Lampung.....Sebuah Perjalanan Tidak Terduga

Minggu, 06 Desember 20150 komentar



A.  Sebuah Perjalanan Tidak Terduga 

Cerita ringan ini berawal dari sepulang menghadiri pernikahan salah satu kader Kopkun Purwokerto di Bekasi. Saat rombongan menuju apartemen Om Suroto untuk istarahat sejenak sebelum pulang ke Purwokerto, tiba2 ada berita dari kader Koperasi Mahasiswa Lampung sedang kebingungan karena salah satu narasumber yang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya mendadak tidak bisa hadir karena sakit. Terlihat jelas nada penuh harap agar penulis berkenan untuk menggantikan.  Atas hal ini, penulis meminta waktu satu jam untuk berkeputusan.   

Ngiang "nada harap" itu terus mengiang dan terbayang masa lalu saat masih mahasiswa pernah mengalami hal serupa saat menggelar satu event. Pasti mereka dalam kebingungan yang luar biasa.   Namun disisi lain, saya sudah berjanji pada ketiga puteraku kalau minggu pagi sudah ada dirumah dan sudah direncanakan  jalan-jalan berkeliling kota sebagai re-freshing sebelum bertempur di UAS yang terjadual mulai senin nanti. Alhamdulillah..setelah mengkomunikasikan hal ini dengan sang istri tercinta, respon beliau justru mendorong untuk memanfaatkan kesempatan tak terduga  ini untuk menebar kebaikan dan meng-garansi kalau anak-akan diberi pengertian. Dukungan semacam ini  mendorong saya untuk kemudian meng-iya kan permintaan panitia dan tergambar betapa senang dan tenangnya panitia mendengar keputusan ini. Atas keputusan ini,  sesudah sejenak istrahat dan mandi di flat-nya Om Suroto,  temen-temen rombongan kondangan izin  pulang dulu ke Purwokerto dan saya  memilih untuk menginap sebab besok pagi harus terbang ke kota Lampung.   

Alarm HP berbunyi  tepat pukul 03.00 Wib pertanda harus segera bergegas menuju bandara Soukarno Hatta untuk penerbangan jam 05.40 wib. Kudapati Om Suroto masih lelap dalam tidurnya dan agar beliau tidak terganggu ter-ide menulis pesan pamit di secarik kertas.  Belum terlaksana niat itu, ternyata om suroto ikutan bangun dan bahkan mengatakan kalau beliau sudah pesenkan taksi untuk membawaku ke bandara.  

Terasa begitu nyaman saat tahu taxi blue bird yang ku tumpangi. Mungkin hal ini akibat kesuksesan om suroto yang seringkali mengabarkan bahwa taksi yang satu ini dijamin kemanan dan kenyamanannya.   Namun, tiba-tiba saja kenyamananku mulai ter-usik kala sang supir taksi mengatakan mesin argo error..alias mati..alias berhenti persis saat tarif menunjukkan angka Rp 18.000,oo. Aku mencoba tenang dan hanya membangun senyum agar perasaan tidak enak yang begitu tampak pada sang sopir tidak semakin  bertambah bila sikapku ikutan resah. Tidak berapa lama argo hidup kembali dan mulai dari angka awal. Namun, ternyata juga tidak bertahan lama dan akhirnya mati kembali saat kendaraan memasuki pintu toll terakhir menujju bandara. Akhirnya, sang supir yg asal tegal itu meminta persetujuanku untuk menetapkan tarif berdasar kebiasaan, yaitu Rp 155 ribu. Aku setuju saja, walau kemudian ternyata sang supir juga  meminta uang pengganti biaya toll. Tak apalah fikirku, yang penting sudah sampai di bandara dan bisa chek-in tepat waktu.  Saya yakin kalau sang supir pasti tak berniat buruk atau memanfaatkan situasi semacam ini.  Saat turun, aku pun berdo’a semoga hari ini beliau baik-baik  saja dan argonya segera normal kembali sehingga tidak mengganggu aktivitasnya utnuk berburu rejeki di  kota metropolitan ini. 

Selesai mengikuti proses chek-in, ku lihat waktu menunjukkan pukul 5.00 wib.  Setelah melewati gate menuju ruang tunggu, kudapati banyak penumpang memasuki mushola. Akupun masuk dan ikut menunaikan sholat subuh berjama'ah. Dalam doaku, kupanjatkan harap semoga perjalanan tak terduga ini berujung hikmah baik bagi diriku dan juga keluargaku.  

Pesawat memulai penerbangannya tepat waktu dan sesampai disana sudah ada panitia yang standby menyambutku dan langsung membawaku menuju lokasi pelatihan. Sekilas terbangun rasa kagum dengan cara mereka menyambut dan memperlakukanku disepanjang perjalanan menuju Asrama Haji  Propinsi Lampung. AKu berkesimpulan kader2 Koprasi Mahasiswa Unila ini cukup menguasa  ilmu hospitality.  


B. Jalannya pelatihan Training of Trainer (ToT)
Kepesertaan pelatihan kali ini tergolong unik. Pesertanya bukan hanya dari delegasi koperasi mahasiiswa se-Propinsi Lampung, tetapi juga ada beberapa koperasi kredit, koperasi karyawan indofood dan juga koperasi-koperasi BMT. Kepesertaan yang beragam ini sedikit membuat penulis berfikir bagaimana membahasakan materi sehingga semua peserta bisa menerima dengan karakter dan budaya koperasinya masing-masing. Satu hal yang tidak terduga, Ketua Dekopinda (Dewan  Koperasi Indonesia Daerah) Metro Lampung berkenan untuk mengikuti jalannya materi sejak awal sampai selesai… sikap pemimpin yang sangat meng-inspirasi. 

Tema yang diminta panitia kali ini adalah tentang manajemen partisipasi dan pendidikan anggota. Sebuah pemilihan tema yang cerdas sebab  hal ini merupakan kebutuhan mutlak dari sebuah koperasi yang ingin berkembang. Saya pun memulai  dengan mengucapkan  "semangat pagi" yang diikuti respon segenap peserta yang begitu bersemangat. Saya pun mulai membangun mindset audience bahwa ke-belum majuan koperasi sesungguhnya dampak langsung dari "ketidakyakinan dan ketidakmauan" segenap unsur organisasi. Saya kemudian menyajikan alur nalar pendukung statemen itu. Untuk lebih meyakinkan peserta, saya mengajak mereka membangun imajinasi berupa contoh-contoh rasional yang menggiring kesadaran berta dahsyatmya sebuah kebersamaan bila terkelola dengan baik. Sepertinya peserta terbius dan wajah-wajah optimis terlihat. Tidak lupa saya melempak  joke seger sesekali  untuk memecah suasana dan me-refresh konsentrasi. Selanjutnya, saya menekankan bahwa "pendidikan" adalah tiket terbaik membangun "keyakinan dan kemauan itu", sebab pendidikan merupakan guidance untuk membangun pengetahuan, wawasan dan sekaligus membentuk perubahan perilaku. Pendidikan merupakan alat efektif untuk membentuk aksi2 berpihak anggotaa terhadap segala aktivitas produktif yang dijalankan koperasi. Penyelenggaraan pendidikan juga merupakan bentuk konsistensi koperasi sebagai kumpulan orang yang menuntut core concern nya mencerdaskan orang-orang didalalamnya.  
Tampaknya peserta  mendapat tambahan pemahaman dan keyakinantentang koperasi. Mungkin juga, penjelasan diatas sedikit mengoreksi persepsi sebagaian dari mereka yang selama ini memaknai koperasi sebatas perusahaan saja.  Pada mereka juga terbangun pemahaman bahwa "pendidikan" adalah kunci strategis koperasi agar bisa berkembang dan juga meluaskan  kemanfaatan khususnya bagi segenap anggota. Akhirnya, waktu jua yang kemudian menggiring presentasi dan diskusi untuk  dicukupkan. Selanjutnya,  atas ide Sang Ketua Dekopinda Metro Lampung, sesi ini diakhiri dengan agenda foto bersama yang melibatkan naras sumber, panitia dan juga segenap peserta.  

Usai mengisi acara, saya bergegas menuju ruang transit dimana ada sudah ada beberapa pengurus Kopma Unila. Mereka sudah siap diskusi sebagaimana direncanakan saat sesi di ruang pelatihan belum dimulai. Saya menegaskan pada mereka kalau masih ada waktu tersisa setengah jam sebelum harus bertolak ke bandara sehingga bisa dimanfaatkan untuk berdiskusi dan saling menyemangati. Akan tetapi, sempitnya waktu membuat diskusi khusus  dengan pengurus Kopma Unila ini tak bisa digelar sampai tuntas. Untuk men-sikapi keadaan,  diskusi tetep digelar walau sambil mengemas pakaian.

Dalam diskusi singkat itu, saya melempar sedikit "ide gila" untuk me-rintis koperasi mahasiswa dii luar pagar kampus dan menawarkan agenda pertama "membuat dapur umum". Untuk memotibasi dan membangun rasionalitasm saya mencoba  menalarkan dengan  angka proyeksi fantastic yang bisa diraih. Mereka ter-kaget2 dan sama sekali tidak terfikir sebelumnya. Dengan nalar semacam itu,  peluang Kopma untuk Mandiri dalam mengembangkan aktivitasnya terbuka lebar. Bahkan saya memberikan jaminan kalau formula ini gagal siap di gorok sepanjang Kopma Unila pun siap di gorok bila mereka tidak konsisten menjalankan formula. Atas tawaran ini,  para pengurus Kopma Unila sedikit shock dan terhenyak.  Mendapati situasi semacam ini, saya mencairkan suasana dengan sedikit berkelakar. Akhirnya, jam 11.15 Wib, saya dan rombongan bergerak menuju bandara lampung. Disepanjang perjalanan menuju bandara itu pun dimanfaatkan oleh para kader Kopma Unila untuk melanjutkan diskusi.  

Alhamdulillah..penulis masih berkesempatan mampir sesaat untuk mengabadikan momen di depan gerbang Kampus Unila guna pen-dokumentasi-an jejak juang  menyuarakan koperasi  di tanah air. 

Penerbangan lampung-jakarta yang memakan waktu 45 (emapat puluh lima) menit itu berjalan lancar. Sesampai di bandara Soeta, saya langsung setengah berlari ke ticketting box Damri guna mencapai Stasiun Gambir dengan harapan bisa naik kereta jam 16.45 wib menuju Kota Purwokerto. Sepertinya, daya dukung Tuhan mewarnai perjalanan tidak terduga ini dan sebagaimana rencana kereta sampai di Purwokerto pada jam 21.45 wib. Sesampai di stasiun purwokerto, saya langsung  memasuki agenda meeting walau terpaksa di gelar di stasiun demi efisiensi dan efektivitas waktu. Akhirnya, jam 23.30-an meeting usai dan saat nya beranjak pulang dan berkumpul dengan keluarga.  Terima kasih Tuhan atas perjalanan tak terduga ini.. semoga bermakna kebaikan dipenilain-mu...Amin...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved