STAY ON YOUR CHOICE..

Senin, 28 April 20140 komentar



STAY ON YOUR CHOICE..

Tidak banyak orang berkesempatan mebuktikan kebenaran dari mimpinya.. sebagian dari mereka memilih berbelok arah sbelum benar-benar finished, sebagian lain berbalik arah walau belum menemukan arah baru yang jelas dan sebagian lainnya berhenti untuk mempercayai the power a dream dan membiarkan segala sesuatu mengalir seperti air. Semoga..diantara mereka tetap menemukan alasan yang pantas untuk tetap hidup..itu “diciptakan”, tentu jalannya cenderung lebih terjal sebab yang dilakukan adalah sesuatu yang belum ada menjadi ada. Berbeda dengan bila “ruang” sudah tersedia dimana perwujudan mimpi meletakkan capaiannya pada perjalanan waktu dan keberpihakan sang pemberi wewenang menetapkan sebuah keputusan.

Pada “ruang” yang belum ada, mimpi dimulai dengan pendefenisian tujuan dan dilanjutkan dengan memasuki tahap perjuangan membentuk ruang  secara bertahap. Sementara pada “ruang yang sudah ada”, keterwujudan mimpi erat kaitannya dengan kesesuaian-kesesuaian keadaan dan ragam aturan yang berlaku di lingkungan “ruang” yang ada dan bahkan tak jarang defenisi mimpi dirubah saat keadaan tampak tidak berpihak.   

Bermimpi bukanlah perkara mudah sebab mimpi adalah keberanian mendefenisikan keinginan dan kemudian merangkai tahapannya pada ruang yang dimiliki atau di ciptakan. Pada konteks ruang

Hidup adalah pilihan, apakah membentuk mimpi sendiri dan menjadi pionir, ataukah menambatkan mimpi pada mimpi orang lain atau sebuah institusi dengan menjadi pekerja atau karyawan atau biasa disebut sebagai follower. Semua pilihan mengandung konsekuensi. Kalau pioner cenderung mengatur diri mereka sendiri dan bahkan mulai menciptakan aturan saat mulai ada yang menggantungkan hidup pada dirinya. Sementara itu, pada seorang follower diwajibkan mengikuti segala aturan yang ada dan ketaatannya sangat relevan dengan kelanggengan dirinya pada orang atau  institusi yang dia ikuti dan tempat menambatkan hidup.

Follower atau pioner?. Itu hanya pilihan dan kesiapan terhadap segala resiko yang mengikutinya. Resiko bagi pioner adalah kebangkrutan, sedangkan pada follower resiko terburuknya adalah pemecatan. Kalau follower mengkuti tangga struktur yang ada dan menjadikannya sebagai tahapan kariri, kalau pioner membentuk tangga bagi pionernya. Kalau pioner menggunakan istilah sense of ownersip yang bermakna memiliki dalam arti sesungguhnya, kalau follower menggunakan istilah sense of belonging yang bermakna seolah2 memiliki atau biasa disebut dengan loyalitas atau yang lebih tinggi lagi integritas.

Berada di ruang follower atau pioner memang persoalan pilihan yang memerlukan keberanian dalam menetapkannya. Hanya saja, sebagian orang tak jarang menggungat kenyataan sehubungan dengan ragam aturan yang menyusahkannya, padahal dia sudah mendefenisikan diri sebagai follower. It’s not fair...mereka sering lupa bahwa menjadi follower yang baik adalah penurut. Kalaupun ingin menjadi agen perubahan di ruang yang ada, hal itu memerlukan keberanian sebab tak jarang gagasan baru dikatakan sebagai bentuk pembangkangan, kecuali sang penggubah memiliki kemampuan membentuk daya dukung sekitar sehingga kebenaran baru akan diberlakukan. Jika tidak, sang follower harus tetap setia dengan kebenaran lama dan mematuhi seutuhnya.  

Sebenarnya, pada ruang pioner juga tidak bebas memiliki kebebasan mutlak. Walau sang pioner bebas men-design ragam aturan, tetapi dia pun harus taat dan patuh dengan ragam peraturan dan norma yang ada di lingkungan masyarakat. Hanya saja, keleluasaannya tampak lebih luas dan tidak terbatas, khususnya dalam ruang dimana dia sebagai founding father. Kehidupan sang pioner cenderung concern pada penciptaan atau pensikapan peluang dan mengantisipasi ancaman yang bisa merusak eksistensi dan atau rencana barunya.

So...renungkan secara serius sebelum berketetapam apakah menjadi pioner atau follower. Sebab, penyesalan itu selalu datangnya belakangan. Bag pioneer, tak elok iri terhadap capaian follower yang mungkin tampak wah dengan ragam fasilitas dari kantor dimana dia bekerja. Sementara itu, bagi follower juga tak boleh iri atau bahkan menyesal pada pilihannya ketika melihat sang poneer terkesan mencapai tahapan bebas finansial. Orang jawa bilang hidup ini “sawang sinawang”. Maknanya, terkadang apa yang terlihat sesungguhnya belum tentu apa senyatanya. Distulah setiap orang harus senantiasa bersyukur atas apapun yang di capainya. Sebab, bagaimanapun juga hidup mengenal istilah sebab akibat. Tuhan tak memberi restu atau keberpihakan ketika seorang hamba tak memiliki tema yang jelas dan upaya sungguh-sungguh dalam mewujudkannya.

Oleh karena itu, mulailah hidup dari niat yang  baik dan insya Allah akan berakhir dengan kebaikan pula. “Libatkan Tuhan sebelum berketetapan, agar dirimu dapat bimbingan dalam menentukan maupun mentahapi arah yang engkau cita-citakan”, begitu kata seorang pemuga agama dalam sebuah majelis. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved