DIKMENKOP UNNES: APLIKASI MANAJEMEN RESIKO DI LINGKUNGAN KOPERASI MAHASISWA

Sabtu, 31 Mei 20140 komentar



APLIKASI MANAJEMEN RESIKO
DI LINGKUNGAN KOPERASI MAHASISWA


Disampaikan dalam acara ”Pendidikan Menengah Perkoperasian Nasional”, 
yang diselenggarakan oleh Koperasi Mahasiwa Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, 30 Mei sd 01 Juni 2014.
 

A. Pembuka
Dalam hidup keseharian, sebenarnya segala sesuatu mengandung resiko. Kalau anda naik sepeda motor maka resiko yang mungkin muncul adalah jatuh, ditabrak kendaraan lain atau menabrak kendaraan lain. Kalau anda berlari, resiko yang mungkin muncul adalah kaki pegel-pegel, lelah, nginjek duri dan lain sebagainya. Kalau anda naik pesawat menuju suatu tempat juga ada kemungkinan terlibat dengan resiko operasional pesawat itu , seperti jatuh atau tergelincir. Saat anda memilih menjadi seorang pekerja juga berpeluang terhadap resiko pemecatan. Saat anda memilih menjadi pengusaha/entrepreneur juga memiliki kemungkinan berhadapan dengan resiko kegagalan dan bahkan kebangkrutan. Intinya, segala sesuatu yang dilakukan sesungguhnya mengandung resiko. Hanya saja, resiko-resiko itu menjadi kecil kemungkinan terjadi bila anda melakukan antisipasi sejak dini.

Setiap organisasi menginginkan keadaan selalu seperti harapan dan mendambakan kesuksesan dimana tujuan-tujuan yang didefenisikan dapat mewujud. Namun demikian, satu detik dari di defenisikannya sebuah tujuan selalu mengandung unsur ketidakpastian. Artinya, ketika asumsi dalam mendefenisikan tujuan mengalami deviasi/penyimpangan, bersamaan dengan itu resiko kegagalan pun mulai terbuka. Ketika resiko benar-benar terjadi, bukan saja tujuan yang tidak akan tercapai tetapi bisa saja menimbulkan kerugian material dan atau kerugian im-material.   

 Oleh karena itu, setiap organisasi  perlu menerapkan “manajemen resiko” sehingga tujuan-tujuan lebih memungkinkan untuk digapai dengan sukses. Satu hal yang menjadi catatatn, satu-satunya yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Oleh karena itu, kesiapan terhadap perubahan asumsi dan kesigapan dalam merespon dengan tepat setiap perubahaan menjadi sebuah keharusan. Jika tidak, maka hal ini bisa membawa organisasi pada ke dalam resiko tinggi. Atas dasar hal tersebut, maka konsep manajemen resiko menjadi penting.


B.  Menelaah manfaat manajemen resiko
Sebagaimana dijelaskan diatas  bahwa segala sesuatu mengandung ketidakpastian yang didalamnya berpotensi mengandung resiko. Oleh karena itu, manajemen resiko menjadi penting di konsep sehingga organisasi lebih siap dalam menghadapi perubahan-perubahan asumsi dan situasi sehingga diperoleh manfaat minimal sebagai berikut :
1.      Terbukanya peluang perwujudan tujuan dan target yang sudah dirumuskan.
2.     Meminimalisir kegagalan berkat ragam antisipasi dini yang terkonsep secara menyeluruh.
3.      Meningkatkan produktivitas sebab aplikasi manajemen resiko mendorong terbentuknya efisiensi dan efektivitas operasional.
4.      Terbentuknya peningkatan apresiasi dan kenyamanan pihak eksternal untuk berinteraksi dan membangun kerjasama saling menguntungkan (mutual partnership).
5.      dsb


C. Tahap-Tahap Menyusun Konsep Manajemen Resiko
Konsep manajemen resiko dipengaruhi oleh obyek atau aktivitas yang dijalankan oleh sebuah organisasi atau perusahaan. Namun demikian, secara umum tahapan-tahapan yang biasa dilakukan dalam menyusun konsep manajemen resiko dijelaskan sebagai berikut :
1.      Identifikasi. Pada tahap ini, dilakukan eksplorasi segala resiko yang mungkin muncul ketika organisasi menjalani tahapan-tahapan memperjuangkan keterwujudan targetnya. Untuk itu, semua kemunginan yang berpotensi menjadi faktor pengganggu di inventarisir selengkap mungkin.
2.      Analisa. Pada tahap ini, dilakukan telaah atau kajian mendalam terhadap hasil dari inventarisasi  potensi masalah, mulai dari faktor atau keadaan yang menyebabkannya dan luas efek yang mungkin ditimbulkannya.
3.      Pengelolaan. Pengelolaan resiko yang dimaksud dimulai dari tahap antisipasi sampai dengan menghadapi saat  resiko itu benar-benar terjadi. Kaitannya dengan pengelolaan, berikut ini dijelaskan beberapa alternatif langkah yang mungkin dilakukan dalam pengelolaan resiko, yaitu :
  1. Antisipasi. Hal ini merupakan bentuk pencegahan sehingga resiko terantisipasi sejak dini lewat berbagai langkah atau kebijakan. Untuk itu, detail perkembangan perjalanan organisasi perlu di rekam sehingga diperoleh data yang cukup dan valid dalam menyusun langkah antisipasi.
  2. Membiarkan di kadar tertentu.  Ada resiko-resiko kecil dan tidak berpengaruh besar pada kelancaran operasional organisasi dalam mencapai tujuan besarnya. Oleh karena itu, fleksibilitas pada range tertentu justru bisa mendukung mulusnya langkah-langkah besar yang sedang dilakukan.
  3. Mengendalikan. Hal ini dipilih saat resiko sudah benar-benar terjadi, sehingga memerlukan respon cepat dan tepat  sehingga terlokalisir dan tidak menimbulkan efek  luas dan atau bahkan melumpuhkan organisasi atau perusahaan. Kaitannya dengan pengendalian resiko, sebelum menetapkan langkah, pertama kali yang harus di telaah adalah mana sebenarnya yang menjadi  core problem and mana pula sebagai side effect. Core problem yang dimaksud adalah persoalan utama atau akar masalah dari ragam persoalan yang sedang berlangsung. Sedangkan side effect adalah akibat-akibat atau resiko-resiko yang muncul dari terjadinya persoalan utama. Setelah hal ini bisa diidentifikasi, maka fokus langkah pengendalian darahkan pada core problem sehingga energi lebih efisien dan efektif. Sementara itu, bila terjebak pada side effect dan kemudian tersedot energii pada hal itu, maka dipastikan persoalan utama nya tidak selesai dan bahkan bisa memunculkan efek-efek lain yang tidak diduga sebelumnya.
  4. Mengalihan resiko. Mengalihkan resiko adalah salah satu langkah dalam mengelola resiko itu sendiri. Fakta lapangan menunjukkan bahwa banyak organisasi atau perusahaan yang mengalihkan resiko yang mungkin terjadi. Misalnya dalam menangani resiko kecelakaan kerja, organisasi atau perusahaan meng-asuransikan segenap unsur oganisasinya. Hal sama juga sering dilakukan oleh perusahaan jasa pengapalan (shipping) sehingga mendatangkan kenyamanan bagi pengguna jasanya.    


D. Contoh Sederhana  : “Manajemen Resiko Koperasi Mahasiswa X”
Koperasi mahasiswa atau Kopma adalah sebuah organisasi dan juga perusahaan yang ada di lingkungan kampus. Kopma beranggotakan mahasiswa/I dan dalam pengelolaannya di serahkan kepada  perwakilan  anggota yang kemudian biasa disebut sebagai pengurus dan pengawas. Dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya, pengurus selaku eksekutif organisasi sering mengangkat karyawan/ti atau manajemen. Hal ini biasanya dilakukan oleh kopma-kopma yang sudah mapan secara organisasi maupun perusahaan. Pengangkatan manajamen atau karyawan/ti biasanya juga dilatarbelakangi oleh keterbatasan waktu pengurus/pengawas sehingga diperlukan SDM-SDM yang full time mengawal jalannya operasionalisasi organisasi dan perusahaan. 

Sebagai organisasi dan juga perusahaan, tentu kopma  mempunyai tujuan yang dalam perumusannya me-referensi pada asumsi-asumsi yang disepakati oleh segenap stake holdersDidalam proses pencapaiannya tentu tidak lepas dari ketidakpastian-ketidakpastian yang tak jarang mengandung resiko. Atas dasar itulah kemudian kopma perlu mengaplikasikan manajemen resiko, sehingga meminimalisir deviasi (penyimpangan) kaitannya dengan pencapaian tujuan; peningkatan produktivitas; penguatan kepercayaan/daya dukung pihak eksternal  dan lain sebagainya.

Sebagai illustrasi dan sekaligus stimulan  awal, berikut disajikan contoh sederhana  tentang manajemen resiko yang bisa diaplikasikan di lingkungan Kopma sebagaimana berikut ini:

MANAJEMEN RESIKO ORGANISASI DAN PERUSAHAAN
KOPMA “X”

Ketercapaian tujuan organisasi tidak lepas dari kemampuan me-manage resiko yang mungkin muncul dalam setiap tahapan kopma menjalankan ragam aksi menuju perwujudan visi dan misi. Atas dasar itu, kemudian kopma mengaplikasikan manajemen resiko dibawah tanggungjawab Pengurus dan dibantu segenap staff.  Pengurus telah melakukan identifikasi, analisa dan respon terhadap segala situasi dan kondisi yang dinilai berpengaruh pada kelancaran, petumbuhan dan perkembangan kopma sebagaimana dijelaskan berikut ini :

Resiko Organisasi dan Kelembagaan
1.  Stabilitas Keanggotaan
Kopma adalah koperasi yang beranggotakan insan-insan berstatus mahasiswa. Singkatnya masa study mahasiswa merupakan persoalan yang bisa menimbulkan resiko, khususnya persoalan keanggotaan dan kaitannya dengan stabilitas keuangan kopma. Oleh karena itu, fasilitas otomatisasi keanggotaan yang masih diterapkan oleh rektorat  sampai saat ini, disatu sisi merupakan jaminan stabilitas permodalan kopma. Namun demikian, disisi lain hal ini mengandung resiko tinggi ketika rektorat mencabut kebijakan ini. Untuk mengantisipasi resiko terburuk berupa “perubahan kebijakan rektorat”, maka kopma melakukan antisipasi sebagai berikut :
  1. Membentuk permodalan permanen secara bertahap dan berkesinambungan dengan tidak membagikan SHU secara cash kepada anggota untuk 5 (lima) tahun ke depan, tetapi  didistribusikan kepada masing-masing anggota tetap dilakukan dalam  bentuk tabungan yang hanya bisa diambil 5 (lima tahun kemudian).
  2. Untuk mendukung hal tersebut, maka dalam 5 (lima) tahun ke depan diupayakan langkah-langkah intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi unit-unit layanan  berbasis kebutuhan anggota. Dengan demikian, partisipasi transaksi kebutuhan anggota kian meningkat dan berimplikasi pada semakin cepatnya pertumbuhan akumulasi SHU.
  3. meningkatkan kuantitas dan kualitas komunikasi produktif dengan pihak rektorat kaitannya dengan stabilitas daya dukung terhadap langkah-langkah kopma.
  4. Sebagai tindak lanjut dari hal ini, maka dicanangkan tahun ke-6 dari sekarang, kopma akan menyelenggarakan keanggotaan sukarela yang  tidak dibatasi oleh masa kuliah. Hal ini menjadi tahapan dalam melahirkan kemandirian dan otonomi kopma sebagai sebuah koperasi.      

2.  Kaderisasi
Singkatnya masa kepengurusan yang hanya satu tahun mengandung persoalan kaitannya dengan keberlanjutan pembangunan dan stabilitas kopma. Fakta menunjukkan bahwa hal ini sering sekali berpengaruh pada stabilitas kopma, baik  secara organisasi maupun secara perusahaan. Untuk meminimalisir resiko-resiko yang muncul dari kondisi ini telah diambil kebijakan strategis berupa perumusan dan aplikasi  sitem kaderisasi kopma. Sistem kaderisasi ini ditargetkan sebagai berikut; (i) menumbuhkembangkan loyalitas anggota terhadap kopma; (ii) melahirkan kader-kader handal melalui aplikasi kepengurusan berjenjang, sehingga kader yang terpilih menjadi pengurus atau pengawas adalah insan-insan yang  memiliki rekam jejak yang baik, memiliki kompetensi, akseptabilitas  dan elektabilitas tinggi.     

3.  Stabilitas Unit-Unit Layanan
Untuk menjaga stabilitas operasional dan pertumbuhan unit-unit layanan kopma, maka operasionalisasi unit-unit layanan diserahkan kepada manajemen tanpa mengurangi tanggungjawab pengurus selaku eksekutif organisasi. Untuk meminimalisir over lapping dalam hal penugasan dan kewenangan pengelolaan usaha, maka disusun konsep kerja yang menjelaskan garis demarkasi tegas antara kewenangan pengurus dan manajemen.



Resiko Perusahaan Kopma
Selaku perusahaan yang hakekat keberadaannya adalah alat untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan anggota, perusahaan kopma tidak lepas dari resiko yang berpotensi mengganggu stabilitas operasional dan juga kesejahteraan anggota. Oleh karena itu dilakukan langkah antisipasi terhadap kelancaran atau kontinuitas pasokan bahan baku dengan membangun komitmen jangka panjang dengan para suplier/pemasok. Disamping itu, munculnya para pesaing disektor usaha yang juga diselenggarakan oleh kopma perllu diproteksi lewat pembangunan loyalitas anggota untuk tetap mentransaksikan kebutuhannya di unit-unit layanan kopma.

Demikian manajemen resiko yang diterapkan oleh pengurus kopma “X” sebagai bagian dari upaya menumbuhkembangkan Kopma sehingga bernilai manfaat yang lebih luas bagi seluruh anggotanya.

Contoh diatas adalah stimulan dan untuk kepentingan kopma bisa dikembangkan sesuai dengan realitas kopma secara menyeluruh dengan tetap dilandasi komitmen untuk meminimalisir resiko-resiko yang berpotensi merusak stabilitas dan atau pencapaian tujuan-tujuan kopma


E. Penghujung
Manajemen Resiko adalah bagian penting dalam membentuk kewaspadaan diseluruh unsur organisasi atas potensi gangguan yang mungkin muncul dalam aktivitas rutin sebuah organisasi atau perusahaan, termasuk Kopma. Oleh karena itu, manajemen resiko seharusnya menjadi alat control yang baik bagi setiap unsur organisasi sehingga lahir semangat yang sama dalam meminimalisir hadirnya faktor-faktor pengganggu saat kopma sedang konsentrasi membangun keberdayaannya.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved