG & ANCAMAN BAGI KOPERASI

A. Pengantar
Setahun terakhir ini, kalimat “revolusi industri 4.0” selalu didengungkan. Kesan kuat tentang sebuah kecanggihan yang didukung dengan praktek-praktek keren yang tidak terfikirkan sama sekali sebelumnya, memantik setiap orang ingin mempelajari dan kemudian menakar implikasinya terhadap dunia usaha, tidak terkecuali dengan gerakan koperasi. Masih segar dalam ingatan bagaimana kehadiran GO-jek dan Grabb bagaikan kiamat dadakan bagi koperasi taksi dan ojek konvensional. Hal senada juga terjadi pada sektor perdagangan yang berujung dengan tutupnya beberapa gerai supermarket ternama, khususnya sejak merebaknya “online marketing”. Tidak ketinggalan financial technology (fintech) juga hadir dan berpotensu  mengancam eksistensi perbankan dan pelaku jasa keuangan lainnya yang masih setia dengan pengelolaan model konvensional.  

Berbagai kegelisahan pun muncul dan kenyataan memaksa untuk mempelajari secera komprehensif agar memahami dan menemukan “cara baru” untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang, Jika memilih passive atau tidak melakukan penyesuaian dengan smart, maka hampir bisa dipastikan akan tergerus oleh perkembangan zaman dan teknologi yang berlangsung demikian cepat. Fakta menunjukkan, teknologi berbasis internet  dan ragam aplikasi telah menghadirkan kemudahan  dalam meng-akses ragam kebutuhan. Hal ini tentu mendatangkan kenyamanan, efisiensi dan kecepatan. Hari ini orang tidak perlu lagi datang ke gerai untuk berbelanja kebutuhannya, mereka cukup membuka aplikasi dan melakukan pemesanan maka barang pun datang. Hari ini orang tidak perlu lagi ke stasiun, ke terminal atau ke bandara hanya untuk memesan tiket bepergian. Mereka cukup membuka aplikasi dan  semuanya beres. Ringkasnya. Dengan internet dan aplikasi, orang cukup meng-akses dan tidak perlu repot ke sana ke mari. Ekonomi digital sudah berlangsung dan kecanggihan dunia virtual ini mulai menggerogoti eksistensi pelaku usaha konvensional, tidak terkecuali pelaku usaha besar dan juga koperasi tentunya.        


B. Sekilas Menilik Tahapan Revolusi Industri  .   
Kecanggihan dalam men-sinergikan internet, data dan mesin di era revolusi industri 4.0 telah melahirkan berbagai terobosan brilian yang melahirkan efisiensi dan kemudahan bagi masyarakat.  Istilah “desrupsi” pun mendadak populer sebagai penggambaran terjadinya “perubahan radikal proses bisnis” dan luasnya dampak yang ditimbulkan. Digitalisasi ekonomi yang menjadi simbol revolusi industri 4.0 secara nyata memberikan pengaruh luar biasa.

Sebelum membahas tentang pensikapan dan pola adaptasi yang harus dilakukan oleh koperasi di era industri 4.0, berikut disajikan beberapa cuplikan materi  yang diambil dari session “economic outlook” yang dilaksanakan oleh BI (Bank Indonesia) Kantor Perwakilan Cabang  Purwokerto pada 27 Desember 2018 yang lalu :


·           Cuplikan materi presentasi Bapak Muhammad Arsad Dalimunte, Sekjen Kadin Banyumas:

   TABEL TAHAPAN INDUSTRI
NO
TAHAP
INDIKATOR
1
Revolusi 1.0
Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.
2
Revolusi 2.0
produksi massal berdasarkan pembagian kerja
3
Revolusi 3.0
penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah
4
Revolusi 4.0
yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things.

·           Cuplikan materi presentasi Ibu Chaterina, Dosen Universitas Parahiyangan :





·            Cuplikan materi presentasi Bapak Faisal Basri, Pengamat Ekonomi :





C. Adaptasi atau mati
Tragedi  krisis ekonomi 1998 membuktikan bahwa Koperasi mampu bertahan ditengah ambruknya pelaku usaha besar, khususnya yang memiliki hutang dalam satuan mata uang USD dan atau memiliki content  bahan baku impor yang juga dibayar dengan satuan mata uang USD.  Namun, satu hal yang menjadi catatan adalah bertahannya UMKM ditengah badai 1998  bisa jadi dikarenakan oleh ketiadaan 2 (dua) faktor yang ada pada perusahaan besar yaitu hutang dalam USD dan kandungan impor dalam proses produksinya.  Disamping itu, hutang dalam negerinya pun tidak dominan karena skala usaha yang dijalankan tergolong mikro dan kecil sehingga tidak terjebak dengan dampak kebijakan bank dalam negeri yang melakukan penyesuaian tingkat bunga pinjaman.   Namun demikian, terlepas dari sempitnya skala permainan dan atau bahan baku yang nersumber dari lokal saja, eksisnya Koperasi saat itu merupakan sebuah keadaan yang sangat di syukuri, setidaknya ekonomi makro tidak sampai ke titik nol walau krisis keuangan telah memantik krisis multidimensi. Namun, akankah kemampuan bertahan semacam itu berulang di Era Revolusi Industri 4.0?. 

Kali ini, pilihan yang tersedia hanya “adaptasi atau mati” karena implikasi revolusi industri 4.0 terus melaju dan terbukti mulai menyentuh berbagai sektor yang semakin mengancam eksistensi bisnis konvensional. Kalau kemudian hari ini koperasi masih eksis dengan metode serupa, perlahan dipastikan akan ter-eliminasi seiring semakin kencangnya inovasi dalam peng-integrasian internet, mesin dan teknologi. Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi  berbasis  teknologi wajib dilakukan, baik dalam tahapan proses produksi, pemasaran dan juga pembayaran.  Berbeda dan unik” harus bisa dipertahankan walau dinamika perubahan pun memaksa  untuk terus memproduksi nilai-nilai “perbedaan dan keunikan baru”.  Alasannya sederhana saja, apa yang hari ini “berbeda dan unik” begitu mudah direflikasi lewat implementasi  konsep 3M (melihat, meniru dan menambahkan) berbasis teknologi sehingga menjadi tidak berbeda dan tidak unik lagi.

D. Beberapa Pemantik Aksi perkuatan Koperasi di Era Revolusi Industri 4.0
Meningkatkan “daya saing” menjadi penting sebab kompetisi di lingkar  dunia bisnis merupakan sesuatu yang pasti sejak kelahirannya. Pengembangan kreativitas dan inovasi harus mampu memproduksi “nilai tambah” yang terus tumbuh sehingga anggota dan konsumen (baca: non-anggota) memiliki alasan cukup untuk tetap loyal dan tidak beralih.  

Sebagai pemantik, berikut ini disampaikan beberapa stimulan gagasan aksi kaitannya dengan penguatan koperasi di era revolusi industri 4.0, yaitu : 
1.   Penguatan kapasitas kelembagaan. Penguatan organisasi dan kelembagaan perlu dilakukan oleh koperasi. Dalam hal ini, koperasi harus konsisten berpegang teguh pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi sehingga mewujud menjadi kekuatan yang terus tumbuh. Dengan berpegang teguh pada nilai2 dan prinsip2, koperasi akan menjadi kumpulan orang nan solid yang me-refresentasikan kumpulan potensi dan sumber daya sebagai bekal untuk bertahan, tumbuh dan kembang.  
2.   Penguatan kapasitas manajemen. Kapasitas manajemen  menjadi kunci tumbuhkembang. Untuk itu, perusahaan koperasi  harus dikelola oleh orang-orang yang memiliki kompetensi mumpuni dan berkemampuan  mengelola  segala faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi eksistensi  perusahaan koperasi. Sebagaimana konsepsinya, manajemen koperasi tidak boleh terjebak pada pola superman cenderung menggantungkan segala sesuatunya pada satu orang (baca: superman), tetapi  harus ber-basis super team yang didalamnya terbangun distribusi peran yang saling menguatkan dan penyatuan sumber daya. Untuk itu, kehadiran profesional di lingkar pengelolaan koperasi mutlak menjadi kebutuhan, baik dalam konteks menumbuhkembangkan perusahaan koperasi maupun dalam memberdayakan ekonomi anggota.   
3.   Modernisasi proses dan pelibatan IPTEK. Era digital ekonomi menandaskan perlunya sinergitas antara modernisasi proses dan pelibatan IPTEK guna menciptakan peningkatan efisiensi dan pengembangan kreasi dan inovasi yang berujung pada peningkatan performance dan daya saing.
4.   Berjejaring. Hari ini adalah zaman kolaborasi untuk menciptakan sinergitas yang saling menguatkan. Oleh karena itu, berjejaring merupakan alat efektif dalam menguatkan keberadaan dan kemampuan bertahan dan berkembang dari perusahaan koperasi. Lewat berjejaring dimungkinkan terbangunnya kemitraan berbasis sharing economy. Sejalan dengan itu, koperasi perlu mengimplementasikan prinsip kerjasama yang diawali dengan pembangunan komunikasi intensif.  Sebagai satu catatan penting, koperasi memiliki Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia) yang bisa diotimalkan sebagai penghubung antar satu koperasi dengan koperasi lainnya. Mungkin awalnya hanya  saling berbagi informasi, namun intensitas komunikasi akan menumbuhkan saling percaya dalam  mengembangkan ragam gagasan dan atau membentuk mutual partnership,  seperti perluasan pasar, join buying bahan baku, distribusi, join capital, pengembangan SDM, up date teknologi dan lain sebagainya.
5.   Membangun dan menguatkan ekosistem kewirausahaan. Hakekat juang koperasi adalah membangun orang-orang yang terhimpun di dalamnya melalui pendidikan berkelanjutan. Dengan demikian, kapasitas anggota akan terbangun  sehingga lebih cerdas dan bijak dalam ber-ekonomi, termasuk kewirausahaan di dalamya.  Hal ini dimaksudkan untuk mendorong  laju tumbuh ekonomi anggota melalui pendekatan aktivitas produktif. Sejalan dengan itu,  ekosistem wirausaha perlu dibangun di kalangan anggota sehingga terbangun kesadaran dan kemauan meningkatkan taraf hidupnya. Sebagai bagian dari membangun dan menguatkan ekosistem kewirausahaan tersebut, berikut disampaikan beberapa stimulan gagasan :
a.      Merintis hubungan produktif.  Koperasi perlu merintis pembangunan hubungan produktif dengan anggotanya, baik dalam konteks mendukung usaha yang sedang dijalankan anggota maupun memainkan peran sebagai “mediator” antar anggota dalam melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi produktif. Koperasi harus segera menumbuhkembangkan ‘nilai tambah” yang lebih memberi peluang anggota untuk sejahtera, baik secara individu maupun secara kolektif. 
b.      Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi anggota. Koperasi perlu menggelar pendidikan dan pelatihan, baik dalam rangka melahirkan minat anggota untuk berwirausaha, maupun dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha yang sudah atau sedang ditekuni oleh anggota. 
c.       Apresiasi terhadap keberanian berwirausaha. Berwirausaha memerlukan keberanian sehingga perlu meningkatkan apresiasi terhadap kemauan dan kesadaran anggota dalam menekuni wirausaha. Perlu dibangun paradigma berwirausaha merupakan sebuah kemuliaan sebab disamping membangun kemandirian dirinya dalam hal ekonomi, juga berpeluang menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Dengan kata lain, menjadi wirausaha perlu ditandaskan sebagai tindakan heroik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Intinya, keberanian anggota koperasi dalam bergagasan perlu dibangun dan pengayaan imajinasi perlu ditingkatkan sehingga budaya kreatif dan inovasi terbentuk dan menjadi budaya hidup keseharian anggota.
d.      Bersinergi dengan pemerintah. Sebagai regulator dan pemberdaya, pemerintah dengan segenap infra dan supra strukturnya sangat strategis dalam membangun dan mengembangkan ekosistem kewirausahaan. Melalui mediasi dan fasilitasi yang edukatif & motivasional, pemerintah berpeluang mendorong pertumbuhan wirausaha secara kuantitas maupun kualitas. Untuk itu, koperasi harus aktif melakukan komunikasi dengan pemerintah guna menyatukan persepsi dan melahirkan daya dukung berkelanjutan.     
e.      Bersinergi dengan kampus. Kampus merupakan gudang pengetahuan dan juga pusat pengembangan metodologi. Hal ini sangat penting bagi akselerasi peningkatan kualitas wirausahawan, baik dalam hal tata kelola melalui pelibatan IPTEK maupun dalam meningkatkan dan meluaskan akses. Untuk itu, koperasi juga perlu melakukan komunikasi produktif dengan kampus.  
f.        Mendorong Industri kreatif. Industri kreatif dalam hal ini didefenisikan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah berbasis pada pengembangan ide, gagasan dan kreativitas. Sejalan dengan itu, koperasi dan anggota perlu  terus melakukan pencarian dan “pengayaan cara”  sehingga terbangun nilai tambah baru dari produk yang sudah ada. Sebagai contoh,  treatmen kreatif pada komoditas gula kelapa  menghasilkan gula kristal sehingga dijual dengan harga yang lebih tinggi; melakukan packaging yang terbukti mampu meningkatkan perform  dan harga jual produk.  
g.      Maintenance berkelanjutan. Ekosistem wirausaha tidak cukup hanya dibangun, tetapi juga memerlukan maintenance sehingga ekosistem itu terus terawat dan terus meluas serta menguat.ketika hal ini mewujud, maka koperasi sebagai institusi pemberdaya benar-benar mewujud secara nyata dan manfaatnya bisa di rasakan oleh anggota dan juga masyarakat.     
6.   Dan lain sebagainya

E. Penghujung 
Dalam kesehariannya, koperasi perlu terus berjuang untuk tetap bisa eksis, tumbuh dan kembang. Keinginan kuat untuk itu telah menggiring alam bawah sadar pejuang koperasi  melakukan pengembangan kreativitas dan inovasi secara terus menerus. Bagi koperasi yang memiliki jelajah juang tinggi,  serangkaian “perubahan” dan “sengitnya kompetisi” dimaknai sebagai gejala alamiah yang sudah ada sejak kelahirannya. Bahkan “perubahan dan kompetisi” selalu efektif sebagai pemantik adrenaline kreatif  dalam membarukan atau memperbaharui cara dalam mengelola usahanya. Sejalan dengan itu, senada dengan berlangsungnya  revolusi industri 4.0 berikut segala implikasinya, koperasi perlu terus  untuk berinovasi, entah itu dilakukan sendirian maupun berkolaborasi lewat mutual partnership, baik dengan koperasi maupun dengan pelaku usaha lainnya.  Semoga semangat semacam ini efektif menjadi stimulan terbentuknya penyesuaian cerdas sehingga revolusi industri 4.0 bukan sebagai ancaman tetapi justru peluang yang meng-akselerasi tumbuhkembang koperasi dan segenap anggotanya.  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved