12 YEARS A SLAVE “PERBUDAKAN”

Jumat, 21 Februari 20140 komentar



12 YEARS A SLAVE
“PERBUDAKAN”

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah film by Steve McQueen yang berjudul “12 Years A Slave”. Film ini mengisahkan tentang derita perbudakan di tahun 1800-an di Amerika. Film ini menggambarkan tentang penegasan bahwa diskriminasi telah mengubur sisi nurani kemanusiaan dan juga menggambarkan bagaimana manusia menjadi komoditas perdagangan bagi kepentingan pertumbuhan ekonomi sang pemilik modal. Penyiksaan bernada ketegaan cukup memilukan yang dipertontonkan film ini benar-benar membangkitkan emosi dan sekaligus kesadaran bahwa segala bentuk penindasan terhadap manusia wajib dihapuskan dari muka bumi. Perbedaan kulit bukan berarti membuat manusia berhak saling merendahkan. Kepemilikan atas modal bukan pembenar untuk memperlakukan orang lain seenaknya sendiri. Semua manusia harus dipandang sebagai makhluk Tuhan yang terlahir sama-sama memiliki hati dan nurani.

Berbicara tentang perbudakan, terbersit tanya  masih adakah praktek perbudakan dalam bentuk lain di kekinian zaman?.  Kalau perbudakan didefenisikan sebagai aktivitas sadar melupakan nurani dan ingin menang sendiri, mungkin perbudakan sesungguhnya masih berlangsung di keseharian manusia di muka bumi ini.

Lihatlah berapa banyak para pembantu rumah tangga (PRT) diperlakukan tidak manusiawi. Mereka harus bekerja  24 jam dan harus siap mengerjakan perintah  setiap kali Sang Tuan membutuhkan bantuan.  Lihat pula apakah para Tuan itu  memberikan kompensasi yang layak atas pengabdian mereka?.  Lihat pula bagaimana orang pinter memanfaatkan  orang bodoh dan miskin untuk tujuan-tujuan sempitnya yang dikemas dalam bahasa “menolong”.   Lihatlah bagaimana uang telah membuat para wanita cantik dan menyukai jalan pintas sering di beli paro waktu  di tempat-tempat hiburan. Uang sepertinya telah menjadi Tuhan dan memiliki kekuasaan tak terbatas serta mengatur apapun yang bentuknya lebih sering  berorientasi pada urusan “kepuasan”.  Bukankah tumbuh dan suburnya tempat hiburan malam dan perdagangan minum-minuman keras juga pada akhirnya berujung  pada penyuburan perbudakan dalam bentuk kekinian?. Lihat pula tragedi meninggalnya seorang karyawati karena kelelahan kerja (over time) demi mengejar dead line. Kaji pula bagaimana para bankir-bankir pemula mengejar target saving maupun landing  demi mempertahankan dan atau meningkatkan status kekaryawan dan juga status sosial mereka sebagai bankir. Lihat pula pengabdian  panjang yang dilakukan honorer di lingkungan pemerintah  untuk  bisa memiliki NIP (nomor insuk kepegawaian). Faktanya, tidak semua berakhir dengan manis walau  mereka begitu bersungguh-sungguh dalam pengabdiannya yang cukup lama. Pada akhirnya sebagian mereka menghibur diri dan menerima kenyataan pahit sebagai sebuah  “nasib” atau “garis tangan”.    Lihat pula bagaimana  tenaga out sourcing yang beberapa waktu lalu menjadi trending topic. Karena tidak ingin menanggung resiko kekaryawanan, beberapa perusahaan besar membuat partisi kepegawaian dimana pada tingkat struktur tertentu di isi oleh karyawan/ti dari perusahaan pemasok tenaga kerja atau biasa di sebut out sourcing.  Dengan demikian, perusahaan terbebas dari resiko apa yang disebut pesangon dan urusan lainnya yang biasa muncul bila terjadi pemberhentian dan atau perselisihan perburuhan. Lihat pula bagaimana  kesenjangan ekonomi dan sosial telah menjadi isu dunia. Bagaimana kapitalisme selalu memperkaya pemilik modal dan menambah deret angka kemiskinan dan kebodohan. Untuk melanggengkan sumber pendapatannya, mereka berbagi dalam judul “salary” atau “insentif”  yang jumlahnya hanya  bisa memenuhi kebutuhan hidup standar, kecuali orang-orang kunci yang dinilai strategis melipatgandakan  makna angka kepemilikannya atas perusahaan. Ironisnya, uang yang ada di saku atau di rekening  para karyawan/ti kembali mengalir ke kantong kapitalis, karena perusahaan-perusahaan tempat karyawan/ti mentransaksikan kebutuhannya juga adalah perusahaan yang di miliki oleh orang yang sama. Sekilas tampak tak ada yang salah ataupun masalah, karena kaya bukanlah sebuah dosa. Tetapi, kesenjangan sosial dan ekonomi adalah sebuah persoalan serius yang bisa berdampak pada revolusi sosial  dan berujung pada krisis multy dimensi.

Adakah semua itu perbudakan dalam bentuk lain?. Ataukah sang obyek tidak merasa menjadi budak hanya karena mendapat kenikmatan yang setimpal dari upaya keras mereka?. Ataukah mereka sengaja menjebakkan diri karena ketiadaan pilihan sehingga mengorbankan apapun demi bertahan hidup?.   Adakah kemartabatan berpeluang digenggap di keseharian hidup manusia ???...

Tak ada kesimpulan dalam tulisan ini... ujungnya tetep tanya tak berjawab dan membutuhkan pencarian pajang...


semoga pembaca terinspirasi kebaikan...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved