ERANGAN TANGIS YANG MENGUNDANG AIR MATA BAHAGIA

Minggu, 01 Desember 20130 komentar

NOTE :
Tulisan ini tidak di share ke FB dan media sosial lainnya sebagaimana biasa, sebab dikhawatirkan menimbulkan mis-intrepretasi. Penyajian tulisan ini hanya untuk arsip pribadi yang suatu waktu nanti semoga sempet dibaca anak-anakku kala mereka sudah dewasa dan mulai bisa berfikir dan mengambil hikmah. 

Kalau kemudian ada yang membaca tulisan ini, semoga terpelihara kebijaksanaan berfikir dan berpandangan serta mendapat hikmah dari tulisan kecil sederhana ini....Amin Ya Allah....


Bismillahirrohmanirrohim...

Astaghfirullahal 'Azim..aku bangun kesiangan, ku lihat jam 04.30 WIB. Ku bangunkan istriku yang masih terlelap dan membisikkan lirih kalau subuh sudah tiba waktunya. Istriku pun bereaksi sama...Astaghfirullahal 'Azim...Seketika kami merasa berdosa mengapa terlelap sampai sepagi ini, sebab anakku yang nomor 1 (satu) dan 2 (dua) telah mengutarakan ingin puasa sunnah di hari Senin. Awalnya aku dan istriku pun ingin mengikuti jejak anakku yang sejak kecil membudayakan puasa senin-kamis. 

Setelah selesai menyelesaikan sholat subuh, aku dan istri mencoba menyusun kalimat yang tepat agar saat membangunkan anak-anak tidak menjadi riuh akibat ketiduran sehinga tak satu pun yang makan sahur. Alhamdulillah, anak pertama kami yang kelas 5 (lima) SD bisa memahami setelah mendengar permaafan yang sungguh-sungguh atas hal ini, kemudian dia bergegas menunaikan sholat subuh. Keheningan kemudian berubah menjadi tangisan, ketika kami membangunkan anak ke-2 (dua) yang masih duduk di kelas 4
(empat) SD. Mengetahui bahwa subuh telah berkumandang, dia langsung meneteskan air mata dan kemudian sesenggukan. Dia kecewa karena waktu tak mengizinkan lagi untuk makan sahur. Permohonan maaf kami tak cukup membuatnya menerima keadaan dan bahkan sesenggukan berubah menjadi tangis yang memecah kesenyapan di pagi itu. Setelah mencoba dengan berbagai kalimat bernada maaf dan tak kunjung berhasil, dengan perasaan bersalah kami keluar kamar dan menjalankan aktivitas rutin menyiapkan keperluan anak-anak sekolah. 

Isak tangis masih ku dengar dari dalam kamar dan perasaan bersalahku kian menjadi. Ku coba mencari pemaknaan, pemaknaan yang membuatku lebih tenang dan bisa mengendalikan perasaan sesal atas kejadian pagi ini.Tanpa terasa, air mataku menetes di kecamuk bathin dan perasaan bersalah teramat sangat. Disatu sisi perasaan bersalah ku tak juga reda seiring lirih tangis yang masih terdengar tiap kali lewat disekitar kamar. Namun disisi lain, aku merasa begitu bersyukur pada Allah atas karunia indah luar biasa dipagi
ini. Aku bahagia dan terharu atas musabab tangis  adalah sesuatu yang baik, "kesiangan dan tidak sahur". Teringat 3 (tiga) hal yang bisa menolong ketika cucu Adam meninggal dan salah satunya adalah "anak soleh yang mendoakan orang tuanya". 

Ya Allah...andai tangis itu adalah bibit kesolehan, berikan kami selaku orang tuanya berkemampuan membimbing  mereka untuk benar-benar menjadi anak-anak yang soleh. Aku sadar betapa ku masih berjarak dengan MU dan masih
dalam tahap belajar untuk selalu mendekat pada Mu. Tetapi, rasa ini sangat indah..sangat indah. Tangis itu membawaku pada 1000 pemaknaan yang menghapus lelah panjang kami menjaga dan membesarkan 3 (tiga) lelaki amanah yang Engkau titipkan. Ya Allah....jangan pernah Kau jauhkan rahmat dan hidayah Mu pada keluarga kecil ini. 

Ternyata derai air mata itu tak kunjung berhenti hingga saatnya berangkat ke sekolah. Aku juga terharu saat dia menolak untuk menyantap sarapan dan segelas susu yang sudah disiapkan. Dia memilih untukk tetep berpuasa. Di kendaraan, kami terus mencoba  menenangkan dan tak kunjung berhasil. Alhamdulillah..begitu turun dari kendaraan seketika tangis itu berhenti. Mungkin saja, anak kami merasa malu kalau temen-temen dan Ustadzah tahu kalau dia menangis. Setelah bersalaman dan mereka berjalan menuju gerbang sekolah, ku pandangi terus anakku sampai masuk ke ruang kelasnya. Ku lihat dia berusaha keras merubah  aura wajah ceria agar tak terlihat baru saja menangis. 

Setelah berlalu dari pandanganku, kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Sambil melalui jalan menuju rumah, aku dan istri mencoba merangkai kalimat kepada Ustadzah agar tidak menimbulkan tanya atas kondisi wajah anak kami yang jelas menunjukkan baru saja menangis tak tersembunyikan. Setelah terangkai, kami  pun mengirimkan SMS kepada Ustadzah yang berisi; 

 "Assalamu 'Alaikum Ustadzah...mohon maaf wajah putera kami sembab sebab menangis sejak bangun tadi pagi. Kami telah salah karena bangun kesiangan sehingga tidak bisa sahur untuk puasa sunnah di hari senin ini. Terima kasih atas bimbingan Ustadzah kepada anak kami dan mohon jangan pernah bosan bekerja sama dalam mendidik dan mengarahkan anak kamu agar menjadi anak soleh, sebab mereka adalah amanah dan mutiara penyelamat kami di hari akhir nanti...Amin ya Allah..trims."   

Terima kasih ya Allah atas rasa indah ini, terima kasih atas air mata bahagia ini..semoga  bermakna Engkau akan terus membimbing keluarga kami untuk menjadi sakinah, mawaddah, warohmah..Amin Ya Robbal 'Alamin....
                           
  ------------------- Pagi Yang Menginspirasi----------------------
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved