PERTANYAAN TAK PENTING..KAH?

Sabtu, 29 Maret 20140 komentar



Mengapa harga botol kemasan dan mie seduh di bandara jauh lebih mahal ketimbang di toko frenchise sama di luar bandara?. Apakah hal ini bermula dari asumsi bahwa mayoritas penumpang pesawat adalah golongan menengah ke atas sehingga dianggap memiliki duit yang cukup?.



Mengapa pula  tarif parkir kendaraan dan harga-harga  barang menjadi lebih mahal di lokasi wisata dibanding di tempat lainnya. Adakah ini juga bentuk penjajahan yang bisa dimaklumi para wisatawan domestik karena berwisata itu dimaknai sebagai aktivitas melepas uang?. Sempatkah terfikir berapa keringat yang terakumulasi sampai uang terkumpul dan bisa berwisata?.



Mengapa pula harga-harga di hotel juga lebih mahal?. Mulai dari tarif kamar berikut pernik2nya?. Mengapa harga2 di diskotik juga selangit?..apakah ini dimaksudkan untuk menghukum para pengunjung agar tak kembali lagi, ataukah mau menandaskan bahwa "kesenangan" itu tidak ada yang murah.



Mengapa harga nasi goreng di kereta bisnis berbeda dengan kereta eksekutif padahal sumber nya sama, yaitu di cafe kereta?. Apakah harga itu bentuk pembiaran ikhlas para penumpang atas kreativitas pebisnis karena mereka sedang menjadi penumpang kereta eksekutif?.  



Mengapa sang tukang panggul merasa berhak meminta Rp 20ribu untuk mengangkut coper berjarak 50 meter?  bahkan tak jarang mereka meminta tambah. Tahukah mereka harga itu hampir 10 prosen dari harga tiket eksekutif?. Apakah ini juga bentuk pemanfaatan kesempatan dimana orang yang sedang berpergian cenderung ringan mengeluarkan uang? Ataukah ini memanfaatkan momen ketidakmampuan dan ketidakterlatihan sang penumpang dalam urusan angkut2 barang?. Kalau diambil perbandingan dengan penjual rokok, tissue dan permen yang sering memanfaatkan lampu merah, berapa jumlah barang dagangannya yang harus mereka jual untuk mendapatkan Rp 20 ribu seperti yang diperoleh sang tukang panggul hanya dalam beberapa menit?. Mengapa pula tukang becak yang harus mengayuh dengan susah payah tetep menggunakan standar "tawar menawar" dan tidak seperti angkutan umum lainnya yang diatur tarifnya?. Demikian pula tukang ojek dan andong. Adakah karena mereka tergolong alat transportasi tradisional?.

Mengapa pula seorang perias penganten berharga selangit untuk pagelaran pesta pernikahan yang hanya sehari?. Apakah karena keahliannya dalam men-sullap perform yang biasa-biasa  aja menjadi tekesan artistic dan tampak wah?. Ataukah itu tiket mahal yang harus dibayar demi  sebuah pegelaran pernikahan yang menginginkan "kesan baik dan mewah" dari segenap tamu undangan?. 

Mengapa biaya operasi penyakit begitu mahal?. Mengapa pula tidak ada yang menawar?. Adakah ini memang seperangkat alat kesehatan mahal? Ataukah biaya pendidikan untuk berhak memberi pengobatan suer mahal?. Adakah "menawar" dalam urusan kesehatan  tidak lazim dan setiap pasien diyakini akan mengorbankan apapun agar kembali sehat?.  Mengapa pula harga tebus obat mahal?. Apakah hal ini dmaksudkan untuk mengajarkan bahwa "sehat itu penting" sehingga semua orang harus menjaga kesehatan dengan baik?. Ataukah karena harga pokok obat itu memang mahal?. 

Mengapa pula berobat alternatif banyak yg tidak memakai standar alias seikhlasnya? Ataukah karena mereka berinteraksi atas dasar saling percaya dan tak adanya satu jaminan kesembuhan? Ataukah karena sang ahli alternarif memang berniat menolong dan menyumbangkan kebaikan bagi banyak orang atas kelebihan yg dititipkan Tuhan padanya?. adakah sebagian praktek "pengobatan alternatif" yang memasang plang dalam menentukan harga juga terinspirasi oleh harga2 yang di terapkan apotek?.


Mengapa pula tiba2 harga barang2 kebutuhan tiba2 naik saat menjelang lebaran?. Adalah karena konteksnya "merayakan" sehingga para pedagang mengasumsikan bahwa seberapapun akan dibeli?. Mengapa pula saat menjelang lebaran agama atau perayaan agustus tak jarang harga sawit hasil petani dan karet juga sering mengalami penurunan?. Begitu pula dengan hasil pertanian lainnya yang harga jualnya turun saat justru panen?. Adakah hal ini karena mekanisme pasar dimana tarik menarik antara supply dan demand menjadi penentu?.



Entah kenapa harga lombok sering jatuh di musim panen. Hal yang sama terjadi dengan harga gabah. Walau ttidak ada standar bakunya, seringkali orang memberi tips Rp 5 (lima) ribu bagi penjaga sandal di mesjid atau mushola. Apakah spiritualitas yang mendorong untuk melakukan hal itu?.  Ataukah sang pemberi sudah mapan sehingga memberi sejumlah itu sudah tak berarti bagi si empunya uang?.



Saat pengamen silih berganti datang berkunjung ke tenda-tenda lesehan menunjukkan kebolehan bernyanyi dengan peralatan musik yang terbatas di sepanjang jalan Malioboro,Yogyakarta, terbersit tanya apakah untung yang diperoleh sang pedagang tenda lebih besar dari apa yang didapatkan pengamen?. Pertanyaan sama juga terbersit saat duduk makan lontong opor di minggu pagi di GOR Purwokerto. Berapakah untung per mangkok penjual lontong opor?. Berapakah yang didapat sang pengamen dari show singkatnya?. Ataukah keikhlasan Sang Tukang Opor menjadi lahan bagi pengamen dan pengemis yang membuat dagangannya juga cepat habis?.



Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tak penting dipersoalkan, tetapi semoga menginspirasi sesuatu tentang dinamika hidup yang tak jarang mengundang senyum geli dan bahkan juga sering jengkel sendiri.Tetapi hidup adalah dinamika yang berjalan di keseimbangan yang alamih keterbentukannya...KAH?
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved