SURAT UNTUK PARA CAPRES/CAWAPRES

Jumat, 23 Mei 20140 komentar



PESAN KAUM MISKIN PINGGIRAN

KEPADA CALON PRESIDEN-CALON WAKIL PRESIDEN



Hasil obrolan ringan tak bertema dengan sekolompok masyarakat di warung kopi pinggiran  suatu sore telah menjadi inspirasi tulisan ini.  Seperti biasanya, pembicaraan di warung kopi tak memiliki topik bahasan yang jelas sampai kemudian mengarah pada persoalan pilpres yang sebentar lagi di gelar di negeri ini. Pembicaraan lepas itu pun diwarnai dengan letupan-letupan spontan yang kemudian coba dikemas dalam tulisan singkat berikut ini:



Mereka menginginkan kedamaian dan kesejahteraan hadir dalam hidup mereka. Mereka ingin memilki keberanian dan percaya diri untuk merajut mimpi. Mereka pun ingin memiliki capaian yang layak untuk dikenang dan sekaligus membuat mereka merasa menjadi seorang yang berguna dan diharapkan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat siapapun di dunia ini benci penderitaan dan tak mau berada dalam perasaan  tidak berguna disepanjang hidupnya.



Mereka bosan termanfaatkan. Mereka selalu merasa frustrasi tiap kali recehan yang mereka hasilkan dari keringat pagi sampai malam tak cukup membeli apa yang dinamakan hidup layak. Semua orang ingin punya kesempatan mewujudkan immpiannya. Mereka menginginkan sebuah keadaan yang mendorong mereka malu berdiri sebagai orang bodoh dan miskin. Mereka tidak memerlukan regulasi yang menjanjikan ketenangan dan ketentraman hidup kalau kemudian faktanya semua itu menjadi faktor penghambat  ketika mereka mulai beranjak berjuang mewujudkan cita-citanya.



Mereka ingin merasa damai dan tentram. Mereka pun bisa menyadari kalau kemiskinan adalah akibat dari sebuah kebodohan. Ironisnya, mereka hanya bisa berteriak dalam bathin saat keinginan  mencerdaskan diri tak kunjung menemukan kanalnya. Mereka harus menyudahi mimpi untuk memiliki ijazah karena tidak mampu menjangkau harga yang harus dibayar untuk bisa  berseragam dan melangkah gagah sebagaimana anak-anak lainnya.



Semua orang merasa ingin difikirkan oleh negara, tetapi mereka bosan dengan kepura-puraan dan pencitraan semu. Mereka memerlukan pemimpin yang berkemampuan melahirkan perasaan damai, perasaan dilindungi, perasaan dibutuhkan oleh negara dan perasaan merdeka dalam arti sesungguhnya. Mereka ingin penjelasan logis mengapa mereka miskin. Mereka mengimpikan pencerahan jalan mana yang harus ditempuh untuk bisa mencicipi hidup layak.



Mereka butuh kesempatan dan ruang untuk berjuang, peluang untuk menentukan masa depannya, merasakan didukung sepenuhnya dalam menunjukkan atau mempertontonkan kebisaannya. Mereka butuh perubahan revolusioner berjudul keberpihakan yang nyata, bukan kepedulian sesaat sekedar untuk meraih simpati dan kemudian kepedulian menghilang tanpa jejak di fase berikutnya.



Mereka takut menghujat Tuhan karena masih meyakini kedigdayaan-Nya, tetapi kenyataan pahit seolah menggiring untuk berkesimpulan bahwa Tuhan tak pernah berpihak atas apa yang mereka fikirkan.  Pilihan fikir semacam itu diambil karena kenyataan hidup tak kunjung memberi lubang cahaya bernama harapan. Mereka patah arang  dalam menyuarakan ragam kegundahan.  Akhirnya, apapun dilakukan  dengan satu prinsip,  yaitu : “yang penting bisa bertahan hidup”. Ironisnya, untuk itu pun mereka harus berebut kesempatan yang jumlahnya selalu terbatas. Tak ayal, kenyataan ini membuat mereka harus saling mengalahkan yang menyebabkan  kekerabatan sosial diantara mereka memudar oleh realitas hidup memilukan. Perasaan ke-kita-an sebagai sebuah kelompok masyarakat dan juga sebagai sebuah bangsa luntur oleh kenyataan-kenyataan yang  belum berpihak.



Mereka menginginkan hidup yang bijak, tetapi tak kunjung menemukan inspirasi  untuk memulainya dari mana. Mereka ingin keluar dari kebiasaan menjadi oppourtunist yang sesungguhnya disadari bahwa hal itu tidak baik, tetapi kenyataan kembali menuntun mereka di pola hidup yang sama. Yang jelas,   semua berharap perubahan nyata yang lebih baik dan bernilai harapan dibanding dari keadaan sekarang yang tetap harus disyukuri.



Dalam keraguan dan traumatic mendalam, kini mereka pun akan disajikan kembali momentum untuk memilih pemimpin. Adakah defenisi mereka tentang sebuah hidup akan menjadi nyata dengan hadirnya pemimpin baru?. Yang  jelas, tanya itu terus mengiang dikepala mereka dan selalu berharap hal itu benar-benar menjadi nyata. 



Seorang ibu selalu menginginkan anaknya tumbuh layak dengan gizi cukup. Seorang ibu tak ingin hanya bisa membayangkan susu berkualitas dari apa yang selalu teriklan di layar kaca berulang-ulang. Seorang ibu pun menginginkan suaminya berpenghasilan cukup dan bisa membuat anak mereka terlihat selalu ceria. Seorang ibu pun tak ingin berbohong hanya sekedar untuk mengalihkan keinginan anaknya memiliki sebuah mainan yang dia sukai.



Mereka memerlukan perhatian, perhatian tulus yang membuat mereka lebih cerdas dalam merangkai dan mewujudkan mimpinya. mereka pun ingin petuah dan ketauladanan pemimpinnya sebagi pembimbing langkah mereka untuk lebih percaya diri berjuang menembus area hidup bertajuk bahagia. Mereka butuh iklim yang mendorong mereka memiliki perasaan malu berdiri sebagai orang yang difikirkan, sebab setiap dari mereka pun ingin berkontribusi untuk memikirkan kemajuan bangsanya. 



Satu hal Lagi, mereka pun butuh alasan cukup untuk memilih dan mencintai pemimpinnya. Mereka pun sebenarnya membenci memilih karena pengaruh sebuah amplop berisi uang yang tidak seberapa, tetapi dapur tetap harus ngebul dan kehidupan harus terus berlanjut, walau amplop itu tak mungkin menjawab kebutuhan hidup untuk waktu yang lama.



Semoga keadaan lebih baik akan hadir siapapun presiden/wakil presieden berikutnya. Semoga keadaan membentuk rasa bangga menjadi bagian dari sebuah negeri bernama Indonesia. Semoga iklim yang akan terbentuk memberi peluang rakyat tidak hanya berposisi sebagai yang difikirkan, tetapi juga menjadi barisan yang ikut memikirkan bangsa. Semoga Tulisan ini di dengar Tuhan, sebagaimana saya berharap tuan-tuan calon presiden dan wakil presien meluangkan waktu untuk membaca tulisan singkat ini ditengah kesibukan untuk memenangkan sebuah pertarungan.





Salam damai

 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved