“MEMPERLUAS MAKNA BERMODALKAN KESAMAAN PERSEPSI”

Senin, 22 September 20140 komentar



BELAJAR BERSAMA TENTANG KOPERASI
“MEMPERLUAS MAKNA BERMODALKAN KESAMAAN PERSEPSI”


Disampaikan dalam agenda Penyebaran Model-Model Pengembangan Koperasi yang dilaksanakan oleh Disperindagkop Kab. Banjarnegara, 22-24 September 2014, di Gedung PWRI Kab.banjarnegara.
 


A.  Pemulaan Bernada Tanya
Popularitas koperasi di ingatan banyak orang sepertinya baru sebatas “kata”, belum pada “kekaryaan” dalam makna senyatanya. Hal ini mungkin dikarenakan masih jarangnya karya koperasi yang masuk dalam kategori spektakuler atau belum tergeraknya insan berstatus anggota koperasi menjadi agen yang mengkampanyekan nilai-nilai kebaikan dan kemanfaatan berkoperasi yang dia rasakan kepada insan lainnya sehingga menumbuhkan gairah .  Sikap apatis anggota semacam ini cukup memprihatiankan walau mungkin saja hal ini sebagai ekspresi atas akumulasi kegalauan berjaraknya keseharian koperasi dengan anggotanya.

Kemungkinan-kemungkinan itu menarik dijadikan bahan telaah dan diskusi untuk mendapati kesimpulan yang sahih. Hasil penelusuran ini juga layak menjadi referensi dalam tahap  me-reformula pola pengembangan koperasi, baik dari aspek semangat maupun manajemen organisasi dan perusahaan koperasi. Hasil re-formula tersebut selanjutnya menjadi guide line dalam membentuk perwajahan baru yang lebih berpengharapan bagi segenap stake holder.


B. Sekilas Menilik Defenisi
Defenisi koperasi versi Induk Koperasi Dunia (ICA/International Koperasi adalah kumpulan orang  yang otonom untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi sosial budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan kendalikan secara demokratis.

Ada beberapa catatan penting dari defenisi ini, yaitu :
1.       Koperasi adalah kumpulan orang  yang otonom. Hal ini juga penegasan koperasi bukanlah kumpulan uang/modal.
2.      Koperasi lahir untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya anggotanya.
3.      Perusahaan, yang mereka miliki bersama dan kendalikan secara demokratis, adalah alat/media untuk mencapai tujuan koperasi.  

Sebagai kumpulan orang, yang terlahir dari sejarah dan karakter yang beragam, koperasi selalu menjadikan “semangat kebersamaan” menjadi pemersatu perbedaan. Dalam hal ini, keberagaman tidak dipandang sebagai sebuah hambatan, tetapi sebagai potensi yang akan mempertinggi nilai-nilai dan kebermanfaatn dari kebersamaan itu sendiri. Dalam semangat kebersamaan, setiap orang dipandang memiliki potensi sehingga kumpulan orang difahami sebagai kumpulan potensi. Dalam cara baca semacam ini, kebersamaan dimaknai sebagai bagian dari upaya memperkuat diri dan saling melengkapi. Kebersamaan pun harus melahirkan produktifitas sehingga setiap orang didalamnya bisa merasakan manfaat menjadi bagian dari barisan koperasi.

Keterpenuhan aspirasi ekonomi sosial dan budaya, yang merupakan tujuan pendirian, menjadikan koperasi sebagai sebuah kumpulan berdimensi juang  luas dan memiliki posisi penting dalam kehidupan anggotanya. Dalam perjuangannya yang berazaskan kekeluargaan, koperasi melakukan penyatuan potensi untuk memberdayakan dirinya secara kolektif dimana anggota berposisi sebagai subyek dan obyek pembangunan koperasi itu sendiri.

Dalam menjaga semangat kekeluargaan dan kebersamaan, koperasi mengarusutamakan aspirasi sebagai penentu arah.  Atas dasar itu, mengingat bahwa kualitas aspirasi akan menjadi sangat menentukan maka diperlukan upaya-upaya konstruktif dalam membangun kualitas dari orang-orang yang terlibat dalam koperasi. Artinya, koperasi harus mencerdaskan anggotanya sehingga akan terbentuk aspirasi brilian yang akan membawa koperasi pada kemampuan membentuk kebermanfaatan secara bertahap dan berkesinambungan bagi seluruh anggotanya. Dengan demikian, tidak terlalu berlebihan ketika berkesimpulan bahwa kebesaran koperasi sangat ditentukan oleh kecerdasan dari segenap anggotanya. Cara baca ini pula yang kemudian membentuk pembacaan bahwa fokus perjuangan koperasi adalah  membangun manusia-manusia di dalamnya dan menempatkan pertumbuhan atau perkembangan perusahaan adalah imbas dan bukan tujuan.  Hal senada juga terlihat dari defenisinya dimana perusahaan diposisikan sebagai media atau sarana bagi perwujudan segala dinamika aspirasi dan kebutuhan yang berkembang.

  
C.  Pendidikan sebagai muasal keterlahiran gairah
Dalam terjemahan bebas, koperasi merupakan kumpulan orang yang berkomitmen untuk berbahagia melalui upaya bersama. Untuk tujuan itu, mereka melakukan penyatuan potensi sumber daya atas setiap aktivitas yang dislenggarakan koperasi, Mereka pun berbagi peran secara proporsional  sehingga terbentuk  irama kolektivitas yang ciamik . Demkian seterusnya dan konsistensi kebersamaan semacam itu akan membentuk capaian-capaian baru secara bertahap dan berkesinambungan yang akan mempetinggi nilai kebermanfaatan yang bisa dirasakan anggota.

Persepsi atas koperasi sebagaimana dijelaskan pada alinea sebelumnya perlu disosialisasikan dan di edukasikan pada setiap anggota, sehingga terbentuk persepsi sama dari setiap orang yang akan bergabung dalam koperasi. Hal ini sangat penting, sebab kesamaan persepsi adalah muasal keberpihakan yang beimbas pada kesadaran untuk mengambil inisiatif dan tanggungjawab ikut membesarkan organisasi dan perusahaan koperasi. Pada titik ini, banyak koperasi yang luput. Kepesertaan individu menjadi bagian koperasi lebih menekankan pada kemampuan seseorang dalam memenuhi persyaratan administratif, sementara persepsi tidak dibentuk dan ekspekstasi (harapan) dibiarkan meliar. Akibatnya, anggota cenderung egois dan berdiri diatas kepentingannya danbahkan  kurang peduli dengan kebutuhan anggota lainnya. Tak pelak, amarah sering mengemuka saat apa yang dibutuhkannya belum bisa dipenuhi koperasi. Dalam bahasa lain, anggota memposisikan kopererasi seperti sinterklas tanpa peduli bagaimana perusahaan koperasi membangun kemampuannya dalam melayani segala kebutuhan anggota. Semua itu berawal dari kebelumfahaman tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi.

Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan dalam koperasi menjadi satu kebutuhan bila ingin tumbuh dan berkembang. Pendidikan perkoperasian tidak hanya sebatas pembentukan penyamaan persepsi dan rasionalitas ekspektasi  (baca : harapan), tetapi  juga merupakan gerbang strategis dalam membangun  mimpi jauh   yang diikuti dengan semangat semua orang untuk bersama-sama dalam mewujudkannnya.  


D. Mengenal 3 (Tiga) Tahap Kebersamaan  Yang Berulang
Dalam tinjauan operasional, ada 3 (tiga) tahapan yang berulang dalam siklus kehidupan koperasi yaitu:
1.       Kebersamaan dalam menyusun rencana dan format distribusi peran. Pada tahap ini, segenap unsur organisasi duduk bersama menyusun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan mendasarkan diri pada keinginan dan segala potensi sumber daya yang mungkin untuk dioprimalkan. Setelah tujuan sudah terumuskan, selanjutnya dirumuskan distribusi peran efektif diantara pengurus, pengawas dan anggota.   
2.      Kebersamaan dalam mewujudkannya. Pada tahap ini, semua orang bergerak sesuai dengan porsinya masing-masing sebagaimana terumuskan dalam tahap pertama. Inilah yang kemudian mencirikan koperasi sebagai institusi pemberdayaan dimana setiap orang  memiliki tanggungjawab atas ketercapaian tujuan. Dalam tahap ini berlaku prinsip diam akan menjadi beban bagi lainnya. 
3.      Kebersamaan dalam melakukan auto koreksi berjama’ah.  Tahap ini adalah momen dimana segenap unsur organisasi duduk bersama dalam menilik pencapaian. Apapun capaiannya harus dibaca sebagai hasil kolektif dan refresentasi dari kualitas kebersamaan yang terbangun. Dengan demikian, sesi evaluasi berlangsung dalam semangat auto koreksi berjama’ah. Dari sesi evalusi diharapkan akan menghasilkan beberapa hal antara lain; (i) terdeteksinya musabab atas deviasi/penyimpangan dari apa yang direncanakan sebelumnya; (ii) terumuskannya solusi; (iii) terakomodirnya gagasan-gagasan baru dan; (iv) terbangunnnya semangat dan kesadaran baru sebagai modal untuk meng-akselerasi perluasan kebermanfaatan koperasi.   

Tiga tahapan ini akan berjalan efektif bila semua insan koperasi sudah dalam kondisi terdidik dalam arti semua orang memiliki persepsi yang sama dan ekspektasi yang rasional. Jika tidak, maka hal ini berpotensi menimbulkan kekisruhan yang berakibat rusaknya stabilitas iklim organisasi.     


E. Azas Subsisdiary Sebagai Inspirasi Perumusan Aktivitas Perusahaan
Sebagaimana dijelaskan diatas, “perusahaan koperasi” berposisi sebagai media untuk mememenuhi aspirasi dan kebutuhan anggotanya. Atas dasar itu, dalam merumuskan aktivitas yang akan dijalankan perusahaan koperasi, dikenal kode etik yang disebut azas subsidiary. Dalam azas subsidisary ditegaskan bahwa;
1.       apa-apa yang bisa dikerjakan anggota sebaiknya tidak dikerjakan koperasi dan;
2.      (ii) apa-apa yang tidak bisa dikerjakan anggota, maka itulah sebaiknya yang sebaiknya dikerjakan koperasi.

Azas ini menandaskan hal-hal sebagai berikut :
1.       aktivitas yang dijalankan oleh koperasi akan berfungsi sebagai menjadi mesin penjawab kebutuhan para anggotanya.
2.      Aktivitas yang dijalankan oleh koperasi tidak akan pernah bersaing dengan anggotanya.
3.      akan terbentuk ikatan emosional yang kuat antara koperasi dan anggotanya, sebab setiap anggota bisa merasakan langsung manfaat dari aktivitas-aktivitas yang dijalankan perusahaan koperasi.

Dalam prakteknya, banyak koperasi yang luput dengan azas ini. Hal ini terutama diakibatkan oleh mindset pertumbuhan uang/modal, sehingga koperasi cenderung bergerak atas dasar peluang usaha yang diyakini memiliki potensi keuntungan tinggi sehingga abai dengan filosopi keberadaannya sebagai mesin penjawab kebutuhan anggota. Hal ini pula yang kemudian mengakibatkan koperasi tak ubahnya perusahaan non-koperasi dan hubungan yang terbentuk diantara koperasi dan anggotanya seperti hubungan pemodal dan perusahaan. Artinya, anggota sebagai pemodal dan juga pengguna jasa  tidak lagi mewujud di dalam keseharian perusahaan koperasi. Inilah musabab berjaraknya anggota dengan koperasi yang notabene adalah perusahaannya sendiri. Dalam kondisi demikian, koperasi telah gagal memerankan diri sebagai sebuah institusi pemberdayaan.        




F. Sekelumit Mimpi Yang Mencerdaskan
Untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus menumbuhkan gairah berkoperasi, berikut disajikan beberapa cerita singkat yang mungkin bisa menginspirasi gagasan : 
1.       Dalam diskusi beberapa petinggi KUD ada fakta menarik dimana  banyak petani yang menjual padi nya kepada tengkulak saat padi baru akan menguning. Setelah dilakukan penelusuran ternyata faktor penyebabnya adalah  karena petani membutuhkan uang cepat untuk membiayai kelanjutan hidupnya. Atas kondisi ini, petani berstatus pemilik lahan seolah menjadi pekerja bagi tengkulak tersebut. Rasa kesetiakawanan telah membawa mereka pada pembicaraan serius untuk mencari solusi integratif atas permasalahan para petani tersebut yang mayoritas juga merupakan anggota KUD. Di akhir diskusi, tersepakati  melakukan beberapa hal baik bersama-sama, maupun dilakukan oleh masing-masing KUD yaitu :
a.      mengintensifikan toko saprotan (sarana produksi pertanian) dengan sistem pengelolaan profesional;
b.      menjadikan KUD sebagai pilihan utama menjual gabahnya dengan menawarkan harga yang lebih layak;
c.       meng-intensifkan simpan pinjam. Disamping menumbuhkan semangat untuk menabung, juga diselenggarakan pinjaman yang diberikan kepada anggota untuk mendukung pengadaan saprotan
d.      menyelenggarakan “rice mill” baik yang kelilingan maupun yang standby di tempat;
e.      secara bersama-sama menjalin kemitraan dengan koperasi lainnya dalam hal pemasaran beras.
Setalah dilakukan upaya-upaya tersebut, KUD-KUD tersebut kemudian menjelma menjadi satu kekuatan yang sangat berpengaruh, khususnya dalam hal ketahanan pangan. Di sisi lain, kesejahteraan petani  dalam arti luas meningkat tajam.
2.      Suatu ketika, seorang yang kebetulan berprofesi PNS merasa “ jengkel sendiri  saat berjalan-jalan di sebuah tempat perbelanjaan modern. Hal ini dikarenakan dia melihat label harga baju yang sama dengan yang dipakainya ternyata jauh lebih murah dibanding dengan di kota asalnya. Pada akhirnya, kejengkelan itu  menginspirasinya untuk berfikir bijak dengan mengambil kesimpulan bahwa setiap toko memilki strategi harga berbeda-beda. Persoalan baru muncul saat satu tanya hadir di kepalanya.  mengapa dia menjadi  obyek  dari strategi ini?”.  Di akhir lamunannya, dia berfikir hal ini bisa di selesaikan dengan cara bijak yaitu mengkomunikasikannya dengan koperasi yang kebetulan dia berstatus sebagai anggota. Ternyata komunikasi ini membuahkan hasil dan kemudian membentuk komitmen di segenap unsur organisasi untuk membangun unit layanan berbentuk “toko khusus fashion” yang di kelola dengan cara modern. Sejak saat itu, segenap anggota selalu mentransaksikan kebutuhan fashion nya di koperasi dengan harga yang lebih murah. 
3.      Sekelompok mahasiswa/i sebuah universitas berlatar ekonomi setara (pas-pasan) berkumpul  untuk mencari cara mengingkatkan “pendapatan riil  dari uang saku mereka yang tergolong pas-pasan. Ter-ide membuat dapur umum sebagai strategi untuk memastikan bisa makan  3 (tiga) kali  sehari. Kemudian mereka berinisiatif  membawa peralatan makan (gelas, piring, sendok dan garpu) dari rumahnya masing-masing. Selanjutnya, mereka mengumpulkan sebagian dari uang saku mereka untuk membeli peralatan masak dan juga  mengangkat seorang “staf rumah tangga” yang bertugas “belanja dan sekaligus memasak”. Cara ini sukses menjamin mereka bisa makan 3 (tiga) kali sehari secara teratur.  Hidup mereka juga menjadi lebih sehat di perantauan. Ternyata, kebersamaan tak sampai di situ, mereka mulai berfikir bagaimana seandainya mereka urunan/iuran  lagi  dan bulan ketiga mereka sukses membeli “mesin cuci” sehingga mereka mencuci tidak lagi dengan cara manual seperti sebelumnya .  Setahun kemudian “cara hidup mereka” ini tercium oleh temen-temen lainnya dan kemudian menyatakan minat bergabung . Setelah musyawarah internal, akhirnya diambil keputusan untuk menerima teman-teman yang berniat bergabung itu dengan catatan “sepakat dan siap  dengan prinsip dan aturan yang ada.  Disamping itu, mereka “mewajibkan” setiap calon anggota mengikuti agenda “sosialisasi dan edukasi” prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok mahasiswa tersebut. Akhirnya kian hari kian banyak yang bergabung dan tanpa di sadari anggota mereka sudah berjumlah besar. Awalnya hanya sekedar “dapur umum”, mereka tingkatkan menjadi sebentuk  warung makan”. Bagi anggota kelompok dipastikan gratis karena sudah membayar iuran bulanan dan bagi mereka berstatus non- anggota diperlakukan sebagai konsumen umum dan harus bayar sesuai harga standar yang ditetapkan. Demikian halnya dengan mesin cuci jumlahnya menjadi lebih banyak  sehingga akhirnya mereka pun membuat usaha laundry dengan menggunakan prinsip yang sama dengan “warung makan”. Tak lama berselang, akhirnya mereka mempunyai unit layanan fhoto copy , pulsa centre dan rental komputer sekaligus warnet. Semua menggunakan prinsip pengelolaan yang sama, yaitu “perlakuan khusus pada anggota”.  
4.      Sekelompok pengrajin  tahu  yang juga berprofesi sebagai petani bersepakat  merubah cara mereka berbelanja bahan baku. Kalau tadinya mereka membeli sendiri-sendiri, mereka ingin mengubahnya dengan cara membeli bersama-sama (join buying) dengan harapan : (i) harga akan menjadi lebih murah karena membeli dalam skala lebih besar; (ii) waktu menjadi lebih efisien karena dilakukan pembagian tugas belanja secara bergantian. Atas langkah ini, bagi mereka yang kebetulan tidak sedang bertugas untuk berbelanja  bisa memnaftaakan waktu untuk menggarap lahan sawahnya. Selanjutnya, agenda “belanja bersama” ini menginspirasi mereka untuk menyeragamkan harga jual, sehingga tidak ada lagi bersaing untuk saling mengalahkan, tetapi bersatu untuk saling memperkuat. 
5.      Berawal dari keinginan memajukan ekonomi pedesaaan, disebuah desa  dilakukan musyawarah yang berujung lahirnya kesepakatan  membentuk sebuah lembaga keuangan.  Mereka berkomitmen tidak akan merambah pada unit layanan yang sudah di kerjakan oleh anggotanya, seperti warung, produksi jajanan kecil, usaha bakso, mie ayam dan lain sebagainya. Tujuan dasar dari pembentukan lembaga keuangan ini adalah :
a.      mengajak masyarakat  untuk membiasakan hidup sederhana dan membangun kebiasaan untuk menabung;
b.      mendorong terfasilitasinya  bakat-bakat kewirausahaan di lingkungan pedesaan;
c.       memberi pinjaman kepada anggota dengan tingkat jasa/margin  sebesar 0,2% yang diperuntukkan mendukung biaya operasional pengelolaan dan pengembangan lembaga keuangan tersebut.

Satu hal yang menjadi catatan, setiap kali anggota meminjam, pengelola memastikan bahwa pinjaman tersebut hanya untuk kepentingan produktif dan atau benar-benar kepentingan mendesak (sebuah keadaan yang tidak di duga sebelumnya).  Segenap perangkat desa sampai RT disarankan untuk terus mengkampanyekan semangat menabung dan semangat berwirausaha. Beberapa waktu kemudian, desa itu begitu maju dan guyub. Semangat kegotongroyongannya begitu kental dan desa itu jauh dari kejadian-kejadian yang meresahkan masyarakat.   
6.      Di sebuah kabupaten terdapat 75 (tujuh  puluh lima ) koperasi yang berhasil mengembangkan “semangat menabung” di koperasi nya masing-masing, sehingga memunculkan surplus kas (idle cash) dengan rata-rata Rp 1 M per koperasi. Atas keberhasilan itu, kemudian mereka berfikir untuk membangun kemitraan dengan mendirikan sebuah “supermarket”. Setelah melakukan komunikasi kepada anggota masing-masing koperasi, akhirnya mereka memutuskan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Menyadari akan keterbatasan dalam pengetahuan dan pengalaman pengelolaan “supermarket”, kemudian mereka merekrut para expertis (ahli) yang bertugas mengelola supermarket tersebut. Setahun kemudian, supermarket itu berdiri megah dan di pintu masuk terpampang dengan gagah  tulisan  SELAMAT  BERBELANJA DI PERUSAHAAN MILIK ANDA SENDIRI”. Supermarket ini memberikan perlakuan khusus pada anggotanya, yaitu menerapkan harga unik dimana besarnya margin nya diserahkan sepenuhnya kepada anggota.  Untuk pelanggan yang bukan berstatus sebagai anggota di berlakukan harga sesuai label. Selanjutnya,  supermarket ini juga diperluas kemanfaatannya untuk  tempat menerima tabungan” anggota. Atas kebijakan ini, apabila seorang anggota ingin menabungkan sisa kembalian belanjanya (walau hanya Rp 300,oo) juga di layani.  Hal yang sungguh aneh lagi di setiap kasir supermarket itu tertulis pesan aneh  : (i) “belanjalah secukupnnya” dan ; (ii) “gunakan uang anda dengan bijaksana”. Tulisan ini tampak berlawanan dengan spirit pertumbuhan omzet, tetapi lebih menekankan pada semangat mendidik.  Beberapa tahun kemudian, berbekal budaya menabung yang tumbuh subur dan supermarket yang  kian hari kian berkembang, koperasi-koperasi pendiri supermarket tersebut melanjutkan kerjasamanya dalam bidang pembangunan industri berbentuk pabrik. Luar biasa, akhirnya kota itu perlahan menjadi kota koperasi dan masyarakatnya dikenal dengan ciri khas ramah dan bijaksana.

Semua cerita diatas bersifat fiksi atau lebih tepat dikatakan sebagai sebuah mimpi indah tentang dahsyatnya kebersamaan dalam koperasi. Namun demikian, kisah-kisah diatas menegaskan bahwa kebersamaan adalah cara cerdas untuk membentuk hidup yang sejahtera.

Kisah-kisah diatas menginspirasi satu tanya apakah mengembangkan perusahaan koperasi merupakan persoalan kemauan atau kemampuan. Nalar cerita diatas juga menunjukkan  bahwa kebersamaan membentuk akumulasi sumber daya dan menciptakan peluang untuk mengerjakan hal-hal besar yang akan mendatangkan kebermanfaatan luar biasa.  


G. Penghujung
Perwajahan baru hanya bisa mewujud dari perubahan mindset. Harapan baru hanya lahir dari cara-cara terbarukan. Untuk itu, kebersamaan, sebagai modal terbesar koperasi untuk bisa tumbuh dan berkembang, harus dipupuk sehingga terbangun kesadaran segenap insan koperasi untuk ikut menumbugkembangkan koperasinya. Perluasan kebermanfaatan merupakan inspirasi yang layak untuk segera berubah. Jika tidak, maka seluruh impian akan menjadi khayalan semata.

Demikian pemikiran sederhana ini disampaikan sebagai stimulan  menumbuhkembangkan koperasi. Semoga bisa memantik lompatan energi untuk membentuk karya-karya baru yang akan memperluas manfaat berkoperasi.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved