MEWUJUDKAN KOPERASI YANG MENG-ANGGOTA

Rabu, 27 Mei 20150 komentar



MEWUJUDKAN KOPERASI YANG MENG-ANGGOTA
Disampaikan pada  seminar perkoperasian bertajuk “mengembangkan anggota koperasi”, dilaksanakan oleh Kowapi Kab. Banyumas, di Gedung Korpri, Purwokerto, 27 Mei 2015
 

A.  Pembuka

Perkembangan zaman mendorong suburnya karakter individualis. Naluri ke-aku-an pun perlahan menggerus ke-kita-an. Bersaing dan saling mengalahkan pun diyakini cara untuk menang dan menjadi hebat. Saling mengintip kelemahan pun tak terhindarkan demi keunggulan dibanding lainnya. Dampaknya, muncullah superior di satu sisi dan inferior di sisi lainnya. Akibat  langsungnya adalah yang kuat menguasai yang lemah. Ironisnya, yang lemah tak memiliki percaya diri memobilisasi potensinya  agar menjadi kuat.

Muasal kelahiran koperasi di dunia ini adalah keprihatinan atas ketidakberdayaan sebagai akibat dari eksploitasi kaum pemilik modal terhadap kaum buruh. Penderitaan panjang dan gelapnya masa depan telah menginspirasi kaum buruh menyatukan potensi dan merintis aktivitas produktif berbasis kolektif. Semangat ini lah yang kemudian terus meng-inspirasi gerakan- gerakan koperasi di dunia. Adanya kesadaran akan keterbatasan diri dan munculnya keyakinan bahwa bersama akan menjadi lebih kuat terus bergulir dan memantik kelahiran koperasi-koperasi di berbagai belahan dunia. 

Adakah semangat semacam ini melatar belakangi kelahiran Kowapi sebagai sebuah koperasi?. Adakah kesamaan dasar berfikir anggota sama saat berketetapan menjadi bagian dari barisan Kowapi?. Tanya ini memerlukan jawab agar dinamika organisasi berjalan pada alur nalar yang di fahami dan di yakini bersama oleh segenap unsur organisasi.


B.  3 (tiga) kebersamaan yang berulang  
Koperasi berdiri dan berjalan diatas kebersamaan. Oleh karena itu, rasa kebersamaan harus mewujud menjadi “perasaan ke-kita-an” yang kuat sehingga terhimpun energi kolektif sebagai modal penting koperasi dalam merintis dan menyelenggarakan aktivitas-aktivitas produktif. Untuk membangun perasaan ke-kita-an itu, maka koperasi perlu menyelenggarakan pendidikan secara terus menerus dengan target minimal sebagai berikut :



1.       Membentuk kesamaan persepsi dan rasionalitas ekspektasi. Koperasi adalah kumpulan orang dari berbagai latar belakang dan ragam karakter. Oleh karena itu, sebelum seseorang menjadi anggota sebaiknya di didik dan di latih terlebih dahulu sehingga terbentuk kesamaan persepsi tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Disamping itu, langkah ini juga dimaksudkan untuk membangun ekspektasi rasional dari segenap anggota terhadap koperasinya. Sebab, fakta menunjukkan bahwa sebagian dari anggota koperasi mempersepsikan berkoperasi sama dengan berinvestasi.   
2.      Membagun pembelaan produktif. Koperasi bisa kuat bila anggotanya terus tumbuh secara kuantitas maupupun kualitas.  Anggota yang berkualitas memiliki kesadaran tinggi untuk melakukan aksi-aksi pembelaan yang mendorong percepatan tumbuh kembangnya koperasi, baik secara organisasi maupun secara perusahaan. 
3.      Menginpirasi energi untuk berkontribusi secara kontinue atas setiap aktivitas yang diselenggarakan koperasi.
4.      Mengambil inisiatif menjadi “penyampai” kebaikan-kebaikan koperasi pada orang lain sehingga memantik ketertarikan untuk bergabung ke dalam barisan koperasi. Hal ini menjadi faktor penentu tumbuhnya anggota yang kemudian berdampak semakin efiesiennya organisasi dan juga perusahaan koperasi. 

Ketika segenap anggota sudah faham apa, mengapa dan bagaimana berkoperasi, selanjutnya koperasi mulai merintis atau menyelenggarakan ragam agenda produktif yang berorientasi pada tumbuhkembangnya nilai manfaat dari sebuah kebersamaan di koperasi. Ragam agenda itu dikemas dalam basis kebersamaan dimana anggota berposisi sebagai  subyek dan sekaligus obyek.  Singkat kata, di keseharian koperasi itu ada 3 (tiga) kebersamaan yang terus berulang, yaitu :
1.       Bersama-sama dalam merumuskan cita-cita dan mendefenisikan distribusi peran. Dalam tahap ini, segenap anggota duduk bersama  merumuskan cita-cita bersama dan di ikuti dengan pendefenisian distribusi peran segenap unsur organisasi dalam proses perwujudan mimpi itu sendiri. Sebagai awalan, dilakukan eksplorasi guna menyerap aspirasi berisi ide dan gagasan yang selanjutnya diputuskan berdasarkan kesamaan kebutuhan mayoritas anggota. Selanjutnya, di rumuskan pula  distribusi peran masing-masing unsur (baca : pengawas, pengurus dan anggota). Pendefenisian peran ini juga bagian penegasan bahwa semua unsur memiliki tugas dan tanggungjawab dari setiap aktivitas yang dijalankan koperasi.
2.      Bersama-sama dalam mewujudkannya. Pada tahapan ini, masing-masing unsur organisasi menjalankan perannya masing-masing yang terhubung antara satu sama lain. Artinya, apa yang dilakukan oleh anggota, pengurus dan pengawas memiliki hubungan yang mengarah pada ketercapaian cita-cita bersama.
3.      Bersama-sama dalam meng-evaluasi capaian. Pada tahap ini, semua unsur organisasi duduk bersama menilik capaian. Capaian kemudian di evaluasi dan sekaligus merumuskan langkah-langkah selanjutnya. Ada beberapa catatan penting tentang capaian, yaitu :
a.       apapun dan seberapapun capaian yang diraih koperasi harus dibaca sebagai hasil bersama, sebab capaian tersebut merupakan akumulasi dari peran dan partisipasi yang dilakukan oleh semua unsur organisasi.
b.      hasil atau capaian” mewakili “kualitas kebersamaan” yang terbangun dalam koperasi tersebut. Ketewujudan capaian merupakan dampak dari konsistensi  semua unsur organisasi menjalankan perannya masing-masing.
c.       Semua harus bergerak bersama sebab hakekat berkoperasi adalah berbagi peran secara proporsional untuk tujuan bersama. Oleh karena itu, tidak berlebihan kemudian berkesimpulan bahwa koperasi tidak mengenal kata aku, dia atau mereka, tetapi hanya mengenal kata “kita”. Dalam bahasa yang lebih tegas, apapun hasil koperasi adalah hasil “kita”. 

Kebersamaan semacam ini terus berlangsung dan berulang di siklus kehidupan koperasi. Intensitas dan konsistensi komunikasi yang terjalin disegenap unsur organisasi akan menentukan seberapa jauh koperasi berkemampuan mem-produksi kemanfaatan-kemanfaatan kepada segenap anggotanya.   


C.  Azas Subsisiary Sebagai Muasal Koperasi Meng-anggota
Koperasi bisa mengerjakan aktivitas apa saja, kecuali hal-hal yang dibatasai oleh UU atau peraturan lainnya.  Artinya, perusahaan koperasi bisa dimanfaatkan oleh anggota secara maksimal  untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun demikian, aspek rasional dan kelayakan perlu  dipertimbangkan sebab jalannya perusahaan koperasi tidak lepas dari pengeluaran-pengeluaran baik bersifat tetap (fix cost) maupun fluktuatif (variable cost). Disisi lain, keterwakilan kepentingan mayoritas anggota atas usaha yang akan dijalankan juga perlu dijadikan rujukan. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas perusahaan koperasi mendapat respon positif dan daya dukung anggota serta mendatangkan kemanfaatan bagi hidup anggota.

Untuk tujuan itu,  dalam merumuskan jenis aktivitas perusahaannya,  koperasi disarankan berpedoman pada azas subsidiary.  Secara singkat, azas subsidiary menekankan 2 (dua hal, yaitu  : (i) apa-apa yang bisa dikerjakan oleh anggota sebaiknya tidak di kerjakan oleh koperasi dan; (ii) apa-apa yang tidak bisa dikerjakan oleh anggota, itulah yang sebaiknya dikerjakan oleh koperasi.  Azas ini memberi pesan kuat antara lain:
a.       mengharapkan usaha koperasi menjadi refresentasi/mewakili  kebutuhan mayoritas anggota. Dengan demikian, daya dukung partisipasi dipastikan terus tumbuh bersama kelahirannya.
b.      perusahaan koperasi akan menjadi “mesin penjawab” atas kebutuhan mayoritas anggota.
c.       koperasi tidak akan zalim terhadap anggotanya. Artinya, usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi seharusnya tidak akan menjadi pesaing bagi usaha yang diselenggarakan oleh anggotanya sebab hal ini berpotensi membuat usaha anggotanya gulung tikar
d.      adanya distribusi peran sinergis yang saling menguatkan, baik anggota secara pribadi maupun koperasi secara perusahaan.

Untuk memahami tentang azas subsidiary , beberapa contoh sederhana dijelaskan berikut ini:
1.       Sebuah  koperasi beranggotakan para pengrajin gula kelapa memilih berbagi peran yang saling memperkuat dimana anggota berposisi sebagai pengrajin gula kelapa dan koperasi berperan memasarkan gula kelapa yang diproduksi anggotanya. Disamping itu, koperasi juga concern mengembangkan teknologi agar kualitas produksi anggotanya menjadi lebih baik.
2.      Sebuah koperasi beranggotakan para pedagang asongan memilih untuk menjadi suplier bagi anggotanya, sedangkan anggotanya  memerankan diri sebagai pedagang asongan yang bertransaksi dengan konsumen akhir (end user).
3.      Sebuah koperasi yang anggotanya para pengusaha makanan berbagi peran dimana koperasi memasarkan hasil produksi makanan yang dihasilkan oleh anggota, sedangkan anggotanya  concern dengan urusan produksi makanan berbasis pesanan yang didapatkan oleh koperasi.
4.      Koperasi yang beranggotakan para pengusaha memilih untuk menyelenggarakan simpan pinjam guna mendukung usaha anggotanya agar mendapatkan modal yang lebih murah. Disisi lain, anggota pun berkomitmen memusatkan sirkulasi keuangannya di koperasi dengan membuka tabungan harian. Dengan demikian, simpan pinjam koperasi akan menjadi back up  keuangan usaha anggota. 

Beberapa contoh diatas menunjukkan adanya hubungan saling mendukung antara usaha yang diselenggarakan oleh koperasi dan juga anggotanya. Kalau hal semacam ini mewujud dimana hubungan saling mendukung diantara koperasi dan anggotanya begitu nyata, maka hampir bisa dipastikan perusahaan koperasi tidak pernah bangkrut  sepanjang anggotanya pun terus mendukung secara nyata. Contoh diatas juga memperlihatkan bagaimana koperasi mempersonifikasikan aktivitasnya dalam nuansa “memberdayakan” anggotanya.   

Singkat kalimat, aplikasi azas subsidiary dalam membentuk dan atau  menumbuhkembangkan aktivitas perusahaaan koperasi merupakan guide line  dalam mewujudkan koperasi yang meng-anggota. Kala koperasi sukses membentuk iklim organisasi yang meng-anggota, maka bisa dipastikan aktivitas perusahaan koperasi terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan anggotanya. Disisi lain, karena hubungan saling mendukung ini, maka semua anggota akan ikut menjaga dan sekaligus mengembangkan partisipasinya demi pertumbuhan koperasi dan juga bermakna pertumbuhan kesejahteraan dirinya sendiri.  


D.  Menilik Implikasi Produktifitas Pertumbuhan Anggota
Koperasi adalah kumpulan orang yang equal (baca: sejajar) dan tidak membedakan lata belakang agama, gender, ras dan status sosial. Ke-universal-an koperasi ini menjadikan koperasi renyah dan terbuka pada siapapun yang memiliki komitmen dan keyakinan bahwa “kebersamaan dalam koperasi” adalah identik dengan memperkuat diri. Jika tidak, maka koperasi akan kemasukan orang yang salah dan beroptensi merusak semangat kebersamaan yang sudah terbentuk.

Oleh karena itu, dalam memahami keterbukaan koperasi dari sisi keanggotaan, implikasi positif pertumbuhan anggota juga perlu dipertimbangkan agar penambahan satu anggota bermakna penambahan kekuatan koperasi dalam arti luas. Untuk mendukung hal itu, ada beberapa treatmen (tindakan)  yang perlu dilakukan untuk meng-efektifkan pertumbuhan anggota, antara lain :
1.       Identifikasi calon anggota. Identifikasi lebih fokus pada pendeteksian karakter dikaitkan dengan kesesuaian nafas juang koperasi yang senantiasa mengusung kebersamaan. Berkoperasi itu butuh jiwa  sebab “hidup bersama dalam koperasi” memerlukan ketulusan untuk mengerti orang lain, kebijaksanaan memandang perbedaan dan kemauan berkorban. Identifikasi ini bisa dilakukan denga mencari referensi sebanyak mungkin tentang karakter calon anggota yang bersangkutan. 
2.      Pendidikan awal. Kala tahap pertama menyimpulkan adanya potensi layak untuk diterima, selanjutnya masuk ke tahap ke-02, yaitu pendidikan awal. Pendidikan awal ini minimal meliputi tantang; (i) apa, mengapa dan bagaimana berkoperasi dan; (ii) profile (meliputi pemahaman terhadap sejarah koperasi bersangkutan, visi, misi dan AD/ART.
3.      Masa Uji coba. Kalau di tahap ke-02 seorang yang ingin bergabung koperasi dianggap potensial, barulah seseorang didefenisikan sebagai calon anggota untuk masa waktu tertentu. Masa ini didefenisikan sebagai masa uji coba. Pada masa uji coba ini, koperasi melakukan penilaian apakah kesimpulan di tahap01 dan tahap 02 konsisten dengan sikap atau karakter yang di tunjukkan calon anggota di keseharian koperasi.      

Keyakinan penuh terhadap karakter calon anggota merupakan dasar untuk mendefenisikannya sebagai anggota penuh. Pendefenisian ini mencerminkan keyakinan bahwa penambahan anggota tersebut akan mendatangkan kebaikan-kebaikan baru baik bagi koperasi, anggota lainnya maupun bagi diri anggota tersebut.  Pada penambahan anggota yang efetif juga bermakna sebagai peningkatan potensi koperasi untuk lebih tumbuh dan berkembang.   


D.  Roh Pengelolaan Perusahaan Koperasi Sebagai Catatan Penting  
Kesejahteraan yang selalu di defenisikan sebagai tujuan berkoperasi memiliki makna luas yang bisa dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu : (i) perolehan materialitas (SHU); (ii)  kebermanfaatan (benefit) dan atau’ (iii) campuran antara materialitas dan kebermanfaatan. Sebagai usaha yang dimiliki bersama, tentu memerlukan ketegasan pilihan sehingga setiap unsur organisasi mempunyai dasar yang serua untuk memahami aktivitas perusahaan yang di jalankan koperasi. Disamping itu, hal ini juga menjadi referensi dalam menyusun indikator penilaian atas setiap capaian. Dengan kata lain, pilihan atas dimensi kesejahteraan merupakan roh yang akan menjadi rujukan dalam semua aspek keseharian perusahaan koperasi.   Pada pilihan mana yang paling ideal?.

Jawaban atas pertanyaan itu sangat tergantung pada pemilik suara dalam koperasi yaitu anggota koperasi.  Kualitas pemahaman mereka terhadap filosopi perjuangan koperasi tentu ikut mempengaruhi pada pilihan mena mereka berkeputusan. Untuk mendukung terbentuknya pilihan yang ideal dan juga rasional, maka efektivitas pendidikan yang diselenggarakan koperasi menjadi faktor penentu. Dalam konteks pilihan di biarkan liar pada komunitas anggota yang menyukai hal-hal instan, maka semangat materialitas mungkin lebih dominan untuk di jadikan pilihan. Namun, hal lain akan didapati kala anggota sudah terdidik dan memahami bahwa produktifitas dalam koperasi itu berbasis kolektivitas dan perkembangan koperasi sangat tergantung pada partisipasi anggota.

Pilihan ini sangat penting mengingat efek luasnya terhadap nafas pengelolaan segala aktivitas perusahaan koperasi. Pilihan ini juga sangat berpengaruh pada keberpihakan anggota terhadap segala aktivitas perusahaan koperasi. Banyak fakta menunjukkan bahwa anggota kurang memiliki kebanggaan atas capaian koperasi sebab mereka tidak merasa menjadi bagian dari koperasi secara utuh. Interaksi mereka lebih bersifat transaksional tanpa diikuti oleh ikatan emosional yang kuat. Bahkan tidak sedikit anggota yang merasa termanfaatkan atau di eksploitasi oleh koperasinya sendiri.

Pemahaman ini terkadang berawal dari ketidakfahaman tentang apa, mengapa dan bagaimana berkoperasi. Mereka dibiarkan masuk tanpa pendidikan perkoperasian. Persepsi dan ekspektasi mereka dibiarkan liar tanpa pengarahan yang tepat dan pendidikan yang terencana.  Atas hal itu, pelibatan anggota dalam menentukan “pilihan roh pengelolaan” menjadi sangat penting. Namun demikian, untuk melahirkan pilihan ideal diperlukan anggota yang terdidik perkoperasian sehingga memahami efek secara menyeluruh dari pilihan yang mereka ambil. Jika hal ini bisa di wujudkan, maka iklim meng-anggota akan tumbuh dan berkembang secara bertahap dan berkesinambungan. Hal ini pun akan berbanding lurus dengan pertumbuhan perusahaan koperasi dalam pilihan roh manapun koperasi akan dijalankan dan di kelola. 
     

E. Penghujung
Inti berkoperasi adalah mengembangkan kerjasama guna melahirkan dan menumbuhkembangkan kemanfaatan yang lebih bila dibandingkan melakukan segala sesuatunya sendirian. Untuk itu, kebermanfaatan hanya lahir dari terbentuknya iklim koperasi yang meng-anggota. Pada koperasi yang meng-anggota akan didapati keberpihakan nyata dari anggota baik dalam berpendapat maupun dalam mengembangkan partisipasinya secara optimal. Satu hal yang menjadi perhatian bahwa partisipasi optimal hanya lahir dari kesadaran tinggi dan untuk itu bermula dari keterdidikan anggota dalam hal perkoperasian. 

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga menginspirasi anggota koperasi untuk meningkatkan pemahaman terhadap nafas juang koperasi dan sekaligus termantik  menumbuhkembangkan partisipasinya secara optimal. Semangat....!!!!!




Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved