KETIKA “BERBUAT BAIK” MENJADI “KEBUTUHAN”....

Sabtu, 09 Januari 20160 komentar



KETIKA “BERBUAT BAIK” MENJADI “KEBUTUHAN”....
disampaikan pada diskusi di Mesjil Al-IKhlas, Perumahan Berkoh, Purwokerto, Kab.Banyumas


A. Makna Berbuat Baik
 
Tidak ada hebatnya berbuat baik”. Kalimat ini terkesan aneh sehingga perlu kehati-hatian dalam memaknainya agar tidak terjebak pada pemaknaan keliru dan atau bahkan sesat. Kalimat ini terinspirasi dari perenungan yang bertemu simpul fikir bahwa sesungguhnya “berbuat baik adalah kebutuhan”. Berbuat baik sering didengungkan sebagai bagian dari cara agar lebih mendekatkan diri pada Allah SWT dan sekaligus berharap keberpihakan-Nya di segala sisi kehidupan yang dijalani seorang insan.

Sepertinya sudah menjadi fitrah selalu ada “motif” setiap kali manusia melakukan sesuatu, Motif merupakan faktor pendorong seseorang untuk bertindak. Ketika ada kebutuhan didalamnya, maka seseorang terdorong berindak sampai bertemu dengan apa yang dibutuhkan. rang bekerja karena ada motif mendapatkan penghasilan untuk mencukupi segala kebutuhan. Orang berolahraga karena ada motif ingin sehat. Orang beribadah karena keinginan atas limpahan karunia, ni’mat dan rahmat serta penjagaan dari Allah SWT. Secara sederhana, motif itu bisa horizontal dan bisa pula vertikal.  Dalam konteks horizontal, manusia biasanya berharap apresiasi dari manusia lainnya ketika berbuat sesuatu. Sedangkan, dalam konteks vertikal, biasanya manusia melakukan sesuatu semata-mata berharap balasan dari Sang Pencita yaitu Allah SWT .

Demikian pula ketika orang berbuat baik tentu ada motif di dalamnya. “Berbuat baik” yang dimaksud dalam hal ini adalah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan atau orang lain (baca: lingkungan).  Kategori berbuat baik dalam konteks ini  tentu berlandaskan ketetap Allah SWT lewat kalam-kalamNya dan Hadist Rauslullah SAW sehingga ada keterjaminan nilai-nilai kebaikan dari sebuah tindakan. Aspek hukum  dan norma yang berlaku di masyarakat pun tentu menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Kaitannya “berbuat baik”, seorang insan juga perlu mendefenisikan motif atau niat sehingga memiliki alasan yang jelas untuk melakukannya.  Sebab, setiap  amal itu tergantung niat (Innama A’malu Bin Niat). Ketika berbuat baik itu didasarkan pada keinginan atau niat  agar dimuliakan manusia, maka sebatas itu pula yang akan diperolehnya. Berbeda kala perbuatan baik itu didasarkan pada keinginan atau niat agar lebih mulia di mata Allah SWT, maka hikmah tidak terbatas akan datang ke dalam hidupnya. Namun demikian, semua kembali pada masing-masing individu. Terdeteksinya “motif” dalam setiap tindakan kebaikan bermakna bahwa ada unsur “kebutuhan” didalamnya. Atas dasar itu pula kemudian layak berkesimpulan bahwa  berbuat baik adalah kebutuhan”.

Berikut coba menjelaskan tentang makna “berbuat baik”, mulai dari tinjaun vertikal maupun tinjauan horizontal dengan harapan memantik penulis dan juga segenap pembaca untuk lebih menyukai dan mencintai  serta menjadikan “perbuatan kebaikan” sebagai kebutuhan dan budaya hidup.

Adapun makna yang terkandung secara vertikal antara lain dijelaskan sebagai berikut: :
1.      Berbuat baik merupakan wujud syukur dan sekaligus pengakuan seorang hamba bahwa segala ni’mat dan rahmat bersumber dari Allah SWT.
2.      Berbuat baik dalam arti “berbagi”  sesungguhnya cara untuk melipatgandakan rahmat dan ni’mat dari Allah SWT.
3.      Berbuat baik merupakan jembatan strategis untuk lebih disayang Allah SWT.
4.      Berbuat baik mendatangkan perasaan dekat dan dalam penjagaan Allah SWT.
5.      Satu perbuatan baik yang bertemu hikmah selalu meng-energi untuk membentuk kebaikan-kebaikan baru yang menjadikan maknanya kian meluas.
6.      dsb
  
Sementara itu, secara horizontal (dalam konteks positif), beberapa makna dari berbuat baik antara lain dijelaskan sebagai berikut:
1.      Berbuat baik itu menenangkan dan menentramkan jiwa.  Sebaliknya, melakukan hal buruk selalu mendatangkan perasaan bersalah, resah, berdosa dan membuat hidup jadi tidak tenang.
2.      Berbuat baik itu mendatangkan kebahagiaan luar biasa dan tidak cukup diungkapkan sebatas kata atau ribuan baris kalimat.
3.      Berbuat baik itu sebagai sarana yang efektif memperluas persaudaraan dan silaturrhami, sebab aura orang-orang yang suka berbuat baik biasanya melahirkan rasa nyaman bagi orang lain untuk senantiasa berinteraksi. Lihatlah bagaimana mereka-mereka yang memiliki frekuensi sama dalam urusan kebaikan sering dipertemukan oleh keadaan-keadaan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. 
4.      Berkomitmen berbuat baik itu meng-energi. Artinya, adanya perasaan tenang membuat energi selalu berada di titik 100% dan fikiran menjadi fokus dalam mengerjakan sesuatu.
5.      Berbuat baik itu menginspirasi energi orang lain untuk men-tauladani dan kemudian melakukan kebaikan-kebaikan  walau mungkin berbeda dalam bentuk.
6.      Berbuat baik dalam arti peduli adalah tiket untuk dipedulikan lainnya. Berbuat baik dalam bentuk menolong adalah tiket untuk mendapatkan pertolongan.
7.      dsb.

Namun demikian, ada pula “perbuatan baik” yang terjebak dalam narsisme. Akan tetapi, lebih baik membangun fikiran positif dan meyakini bahwa pada perbuatan baik yang berulang pada titik tertentu akan bertemu ikhlas dan melakukannya semata-mata untuk kemuliaan dipandangan Allah SWT. Dalam tingkatan yang lebih tinggi dimana seseorang berbuat baik semata-mata karena Allah SWT, berbuat baik itu seperti mendatangkan candu . Hal semavam ini biasanya dirasakan mereka yang kebetulan di-pernah-kan Allah SWT  memiliki pengalaman spiritual atas limpahan ragam nik’mat dan hidayah setelah melakukan berbagai aksi kebaikan.  Pada tingkat ini, seorang insan terus terpacu untuk terus meningkatkan kebaikan-kebaikan baru sebab meyakini akan menyebabkan hadirnya hikmah yang lebih banyak di dalam hidupnya.

Siapakah insan yang tidak ingin kebaikan hadir dalam hidupnya?.  Tetapi, apakah kebaikan dalam hidup akan hadir dengan sendirinya tanpa adanya musabab? Semoga tanya ini menginspirasi kebaikan pula bagi pembaca. Demikian luasnya makna perbuatan baik, sehingga tidak berlebihan menyimpulkan bahwa “adalah sebuah kerugian besar kalau tidak mengisi kesempatan hidup dengan ragam rekam jejak kebaikan”.


B.  Keajaiban Datang Bukan Tanpa Sebab
Sering kali kita mendengar seorang teman, saudara atau sahabat bertemu semacam keajaiban (biasa
disitilahkan dengan sebutan “miracle”) dalam hidupnya, baik dalam hal-hal kecil atau sederhana maupun dalam hal-hal besar yang bersifat amazing  yang kehadirannya disaat tidak terduga sebelumnya. Biasanya kedatangan keajaiban berbentuk pertolongan  itu dikala orang tersebut memang sedang mengalami kebuntuan akal, sehingga kehadiran pertolongan itu layaknya sebuah keajaiban.

Tidak ada tempat bersandar dan berpasrah yang lebih baik kecuali pada Allah SWT semata. Hal ini mencirikan keimanan bahwa apapun yang terjadi didunia ini semata-mata atas izin Allah SWT. Namun demikian, adalah jauh dari kemungkinan seseorang mendapat keajaiban tanpa sebab musabab. Hadirnya nikmat dan rahmat adalah bentuk hadiah dari Allah SWT atas segala upaya sungguh-sungguh dan dibarengi do’a yang tidak pernah terputus. Artinya, do’a saja tidak cukup untuk mendapat hidayah tanpa dibarengi dengan tindakan nyata. Hal ini pun sejalan dengan filosopi Jawa yang menyatakan “siapa sing nandur bakalan panen”. 

Pertolongan hanya hadir bagi mereka yang rajin menolong. Sebaliknya, mereka yang  asik dengan urusan dirinya sendiri dan abai dengan kesulitan atau persoalan orang lain sering mengalami kesendirian kala kesedihan atau  kesusahan menghampiri  hidupnya. Atas hal itu, tidak berlebihan untuk kemudian berkesimpulan bahwa “keajaiban dalam wujud pertolongan merupakan dampak akumulasi kebaikan yang pernah dilakukan dan bahkan mungkin sudah lupa kapan kebaikan itu dilakukan”. Hal ini pun sejalan dengan kalam Allah SWT yang menjanjikan bahwa sebiji zarroh pun kebaikan atau keburukan pasti akan berbalas. Untuk itu, menarik untuk belajar bersama membudayakan berbuat baik demi hadirnya ragam keajaiban dalam hidup. Namun demikian, Layakkah berharap keajaiban bagi insan yang tidak pernah menyajikan kebaikan kepada insan lainnya?. Satu hal yang menjadi catatan, mungkin  kebaikan atau kepedulian si Pemberi hanya hal sederhana, tetapi bukan tidak mungkin hal itu bermakna “keberlanjutan hidup” bagi si penerima.  


C. Ragam Realitas Sebagai Inspirasi Untuk Berbuat Baik
Orang bijak mengatakan bahwa berbuat baik terhadap sesama berawal dari kepekaan yang kemudian menginspirasi kepedulian. Kepekaan terhadap ragam kesulitan dan persoalan yang terlihat, terdengar dan tersaksikan biasanya mendorong empati dan kepeduliaan yang berujung dengan aksi memposisikan diri sebagai bagian dari pencarian solusi atas ragam persoalan yang ada. Ketika waktu, energi, kesempatan hidup  dan kepemilikan atas kebendaan difahami sebagai bentuk titipan/amanah/kepercayaan, maka berbuat baik yang mewujud kepedulian dimaknai sebagai wujud terima kasih kepada Allah SWT atas ragam tofik dan hidayah yang telah di limpahkan ke hidup orang tersebut. Ketika kesempatan hidup di dunia difahami sebagai kesempatan mengumpulkan bekal di yaumil akhir, maka kepedulian dalam wujud “berbuat baik” dimaknai sebagai bagian dari pengumpulan bekal sebanyak-banyaknya. Ketika ragam kesulitan dimaknai sebagai bentuk pesan dan cara Allah SWT menunjukkan peluang kebaikan, maka segenap kesedihan akan menjadi inspirasi energi untuk langsung berbuat baik. Bahkan akan menjadi lebih luar biasa ketika gairah berbuat baik itu lahir bukan semata-mata karena adanya kesedihan, tetapi oleh keinginan membentuk kebaikan-kebaikan baru mempertinggi rekam jejak kebaikan di hadapan Allah SWT.

Kepekaan lahir dari akumulasi perulangan inisiatif ber-peduli dan kata orang bijak hal itu bisa dimulai dari hal sederhana. Ragam hikmah dan hidayah yang hadir sesudahnya biasanya memantik lompatan keingnan memperluas perbuatan-perbuatan baik itu sendiri.                


D.  Ketika Yang Memberi Berterima Kasih Pada Yang Menerima
Pesan bijak sering diperdengarkan kepada kita semua, “apabila tangan kanan memberi maka sebaiknya tangan kiri tidak tahu”. Pesan ini mengajarkan untuk menghindarkan  “ria” setiap kali melakukan kebaikan. Oleh karena itu, mungkin terasa menjadi aneh ketika ada kalimat “yang memberi seharusnya berterima kasih pada yang menerima”. Keanehan itu dikarenakan Dogma yang sering ditanamkan sejak kecil kepada kita semua adalah  mengucapkan terima kasih setiap kali mendapat atau menerima sesuatu dari orang lain. Namun demikian, ada baiknya sesaat merenungkan  kalimat  yang memberi berterimakasih pada yang menerima” yang didalamnya mungkin terdapat beberapa makna yang antara lain sebagai berikut: 
1.      Kalimat itu mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya si-Pemberi adalah orang  yang butuh atas “tindakan kebaikan” itu sendiri, sebab kebaikan adalah jembatan baginya untuk lebih diperhatikan dan disayang Allah SWT. Atas nalar ini menjadikan si pemberi layak untuk berterima kasih kepada si penerima. Disisi lain, erlu disadari bahwa menerima sebuah kebaikan bukanlah perkara mudah sebab didalamnya memerlukan mental dan keikhlasan berposisi sebagai penerima. Oleh karena itu, memberikan kebaikan juga memerlukan cara yang tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Bahkan, ideal  aksi memberi diikuti dengan edukasi bijak sehingga melahirkan keingina kuat si penerima untuk berposisi sebagai pemberi di suatu waktu.    
2.      Kalimat itu itu membangunkan rasa ikhlas yang lebih dalam  dan menjauhkan diri dari perasaan ria atau sombong atas kebaikan yang dilakukan. Pada akhirnya,
3.      Pemaknaan semacam ini akan mendorong untuk lebih menghayati sebuah aksi kebaikan ke tingkat substansi  dan sekaligus mendorong untuk menjadikannya sebagai budaya hidup.


E. Penghujung
Keinginan kuat untuk belajar memperbaiki diri dan sekaligus menyemangai pembaca adalah inpirasi ketersajian tulisan sederhana ini. Realitas kehidupan menunjukkan betapa banyak hal yang sesungguhnya membutuhkan kepedulian sehingga mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya merasa tidak sendiri dan atau bahkan merasa terpinggirkan dari kehidupan sosial dan kemasyarakatan. 

Saatnya kita belajar bersama meningkatkan kepekaan dan sekaligus mengembangkan kepedulian, sebab sesungguhnya kita sedang menolong diri sendiri setiap kali kita menebar pertolongan. Pada akhirnya, saat Allah SWT memberi kesempatan berposisi sebagai pembuat kebaikan, maka saat itu pula momentum terbaik untuk mulai belajar berterima kasih pada si-penerima. Semoga menginspirasi kebaikan bagi penulis maupun segenap pembaca. Amin Ya Robbal ‘Alamin. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved