MENG-ARUS UTAMAKAN UMKM

Senin, 24 Agustus 20150 komentar



MENG-ARUS UTAMAKAN UMKM


Tulisan ini berisi tentang oleh-oleh dari satu rapat persiapan “Temu Usaha” yang akan dilaksanakan BPMPP (Badan Penanaman Modal dam Pengurusan Perizinan)  Kabupaten Banyumas. Tema yang akan diusung kali ini adalah tentang "permodalan yang dikemas dalam tajuk “membangun jejaring permodalan dan pendanaan usaha bagi umkm/pengusaha local”. Target pentemaan ini adalah terbangunnya jejaring permodalan/pendanaan usaha diantara lembaga keuangan perbankan/jasa keuangan dan pengusaha umkm. 
 
Hadir dalam acara rapat persiapan ini antara lain; pewakilan BRI (Bank Rakyat Indonesia), perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pejabat dan Staff  di lingkungan Jajaran BPMPP, perwakilan Hipmi, perwakilan Kadin, Ketua forum komunikasi UMKM Banyumas, perwakilan Bappeda, perwakilan Disperindagkop, perwakilan Dinas Pertanian dan Peternakan dan Perwakilan kelurahan/pemdes.  

Menurut rencana, pelaksanaan agenda ini akan dilaksanakan 15 oktober 2015 di Garden Hall, Purwokerto. Acara ini sendiri akan menghadirkan 3 (tiga) nara sumber yaitu : perwakilan pengusaha lokal/Hipmi, Kementrian Koperasi dan Umkm dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sementara itu, acara ini akan dihadiri: (i)  Perwakilan paguyuban UMKM  sejumlah 40 (empat puluh) orang; (ii) Perwakilan HIPMI sejumlah 5 (lima) orang; (iii) Perwakilan Kadin Banyumas dijatah 5 (lima) orang; (iv) Pelaku UMKM individu sejumlah 10 (sepuluh orang); (v) SKPD terkait 10 (sepuluh) orang dan; (vi) Pelaku usaha di bidang keuangan sejumlah 30 (tiga puluh)orang.

Menanggapi rencana kegiatan ini, Hipmi mengapresiasi pen-temaan yang dilakukan oleh BPMPP kali ini. Mas Dimas berpendapatan bahwa persoalan UMKM itu tidak semata-mata permodalan, tetapi persoalan mindset dan manajemen sehingga UMKM sulit untuk berkembang. Berkaitan dengan pelaksanaan temu usaha ini , Mas Dimas berpesan perlu tindaklanjut yang konstruktif sehingga agenda ini bisa meng-akselerasi pertumbuhan dan perkembangan UMKM. Disamping itu, beliau juga mengusulkan agar pada pegelaran acara nanti dibuatkan stand-stand yang akan diisi para pelaku usaha jasa keuangan sehingga para pelaku UMKM yang hadir bisa langsung meng-akses informasi awal tentang peluang-peluang permodalan. 

Sementara itu, Disperindagkop Kab.Banyumas menjelaskan bahwa jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Banyumas kurang berjumlah 66.000,oo (enam puluh enam ribu orang), sehingga hal ini sangat potensial di tumbuhkembangkan agar kontribusinya terhadap perekonomian daerah bisa ditingkatkan secara optimal. Disperindagkop melalui perwakilannya Ibu Endang juga menjelaskan bahwa Pemkab Banyumas sudah menyediakan satu media bagi ‎ pemasaran produk-produk UMKM, yaitu Gedung Prasista Hasta. Disamping untuk media ajang produk-produk UMKM, gedung ini juga merupakan tempat diskusi dan bertemunya para pelaku usaha.  Ketua Paguyuban UMKM, Ibu Sri bertestimoni bahwa sampai detik ini sudah ada 180 pelaku UMKM yang memanfaatkan gedung ini untuk memasarkan produknya. Beliau juga memaparkan beberapa realitas UMKM antara lain :
1.   persoalan utama yang di dialami oleh UMKM adalah pemasaran dan permodalan.
2. Keberpihakan diperlukan juga untuk mendukung produk-produk UMKM seperti menjadikan produk batik lokal sebagai pakaian wajib bagi segenap PNS. 
3.  Praktek rentenir juga sudah merupakan persoalan yang memerlukan solusi, khususnya dalam permodalan UMKM. 

Dalam rangka mensukseskan agenda ini, Perwakilan ‎Bapeda menyarankan untuk melibatkan para suplier yang mungkin bisa menolong UMKM agar lebih cepat berkembang. Sementara itu, perwakilan BRI menginformasikan bahwa Presiden sudah menandatangani Anggaran KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp 30 triliun dimana 80% penyalurannya dilakukan melalui BRI‎. Bambang (kasubag pengawasan bang) dari OJK menyampaikan tentang tufoksi utama OJK yaitu; mengatur, mengawasi, melindungi konsumen/nasabah dan  diikuti dengan literasi dan edukasi kepada masyarakat. Dalam rangka mendukung pengembangan UMKM, beliau menekankan perlunya "sikap jujur" dari para pelaku UMKM sehingga mempermudah pihak perbankan  melakukan treatmen agar tumbuh dan berkembang. Salah satu Pak lurah purwokerto kidul menegaskan dukungannya terhadap ide Mas Dimas dimana perlu ada stand-stand perbankan dan juga stand BPMPP sehingga para pelaku UMKM bisa mengakses informasi yang diperlukan, khususnya yang berkaitand dengan permodalan dan pengurusan perizinan.  Pak Aris selaku Kabag Pemasaran BPMPP mengingatkan agar aspek legalitas produk-prosuk  UMKM dilengkapi sehingga tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari. Disamping itu, hal ini juga bagian dari mempersiapkan UMKM dalam menghadapi MEA di penghujung 2015 nanti.

Sementara itu, penulis yang kebetulan mewakili Kadin Banyumas menekankan perlunya peng-arus utamaan UMKM. Hal ini berdasarkan fakta data dimana tahun 2014, UMKM menyumbang PDB sebesar 56%. UMKM juga berkontribusi sampai 97% dalam urusan penyerapan tenaga kerja dimana 70% nya dilakukan oleh UMK. Hal ini mendorong kesimpulan bahwa UMKM adalah penopang ekonomi bangsa sehingga harus menjadi aus utama konsentrasi kebijakan. Untuk mendukung hal tersebut, segenap stake holder perlu duduk bersama untuk merumuskan ”road map” yang akan menjadi guidance dalam mengakselerasi pertumbuhan UMKM, khususnya di lingkungan Kabupaten Banyumas. Gagasan ini di apresaite oleh BPMPP dan juga Disperindagkop & UMKM Kab Banyumas dan akan ditindaklanjuti dalam diskusi yang lebih intensif. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved