QURBAN SEBAGAI PEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL

Sabtu, 04 Oktober 20140 komentar



Tulisan diinspirasi saat mengikuti "rombongan qurban"
SD Al-Irsyad Al-Islamiyah 02, Purwokerto, Kab.Banyumas, Prop.Jawa Tengah


.اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدِ



Suara taqbir bergema di seluruh penjuru negeri menandakan Iedul Adha telah tiba, atau biasa juga disebut dengan Hari Raya Qurban. Sebagaimana diriwayatkan, Hari Raya Qurban ini  lekat dengan sejarah pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS yang tadinya berencana menyembelih anak tersayangnya Ismail atas perintah Allah. Saat hal itu benar-benar dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim atas persetujuan anaknya Ismail yang justru akan disembelih,  kemudian Allah SWT menggantikannya dengan seekor qibas. Subhanallah..bisa dibayangkan bagaimana campur aduknya perasaan Sang Nabi saat
harus menyembelih anaknya sendiri. Apalagi, Ismail adalah anak yang sangat disayangi  dan sudah menunggu sangat lama untuk bisa memiliki seorang anak. Tetapi, hal ini menjadi ujian keimanan bagi Sang Nabi kepada Allah SWT.
Saat ini, kita tidak lagi harus menyembelih anak sendiri untuk sebuah "qurban", tetapi perintah qurban tetep berlaku bagi setiap ummat islam yang mampu. Begitu sakralnya " qurban" sampai-sampai Rasulullah SAW mengancam "bukan ummatku yang tidak mau berqurban".
Sebenarnya, kambing atau sapi hanyalah simbol dari sebuah kerelaan atau keikhlasan seorang hamba mengorbankan sebagian dari rezekinya ke satu jalan kebaikan. Sebab, hanya sepertiga yang boleh diambil oleh orang yang berqurban dan sisanya dibagikan kepada insan lainnya.  Saat ini, qurban memang berbentuk kambing atau sapi, namun spirit yg ada didalamnya sesungguhnya sama saat Nabi Ibrahim melaksanakannya, yaitu "uji keimanan" bagi setiap hamba Allah SWT.

Apakah seseorang menjadi kikir saat Allah SWT telah  mengkaruniai dan melimpahi
rezeki yang berlimpah, ataukah hamba tersebut kian mendekat pada Allah SWT lewat berbagi sebagian rezeki kepada sesama.  Andai segala rezeki dan nikmat yang mewujud dalam kebendaan difahami sebagai titipan Allah dan harus diintrepretasikan dengan bijak, mungkin tidak terlalu sulit baginya untuk melakukan aksi qurban. Tetapi, ketika segala kepemilikan kebendaan atau  nikmat lainnya dipandang semata-mata hasil kerja keras dari akal dan fikirannya, mungkin akan mendorong rasa kepemilikan yang amat sangat sehingga  menjadi pelit dan sulit diajak untuk berbagi. Pada pilihan manapun "pemaknaan" yang
akan diambil, setidaknya hal ini menggambarkan pendalaman seorang hamba atas kata "ibadah" yang merupakan "tujuan" dari keterciptaan manusia.

Qurban adalah simbol berbagi, simbol kepedulian dari seorang hamba. Qurban juga mengingatkan pada setiap orang  bahwa berbagi adalah sebuah kemuliaan yang sangat baik ketika dijadikan budaya dari keseharian hidup. Gemar membahagiakan orang lain dalam arti dan wujud yang seluas-luasnya adalah wujud nyata dari sebuah kesalehan sosial.Semoga Iedul Adha ini bisa menjadi momentum untuk menumbuhkembangkan kepedulian dan kemauan berbagi, hingga mempertinggi peluang untuk lebih mulia dipandangan Allah SWT...Amin Ya Robbal 'Alamin

Saya dan keluarga menyampaikan selamat hari raya Iedul Adha...semoga membawa kita pada makna-makna baru tentang qurban dan menjadikan kita pribadi yang memiliki kesalehan sosial serta kian mulia dipandangan Allah SWT..amin...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved