PELAJARAN MENARIK DARI “GADIS RISOL” RUSIA

Rabu, 05 Agustus 20150 komentar



PELAJARAN MENARIK DARI “GADIS RISOL” RUSIA



Tulisan ini sebenarnya kembangan dari kiriman WA (Whats App) dari Seorang mahasiswi yang lagi berjuang menuntut ilmu S2 di Negara Rusia. Kebetulan  penulis  sangat dekat dan kebetulan mengikuti perjalanan dan jejak juangnya beberapa tahun terakhir ini. Perjuangan mahasiswi ini memang tergolong amazing sejak S1-nya di Fakultas Hukum Kampus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto sampai dengan keberangkatannya untuk menempuh S-2 di Rusia lewat sebentuk hadiah Tuhan bernama “bea-siswa”.    



Inpsirasi tulisan ini berawal dari kebelumberhasilan Agnes mendapat pekerjaan yang dia harapkan bisa mengisi waktu liburan panas dan sekalgus mendapat hasil tambahan. Namun, segala upaya yang dilakukan tak berujung indah setelah ke semua tempat Agnes berusaha. Hasil berbeda didapat temen-temen lainnya yang sukses mendapatkan kesempatan bekerja selama musim liburan panas. Yang menarik dan menginspirasi adalah alasan tertolaknya Agnes untuk bisa diterima bekerja yaitu karena pakai hijab sebab dikhawatirkan jam kerja Agnes akan terkurangu karena harus menunaikan sholat setiap harinya. Namun, dasar Agnes orangnya tidak pernah bisa diam atau nganggur, kondisi ini membuatnya berfikir keras hal produktif apa yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan. Akhirnya, Agnes ter-ide membuat “risol” dan nekat menjajakannya.



Upaya ini ternyata tidak sia-sia. Agnes sukses menjual 30 sampai 50 buah risol setiap harinya dengan harga jual 50 rubel per buah. Jika dikomparasi, ternyata hasil berjualan risol jauh lebih baik  bila dibanding bekerja yang hanya dibayar 80 rubel/jam.  Dari sisi waktu , Agnes bisa menjual risol 15 buah risol per jam dan tak terlalu panjang waktu yang diperlukan untuk menghabiskan barang dagangannya. Saking gesitnya berjualn risol, para security dan pegawai di lingkungan asrama memanggil agnes dengan istilah Rusia yang artinya “gadis risol”. Sebuah sebutan yang mengundang senyum dan juga inspirasi pelipat energi Agnes untuk terus menjajakan jualan risolnya. 



Tuhan memang Maha Adil dan mungkin tidak berlebihan berkesimpulan kalau Tuhan benar-benar berpihak dan menjawab doa Agnes dalam hal ini. Tertarik mencermati alasan “berhijab” sebagai penghalang Agnes untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.  Atas situasi itu, Agnes tidak sedikitpun membangun amarah pada Tuhan-nya atau kemudian memilih melepas hijabnya demi mendapatkan pekerjaan tersebut. Memegang teguh prinsip dan ketauhidan  telah membawanya pada satu berkah yang dia pun tidak menduga  sama sekali sebelumnya. Fakta ini setidaknya menambah keyakinan Agnes tentang kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya. Satu hal yang menjadi catatan penulis, bahwa hal senada bukan pertama kali terjadi pada seorang Agnes. Beberapa kali tawaran pekerjaan dengan gaji menggiurkan datang kepadanya, tetapi tetap tidak diambilnya karena semua men-syaratkan harus melepas hijabnya saat jam kerja.



Kisah singkat ini menjelaskan dan juga menegaskan bahwa Tuhan-lah sesungguhnya penentu dan pemberi rezeki pada siapapun yang dikehendaki-Nya. Sementara itu,  “bekerja atau berjualan” sesungguhnya hanyalah media pemantas untuk di limpahi-Nya rezeki bagi seorang hamba.    



Mungkin ini hanyalah goresan ringan, tetapi penulis berharap bisa meng-inspirasi hal baik bagi pembaca atau mereka yang sedang berjuang menemukan keyakinan penuh tentang hubungan kuat antara keberhasilan dalam arti luas dan kedekatan dengan Tuhan, termasuk juga penulis yang sedang belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.   


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved