BERTEMUNYA "GUSAR" PADA "JAWAB" DI SAAT YANG TEPAT

Senin, 15 September 20140 komentar



Bertemunya “Gusar" pada "Jawab” di Saat Yang Tepat

A.  Prolog
Kisah ini menjadi bagian dari perjalanan panjang mencari Tuhan yang dilakukan oleh Sahabat pemilik Identitas’99 dan gerombolannya . Selalu ada kisah menarik dan mengundang pencarian hikmah. Atas izin beliau, kemudian beberapa pengalaman beliau dan temen-temennya tersajikan dalam beberapa tulisan di blog ini.

Penyajian tulisan di blog ini dimaksudkan untuk mengabarkan kepada khalayak lebih luas dengan harapan segenap pembaca mendapati satu hikmah. Untuk menghindari melencengnya niat atas pengungkapan kisah ini, nama-nama dan tempat kejadian sengaja di ganti karena khawatir terjebak dalam riya.


B. Kegusaran Pengelola Pondok Pesantren  di Kamis Sore
Kamis sore itu, Ustadz Sang Pimpinan Pondok Pesantren agak sedikit gusar dan harus berfikir keras. Beliau menghitung saldo kas dan ternyata hanya ada Rp 3.000.000,oo (tiga juta rupiah). Beliau bingung bagaimana memanfaatkannya yang tepat; (i) apakah di belikan beras semua tetapi tidak bisa beli kebutuhan lainnya atau; (ii)  di belikan kebutuhan lainnya tetapi 500-an penduduk pesantren akan terjebak dalam kelaparan. Utak-atik disepanjang sore hingga malam tak kunjung bertemu formula terbaik untuk diambil. Rencana beliau untuk ke jakarta mengikuti silaturrahmi rutin para kyai pun sepertinya harus ditundakan, sebab sangat tidak mungkin meninggalkan pesantren dalam keadaan  stock makanan tidak tersedia yang mengakibatkan segenap penghuni pondok akan lapar. Stock makanan pun hanya cukup sampai Jum’at pagi.

Sa’at subuh tiba, seperti biasanya beliau ke mesjid dan menjadi imam sholat ber’jamaah. Setelah selesai zikir dan kembali ke rumah Induk, beliau mengambil keputusan aneh bila ditinjau dari logika kebanyakan orang. Beliau memanggil beberapa santri senior dan memerintahkan untuk membagikan sedekah kepada orang-orang miskin di sekitar kampung.  Akhirnya, semua sisa uang yang berjumlah Rp 3.000.000,oo itu pun habis terbagi dan sang kyai tidak memegang uang serupiah pun. Beliau meyakini penuh bahwa Allah SWT tidak akan membuat lapar para yatim, piatu dan kaum dhuafa yang berjumlah 500-an orang itu. Disepanjang pagi itu, tak henti-hentinya beliau melantunkan do’a agar  diberi pertolongan dan solusi atas kesulitan yang sedang dihadapi, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar para penghuni pondok pesantren.

Bisa dibayangkan, situasi semacam ini benar-benar tidak mudah. Andai saja itu terjadi pada diri anda, dimana uang yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan susu anak atau beras serta kebutuhan dasar lainnya, akankah anda tetap tenang?. Mungkin saja, ini persoalan keterlatihan atau kebiasaan. Mungkin saja Sang Pimpinan Pondok Pesantren itu pun menghadapi situasi semacam itu bukan untuk pertama kali nya, sehingga berdiri tegaknya pesantren sampai detik ini menjadi dasar keyakinan beliau bahwa dibalik kesulitan pasti akan ada kemudahan. Artinya, beliau meyakini bahwa akan ada solusi bijak dari Allah SWT. Toh yang beliau lakukan bukanlah untuk keperluan pribadinya, tetapi untuk keberlangsungan hidup 500-an penghuni tetap pesantren.



C.  Situasi lain  di Tempat Yang Berbeda Dalam Waktu Sama
Kamis sore ini, tiba-tiba saja seorang Habib (sebutan bagi kyai yang memiliki garis nasab keturunan dengan Rasulullah SAW), yang sudah dikenal si’99 dengan baik menelepon, Beliau menanyakan apakah si’99 punya acara nanti malam sekitar jam 20,00 wib. Pembicaraan per telepon itu pun berakhir dengan kesepakatan bahwa si’99 bersama dua temennya setuju mengikuti agenda Sang Habib yang malam itu direncanakan akan memberikan ceramah di salah satu kesatuan pengamanan. Ternyata pengajian semacam ini rutin diselenggarakan setiap kamis malam  oleh Komandan tersebut. Pengajian semacam ini selalu menyertakan para staffnya dan pelaksanannya selalu di tempat di kediaman Sang Komandan. Sebuah kebiasaan yang mungkin masih jarang didapati pada kesatuan-kesatuan lain atau sejenis di daerah berbeda.

Awalnya si’99 dan kawan2nya agak ragu dan berfikir akan terjebak di suasana kaku dimana level kedudukan akan menyebabkan kekakuan suasana. Tetapi, ternyata si’99 dan kawan2nya salah menduga. Suasana begitu cair dan jauh dari kesan keformalan. Sang Habib pun cukup cerdas dalam membangun suasana pengajian sehingga kekhusyu’an mendorong terbentuknya keakraban dan seolah semua ikhlas melepas diri dari sekat strata disepanjang pengajian berlangsung. Kondisi ini semakin mendatangkan kenyamanan bagi si’99 dan kawan2nya. Apalagi, di malam itu mereka bisa berkomunikasi langsung  dengan sang komandan. Sebuah situasi yang jarang didapat dalam kondisi jam kerja.

Sebagaimana layaknya pemburu pahala, momen ini dimanfaatkan oleh si’99 dan kawan2nya menebarkan virus kebajikan, dimana mereka menawarkan peluang kebaikan disetiap celah kesempatan dimanapun dan kepada siapapun. Dari berbagai kisah yang mereka sampaikan, sang komandan sangat tertarik dengan cerita satu cerira tentang pondok pesantren gratis berpenghuni 500-an orang yang terdiri dari kaum  dhuafa, yatim dan piatu. Setelah diam sejenak, Sang Komandan pun menceritakan kalau tadi sore istri beliau sangat ngebet  untuk segera menyalurkan sedekah yang sudah lama direncanakan dan materi sedekahnya pun sudah terkumpul dan siap untuk di distribusikan. Atas dasar kekaguman Sang Komadan terhadap pesantren itu, beliau pun langsung mengambil keputusan penyalurannya sedekah itu ke pesantren tersebut dan sekalian ingin silaturrahmi dengan pimpinan pondok pesantren. Langkah ini juga bagian dari cara untuk menjawab kepenasaran beliau atas pola pengelolaan pesantren gratis tersebut sebagaimana di ceritakan oleh si’99 dan temen2nya.

Kepenasaran beliau sebenarnya bisa ditebak dan sangat difahami, yaitu;”bagaimana mungkin ada pesantren gratis, dihuni oleh 500-an kaum dhuafa, yatim dan piatu, tetapi bisa hidup dan berjalan dengan lancar”. Nalar manapun akan bertanya hal sama, tetapi faktanya pesantren itu tetap bisa berjalan dan anak-anak yang ada didalamnya tetap bisa menjalakan aktivitas belajar sebagaimana seharusnya.


D.  Tersalurkannya Sedekah Sang Komandan
Untuk niat penyaluran sedekah tersebut, Sang Komandan merencanakan pelaksanaannya di pagi hari sebelum matahari terbit. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga niat agar tidak terjebak dalam perasaan ria, sebab  khawatir hal ini akan menghapuskan segala faedah dari apa yang beliau yakini sebagai tindakan kebaikan. Sementara itu, untuk kunjungan  secara pribadi ke pesantren tersebut,  beliau rencanakan jam 11-an sehingga sekalian Jum’atan di pesantren.      


Sang Komandan pun meminta perkenan ikhlas salah satu staffnya untuk membantu mengantarkan sedekah tersebut. Sebagaimana arahan, sang staff pun bergerak pagi-pagi sekali menuju pesantren itu menggunakan sebuah truk. Hanya saja, ada hal unik dimana truk pengangkut material sedekah tersebut mengalami kerusakan di tengah jalan, sehingga memerlukan waktu yang lumayan untuk memperbaikinya. Akibatnya, truk pembawa material sedekah ini baru bisa memasuki area pesantren sekitar jam 11-an dan hampir bersamaan dengan datangnya sang komandan berkunjung.

Disambut hangat tuan rumah, Sang Komandan memasuki rumah  induk dimana Pimpinan Pondok Pesantren tinggal. Rasa kagum terhadap pesantren ini tidak bisa disembunyikan dari wajah sang komandan. Ada hal yang mengagumkan juga terdengar dari perkataan Sang Komandan, ternyata beliau juga bercita-cita mendirikan pondok pesantren sejenis.  2 (dua) insan ini pun semakin larut dalam pembicaraan seputar pendirian dan pola pengelolaan pondok pesantren. Waktu menunjukkan waktu untuk Jum’atan akan segera mulai, Sang Komandan pun menunaikan Jum’atan di pondok tersebut. Sesaat setelah Jum’atan selesai, Komandan itu pun pamit kepada pimpinan pondok tersebut dan sekaligus memohon perkenan untuk saling mendo’akan satu sama lain.


E.  Keunikan Itu Benar-Benar Terjadi
Sebuah kebetulankah sedekah itu datang saat pondok pesantren memang benar-benar sedang sangat membutuhkannya?. Ataukah ada campur tangan Allah SWT mempertemukan dua situasi dari dua tempat yang berbeda tersebut?. Wallahu a‘lam. Yang jelas, penulis pun iri atas  makelarisasi kebaikan yang telah dilakukan oleh si’99 dan temen-temennya. Seperti pengakuan si’99, mereka pun tidak menduga sama sekali atas respon sang komandan sebagaimanapun mereka tidak mengerti kalau saat bersamaan sang pimpinan pondok  pesantren sedang gusar dengan ketersediaan stock kebutuhan dasar pondok. Si’99 dan temen-temennya baru mengetahui kondisi pesantren setelah di kisahkan oleh pimpinan pondok pasca kepulangan sang komandan.

Mereka merasa bertemu  dengan keajaiban yang luar biasa. Speechless dan terhenyak beberapa saat mengetahui bahwa bantuan itu datang di waktu yang sangat tepat. Kejadian ini benar-benar membuat mereka semakin yakin dan bersemangat untuk terus menyerukan kebaikan pada siapapun, dimanapun dan kapanpun. Mereka semakin yakin pondok pesantren ini akan semakin kokoh ke depan bersamaan dengan semakin banyaknya insan-insan yang tergerak untuk berbagi dan peduli. Mereka semakin yakin akan hubungan kuat antara keimanan dengan perolehan rezeki seseorang . Perjalanan panjang sampai detik ini membuat mereka semakin banyak mendapati bukti  bagaimana rezeki datang ke hidup hamba-hamba-Nya. 


F.  Terjebak di ragam tanya..
Terbersit tanya adakah dosa bagi kita yang masih asik dengan agenda sendiri sementara kita tidak peduli dan bahkan membiarkan seseorang yang mau mengorbankan dirinya untuk mengurus yatim, piatu dan kaum dhuafa yang berjumlah 500-an orang itu?. Ataukah “menjadi sebuah dosa” bermula ketika kita mengetahui hal ini dan kemudian cuek dan tetap asik dengan agenda-agenda yang hanya focus membahagaiakan pribadi atau keluarga sendiri?.  Ataukah dengan terbacanya tulisan ini adalah bagian dari cara Tuhan menyampaikan pesan bijak  bahwa anda terpilih menjadi barisan yang akan diberi kemampuan berbagi dan mengambil sebagian tanggung jawab?. Ataukah sampainya kabar ini kehadapan anda menjadi tiket meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas  bila anda kemudian meresponnya secara bijak?.  Wallahu a’lam, sebab penulis pun sedang mencari hikmah mengapa kabar tentang pesantren ini datang ke kehidupan penulis. Penulis pun berharap lewat penyajian kisah ini akan bertemu hikmah yang akan membawa pada satu kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Satu hal yang menjadi catatan dari kebiasaan sang pimpinan pondok pesantren tersebut, beliau tidak pernah mau meminta pertolongan pada siapapun kecuali pada Allah SWT. Beliau selalu menolak kalau diminta membuat proposal atas adanya harapan bernada bantuan. Hal itu beliau lakukan berulang-ulang tiap kali ada pihak-pihak yang menyarankan. Beliau hanya katakan,” biarlah Allah SWT yang menuntun hamba-Nya untuk melihat pesantren ini adalah sebuah peluang kebaikan. Biarlah Hidayah Allah SWT yang akan menggerakkan langkah orang-orang terpilih untuk menjadi bagian yang akan mendukung jalannya pesantren ini”.  Sebuah sikap tawaddu’ yang luar biasa. Sebuah keyakinan tidak tergoyahkan tentang kasih sayang Allah atas hamba-Nya.

Adakah katauladanan dalam sikap-sikap yang cenderung jauh dari jangkauan rasionalitas semacam ini?. Jika kita tidak menemukannya, apakah berjalannya pesantren sampai detik ini sebagai bukti nyata tentang kekuasaan Allah yang masih mau disangkal?. Pernahkah terfikirkan  apa yang bisa mereka bisa nikmati di makan malam dimana saat yang sama anda sedang asik bersama keluarga merayakan ulang tahun atau ragam keberhasilan lainnya di sebuah restoran atau cafe yang mahal?. Terfikirkankah mengalihkan kunjungan refreshing anda dari tempat-tempat wisata ke pondok pesantren ini dalam tema wisata rohani?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan diatas layak menjadi bahan perenungan dan atau bahkan momentum mengikis ke-egoisan dan atau mempertebal kepedulian.

Mungkin, dalam rangka menumbuhkembangkan kepedulian,  bukanlah sesuatu yang  buruk membayangkan andai saja Allah SWT mencabut segala ni’mat yang masih bisa kita nikmati sampai detik ini. Sebab, penghapusan ni’mat  mungkin saja terjadi bilamana manusia lupa mensyukuri atas segala kemudahan yang diberikan Allah SWT ke dalam hidupnya. Juga bukanlah sesuatu yang dilarang melakukan perenungan atas setiap hal-hal yang baik maupun kurang baik datang ke hidup kita. Sebab melakukan auto koreksi (muhasabah) adalah muasal lahirnya kemauan untuk berbuat lebih baik di waktu berikutnya. Amin Ya Robbal ‘Alamin.  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved