GADIS MUNGIL AMAZING ITU BERNAMA “DISCA”

Jumat, 16 Mei 20140 komentar




GADIS MUNGIL AMAZING ITU BERNAMA “DISCA”
 

Diska, begitu panggilan akrab dari gadis mungil bernama lengkap  Rara Naisila Adiska.  Lahir di Desa Serayu Larangan, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, tepatnya tanggal 26 April 2006 dari sepasang suami istri yang bernama Adi dan Iis, Diska dibesarkan di lingkungan desa yang masih kental dengan tatakrama , kesantunan dan selalu lekat dengan kegiatan bernuansa keagamaan. Bahkan penulis (yang kebetulan bukan orang jawa) sering kebingungan sendiri saat Diska menggunakan bahasa jawa halus  di sela-sela pembicaraannya. Walau terlahir sebagai anak tunggal, Diska tidak menunjukkan kemanjaan berlebihan sebagaimana biasanya ditunjukkan anak tunggal lainnya. Gadis kecil ini memiliki kemandirian diatas rata-rata seusianya.

Ragam kisah mengundang decak kagum dari perjalanan hidup gadis mungil yang saat ini tercatat sebagai siswi  kelas 02, SDN 01, di Desa Serayu Larangan, Purbalingga, Propinsi Jawa Tengah.

Kisah unik ini bermula dari keterpilihannya sebagai mayoret dari group drumband saat masih duduk di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) di desanya. Pemilihannya sebagai mayoret mengindikasikan bahwa gadis ini memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Hebatnya lagi, saat group drumband nya mengikuti lomba tingkat TK se-Kab. Purbalingga, group drumband mereka sukses meraih juara I.  Sebuah pencapaian luar biasa. Tak berhenti sampai disitu, prestasi lain pun dia torehkan saat terpilih menjadi delegasi TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) dalam agenda lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Purbalingga. Dalam event ini, Disca berhasil menggondol piala Juara Harapan I. Capaian ini menandaskan bahwa Disca juga memiliki bakat besar dalam urusan seni, khususnya menggambar dan mewarnai. 

Dalam urusan pelajaran sekolah pun ternyata Disca tidak kalah hebat, mulai kelas 1 (satu) sampai dengan kelas  2 (dua), Disca  selalu berhasil masuk rangking 3 (tiga) besar dalam urusan nilai. Dalam urusan sekolah, ada catatan unik dari seorang Disca dimana beberapa bulan lalu pernah izin tidak berangkat sekolah selama 3 (tiga) minggu. Hal ini dikarenakan mbahnya Disca sedang sakit keras dan harus di rawat di Klaten. Disca ikut serta ibunya saat mendampingi Mbahnya selama di rawat di rumah sakit.  Disca baru bisa mulai aktif lagi  mengikuti proses pemelajaran di sekolah saat ujian semester tinggal beberapa hari.  Berantakan kah nilai raport Diska di semester itu?. Ternyata tidak sama sekali. Bahkan Diska berhasil keluar sebagai juara II di semester tersebut. Amazing….Capaian ini pun memberi sinyal kuat bahwa Disca memang anak yang cerdas dan
berotak cerdas.  
 Satu hal lagi dan ini sangat jarang didapati pada anak seusianya, ternyata naluri kewirausahaan Disca sunggu luar biasa.  Keseharian Disca yang sering menungguin ibunya sedang menjahit di rumah, membawa dia pada satu kreativitas yang tidak jauh dari urusan jahit menjahit. Berawal dari kebiasaan memanfaatkan potongan-potongan sisa bahan jahitan (baca: perca-perca) untuk bahan mainan, Disca kemudian trampil dalam urusan membuat mainan dari perca-perca tersebut. Tidak sampai disitu saja, kreativitas Disca berlanjut saat diam-diam, Disca sering mampir ke warnet tanpa sepengetahuan ibunya. Disca berinisiatif
menahan selera untuk tidak menggunakan uang saku hariannya untuk membeli mainan atau jajanan di sekolah, tetapi dia manfaatkan untuk mampir ke warnet. Siapa nyana, di warnet Disca sering minta bantuan operator untuk mencarikan contoh-contoh design mainan atau lainnya yang menggunakan bahan baku perca-perca (sisa bahan baju jahitan). Ups…sampailah Disca pada penemuan ragam design sederhana yang menggunakan bahan panel.  Ternyata tak berhenti sampai disitu, Disca pun mengumpulkan uang saku
hariannya dan kemudian meminta ikut saat ibunya sedang belanja bahan jahitan di toko. Gayung bersambut, mimpi kecilnya langsung didukung sang ibu sesaat setelah mendengar penjelasan Disca asal sejumlah uang yang dia titipkan ke ibunya adalah hasil dari mengumpulkan uang saku hariannya. Mendapat dukungan penuh dari ibunya, Disca pun mulai beraksi mewujudkan ide di kepalanya, yaitu membuat hiasan sebagaimana terekam di ingatannya saat melihat di warnet. Setelah melalui berbagai tahapan
percobaan yang dirangkainya sendiri, akhirnya Disca berhasil membuat satu hiasan sederhana. Namun, karya kecil ini sungguh luar biasa untuk anak kecil seusianya. Aksi seorang Disca tidak berhenti sampai disitu saja. Kekaguman teman-teman sekelasnya terhadap karya yang dia buat menjadi sumber lompatan semangat. Apalagi beberapa temennya pengen memiliki hasil karyanya. Otak bisnisnya mulai muncul, Disca pun membandrol karyanya dengan harga Rp 500,oo. Ternyata, yang berminat tidak hanya satu
dua orang temennnya, tetapi temen-temen sekelas lainnya ikut-ikutan memesan karya Disca. Hal ini membuat Disca menjadi lebih bersemangat. Hebatnya lagi, Disca kemudian melakukan  diversifikasi produk sehingga lebih banyak pilihan bagi yang berminat. Entah apa yang menginspirasi gadis belia ini, diversifikasi produk yang dilakukan Disca diikuti pula dengan diversifikasi harga. Sehingga, kalau semuala karya Disca di bandrol Rp 500,oo, setelah melakukan diversifikasi produk harga menjadi bervariasi antara Rp 500,oo sampai dengan Rp 2.500,oo.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berita  tentang karya Disca menyebar ke kalangan kakak kelasnya dan sebagian ikutan pula memesan. Singkat cerita, dalam urusan pemasaran produk, Disca mempunyai agen di beberapa kelas yang berperan sebagai pengepul order. Sepertinya, insting gadis belia yang baru kelas 2 (dua) ini tidak hanya terlatih dalam urusan produksi, tetapi juga dalam hal pemasaran. Berita paling up
to date, produk Disca pun  diminati oleh temen-temen pengajiannya di sore hari. Bahkan suatu hari, saat Disca harus absen mengaji sebab harus mengikuti kedua orang tuanya ke acara kumpulan keluarga di Purwokerto, sekejap Disca berlari ke tempat pengajian untuk menitipkan barang dagangannya pada temen yang sudah dia percaya. Dalam urusan harga, tanpa ada yang mengajari, Disca memperbolehkan untuk membayar dengan sistem angsuran. Anak ini benar-benar brilian…sangat brilian…un-believe it…amazing

Dalam urusan manajemen keuangan, insting gadis belia ini tak kalah cemerlang. Hasil penjualan dia kumpulkan dan kemudian  dijadikan sebagai modal membeli bahan untuk memenuhi pesanan berikutnya. Sejak saat itu, Disca sering nitip uang untuk beli bahan tiap kali ibunya mau belanja ke toko.   

Ada satu kisah yang benar-benar diluar dugaan orang dewasa sekalipun. Suatu saat,  temen Disca yang bernama  icha ingin beli buku gambar yang besar dan crayon yang akan di gunakan untuk ujian. Tetapi Icha tidak punya uang dan tidak berani meminta pada orang tuanya. Mendengar curhatan sahabatnya yang satu ini, Diska langsung berinisiatif menawarkan bantuan untuk membelikan buku gambar tersebut dan sekaligus meminjamkan crayon nya. Untuk meminjamkan crayon, icha langsung menerima dengan senang hati. Tetapi untuk dibelikan buku yang harganya kisaran Rp 5.000,oo Icha menolak karena tidak enak hati, apalagi harganya cukup besar untuk ukuran seusian mereka. Berhentikah Disca sampai disitu untuk mewujudkan niatnya?. Ternyata tidak. Diam-diam tanpa sepengetahuan Icha, Disca berlari ke toko dan membelikan buku gambar yang dibutuhkan Icha. Sesaat kemudian, Disca langsung meluncur ke rumah Icha dan menyerahkan buku gambarnya. Saat itu berlangsung, orang tua Icha kebetulan menyaksikan sendiri dan dengan mata berkaca Ibu Icha mengucapkan terima kasih dan memeluk Disca seketika. Sehari kemudian, orang tua Icha datang berkunjung ke rumah Disca dan kemudian menceritakan kebaikan Disca telah membelikan buku kepada Icha. Luar biasa..penulis cerita ini pun berkaca-kaca dan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap jiwa sosial gadis mungil itu.  
 
2 (dua) hari lalu, setelah mampir ke warnet, Disca ter-ide untuk membuat produk baru berupa wadah tissue . Dia lihat di toko sebelah rumahnya dijual dengan harga Rp 20.000,oo. Hebatnya lagi, sebelum dia berkeputusan memproduksinya, Disca terlebih dahulu curhat pada ibunya tentang rencannya membuat wadah tissue. Hal yang mengundang decak kagum adalah pertanyaan yang dia lontarkan pada ibunya; “bu…kalau saya buat wadah tissue harganya kan mahal dan tidak mungkin dibeli temen-temen sekolah. di toko sebelah aja harganya Rp 20.000,oo, ibu mau bantuin ngejualnya ndak?.”….waw, anak ini rupanya sudah  seperti pakar pemasaran. Pola berfikir anak ini sudah sampai ke tahapan segmentasi pasar dan marketing mix. Ini benar-benar amazing..anak ini benar-benar luar biasa…

Rasanya tak sabar melihat gadis belia ini segera dewasa. Penulis penasaran kecemerlangan-kecemerlangan apalagi yang akan dia torehkan. Penulis meyakini bahwa gadis belia ini akan menjadi orang luar biasa suatu saat nanti. Dia akan menjadi inspirasi bagi banyak orang….penulis meyakini betul akan hal itu.

Ini bukan tentang omzet penjualan, tetapi tentang kreativitas alamiah yang lahir dari seorang gadis belia. Terbangun kepenasaran bagaimana bakat luar biasa ini  melekat pada anak yang baru kelas 2 (dua) SD. Secara fisik dia memang tumbuh normal sebagaimana seusianya, tetapi secara pemikiran, gagasan dan tindakan, anak lugu ini jauh melebihi usianya.  

Disca…Anda benar-benar brilian, amazing…saya sampai kehabisan kata tepat untuk menggambarkan kehebatanmu….Semoga kreativitas mu akan terus tumbuh dan berkembang serta menghasilkan karya-karya baru yang spektakuler. Semoga….   
















Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved