BURSA FE UNSOED : “FROM ZERO TO BE SUCCES ENTREPRENEUR”

Sabtu, 31 Mei 20140 komentar



“FROM ZERO TO BE SUCCES ENTREPRENEUR”  

Disampaikan pada  acara “Seminar Menjadi Wirausaha Muda” ,  yang diselenggarakan oleh Bursa FEB Unsoed Tahun 2014/2015,  di Gedung Roedhiro, Universitas Jenderal Soedirman, Tgl 01 Juni 2014 
 


A.  Pembuka : 2 (dua) Fakta Menarik Sebagai Bahan Kontemplasi

Memilih menjadi seorang wirausaha adalah sebuah kemuliaan, sebab disamping membentuk kemandirian juga berpeluang menciptakan harapan hidup bagi orang lain. Bahkan, berwirausaha memiliki implikasi positif terhadap pertumbuhan geliat ekonomi secara makro dan juga mengurangi angka statistik pengangguran.  Persoalan menarik dalam hal ini adalah seberapa besar gairah  menekuni wirausaha ditengah terbukanya peluang  menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan besar dan menjanjikan salary  dan tatanan karir yang sudah jelas?.

Pertanyaan ini mungkin menarik disampaikan kepada kaum intelektual muda (baca : mahasiswa/i) dimana ijazah kesarjanaan yang akan didapatkan bisa untuk memenuhi persyaratan untuk mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar tersebut.  

Secara sederhana, menjadi karyawan atau wirausahawan memang hanya persoalan pilihan saja. Hanya saja, yang perlu diingat adalah  setiap pilihan memiliki konsekuensi dan setiap orang harus berjiwa besar atas segala akibat pilihan yang diambil. Bagi mereka yang memilih bekerja, mereka harus siap berlomba memperebutkan lowongan pekerjaan yang kapasitas penerimaannya biasanya tidak sebanding dengan jumlah pelamarnya. Sementara itu, bagi mereka yang memilih menjadi wirausahawan, mereka bisa memulai kapanpun, tetapi mereka harus siap berproses dan bertarung dengan alam atau pelaku usaha lainnya.

Oleh karena itu, sebelum melakukan pilihan, ada baiknya menyimak 2 (dua) fakta menarik berikut ini;
1.      Angka ideal jumlah wirausaha sebuah negara adalah 2% dari jumlah penduduk  dan sampai saat ini, Indonesia baru memiliki 1,65%. Angka ini sangat jauh berbeda dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN dimana jumlah wirausaha nya sudah menembus angka lebih dari 4%. Oleh karena itu, tumbuhnya gairah berwirausaha dikalangan masyarakat sangat diharapkan, khususnya kaum intelektual muda yang energik.
2.      Era globalisasi di akan dimulai pada tahun 2015 dengan pemberlakun AEC (Asean Economy Community). Saat AEC dijalankan, dipastikan berlaku  apa yang disebut free flow  dalam hal  sumber daya manusia, investasi dan  barang/jasa. Sampai detik ini, banyak pihak yang menyimpulkan bahwa Indonesia masih jauh dari siap, namun pilihan yang tersedia adalah menyesuaikan diri dengan 2 (dua) kemungkinan besar yaitu; menjadi pemain penting dikawasan ASEAN atau menjadi obyek dari AEC itu sendiri. Bagi mereka yang memilih bekerja, maka persaingan akan menjadi lebih sengit sebab persaingan berburu pekerjaan akan head to head dengan SDM-SDM dari kawasan ASEAN. Demikian halnya para pengusaha, persaingan kualitas akan terjadi head to head pula, baik dalam menghasilkan produk/jasa yang lebih kompetitif maupun dalam hal men-drive market. Bisa dipastikan, pengusaha yang lebih siap akan memanfaatkan  pemberlakukan AEC sebagai momentum  untuk melakukan ekspansi usaha. Sementara itu, pengusaha yang tidak berkemampuan menyesuaikan atau memenangkan persaingan dipaksa keadaan untuk minggir atau berputar haluan.    

2 (dua) Fakta diatas memberi pesan bahwa setiap orang, baik para pekerja/karyawan maupun pelaku usaha/wirausaha, harus siap-siap meningkatkan kapasitas diri atau kehilangan ruang atau kesempatan. Untuk itu, pekerja/karyawan harus meningkatkan daya saing melalui mempertinggi kompetensi dan akseptabilitas diri.  Sementara itu,  Bagi para wirausahawan, dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam segala aspek. 


B.  Menilik Ragam Muasal Menjadi Seorang Wirausahawan
Dasar seseorang berkeputusan dalam menekuni sesuatu selalu menjadi sumber inspirasi dan energi untuk terus bergerak dan melakukan yang terbaik. Demikian halnya ketika berketetapan menekuni wirausaha, pasti memiliki  landasan kuat atau latar belakang yang jelas sehingga mendorong  totalitas dalam mentahapi setiap prosesnya. Namun demikian, banyak kisah unik yang melatarbelakangi seseorang menjadi wirausahawan yang antara lain dijelaskan berikut ini :
1.      Lelah atau patah arang dalam mencari pekerjaan. Tidak seimbangnya pertumbuhan lapangan kerja dengan pencari kerja telah menyebabkan lahirnya pengangguran. Hal ini juga bisa dilihat dari banyaknya antrian setiap kali pembukaan lowongan sebuah pekerjaan. Pada titik tertentu, kejenuhan para pencari kerja yang tak kunjung mendapat kesempatan mendorong seseorang banting setir dan kemudian menekuni wirausaha.    
2.      Bosan  jadi pekerja/karyawan. Adanya ragam ketidakpuasan di lingkungan kerja juga bisa mendorong seseorang menjadi wirausahawan. Pola apresiasi rendah dari perusahaan dan adanya perasaan tidak adil dalam hal salary/penggajian atau lainnya  mendatangkan kejenuhan dan kemudian memilih keluar dan kemudian memilih menjadi wirausahawan. 
3.     Ketiadaan pilihan atau keterpaksaan keadaan.  Fakta lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit yang terjun ke dunia usaha karena ketiadaan pilihan. Hidup yang harus terus berlanjut memaksa untuk melakukan apa saja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari, kemudian orang ini menjadi pengusaha.  
4.      Sambilan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ketika pertumbuhan kebutuhan tidak seimbang dengan pertumbuhan salary, maka sebagian orang kemudian memilih untuk berwirausaha dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dalam hal ini, berwirausaha dilakukan sambilan atau disela-sela kesibukannya sebagai karyawan di sebuah institusi atau perusahaan. Namun demikian, tak jarang kemudian ada yang memilih keluar dari pekerjaan tetapnya setelah meyakini bahwa usaha yang dijalankannya memiliki prospek yang lebih menggembirakan.     
5.      Heorisme (kepahlawanan). Realitas sosial sekitarnya yang mengundang perasaan miris juga sering menginspirasi seseorang berbuat sesuatu dengan tujuan utama menciptakan keadaan lebih baik dan pengharapan. Untuk tujuan itu, orang tersebut kemudian menyelenggarakan ragam aktivitas produktif yang perlahan membawanya larut ke dalam dunia wirausaha.
6.      Lingkungan. Tidak mengherankan seorang wirausahawan lahir dari keluarga wirausahawan pula. Hal ini bukan berarti menjadi wirausahawan adalah persoalan genetis. Naluri wirausahanya muncul dari kebiasaan atau keseharian lingkungannya yang selalu diwarnai dengan detail dan dinamika bisnis. Sehingga, tanpa disadari keterlibatan di proses-proses keseharian bisnis membentuk jiwanya sebagaimana jiwa para pengusaha di lingkungannya. 
7.      Kesadaran sendiri. Orang semacam ini menekuni wirausaha didasarkan pada satu alasan kuat dan mimpi besar (baca: visioner). Orang semacam ini lebih tepat dikatakan sebagai entrepreneur sejati, dimana dia akan memperuangkan mimpinya secara total lewat optimalisasi potensi diri dan energi serta diikuti dengan serangkaian pengorbanan demi keterwujudan mimpi tersebut. Satu hal yang menjadi catatan, sesuatu yang didasari kesadaran menimbulkan efek energi luar biasa kaitanya dengan kesuksesan bisnis
8.      Dsb

Banyak kisah yang menjadi muasal seseorang menjadi seorang wirausahawan dan masing-masing kisah mengandung spirit yang sama, yaitu menyukai hal-hal kreatif atau tindakan-tindakan produktif, baik untuk dirinya ataupun bagi lingkungannya.


C.  Siapapun Bisa Menjadi Wirausahawan
Semua orang bisa menjadi seperti yang diinginkannya, bila tahu caranya  atau  menemukan jalan/media tepat untuk mewujudkannya. Demikian juga untuk menjadi wirausahawan, sepanjang mau memulainya, tekun dalam belajar, sabar dalam berproses dan siap segala resiko yang mengikutinya, maka orang tersebut berpeluang menjadi wirausahawan. Persoalan utamanya terletak pada kemauan dan keberanian memulai serta kesiapan atas apapun hasil akhirnya.

Fakta berbicara, banyak orang berkeinginan tetapi tidak punya kemauan atau keberanian yang cukup untuk memulai. Bayangan negatif tentang sebuah akhir dan rasa takut/khawatir yang sebenarnya belum terbukti, sering kali menjadi faktor penghambat sehingga orang tersebut tak kunjung memulai atau terjun ke dunia wirausaha. Akibatnya keinginan atau gagasan hanya sebatas di fikiran saja. Disamping itu, faktor excuse (baca: mencari-cari alasan) atau paradigma keliru juga sering menjadi penunda, seperti tidak punya modal, tidak terlatih, tidak terbiasa dan lain sebagainya yang akhirnya menjauhkan dia dengan dunia wirausaha.

Sering orang mengatakan, “ingin berwirausaha tetapi tidak punya modal”. Kalimat ini sesungguhnya berawal dari paradigma keliru, dimana kekuatan fikiran, gagasan, semangat dan mentalitas tidak dipandang sebagai  modal utama dalam memasuki dunia wirausaha. Satu hal lagi, kebanyakan pertimbangan juga sering menggagalkan rencana untuk memulai. Ada satu joke/humor di lingkungan pelaku usaha yang mengatakan bahwa “menjadi wirausaha itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi sebab akan membuat terlalu banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan”. 

Berwirausaha sesungguhnya tentang kreativitas mengoptimalkan apa yang dimiliki dan bukan mengedepankan apa yang tidak dipunyai. Mempersalahkan atau bahkan mengumpat  kenyataan atau kekurangan tidak pernah merubah keadaan, tetapi memaksimalkan yang ada  berpotensi melahirkan sesuatu yang baru dan belum pernah dimiliki sebelumnya.

Sebagai sebuah tawaran berfikir, dalam urusan wirausaha posisi uang hanyalah alat bantu dan bukan tujuan. Modal utama sesungguhnya terletak pada kemauan, keberanian memulai, kesabaran berproses dan kesiapan terhadap segala resiko yang muncul.




D.  Semua Berawal Dari 0 (nol)

Tidak ada pohon langsung berbuah, tetapi melalui serangkaian proses sampai akhirnya memasuki masa berbuah. Tidak ada bayi lahir langsung bisa berlari, tetapi melalui tahapan telentang, telungkup, merangkak, berjalan dan kemudian berlari. Hal yang sama berlaku dalam  belajar naik sepeda tidak langsung mahir dan bisa berlari kencang. Bahkan tak jarang mengalami jatuh bangun dulu berkali-kali baru mahir mengayuh sepedanya. Demikian pula dalam berwirausaha, memerlukan kesabaran men-tahapi prosesnya. Diawali dari keberanian memulai membuat usaha menjadi berwujud/ada. Kemudian, kesabaran berproses dan kesungguhan  belajar dari setiap pengalaman akan membawa usaha tumbuh dan berkembang secara bertahap dan berkesinambungan.   Dengan demikian, besarnya sebuah usaha sesungguhnya adalah imbas dari ketepatan langkah dan kesungguhan menjalankannya. Oleh karena itu, menata emosi diri menjadi penting sehingga lebih bijak dalam menjalani, menghadapi dan mengendalikan ragam dinamika yang mewarnai kesehariannya.


E.  Mengenal 3 (tiga) Tingkatan Mental Dalam Wirausaha .
Seorang pengusaha sukses pernah membuat perumpamaan bahwa “wirausaha itu 95% persoalan mentalitas dan 5% persoalan lainnya”. Perumpamaan ini menandaskan betapa pentingnya faktor mental dalam  berwirausaha. Berikut dijelaskan 3 (tiga) tingkatan mental  yang perlu dipupuk bila menekuni wirausaha, yaitu :
1.      Mentalitas Memulai. Banyak orang memiliki gagasan atau ide usaha, tetapi tidak memiliki keberanian cukup untuk mengimplementasikannya. Hal ini biasanya disebabkan ketidakmampuan dalam membangun keyakinan cukup dalam dirinya tentang sebuah akhir yang indah. Bayangan-bayangan negatif atau buruk lebih mendominasi sehingga memilih untuk tidak memulai karena tidak mau berurusan dengan resiko. Pada tahap ini, seorang wirausahawan dituntut berani memulai dan siap dengan segala resiko apapun yang mungkin muncul dikemudian hari. Untuk itu, kepada para wirausahawan pemula disarankan untuk memulai dengan hal-hal yang sifatnya sederhana dan kemudian berlanjut ke ranah yang lebih besar secara bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk membangun mentalitas secara bertahap dan juga meminimalisir resiko yang mungkin muncul dikemudian hari.   
2.      Mentalitas Berproses. Dunia wirausaha itu penuh dinamika sebab banyak faktor yang mempengaruhi prosesnya. Terkadang jalannya usaha tidak seindah rencana sehingga memerlukan penyesuaian atau adaptasi dengan kondisi lapangan. Oleh karena itu, kreativitas harus diikuti dengan kesabaran berproses. Belajar dari satu kesalahan dan  melakukan perbaikan adalah metode belajar yang efektif dan sekaligus perlahan membentuk ketangguhan mentalitas. Tak jarang, pelaku usaha berbalik arah ketika kenyataan lapangan berbanding terbalik dari dugaan awal. Disinilah mentalitas dalam menjalankan usaha memegang peranan penting bagi keberlangsungan usaha tersebut.
3.      Mentalitas atas hasil akhir. Semua wirausahawan siap menerima kondisi menguntungkan, tetapi tidak semua  wirausahawan siap dengan kerugian. Disini kebesaran jiwa, sikap optimistis dan tidak mudah patah arang, diperlukan dari  seorang wirausahawan. Saat mendapatkan keuntungan, seorang wirausahawan tidak boleh terlalu senang (baca: euforia) dan harus tetap waspada, sebab mungkin saja esok hari mengalami kerugian. Saat rugi, seorang wirausahawan harus bisa menyemangati diri sendiri bahwa esok hari masih ada harapan. Ada fakta unik yang perlu menjadi catatan bahwa banyak wirausahawan sukses melalui masa-masa sulit dari proses sebuah usaha, tetapi sebagian dari mereka gagal dalam sesi keberhasilan sehingga kembali mengalami minus dan bahkan kebangkrutan. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan mental terhadap sebuah keberhasilan itu sendiri.  Oleh karena itu, wirausaha tidak hanya memerlukan mentalitas dikondisi kurang menggembirakan, tetapi juga harus memiliki mental yang kuat dalam mengemban derajat kesuksesan. 


F.  Relevansi Tuhan dan Keberhasilan Wirausaha
Sub tema ini disajikan sebagai pengingat bagi penulis maupun peserta seminar bahwa Tuhan memiliki kekuasaan yang tidak terhingga atas diri manusia dan alam beserta isinya. Tuhan mengatakan bahwa nasib sebuah kaum sangat tergantung pada manusia itu sendiri. Artinya, dalam koridor manusia berusaha, Tuhan berposisi menyetujui, melipatgandakan bagi yang dikehendaki-Nya dan atau bahkan meniadakan yang sudah ada. Untuk itu, seorang wirausahawan sebaiknya menjaga kualitas hubungan atau kedekatan dengan Tuhan. Setidaknya ada beberapa alasan singkat yang mungkin mudah untuk dinalar, antara lain :
1.      Tak jarang peluang usaha terlihat mengandung potensi keuntungan luar biasa, tetapi keterbatasan pandangan dan jangakuan analisa memungkinkan manusia tidak bisa melihat segala resiko atau keburukan yang mungkin hadir bila potensi usaha tersebut dijalankan. Pada titik itulah peran Tuhan sangat diperlukan untuk membimbing seorang wirausahawan dalam memilih berbagai peluang yang ada didepan mata.  
2.      Setiap manusia yang senantiasa mendekatkan diri  dengan Tuhan memiliki fikiran dan hati yang tenang sehingga lebih mampu berkonsentrasi dan fokus dalam melakukan segala sesuatunya. Demikian halnya dengan berwirausaha dimana tingkat fokus dan konsentrasi sangat mempengaruhi hasil dari sebuah usaha. Oleh karena itu, tidaklah mengeherankan ketika seorang wirausahawan kehilangan fokus dan konsentrasi sering mengalami blunder sehingga kerugian tidak dapat dihindarkan.  
3.      Fakta lapangan menunjukkan bahwa dunia wirausaha terkadang tidak lepas dari tipu daya dan muslihat dari sesama pelaku usaha yang dikemas dalam modus yang sangat rapi dan jauh dari kecurigaan. Pada titik inilah seorang wirausahawan sangat membutuhkan arahan Tuhan dengan siapa saja sebaiknya berinteraksi dan atau menjalin kemitraan yang saling menguntungkan.

Keseimbangan antara kreativitas dan kegilaan berkarya dengan kualitas ber-Tuhan perlu diingat oleh setiap wirausahawan.  Bagaimanapun juga, dunia wirausaha penuh dengan ketidakpastian dan bahkan mengandung resiko, sehingga bimbingan dan penjagaan Tuhan sangat diperlukan dalam setiap tahapan perjuangan seorang wirausahawan. Namun demikian, hal ini diabaikan saja ketika cukup percaya diri dengan segala kemampuan akal dan fikirannya.  


G.  Beberapa Statemen Sebagai Stimulan 
Singkat cerita, berwirausaha adalah tentang keyakinan dan semangat untuk terus mengembangkan kreativitas sehingga terbangun nilai baru atau penambahan nilai guna atas sesuatu yang sudah ada. Oleh karena itu, kemampuan menyemangati diri sendiri menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh para wirausahawan.

Sebagai stimulan, berikut disajikan beberapa kalimat yang sekiranya bisa menjadi sumber semangat dan menginspirasi energi untuk terus berkarya, yaitu :
1.      Wirausaha itu adalah “dunia gila” sebab menjaminkan sesuatu yang pasti dengan yang tidak pasti. Oleh karena itu, karena kata “gila” berbeda dengan “normal”, maka indikator-indikator hidup seorang wirausahawan pun seharusnya mengandung kegilaan.
2.      Berwirausaha sesungguhnya adalah membangun kebiasaan diri mengembangkan dan mengaplikasikan ragam gagasan yang berujung pada perluasan kebermaknaan diri dan peningkatan kemuliaan dipandangan Tuhan.
3.      Mimpi adalah sumber inspirasi bagi lipatan energi. Oleh karena itu, membangun mimpi dari sebuah wirausaha yang didalamnya terkandung harapan hidup bagi banyak orang  lebih mulia dan bahkan lebih berpeluang berhasil  ketimbang memasuki dunia wirausaha dilandasi oleh keinginan untuk memperkaya diri.
4.      Berwirausaha membutuhkan keyakinan, sebab berwirausaha itu adalah meyakini sesuatu yang sesungguhnya belum terlihat. Bahkan sebagian pelaku usaha mendefenisikan berwirausaha identik dengan ber-Tuhan, sebab keduanya sama-sama meyakini yang  belum terlihat dan hanya bisa diyakini atau dirasakan.
5.      Rugi adalah pesan Tuhan tentang perlunya ilmu dan strategi yang lebih efektif dalam menjalankan usaha. Rugi bisa juga sebagai proses pemupukan mental untuk lebih siap berada dikeberhasilan. Sementara itu, untung adalah hadiah dari kesungguhan, ketekungan dan kesabaran berproses. Untung juga bentuk keberpihakan Tuhan yang memerlukan intrepretasi bijak.   
6.      Tuhan adalah maha penghitung yang adil. Oleh karena itu, luasnya ruang rezeki sebenarnya imbalan terbaik dari kesungguhan dan ketekungan seorang wirausahawan dalam mensukseskan impiannya.


H. Penutup
Membicarakan wirausaha sesungguhnya tidak lebih menarik dibanding mempraktekkannya. Oleh karena itu....mulailah, sebab berangan-angan tanpa diikuti dengan kesungguhan tidak akan pernah mewujud menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Mulailah dari hal sederhana dengan mengoptimalkan apa yang ada. Nikmati prosesnya, dalami setiap dinamikanya dan terus kembangkan kreativitas berbentuk inovasi. 

“Memperluas kebermanfaatan diri bagi banyak orang lewat mengembangkan kreativitas wirausaha adalah sebuah kemuliaan dan semakin banyak orang berdo’a membuat peluang bahagia lebih terbuka”.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved