MEMBANGUN KOPERASI MAHASISWA BERBASIS IDEOLOGI KOPERASI

Minggu, 10 November 20130 komentar



MEMBANGUN KOPERASI MAHASISWA
BERBASIS IDEOLOGI KOPERASI


Disampaikan pada agenda Pendidikan Tingkat Lanjut (DIKJUT) Perkoperasian yang dilaksanakan oleh Koperasi Mahasiswa STAIN Pekalongan, Jawa Tengah, 09 Nopember 2013

A.  Pendahuluan

Kata koperasi  sesungguhnya pernah diperdengarkan hampir pada setiap orang yang minimal pernah mengenyam pendidikan di tingkat SD (Sekolah Dasar). Kalau kemudian apresiasi dan animo berkoperasi masih tergolong rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh ke-belum tahu-an terhada konsepsi dan kebaikan koperasi secara utuh. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah masih minimnya “fakta nyata” yang  membuka mata dan mengabarkan kepada setiap orang betapa dahsyatnya koperasi ketika di kelola dengan benar sebagaimana cita-cita dasarnya. 

Disatu sisi, hal ini mungkin berita tak menggembirakan, tetapi dalam bahasa “semangat juang”, kondisi ini akan dibaca sebagai “peluang kebaikan” yang menginspirasi gairah untuk  segera melakukan “perubahan”. Apalagi pada diri kampus terdapat tri dharma perguruan tinggi, khususnya   yang ke-3 yaitu “pengabdian pada masyarakat”, sehingga secara moral dunia kampus punya tanggungjawab atas realitas koperasi yang belum menggembirakan ini. Tentu, yang paling relevan di tingkat mahasiswa adalah Kopma (Koperasi mahasiswa).

Fakta sejarah menunjukkan,  gerakan mahasiswa berhasil membuat “perubahan” dalam   sejarah dan perjalanan negeri ini. Kita ingat bagaimana orde baru lahir berawal dari gerakan mahasiswa dan gerakan mahasiswa pula yang kemudian berhasil melahirkan orde reformasi. Pertanyaan menarik saat ini ditujukan kepada segenap pegiat/aktivis koperasi mahasiswa adalah bagaimana komitmen insan kampus (cq. Mahasiswa) melakukan “reformasi apresiasi dan animo masyarakat terhadap koperasi?”.

Dalam tinjauan rasionalitas, mahasiswa adalah insan unggul dengan kapasitas yang melekat pada dirinya. Dengan kadar intelektualitas, mahasiswa berkemampuan mencerna realitas, memetakan persoalan dan menyusun solusi  integratif ber-visi jelas dan tegas. Disamping itu, dengan kualitas empati sosialnya, mahasiswa memiliki kemampuan  menghimpun ragam sumber daya dan menyatukan ragam perbedaan ke dalam satu aktivitas kolektif berdimensi pemberdayaan.  Persoalannya adalah terlalu berlebihankah pembacaan tentang kapasitas mahasiswa?. Sebab hal ini mempengaruhi rasionalitas berharap perubahan lahir dari buah tangan mahasiswa.


B. Keunikan Kopma
Sebagai koperasi, Kopma memiliki keunikan yang tidak terdapat pada koperasi-koperasi lain pada umumnya, yaitu tentang umur keanggotannya. Kebanyakan dari Kopma di Indonesia menetapkan status keanggotannya hanya sebatas ketika masih berstatus mahasiswa, walau hal ini sesungguhnya kurang tepat bila ditinjau dari salah satu prinsip koperasi, yaitu sukarela dan terbuka.  Namun, faktanya adalah ketika mahasiswa menyelesaikan study-nya, maka berakhir pula hubungan dengan kopma-nya. Kondisi ini mempengaruhi dinamika kopma, baik secara organisasi maupun secara perusahaan. Dalam bahasa umum, kaderisasi  di lingkungan kopma  yang belum stabil berakibat langsung dengan kualitas kopma tersebut. Ironisnya, belum adanya standarisasi baku yang bisa dijadikan pedoman minimal membuat kopma tumbuh dan berkembang sesuai zaman nya masing-masing. Artinya, di satu periode tertentu kopma bisa mungkin berkembang pesat  ketika terdapat kader unggul (yang lagir secara alamiah) dan di saat yang lain kopma bisa mengalami penurunan kuantitas dan kualitas aktivitas saat kadernya mengalami penurunan semangat.  Hal ini diperkuat dengan adanya “pembacaan” bahwa kopma adalah sebatas “media belajar”, sehingga naik turunnya semangat ber-kopma di pandang sebagai sesuatu yang wajar dan cenderung dimaklumi.

Dalam niat yang ingin berkembang dan mewujudkan satu koreksi bijak terhadap realitas koperasi yang kurang berkembang di tengah masyarakat, maka komitmen pengelolaan kopma yang profesional adalah sebuah kebutuhan dan juga pra-syarat. Sebab, pembangunan sebuah karya itu membutuhkan proses bertahap dan berkesinambungan serta semangat yang senantiasa terjaga untuk melakukan perbaikan dan perbaikan secara terus menerus. Untuk itu. pola kaderisasi adalah kunci keberhasilan menuju cita-cita besar kopma membangun ketauladanan karya.


C.  Mengubah Berbasis Ketauladan
Koperasi adalah sebuah ideologi (baca : cita-cita besar) yang bermimpi membangun keadilan dan kesejahteraan  sosial, ekonomi dan budaya. Untuk mewujudkannya, koperasi memiliki ruang praktek  dan sekaligus alat mencapai tujuannya, yaitu “perusahaan”. Dalam kesehariannya, koperasi berpatokan pada semangat jati diri  (terdiri dari defenisi, nilai-nilai dan  prinsip-prinsip) sebagai sumber inspirasi  dalam menata dinamika kesehariannya, baik di lingkungan organisasinya maupun di lingkungan perusahaannya. Inilah yang menyebabkan koperasi tampil berbeda dengan jenis perusahaan lainnya.  Dengan “jati diri” nya, koperasi mewujud menjadi perusahaan unik dan lekat dengan  pemberdayaan dalam arti bergerak bersama untuk kesejahteraan bersama.  Penyatuan kepentingan dan penggabungan sumber daya menjadikan aktivitas koperasi lekat dengan aspirasi dan kebutuhan anggotanya.

Dalam banyak diskusi di berbagai tempat, ke-belum tahuan sesungguhnya merupakan faktor penyumbang terbesar atas kebelum-berdaya-an koperasi sebagaimana cita-citanya. Kebanyakan masyarakat masih memandang koperasi tidak ada bedanya dengan PT,CV,UD dan lain sebagainya dimana pertumbuhan modal dan keuntungan sebagai basis pergerakannya. Akibatnya, materialitas dan pertarungan kepentingan sempit sering menjadi peghambat dan bahkan penghancur kebersamaan yang terbangun di koperasi. Sebenarnya hal sama juga sering terjadi di lingkungan non-koperasi dimana “kerja sama” hancur karena perdebatan kepentingan yang tidak menemukan titik tengahnya. Hanya saja, kemitraan yang terbentuk di lingkaran non-koperasi memang sering berawal dari kepentingan ekonomi semata (baca: material growth minded), sehingga bukanlah sesuatu yang mengherankan bila mereka terpecah juga oleh karena persoalan material juga.

Idealnya, ketika kebersamaan yang terbangun di koperasi berawal dari semangat untuk meningkatkan kualitas hidup dalam arti luas (bukan hanya ekonomi semata), maka spirit kesetiakawanan dan moralitas kebersamaan akan lebih dominan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang timbul. Itulah sebabnya, koperasi selalu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat di dalam mencapai tujuan-tujuan bersama.   Penjelasan ini semakin menguatkan bahwa kelesuan dunia koperasi di negeri ini berawal dari ke-belum tahuan dan atau ditinggalkannya “jati diri” sebagai nafas koperasi dengan sengaja.  

Hal ini memerlukan  koreksi bijak dan harapan tertambat pada dunia kampus sebagai agen perubahan, khususnya koperasi mahasiswa yang dihuni oleh generasi muda yang masih idealis dan memiliki energi membentuk sebuah perubahan yang lebih berpengharapan. Satu hal yang menjadi catatan “ketauladanan” adalah syiar yang paling efektif dan koperasi adalah ideologi yang memiliki ruang praktek  terukur dan tersistematis dengan manfaat nyata dan progressif. Artinya, ketika Kopma ingin memerankan diri sebagai agen perubahan, maka hal pertama yang dilakukan adalah mewujudkan sebuah kopma yang tata kelolanya berbasis jati diri koperasi. Dengan demikian, karya akan menjadi bukti nyata dan bahan efektif  mengedukasi dan menginspirasi semangat membangun koperasi di lingkungan masyarakat. Hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan memerlukan waktu. Akan tetapi, konsistensi berproses menjadi syarat mutlak yang harus ada di keseharian kopma.  Mungkin kah?


D.  Membangun Kopma Berbasis Ideologi Koperasi
Koperasi adalah kumpulan orang yang otonom dan indipenden untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Ada beberapa catatan penting dari defenisi ini, antara lain: (i) pemenuhan aspirasi dan kebutuhan; (ii) ruang juangnya bukan persoalan ekonomi saja, tetapi juga sosial dan budaya; (iii) perusahaan adalah alat/media untuk mecapai tujuan. Secara singkat, koperasi adalah sebuah organisasi yang concern pada keterbangunan orang, sehingga fokusnya adalah bagaimana membangun hidup yang lebih berkualitas. Hal ini tentu agak berseberangan dengan faham yang memandang koperasi harus fokus pada pertumbuhan modal dan atau keuntungan yang mengaibatkan ukuran kualitas sebuah koperasi pada rasio-rasio ekonomi semata.  

Sehubungan dengan koperasi fokus pada keterbangunan orang (baca: peningkatan kualitas hidup), maka koperasi berproses secara bertahap dan berkesinambungan dengan mengedepankan “pendidikan” sebagai senjata ampuh menumbuhkembangkan kemanfaatan berkoperasi bagi segenap unsur organisasinya. Dalam hal ini, keterbangunan perusahaan koperasi dipandang sebagai bagian dari efektifitas penyelenggaraan pendidikan anggota, karena hakekat aktivitas perusahaan adalah refresentasi kebutuhan dan aspirasi mayoritas anggota. Dengan demikian, eksistensi perusahaan koperasi akan memiliki hubungan erat dengan eksistensi anggota. Oleh karena itu, kebesaran sebuah koperasi akan sangat tergantung pada pertumbuhan kesadaran anggota dalam mengambil tanggungjawab untuk ikut membesarkan organisasi dan perusahaan melalui partisipasi aktifnya. Inilah yang disebut sebagai kebersamaan produktif. 

Sebagai bagian dari gerakan koperasi, Kopma pun demikian. Langkah-langkah pembangunannya harus me-referensi pada aspirasi dan kebutuhan  yang berkembang  di kalangan anggota. Pola bottom- up semacam ini akan membuat kopma  lebih memiliki daya tahan dan sekaligus berpeluang untuk berkembang karena keterserapan aspirasi akan melahirkan ikatan emosional dan tanggungjawab moral dalam melakukan pembelaan terhadap kopma. Untuk itu, kopma perlu melakukan aktivitas-aktivitas yang minimal mengarah pada 2 (dua) hal;
(i)          keterbangunan organisasi dan kelembagaan yang mengakar.  Hal ini merupakan modal utama kopma, sebab basis pengembangan koperasi itu terletak pada anggota. Untuk itu, pertumbuhan kuantitas anggota yang di ikuti dengan upaya-upaya peningkatan kualitas anggota dalam berkoperasi, menjadi penentu seberapa banyak manfaat yang akan lahir dari koperasi.  Untuk itu, penyelenggaraan pendidikan dan keberlanjutan informasi kepada anggota seharusnya tidak hanya saat seorang mahasiswa akan menjadi anggota, tetapi juga dilanjutkan re-fresh dengan berbagai pola pendekatan yang dinamis. 
(ii)        keterbangunan perusahaan. Perusahaan dalam koperasi adalah alat untuk mencapai cita-cita bersama. Untuk itu, keterbangunannya harus lekat dengan kebutuhan dan aspirasi anggota. Artinya, aktivitas perusahaan harus dekat dengan keseharian anggota. Sebagai inspirasi saja, kopma itu di huni oleh insan yang sedang menuntut ilmu di sebuah kampus, dimana sebagian ada yang kost dan sebagian lagi ada yang tidak kost. Hal ini merupakan sumber inspirasi dalam menyusun rancang aktivitas yang ditawarkan dan dimintai persetujuan anggota untuk diselenggarakan kopma. Sebagai gagasan tambahan, pembangunan perusahaan kopma bisa dilakukan dengan  2 (dua) model yang dijelaskan secara singkat berikut ini :
a.       Pembangunan dan Pengembangan berbasis Pertumbuhan Simpanan Anggota dan Daya Dukung Rektorat. Setelah teridentifikasi jenis aktivitas berbasis kebutuhan dan aspirasi anggota, kopma kemudian mewujudkannya dengan mengoptimalkan  tabungan/simpanan anggota. Untuk mengakselerasinya, kopma bisa melakukan komunikasi produktif dengan pihak rektorat baik dalam konteks daya dukung maupun dalam konteks permohonan bantuan fasilitas berjangka yang edukatif.  Kalimat “berjangka dan edukatif” adalah sebentuk pengingat bahwa hakekat koperasi itu adalah kemandirian kolektif yang indipenden dan otonom. Oleh karena itu, kopma tidak boleh menggantungkan diri pada keberpihakan atau bantuan dari pihak rektorat, tetapi harus bertumpu pada kemampuan meng-kolaborasi ragam potensi yang melekat pada anggotanya.  
b.       Berbasis Efisiensi Kolektif . Pendekatan ini menekankan kolektivitas dengan pembentukan budaya berjama’ah. Pendekatan ini dilakukan lewat optimalisasi potensi yang sesungguhnya melekat pada anggota yang berstatus mahasiswa, seperti kebutuhan akan ketersediaan warung makan, foto kopi, , laundry, internet dan lain sebagainya. Faktanya, disetiap kampus selalu tumbuh aktivitas usaha berbasis kebutuhan mahasiswa yang dimiliki dan di kelola oleh perorangan atau perusahaan sehingga mendefenisikan lingkungan kampus mengandung ragam potensi adalah benar. Lewat pendekatan berbasis efisiensi kolektif, segenap mahasiswa diajak membangun komitmen menyatukan tempat men-transaksikan kebutuhan-kebutuhannya pada usaha yang dibangun bersama-sama, seperti penyelenggaraan makan berjama’ah dengan model swa kelola. Dalam hal ini, semua anggota membayar sebagaimana mereka membayar di warung-warung tempat mereka biasa makan. Selanjutnya, efisiensi atau selisih total dana dan biaya yang diperlukan untuk mengolah makanan tersebut di akumulasi dan dijadikan sebagai modal untuk membangun aktivitas lanjutan yang dibutuhkan anggota (misalnya : laundry dengan konsep mencuci bersama). Demikian selanjutnya sampai terbentuk aktivitas-aktivitas yang menjawab kebutuhan para anggota. Pada pendekatan ini, tidak diperlukan penyetoran uang secara sengaja (seperti pembayaran SP atau simpanan wajib secara rutin), tetapi dilakukan secara alamiah. Kunci dari pendekatan ini adalah “konsistensi komitmen” dari segenap anggotanya. Oleh karena itu, disarankan pembentukannya dimulai dari kelompok anggota dalam skala kecil dulu. Misalya, satu kelompok yang terdiri dari 50 orang anggota menyelenggarakan program “makan  bersama”, sementara kelompok anggota lain menyelenggarakan “mencuci bersama”. Demikian selanjutnya dan pada akhirnya di satukan sehingga terbentuk ragam aktivitas yang bernilai manfaat nyata dan bisa langsung  di rasakan dengan efisiensi kolektif yang kian meluas seiring bertambahnya anggota yang terlibat.

E. Membangun Kesadaran Relevansi Aktivitas Kopma dan Masa Depan
Disatu sisi, ketika kopma berbasis kebersamaan berhasil diwujudkan, di saat yang sama sesungguhnya kopma sedang membentuk mesin reputasi dan bahan kampanye efektif  kepada segenap masyarakat tentang dahsyatnya ber-koperasi. Saat hal itu mewujud, maka kopma akan bisa melakukan koreksi bijak terhadap praktek-praktek koperasi yang masih abai dengan jati diri dan asik dengan perburuan pertumbuhan laba. 

Untuk mewujudkan hal ini, tentu memerlukan komitmen kuat dan pengorganisasian  yang terencana, terukur dan terantisipasi.  Untuk itu, pembentukan kader handal adalah sebuah kebutuhan mutlak, sebab organisasi tidak boleh berhenti dan harus berjalan secara kontinue. Untuk itu, perlu ditemukan alasan rasional  mengapa menjadi kader kopma adalah sesuatu yang manarik dan fantastif, sehingga setiap orang termotivasi untuk berkontribusi secara optimal. Dalam kesadaran semacam ini, Setiap unsur organisasi (pengurus, pengawas dan anggota) akan mendefenisikan ber-kopma adalah sebuah kebutuhan.

Sebagai sebuah inspirasi dalam membentuk rasionalitas alasan adalah  mengkaitkannya dengan masa depan yang cerah. Dalam hal ini, proses belajar di kampus difahami sebagai pembentukan hard skill dan proses yang berlangsung di kopma adalah proses pembentukan soft skill. Selanjutnya, semua anggota kopma di motivasi untuk menyongsong masa depan lewat kombinasi hard skill dan soft skill. Mendefenisikan proses yang berlangsung di kopma  relevan dengan pembentukan soft skill sesungguhnya cukup beralasan. Lewat berkopma, setiap orang akan terlatih berorganisasi, terlatih untuk hidup bersama di antara ragam perbedaan karakter dan masa lalu, terlatih untuk berani bergagasan, terlatih membangun koneksitas, terbangun keahlian berkomunikasi dan bernegosiasi, terlatih  dalam hal kepemimpinan, manajamen, kewirakoperasian dan banyak hal lagi yang menjadi penguat bahwa semua proses yang berlangsung di kopma sangat relevan dengan kecerahan masa depan. Hal ini perlu di sosialisasikan dan di edukasikan  secara terus menerus sehingga keterlahiran para militansi kopma akan menjadi lebih memungkinkan.  

 
F. Penghujung
Bagi mahasiswa  yang visioner dan memiliki empati sosial tinggi, kopma adalah media strategis yang maknanya sangat tidak terbatas, baik dari sisi pengembangan ideologi koperasi sebagai pembentuk keadilan ekonomi,sosial dan budaya, juga implikasi  nyata bagi keterbentukan kapasitas diri yang akan menjadi bekal di era pasca kampus.  Perjuangan Kopma tidak terbatas tentang bagaimana berkoperasi saja, tetapi kopma juga merupakan media strategis dalam membentuk karakter bangsa yang mencintai kebersamaan, membudayakan saling tolong menolong, membudayakan gotong royong dan kesetiakawanan. Pada akhirnya, kopma adalah media tepat untuk membangun sebuah kualitas hidup dan perdamaian dalam arti seluas-luasnya.

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga meninspirasi semangat untuk ber-kopma. Sukses selalu untuk kita semua dan jadilah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.  Bravo Koperasi...Bravo Kopma.


GALLERY





Retno_Werdiningsih's kopma stain pekalongan album on Photobucket
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved