KONTEMPLASI TENTANG SEBUAH “KE-KITA-AN”

Rabu, 16 September 20150 komentar



KONTEMPLASI TENTANG SEBUAH “KE-KITA-AN”
disampaikan pada agenda "Soedirman Mengabdi Jilid III" yang diselenggarakan BEM Fak Hukum Universitas Jenederal Soediman, di Dususn Peswasan, Keluarahan Gunung Lurah, Kec.Cilongok,Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah


Modernisasi memerlukan filter sehingga dampak perkembangan zaman bersih dari efek negatif, baik mental maupun sikap. Hal ini perlu menjadi perhatian, sebab tanpa disadari kekinian zaman telah mempengaruhi dan bahkan mendorong banyak insan menjadi egois dan cenderung asik dengan diri sendiri. Mereka menjadi abai dengan sekitar dan terlalu percaya diri bisa melakukan segala sesuatunya sendirian dan seolah tidak akan pernah butuh dengan orang lain. Komunikasi yang terbangun antar individu pun lebih didorong hanya karena “satu kepentingan” dan sesudahnya kembali sibuk dan larut dengan agendanya sendiri. Persaingan antar individu demi menjadi “lebih unggul” atau “lebih baik” dari lainnya pun kian meluas dan dirasakan dikeseharian hidup. Banyak anak muda lebih asik dengan sikap “ke-aku-an”. Mereka memilih cuek dengan keadaan sekitar dan bahkan abai dengan persoalan-persoalan sosial yang mengancam. Masing-masing orang mementingkan target individu walau tak jarang harus mengalahkan kepentingan-kepentingan umum. Lihatlah betapa banyak pengendaran sepeda motor dan mobil asik menggunakan smart phone saat berkendaaran, padahal tindakan itu tidak hanya bisa membahayakan dirinya saja, tetapi juga pengguna jalan lainnya. Lihat pula di tempat-tempat umum seperti stasiun,terminal, pelabuhan dan bandara, bagaimana orang duduk bersebelahan tetapi tidak bersapa satu sama lain karena asik dengan gadgetnya masing-masing. Realitas semacam ini menjadikan sulit untuk berkata “kita” atau menyuarakan “ke-kita-an.

Ini persoalan serius yang membutuhkan solusi komprehensip. Peduli dan saling mengerti perlu ditumbuhkembangkan guna mengembalikan manusia ke fitrahnya sebagai insan sosial yang tidak bisa hidup sendiri. “Care & Share” layak ditemakan dan didengungkan guna menumbuhkembangkan perasaan ke-kita-an diantara individu-individu. Pada diri setiap orang perlu dibangun kesadaran tentang ketentraman, keindahan, kedahsyatan dan kebermanfaatan yang lahir dari sebuah kebersamaan. Gerakan-gerakan semacam ini perlu dibangun dan diawali dari gerakan-gerakan kecil yang kemudian meluas seiring berjalannya waktu dan berkembangnya inisiatif setiap orang mengkampanyekan kepada lainnya.

Layaknya sapu lidi, bila hanya satu batang sulit membersihkan halaman rumah, tetapi berbeda kalau 100 batang sapu lidi disatukan dan diikat kuat maka akan bisa membersihkan halaman rumah yang luas. Sama halnya ketika seorang yang sakit akan terjebak dalam kesulitan luar biasa ketika harus menanggung biaya pengobatan Rp 10 juta, tetapi akan menjadi ringan bila beban itu di share keada 100 orang. Pohon kelapa yang tumbang melintang dijalan raya akan sulit dipinggirkan dengan satu orang saja, tetapi menjadi mudah ketika 30 orang bergerak bersama. Truk yang mogok akan sulit didorong oleh satu orang saja, tetapi akan sangat mungkin ketika 10 orang menyatukan energi mendorongnya. Demikian halnya berlaku dalam semua sisi kehidupan.  Semua akan terasa sangat berbeda bila dilakukan bersama-sama.

Kebersamaan akan mendatangkan perasaan menjadi kuat sebab terdapat penyatuan energi dan potensi. Kepedulian terhadap diri akan terbangun bila dirianya terbiasa peduli dengan lainnya. Kekerabatan hanya lahir dari kepedulian yang berulang dan tulus. Kebermanfaatan akan kian tumbuh ketika kian banyak yang bergabung, sebab setiap penambahan orang bermakna pertumbuhan potensi dan energi.

Akan kah anda tetap dalam keegoisan dan tetap asik dengan diri sendiri?. Ataukah menunggu keadaan yang menyadarkan bahwa ternyata anda tidak bisa hidup sendirian?. Semua berpulang pada anda dan penyesalan selalu datangnya belakangan. Bangun kebersamaan dan kepedulian sedini mungkin sebelum anda menyadarinya saat orang lain sudah tidak peduli bahkan lelah dengan sikap keegoisan anda. Indah manakah mengarusutamakan persaingan ataukah bersatu dalam sebuah kebersamaan demi kesuksesan ‘kita”?
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved