KETIKA NU (NAHDATUL ULAMA) CILONGOK MEMBANGUN MIMPI BARU

Senin, 01 September 20140 komentar



KETIKA NU (NAHDATUL ULAMA)  CILONGOK

MEMBANGUN MIMPI BARU





Entah makna apa yang akan didapat saat hadir di pertemuan rutin bulanan pengurus ranting NU Kecamatan Cilongok malam ini yang pelaksanaannya di Kawasan SMP Ma’arif NU Cilongok.  Undangan terkesan mendadak dari seorang sahabat yang kebetulan menjadi salah satu peserta saat penulis mengisi acara di sebuah pelatihan “manajemen industri” seminggu lalu yang dilaksanakan oleh BKMP Prop. Jawa Tengah.

Tepat jam 22.00 wib, penulis sampai di lokasi bersama seorang sahabat, sebut saja namanya Herry 99”,  yang dalam setahun terakhir ini sedang melakukan pencarian relevansi hidup dan ber-ketuhanan. Awalnya ada perasaan canggung mendapati seisi ruangan memakai kupluk/kopiah. Nuansa keagamaan terasa kental disetiap kalimat yang keluar dalam sambutan dari beberapa peringgi organisasi NU Kec. Cilongok, Kab. Banyumas, Propinsi Jawa Tengah.   

Akhirnya, tiba saatnya memasuki agenda diskusi seputar pemberdayakan ekonomi warga NU. Dalam pengantarnya, moderator (cq.Pak Ikhsan) menegaskan kembali apa pointer sambutan Pak Ketua dimana NU berkeinginan kuat membangun ekonomi jama’ah NU yang pada akhirnya juga akan memperkuat organisasinya. Sebuah visi besar yang perwujudannya tentu tidak semudah membalikkan tangan. Setelah dipersilahkan moderator, penulis mulai mengemukakan beberapa pemikirannya tentang pemberdayaan ekonomi ummat.   

Pemaparan dimulai dengan memantik fikiran peserta tentang relevansi antara kualitas keimanan dan kesejahteraan. keimanan yang diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan, menjadi muasal untuk menakar apakah kemiskinan (dalam arti luas) persoalan nasib ataukah persoalan pilihan. Dalam konsep keadilan Tuhan, manusia perlu bergerak dan melakukan upaya sebagai dasar logis datangnya rezeki. Artinya, tidak layak bermohon kebaikan Tuhan untuk mengkaruniai rezeki bila manusia itu sendiri tidak berusaha mengoptimalkan energi, waktu dan potensi yang dititipkan Tuhan padanya. Pada titik inilah terdapat PR besar bagaimana pembinaan kualitas keimanan berimplikasi nyata pada terdorongnya ummat bergerak mengubah nasibnya. Bila hal ini belum mewujud, berarti ada ke-belum efektifan  metode pembinaan keimanan ummat. Dalam bahasa semangat, tidak berlebihan kalau berkesimpulan bahwa kemiskinan ekonomi (materil) dan  kemiskinan pengetahuan dan awasan (im-mmateril) adalah akibat dari kebiasaan untuk bermalas-malasan. Dengan demikian, berlebihankah untuk kemudian mengatakan kemiskinan itu adalah pilihan?. Mendapat rangsangan demikian, audience tampak bersemangat untuk mengambil kesimpulan bahwa :
1.      Ada relevansi kuat antara kualitas keimanan seseorang dengan kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, penting membangun kesadaran bahwa pola edukasi peningkatan keimanan ummat perlu dikaji tingkat efektivitasnya sehingga berpengaruh besar pada perubahan perilaku ummat, khususnya dalam membudayakan hidup produktif.
2.      Kemiskinan dalam arti luas sesungguhnya adalah persoalan pilihan. Dalam bahasa lain, miskin adalah akibat dari malas belajar sehingga berada di kebodohan dan juga malas berusaha sehingga terjebak dalam kemiskinan materi. 

2 (dua) kesimpulan awal ini menjadi dasar penting untuk memasuki tahap perumusan formula efektif pemberdayaan ekonomi ummat. Adanya semangat kolektif disegenap warga nadhiyyin untuk “membentuk perubahan”, merupakan modal terbesar untuk melahirkan harapan-harapan baru yang layak diimpikan.



Rangsang pemikiran berlanjut....

Berawal adanya prakiraan jumlah warga Nadhiyyin lebih kurang 1 (satu) juta orang, kemudian audience diajak berandai untuk menyelenggarakn program tabungan Rp 1.000,oo/hari. Maka secara matematis akan terkumpul Rp 1 (satu) Milyar per hari. Kalau kemudian dikalikan 300 hari saja, maka akan terakumulasi sebesar Rp 300M per tahun, sebuah angka fantastic. Selanjutnya, dengan terbentuknya budaya menabung semacam ini, bisakah NU membangun supermarket sehingga berpeluang menikmati harga murah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?, Bisakah NU memiliki Rumah Sakit  sehingga persoalan kesehatan warga Nadhiyyin mejadi terjamin?, Bisakah NU membangun satu industri skala besar yang mendatangkan multiplier efek bilamana semua bahan bakunya dikerjakan oleh warga Nadhiyyin?. Bahkan alumnus-alumnus SMK Ma’arif NU bisa berkerja di industri tersebut. Dengan program menabung semua itu, bisakah NU mendirikan sebuah Universitas sehingga lahir warga Nadhiyyin yang cerdas dan berfikir cemerlang?. Demikian pula halnya dalam pemberantasan kemiskinan melalui ragam program pemberdayaan berbasis potensi warga Nadhiyyin, akumulasi dana tabungan tersebut lebih dari cukup. Juga, ketika dihubungkan dengan rehab mesjid atau pembangunan sekolah-sekolah yang hebat. Semua menjadi mungkin untuk dilakukan.     



Tanya akhir yang membangkitkan adrenaline..

Setelah membiarkan sekejap ragam “mimpi indah” merasuki segenap audience yang terdiri dari para pengurus ranting NU Cilongok, kemudian dibangunkan kesadaran kembali dengan satu pertanyaan; mengapa sampai detik ini karya-karya spektakuler itu tak mewujud?. Adakah kebelum-wujudan karya-karya itu karena pesoalan ketidak-bisa-an? Ataukah ini sesungguhnya hanya persoalan “kemauan” dan “keadaran” untuk mendorong kolektivitas warga Nadhiyyin ke ruang-ruang produktif multy makna?.

Setelah dibombardir dengan ragam pertanyaan diatas, kemudian penulis menanyakan ulang kembali satu pertanyaan kunci, yaitu: “apakah ke-belum wujudan semua mimpi itu persoalan ketidakmampuan atau persoalan kemauan?. Segenap audience serentak menjawab bahwa ini semata-mata persoalan “kemauan”.

Well...semangat terbakar. Bayang indah menjadi inspirasi berenergi. Kemudian di penghujung penulis memantik adrenalin dengan satu tanya menggugah...”siapkah untuk melakukan perubahan?”. Serentak semua menjawab “siap”. Untuk meyakinkan semangat tersebut, pertanyaan sama diulang sampai 3 (tiga) kali. Jawaban “siap” pun semakin menggema keseluruh kawasan SMP Ma’arif NU itu. Setelah mendapati kesiapan yang dipenuhi semangat luar biasa, sebelum penulis menutup pembicaraan di malam itu, dengan sedikit berkelakar penulis mengingatkan bahwa salah satu dari tiga ciri orang munafik itu adalah “bila berkata kemudian dusta”. Akhirnya, segenap audience terhenyak sesaat dengan kesadaran akan tanggungjawab dari berkata “siap”, kemudian diikuti dengan senyum tawa yang membuat ruangan sesaat bergemuruh.



Celetukan Yang Melahirkan Tanya Baru

Sahabat penulis yang ikut dalam pertemuan itu dimana beliau sedang concern mengkaitkan Ketuhanan dan kehidupan dalam setahun terakhir, mengambil momen semangat ini dengan celetukan brilian. Beliau berpandangan bahwa fungsi mesjid selama ini cenderung hanya sebatas tempat pengakuan salah dan penyelenggaraan ritual spiritualitas rutin seperti  sholat dan mengaji. Beliau juga merasa miris kalau kemudian banyak mesjid hanya dihuni satu shaf saat sholat berjama’ah tergelar. Dengan gaya khas aktivis kemudian beliau bertanya, adakah peluang perluasan fungsi mesjid sebagai “pusat membangun peradaban” sehingga mesjid menjadi muasal terbentuknya perubahan-perubahan kondisi sosial masyarakat?. Sebuah tanya brilian yang mungkin membuat seisi ruangan ter-mantik untuk berfikir secara serius.   





Rencana Tindaklanjut

Semangat sudah terbangun, persoalan muncul kemudian bagaimana menjaga bara api semangat ini tetap menyala. Perlu tindaklanjut sehingga gagasan ini tidak sebatas mimpi atau tematik dalam pertemuan rutin saja, tetapi akan mewujud menjadi aksi nyata yang mendekatkan NU dengan mimpinya memberdayakan ekonomi ummat.

Pasca pertemuan, beberapa pengurus inti sempat berdiskusi singkat tentang tindaklanjut. Dari berbagai pendapat yang ada, disepakati untuk segera menggelar lokakarya dengan maksud tersusunnya “formulasi efektif yang aplicable” . Terbersit saran untuk terlebih dahulu melakukan mapping terhadap realitas waga Nadhiyyin di sekitar Kecamatan Cilongok sehingga tersusun analisa sosial (ansos) sederhana dan menjadi inspirasi dalam menata langkah-langkah efektif untuk sebuah mimpi besar.

Harapan baru pun mulai muncul tepatnya menjelang pukul 24.00 Wib...semoga Allah SWT berkenan dan meng-hidayah-i mimpi baik yang baru saja terbangun. Amin Ya Robbal ‘Alamin.    




Awal Bulan yang menginspirasi...

Cilongok, 01 September 2014
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved