LAKUKAN-LAH BILA ENGKAU TAHU KAPAN DATANGNYA...

Sabtu, 12 April 20140 komentar


Hidup adalah pilihan yang proses penetapannya memerlukan keterlibatanTuhan. Kewajiban Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita, tetapi tahapan realisanya sepenuhnya menjadi urusan Tuhan. Keterlibatan manusia hanya berupaya melalui optimalisasi potensi dan bakat yang dititipkan Tuhan padanya. Oleh karena itu, tak ada sedikitpun alasan yang pantas membuat seorang manusia sombong, sebab apapun yang dimiliki manusia sesungguhnya adalah  titipan Tuhan semata. Untuk itu, mengembangkan rasa syukur adalah cara menjaga kelanggegan dan juga melipatgadakananya. Mengembangkan semangat berbagi adalah cara yang paling efektif untuk mempertinggi derajat kemuliaan dipandangan-Nya.



Belajar mengikhlaskan segala kenyataan hidup adalah bentuk pengakuan keberadaan-Nya, walau sesunggguhnya Dia tidak memerlukan pengakuan manusia atas ekesistensi-Nya. Belajar memaknai hasil akhir adalah yang terbaiik menurut Tuhan, juga merupakan wujud kehambaan manusia ada-Nya.



Terlalu sulit do’a terkabul kala kita tak berupaya menjadi seperti kalam-Nya. Sebab, bila Tuhan memberi kemudahan bagi manusia yang berjarak dengan-Nya, bisa jadi hal ini akan menimbulkan tanya besar tentang keadilan-Nya. Atas dasar itu, banyak manusia yang bercita-cita, tetapi tidak sungguh-sungguh menginginkan cita-cita itu mewujud dikehidupannya. Atau dengan kata lain, men-Tuhan kan akal dan rasanya dipilih sebagai satu-satunya cara untuk menghadirkan apa yang disebut bahagia. Pada saat akal dan rasanya tak menemukan ingin, masih pantaskah orang tersebut mengatakan; “Tuhan tolong aku..?”.



Untung saja Tuhan penerima taubat dan permohonan ampun. Untung saja Tuhan maha bijaksana sehingga manusia berpeluang untuk kembali mendekat walau cukup lama menjauh. Ironisnya, menjauh kemudian mendekat dan tak jarang menjauh lagi ketika beban yang berat sudah terselesaikan berkat miracle yang disajikan Tuhan.



Dalam koridor hubungan antar manusia, kembali untuk ke-2 kali atas dasar salah yang sama atau karena butuh pertolongan serupa adalah hal sulit untuk di wujudkan. Namun, Tuhan maha pemaaf kala manusia itu berniat menghentikan kebiasaan buruknya. Bahkan Tuhan tetap mencatat setitik kebaikan walau manusia itu berlumur salah disebelumnya. Walau setiap manusia harus tetap mempertanggungjawabkan atau menanggung akibat dari kesalahan yang pernah dilakukan.



Suatu waktu, seseorang yang cukup lama ber-Tuhan mempersilahkan seorang pemuda untuk berbuat bejat sekeinginannya. Namun, dipenghujung kalimat beliau berpesan hanya melakukannya bila sang pemuda tersebut tahu kapan kematian akan datang menjemput. Ironisnya, tak satupun manusia tahu kapan ajal tiba dan tak satupun manusia bisa menundakannya bila saat itu benr-benar datang. Oleh karena itu, bagi yang masih meng-imani keberadaan sorga atau neraka, senantiasa menjaga kebaikan tindakan, ketulusan hati dan kesopanan berkalimat adalah hal-hal yang terus diupayakan. Sebab tidak ada lagi yang indah kecuali menghadapi kematian dalam keadaan yang baik.



Diwaktu yang lain, seorang lelaki paruh baya mendapat satu godaan yang indah dari seorang wanita cantik dan memilki tubuh yang sempurna. Wanita itu sangat menginginkan anak dari lelaki ini tana menuntut apapun dikemudian hari. Keinginan wanita untuk memiliki lelaki ini sudah tidak mungkin, sebab mereka bertemu diwaktu yang tidak tepat. Berulang kali wanita ini memohon dan bahkan sampai meneteskan air mata. Lelaki ini bergetar menahan kenormalannya disatu sisi dan ketakutannya terhadap hukum Tuhan disisi yang lain. Pada akhirnya, lelaki ini mengatakan “iya” pada wanita ini dengan satu syarat yaitu bila wanita ini mengerti kapan Tuhan tidur. Diakhir cerita, wanita cantik, molek dan seksi ini menyerah dan mencoba untuk tahu diri. Beberapa waktu kemudian wanita ini  menikah dengan lelaki pilihannya. Dipenghujung kisah, wanita ini sangat berterima kasi atas penolakan yang pernah dilakukan sang lelaki kepada dirinya.   

Selalu ada hikmah disetiap kebaikan dan juga selalu ada makna dibalik menolak keburukan. Selalu ada konsekuensi dari sebuah kekeliruan walau mungkin keterampunan dari sang Tuhan akan menghapus segala bentuk hukuman.

Semoga penulis dan segenap pembaca mendapat hikmah dalam tulisan ini dan kita semua senantiasa dalam lingkar kasih sayang Tuhan.....amin...



 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved