SERIBU SATU JALAN MENUJU BAITULLAH

Kamis, 31 Oktober 20130 komentar



SERIBU SATU  JALAN MENUJU BAITULLAH

Aktivitas panjang dan padat dihari ini begitu melelahkan dan hampir menghabiskan stock energi. Sesampai di rumah, kulihat Jam menunjukkan pukul 06.10 WIB dan tak mungkin lagi menjelang musholla di kompleks karena sudah terlambat. kemudian aku bergegas mengambil wudhu’ untuk menunaikan sholat maghrib sendirian  dalam keadaan masih berpakaian kantor. Setelah usai menutup maghriban dengan do’a, kemudian aku mengambil handuk dan memanjakan seluruh tubuhku dengan air yang segar. Rasanya, seluruh lelah hilang bersama air pemandian yang mengalir ke pelimbahan. Sesaat kemudian ku rebahkan tubuh di kasur  sambil menunggu azan isya berkumandang. Ku lihat istriku berdandan sambil memohon izin silaturrahmi ke rumah Ustadzah Febri yang katanya baru saja pulang dari tanah suci. Ntah kenapa, serasa ada energi menuntun niat untuk ikut serta. Aku pun mengusulkan berkunjung sesudah sholat Isya dan hal itu di setujui oleh istriku. 2 (dua) jagoanku yang duduk di kelas 01 dan kelas 04 pun mendaftar untuk di ikutsertakan, sebab Ustadzah tersebut adalah salah satu guru mereka di SD 02 Al-Irsyad Al-Islamiyah. Mendapati hasrat yang begitu kuat untuk ikut, akupun menyetujuinya. Sementara itu, jagoan pertamaku memilih di rumah karena banyak PR yang masih harus diselesaikan.


Setelah menunaikan Isya, kami pun bergerak menuju rumah Ustadzah yang tidak terlalu jauh dari kediaman kami. Sesampai disana, kami dapati pagar rumah tertutup rapat. “Mungkin sedang keluar atau di tempat orang tuanya”, kata istriku. Kemudian, ku sarankan untuk menelepon  ke HP beliau agar bisa memastikan posisi Sang Ustadzah. Ternyata, Ustadzah sedang ke toko untuk membeli keperluan sekolah puterinya. Mendengar hal itu, kami tetapkan untuk menunggu, sebab khawatir besok atau lusa sulit cari waktu lagi.

Kurang lebih 15 menit, Sang Ustadzah pun tiba bersama suami dan puteranya. Setelah pagar rumah di bukakan, kami pun dipersilahkan masuk ke ruang tamu. Perbincangan santai pun di mulai seputar pengalaman spiritual selama menjalankan ibadah di tanah suci, mulai dari bagaimana jutaan orang berduyun-duyun melakukan satu demi satu tahapan rukun haji, bagaimana setiap orang berebut kesempatan untuk bisa menyentuh dinding ka’bah, bagaimana jutaan orang dari berbagai negara berdesak-desakan dalam proses melempar jumroh dan lain sebagainya. Sebuah pengalaman bathin yang indah dan mengundang candu, sebab semua orang yang pernah ke sana pasti berkeinginan untuk kembali ke sana lagi.

Subhanallah....mendengar semua cerita Ustadzah dan suami beliau, serasa begitu ingin berkesempatan di sana, betapa ingin bisa bersujud, berucap istighfar atas dosa dan salah di masa lalu,  melantunkan doa atas ingin dan cita, khususnya di tiga mesjid sakral yang katanya memiliki faedah luar biasa, yaitu; masjid nabawi, masjidil aqso dan masjidil harom.  

Ta’jubku hadir  saat mendengar jawab atas tanya muasal keterbangunan niat dan langkah menunaikan rukun islam ke 5 (lima) tersebut . Ternyata terdapat kisah mencengangkan dan jauh dari rancang logika manusia, sebab Ustadzah dan suami berangkat tanpa perencanaan sama sekali sebelumnya. Ceritanya sangat unik dan berawal saat kunjungan kerja dari kedutaan Arab Saudi ke SD  Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto, Kab. Banyumas, Prop. Jawa Tengah. Dalam kunjungan kerja tersebut ada sesi diskusi antara tim delegasi kedutaan dengan segenap staff pengajar dan pengurus yayasan sekolah dimana Ustadzah ini kebetulan menjadi salah satu pesertanya. Saat ada kesempatan bertanya dalam sesi dialog, Ustadzah Febri dan satu temen sejawatnya berinisiatif bertanya apa yang terbersit di benak mereka. Setelah menjawab pertanyaan ke 2 (dua) guru ini, sang delegator tersebut kemudian berbalik bertanya apakah Ustadzah  sudah memnunaikan ibadah haji atau belum?.  Dengan polos, Ustadzah menjawab belum, sementara rekan sejawatnya menjawab sudah. Mendengar jawaban itu, Sang Delegator kemudian menghadiahkan kepada Ustadzah untuk berangkat haji bersama suaminya dan rekan sejawatnya pun di beri hadiah bea siswa menuntut ilmu ke Arab Saudi. Subhanallah.....

tak ada firasat apapun sebelumnya atas karomah itu. setiap ummat islam pasti ingin berkesempatan ke sana, tetapi cara kesempatan yang datang ke saya tak pernah terbayangkan sama sekali”, kalimat itu mengalir dari Sang Ustadzah ke telinga kami yang sedang bersilaturrahmi malam itu. Kemudian suami beliau juga menceritakan bahwa status mereka ke tanah suci   sebagai tamu khusus dari kedutaan arab, sehingga sepanjang perjalanan memnunaikan ibdah suci tersebut banyak keistimewaan yang mereka dapatkan dari. Luarrr biasa....fikirku saat itu di tengah kekaguman yang tidak bisa ku sembunyikan. Aku dan istriku bener-bener terperangah mendengar kisah unik itu dan mungkin hanya dialami orang-orang yang tidak biasa alias khususon. Mereka juga ber-testimoni bahwa tamu kedutaan Saudi Arabia yang diberangkatkan ke Mekkah untuk menunaikan haji tidak hanya mereka. Ada lebih kurang 300 orang Indonesia yang mendapat “karomah” semacam ini, yaitu diberangkatkan secara tiba-tiba. Suami Ustadzah juga sempat bercerita tentang kisah serupa dari salah satu tamu khusus kedutaan arab tersebut: “ada seorang guru juga berangkat lewat kisah yang sangat unik dan tak pernah terfikir sebelumnya. Waktu itu, guru tersebut membuat tulisan tentang mimpinya bisa berangkat haji bersama keluarganya dalam bahasa arab. Kemudian tulisan itu di jadikan salah satu materi di majalah dinding di salah satu sekolah di wilayah Propinsi Jawa Barat. Saat delegasi Arab Saudi berkunjung ke sekolah itu, ntah kenapa salah seorang  delegator tertarik membaca tulisan itu dan kemudian meminta untuk dipertemukan dengan penulis cerita itu. Setelah dipertemukan, sang delegator kemudian mengatakan   memberi kesempatan kepada guru itu mewujudkan mimpinya sebagaimana terkisahkan dalam tulisan itu”.

2 (dua) kisah diatas sungguh luar biasa dan keduanya jauh dari rancang logika manusia biasa. Faktanya, tidak banyak orang  yang mengalaminya dan kisah ini tentu mengandung hikmah dan pelajaran yang fantastic, khususnya dalam hal spritualitas keimanan. Katakanlah mereka orang-orang istimewa, maka menjadi menarik untuk mempelajari keseharian dari kedua keluarga ini. Yang jelas, kedua keluarga ini berprofesi sama, yaitu sebuah profesi yang sangat mulia, pendidik. Dari tangan mereka lah hadir generasi-generasi islam yang berilmu dan berakhlak mulia. Dari jerih payah mereka pula lahir para penjaga dan pembela ayat-ayat Tuhan di keseharian hidup.

Diperjalanan pulang dari rumah Ustadzah, terbersit tanya hikmah apa yang ada dibalik semua kisah ini hingga terdengarkan ketelingaku. Adakah ini pesan Tuhan akan memberi kesempatan padaku dan keluarga untuk ke sana ?, ataukah ada hikmah lain yang akan datang dari pendengaran ini?. Wallahu a’lam.....

Yang jelas, kisah ini menegaskan bahwa kesempatan itu bisa datang kapanpun dan dari sudut manapun atas izin Allah. Kalau rukun islam ke 5 (lima) mengatakan “berhaji bagi mereka yang mampu”, kemampuan itu bisa bersumber dari manapun kalau Allah SWT sudah berketetapan Dalam konteks logika, niat dan upaya nyata adalah 2 (dua) hal yang mutlak ketika menginginkan kesempatan untuk ke tanah suci.  Disamping itu, kekayaan Allah dalam menurunkan karomah dan hidayah, membawa pada satu keyakinan bahwa semua akan mungkin terjadi bila Allah SWT menghendaki....

Satu hal yang pasti, hikmah pertama adalah terbersit untuk membagi kisah luar biasa ini kepada sahabat pembaca, siapa tahu menginspirasi hal-hal luar biasa pula di kehidupan pembaca. Semoga ketersajian tulisan ini menjadi bagian dari do’a di hadapan Tuhan untuk berkesempatan  bersujud ditempat-tempat sakral yang begitu menyejukkan dan menentramkan bathin...

terbayang air mata bercucuran saat istighfar dan melantunkan harap keberpihakan Tuhan atas langkah dan upaya mencapai cita-cita ditempat-tempat khusus dimana peluang doa terijabah begitu besar....Subhanallah.... 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved