OLEH-OLEH DARI SEMIFINAL LEG I KAPOLDA JATENG CUP 2015...

Rabu, 24 Juni 20150 komentar



 Prolog bernada melo...

Sungguh perlu perjuangan berat untuk bisa out of the box dan kemudian membuat tulisan ringan tentang semifinal leg I Kapolda Jateng Cup yang mempertemukan Persibas Banyumas dan PSIS Semarang di Gor Satria Purwokerto (GSP) tadi malam. Pertandingan di gelar jam 21.00 Wib sesudah sebelumnya didahului dengan sholat Isya dan Tarawih berjama'ah.  

Terlalu sulit  melihat semua yang terjadi disepanjang pertandingan, mulai di lapangan sampai dengan di tribun penonton. Jadinya, cukup rumit memilih kalimat karena sepertinya penulis sedang sulit untuk tak condong. Memilih berdiam diri sejak usai pertandingan untuk menenangkan diri  dan kemudian mengendapkan semua memori dan rekam jejak pertandingan. 

Namun, diam ini tak berhasil bertahan terlalu lama, akhirnya gairah menyambangi pecinta bola lewat tulisan sederhana  ini tak terbendung juga dan kemudian mendorong jemari tangan ini terus  menari diatas papan keyboard di sepanjang perjalanan kereta Puwokerto-Bandung. 




Emosi yang teraduk oleh kepemimpinan sang wasit.

Menyaksikan pertandingan semifinal Kapolda Cup Leg I  cukup menguras energi. Bagaimana tidak, pertandingan babak kedua sempat dihentikan dan kemudian wasit diamankan ke ruang panitia dalam pengawalan ketat pihak kepolisian. Pengamanan wasit terpaksa dilakukan sebab para pemain Persibas sudah kehilangan kesabaran atas sederetan keputusan yang  memancing rasa ketidakadilan dan amarah yang memuncak. Tidak sampai disitu saja, penonton pun banyak yang emosi dan kehilangan kendali kemudian melempar botol minuman ke arah lapangan. Apesnya, salah satu penonton di tribun VIP harus diamankan petugas karena tanpa sengaja lemparan minuman yang dimaksudkan ke arah lapangan mengenai petugas keamanan.



Sebenarnya, pertandingan sejak babak I berlangsung sangat menarik dan seimbang. Persibas Banyumas selaku tuan rumah megambil inisiatif untuk menyerang dan memborbardir pertahanan PSIS lebih dahulu. Demikian juga PSIS sesekali mencoba membangun serangan dan masuk ke jantung pertahanan Persibas Banyumas. Dipenghujung babak I, Persibas dikagetkan dengan keputusan wasit yang memberikan tendangan bebas kepada PSIS di sisi kiri kotak area penalty Persibas. Berawal dari perebutan bola antara penyerang PSIS dan pemain belakang Persibas, wasit menilai tangan pemain belakang Persibas aktif dan diikuti dengan aksi cerdas berbau teatrikal pemain PSIS yang seolah menegaskan kalau telah terjadi kesalahan. Tendangan bola mati ini sukses dimanfaatkan oleh PSIS semarang dimana tendangan bebas disambut dengan sundulan pemain PSIS yang tiba-tiba muncul ke mulut gawang. Sebuah metode tendangan bebas brilian dan berkelas. Kedudukan 1-0 untuk keunggukan PSIS dan angka ini bertahan hingga turun minum.



Begitu babak II dimulai, Persibas Banyumas langsung menggebrak pertahanan PSIS Semarang. Lewat ragam variasi serangan dan mengoptimalkan semua lini dan lebar lapangan, Persibas bisa menguasai bola dan memborbardir barisan pertahanan PSIS. Tensi pertandingan pun mulai naik dimana pelanggaran-pelanggaran  sering terjadi sebagai bagian dari cara PSIS untuk mempertahankan keunggulan. Akhirnya, harapan Persibas untuk menyamakan kedudukan terbuka lebar setelah wasit menunjuk titik putih finalty atas pelanggaran yang dilakukan pemain belakang PSIS kepada salah seorang penyerang Persibas. Sontak, keputusan ini mengundang protes keras para pemain PSIS yang datang bergelombang bernada serupa, yaitu: “protes atas keputusan wasit”. Hmmm...tak pelak lagi kondisi ini membuat waktu terus berjalan tanpa gerakan bola. Setelah keadaan terkendali, algojo Persibas mengambil ancang-ancang....dan sesaat kemudian G0lllllllll stelah kiper PSIS gagal menghalau laju bola.....

Sayangnya gol ini dianulir wasit dan meminta tendangan finalty diulang sebab wasit bersikeras telah terjadi pelanggaran sebelum tendangan di lakukan. Kali ini, gantian para pemain Persibas yang langsung protes keras atas keputusan wasit menganulir gol. Dalam suasana psichologis pertandingan yang sudah tindak kondusif,  sang algojo Persibas pun tak mampu menyelesaikan tendangan finalty ulangan itu dengan baik.  Keadaan pun semakin memanas dan kekecewaan atas kepemimpinan wasit mulai masuk ke area penonton yang sudah muak dengan ragam keputusan wasit. Keadaan kian ruwet kala  wasit mengeluarkan kartu merah untuk salah satu pemain Persibas. Protes para pemain Persibas atas keluarnya kartu merah ini tak di gubris dan wasit tetep bersikukuh dengan keputusannya.

Pertandingan terus berjalan dalam suasana panas dan tensi tinggi.  Setelah beberapa keputusan kontroversi wasit terus berlangsung untuk kesekian kalinya, akhirnya kesabaran para pemain Persibas menyentuh ambang batas dan kemudian tidak terkendali. Mereka mengejar wasit. Atas persetujuan Pengatur Pertandingan (PP), petugas kepolisian mengamankan sang wasit dan membawanya ke ruang wasit.




Ketika Wasit Cadangan Dimainkan   

Pertandingan dihentikan dan Pengatur Pertandingan (PP) pun mengambil alih dan menstabilkan keadaan. PP mencoba melakukan pendekatan persuasif kepada kedua tim untuk meminta kesediaan melanjutkan pertandingan. Setelah sukses mendapat kesanggupan kedua coach,  PP kemudian masuk ke ruang wasit untuk mengadakan rapat internal dan akhirnya berkeputusan menugaskan wasit cadangan untuk memimpin lanjutan pertandingan. Penggantian wasit ini mungkin tampak hal baru dan sangat jarang terjadi.  Bahkan  sampai detik ini,  penulispun baru pernah menyaksikan ada pergantian wasit di satu pertandingan sepak bola. Namun harus diakui, keputusan penggantian wasit ini cukup cerdas dan terbukti  sang pengganti berhasil menjalankan tugasnya dengan baik  sampai peluit akhir dibunyikan.  Kedudukan akhir tetap 1-0 dan PSIS Semarang gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain setelah 2 (dua) pemain Persibas di ganjar kartu merah. 



Ada hal menarik  di sela proses diskusi pasca pengamanan wasit. PP menilai sang wasit memang telah melakukan beberapa kekeliruan dalam memimpin pertandingan Persibas dan PSIS yang mengakibatkan para pemaian maupun penonton menjadi emosi dan tidak terkendali. Penilaian ini pula yang mungkin menjadi satu alasan tambahan mengapa kemudian PP menugaskan wasit cadangan untuk memimpin lanjutan pertandingan.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved