KETIKA BAKAT LAMA MENEMUKAN RUANG....

Minggu, 14 September 20140 komentar

Sore itu, penulis dan keluarga berkunjung ke rumah mbahnya anak-anak alias Ibu Mertua tercinta, di Desa Serayu,  Kecamatan Mrebet, Purbalingga yang jarak tempuhnya  kurang lebih 45' (empat puluh lima menit) dari kota Purwokerto. Kunjungan kali ini sebenarnya tidak semata-mata berlibur di akhir pekan, tetapi juga untuk mengadiri kondangan pernikahan sanak saudara dari garis keturunan istri. 

Setelah sampai di Serayu dan istrahat sejenak, kami pun langsung beranjak ke lokasi dimana pernikahan di gelar. Anak-anak tidak ikut ke kondangan dan  mereka sedang asik bercanda ria melepas kangen dengan Mbah, yang kebetulan sudah ke acara pernikahan tersebut sehari sebelumnya. Akhirnya, kami berangkat berempat, saya, istri dan sepupu beserta istrinya.  Karena yang dituju masih tergolong kerabat yang dekat, saat berpamitan dengan tuan rumah, sepupu istri sy diminta untuk tidak pulang dulu. Tetapi, kami lolos walau tuan rumah begitu berat melepasnya sebab kami sampaikan kalau hanya mbah dan anak-anak yang ada di rumah. Alhamdulillah, kondangan selesai dan saatnya acara bebas. Seragam batik di lepas dan kemudian menggantinya dengan seragam santai.

Setelah menunaikan Ashar, kemudian mencoba merebahkan badan di ruang sebelah yang masih terhubung dengan rumah induk. Ruang ini biasanya di gunakan untuk "ruang menjahit"oleh sepupu. Karena Sang Empunya ruangan sedang tertahan di acara kondangan, sebuahkesempatan manfaatkan "ruang menjahit" untuk tiduran sambil  menikmati acara TV. 

Tak berselang lama, terdengar ada ucapan salam. ternyata seorang anak dengan satu buah baju seragam di tangannya. Setelah coba mengkonfirmasi, sang anak bilang " mau pasang bedge seragam sekolah dan minta tolong langsung jadi karena besok senin di pakai untuk upacara". Setelah saya kasih kabar kalau penjahit aslinya lagi kondangan dan kemungkinan maghrib baru pulang, terlihat anak itu langsung pucat. Sepertinya, bayangan "hukuman" di sekolah langsung memenuhi fikirannya. Mendapati kondisi demikian, saya pun langsung iba dan seketika berinisiatif   menawarkan diri untukmengerjakannya. Wajah sumringah langsung terpancar dari wajah lugu anak SMK kelas 1 (satu) ini. 
 
Layaknya seorang tukang jahit profesional, saya siapkan segala keperluan mulai gunting, benang warna putih dan meng-on kan mesin jahit yang kebetulan model electrik. Sesudah siap, saya pun ambil seragam dan juga 3 (tiga) macam bedge dari tangan anak itu. Saya tidak lihat sedikitpun ada perasaan ragu di wajah anak itu dengan cara saya melayani. Sepertinya dia yakin 1000% kalau saya akan sukses memenuhi keinginannnya.
Alhamdulillah, dalam setengah jam pemasangan seluruh bedge selesai dan siap untuk diberikan kepada sang empunya baju seragam. Saat ditanya berapa...saya katakan dengan penuh kasih sayang..."GRATIS"....
 
Sebenarnya, dunia jahit menjahit sudah tak asing bagi saya. Kebetulan sejak kecil saya sering membantu orang tua yang kebetulan pernah menggeluti dunia jahit menjahit pakaian semasa saya masih kecil. Saat itu, saya selalu diminta membantu  untuk memasang kancing baju, menyetrika dan sesekali mengantarkan pakaian yang sudah selesai di jahit ke rumah pelanggan.  

Satu hal yang sangat saya ingat, Bapak saya tidak pernah mau mengajari saya dalam urusan menjahit. Alasannya sederhana saja yaitu;  beliau tidak ingin saya menjalankan profesi yang sama dan berharap agar serius dalam bersekolah. Hal ini bisa dimaklumi, sebab orang tua manapun pasti menginginkan anaknya lebih baik darinya. Namun demikian, sebagai anak dan setiap hari mendampingi bapak dalam menjalankan profesinya, akhirnya muncul
kepenasaran dan keinginan untuk mencoba. Kebetulan saat itu, disamping untuk ruang menjahit dan memajang bahan-bahan pakaian, sebagian dari kios berukuran sekita 5*7 itu juga dimanfaatkan untuk toko kelontong yang pengelolaannya full dipercayakan pada saya dan adik-adik, sehingga terbuka banyak kesempatan untuk memperhatikan cara kerjanya dan kemudian mencobanya saat bapak sedang tidak ditempat,seperti saat bapak makan siang atau pergi ke ladang. Satu hal yang pasti, saat selesai mencoba-coba, pasti segala jejak coba2 sudah lenyap agar tidak ketahuan. Setelah melakukannya berulang-ulang di setiap kesempatan yang ada, akhirnya saya bukan hanya mahir dalam memasang "kancing baju" atau "kancing hak celana", tetapi  mulai mahir dalam urusan jahit menjahit, kecuali dalam hal memotong bahan pakaian dan membentuknya menjadi baju, celana atau lainnya. Kebisaa-an saya dalam menjahit terbatas pada hal-hal sederhana saja. Kemampuan saya dalam ini mulai ditangkap oleh temen-temen sebaya dan juga beberapa remaja pelanggan kelontong yang sering nongkrong di toko yang kebetulan posisinya sangat strategis dipertigaan. 

Suatu waktu, ada seorang temen sebaya ingin mengecilkan celana dan memberi kesempatan saya untuk melakukannya. Hmm..serasa tertantang, saya pun nekad melakukannya. Alhamdulillah sukses untuk pertama kalinya. Muncul lagi temen lain yang meminta untuk memendekkan celana jeans yang baru saja dibelinya di toko pakaian jadi. Alhamdulillah, sukses juga. Disinilah awal mula saya terbiasa melayani keluhan-keluhan temen-temen seputar pakaian, mulai menjahit bagian yang robek, mengecilkan pinggang celana, mengecilkan baju, memotong celana yang terlalu panjang, merombak celana jeans sesuai kekinian zaman dan lain sebagainya. Pinternya temen-temen, mereka datang ke saya bila bapak tidak sedang di tempat dan seolah membuat konspirasi, mereka pun tidak pernah menceritakan kepada bapak saya. Akhirnya, saya sering dapet order kecil-kecilan seputar reparasi pakaian dari temen-temen sebaya dan juga para remaja di kampung. Mereka senang karena bayaran seikhlasnya (bahkan hanya 40-50% dari harga tarif normal) dan saya pun dapat uang jajan dari keringat sendiri. Sebuah prestasi untuk anak seusiaku yang saat itu masih duduk di bangku kelas IV SD..he2 narzis...
 
Suatu ketika, saya mendapati bapak  heran dan bertanya-tanya mengapa benang lebih cepat habis dari biasanya. ha..ha..ha...gawat nich..dag dig dug.  

Alhamdulillah, sepertinya bapak cukup cepat berkesmpulan bahwa itu kelakukan anak pertamanya dan dengan bijaksana beliaupun mengalihkan pembicaraan. Sejak saat itu, saya pun merubah strategi dan membeli benang sendiri setiap kali ada pelanggan datang.  Pelangganpun sepertinya mengerti dengan perubahan itu dan ikut menyesuaikan tarif bayaran..ha2....kecil2 belajar jadi pedagang.  

Pasca merantau ke Jawa, saya sudah jarang bersentuhan dengan mesin jahit, walau masih sering memasang kancing yang copot dari seragam sekolah anak-anak di rumah.

Oleh karena itu, kejadian sore itu seolah reuni dengan masa lalu. Sambil senyum-senyum sendiri saya selesaikan jahitan bedge di seragam sekolah anak itu. Serasa kenangan masa lalu menghinggapi seluruh ingatan. Tanpa saya sadari, istriku memotret dengan HP nya saat saya sedang asik berjuang dengan jahitan yang sedikit rumit sebab bedge nya dipasang di posisi bagian lengan. Setelah berhasil membahagiakan anak itu, aku pun mencoba lihat hasil jepretan HP istri dan kemudian ter-ide untuk meng-up loadnya di facebook. 

Saat Senin pagi buka facebook di labtop, aku sedikit terkaget ternyata banyak sahabat yang nge-like dan juga memberi comment atas foto itu. Sebagian ada yang tidak percaya dan menganggap hanya sebatas action saja, sebagian lagi ada yang mengepresiasi. Reaksi serupa  saya dapatkan saat fhoto  menjadi PIC di BB, banyak temen yang menyapa dengan ragam reaksi yang mengundang tawa. Sepertinya, saya bakat jadi artis lokal...ha2.

Akhirnya, untuk merespon ragam tanya, keraguan dan apresiasi dari sahabat di FB dan juga BB, terinspirasi menjadikannya satu tulisan ringan di Blog dan kemudian men-share kepada temen-temen FB dan juga temen-temen di BB. 

Semoga tulisan ringan ini bisa bermakna klarifikasi, bisa mengurangi kepenasaran dan juga mengundang gelak tawa....ha2...





Senin Yang Ceria, 15 September 2014




             


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved