OPTIMALISASI SEMANGAT BERKREASI

Kamis, 31 Oktober 20130 komentar



MENJADI WIRAUSAHA MANDIRI

MELALUI OPTIMALISASI SEMANGAT BERKREASI



Disampaikan pada agenda : “Pelatihan Kewirausahaan”, yang diselenggarakan oleh Bappeda Kab. Banyumas, Jawa Tengah, di Patikraja, Tanggal 31-10-2013




A.  Pembuka

Wirausaha merupakan sebuah profesi unik yang mengedepankan semangat, kreativitas, keberanian dan mentalitas. Keberanian  melakukan sesuatu untuk sebuah hasil yang belum bisa dipastikan, adalah letak keberanian dan mental seorang wirausahawan. Oleh karena itu, eksisnya karya dan luas pengaruh positif bagi diri sendiri dan lingkungan, merupakan indikator obyektif dari keberhasilan seorang wirausahawan. Untuk itu, seorang wirausahawan harus memiliki instuisi tajam, baik mendeteksi peluang maupun potensi hambatan yang mungkin mengikuti saat mendalaminya ke tingkat tindakan nyata. Sebagai pengingat, instuisi lahir dari penjiwaan yang dalam. Keikhlasan  Keteguhan, kesabaran, selalu berfikiran positif dan optimis adalah beberapa hal yang harus senantiasa ada pada diri seorang wirausahawan. Tidak pernah putus asa dan mampu mempersepsikan ragam hambatan sebagai tantangan menjadi ujian yang sering berulang dalam keseharian seorang wirausahawan. Oleh karena itu, semangat untuk terus bergerak dan ketangguhan mental adalah kunci meraih sebuah kesuksesan.





B. Bersahabat dengan kenyataan, mimpi, dan perubahan

Hari kemarin adalah sejarah dan tidak satu pun yang bisa merubah nya. Namun, dari masa lalu bisa didapat pelajaran dan hikmah serta menjadi bekal yang baik untuk menghadapi hari ini dan membentuk hari esok. Tuhan mengkaruniai setiap manusia akal, fikiran, bakat, energi dan waktu serta alam berikut isinya. Pengkombinasian semua karunia tersebut menjadi penentu seperti apa dinamika kehidupan yang mewarnai perjalanan manusia.  Semua orang menginginkan bahagia, tetapi fakta menunjukkan tidak semua orang berada di posisi yang bahagia, baik karena tidak relevannya antara mimpi dan bakat, maupun dikarenakan tidak  efektifnya antara  mimpi dan upaya, sehingga kenyataan berjarak dengan harapan.



Perubahan tidak pernah datang dengan sendirinya, sebab perubahan adalah hasil dari “akumulasi gerakan”. Untuk datangnya perubahan, Seorang wirausahawan harus berani bergagasan dan membangun mimpi.  Disamping sebagai defenisi tujuan dari apa-apa yang dilakukan, mimpi merupakan sumber inspirasi dan juga energi. Bayang indah ketercapaian mimpi telah menyemangati untuk terus berupaya melakukan upaya-upaya terbaik bagi keterwujudannya.  Mimpi tidak diraih semudah membalikkan tangan, tetapi memerlukan pejuangan dan ragam pengorbanan serta ketekunan yang luar biasa. Namun, mimpi harus dijadikan sebagai sumber energi untuk terus bergerak dan menggerakkan segala potensi. Oleh karena itu, langkah-langkah terencana dan terantisipasi merupakan bagian dari upaya perwujudan mimpi itu sendiri. Keyakinan yang tinggi akan sebuah ketercapaian menjadi satu  sumber semangat untuk terus mengembangkan kreativitas dan ragam strategi. 





C. Wirausahawan itu tidak mengedepankan keterbatasan.

Hakekat wirausaha itu adalah usaha mandiri. Kemandirian yang dimaksud bukan berarti tidak butuh pada orang lain, tetapi terkandung makna tidak menggantungkan diri pada orang lain. Artinya, kemandirian membuat dirinya  tidak menjadi beban bagi lainnya. Oleh karena itu, lewat kreativitas yang dikembangkan, seorang wirausahawan sesungguhnya tidak hanya upaya menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, tetapi juga berpotensi menciptakan kehidupan bagi orang lain dan lingkungannya. 



Membangun kemandirian itu membutuhkan tekad kuat. Hal ini bisa dimulai dari kemandirian berfikir dan kemampuan bergagasan yang di ikuti dengan keberanian bertindak dengan segala resiko yang mungkin mengikutinya. Dalam hal ini, seorang wirausahawan tidak boleh menyerah pada keterbatasan, tetapi selalu mencoba memobilisasi potensi diri secara optimal. Oleh karena itu, seorang wirausahawan harus membangun kesadaran bahwa mengeluh  tidak akan pernah bisa memecahkan masalah dan atau merubah keadaan. Kekuatan semangat, akal, fikiran dan potensi harus dijadikan modal terpenting untuk bisa berdikari. Tatkala terdapat keterbatasan dalam mewujudkan ide atau gagasan, maka membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang berpeluang diajak bermitra adalah solusi yang mungkin untuk di ambil. Inilah yang disebut dengan “kolaborasi potensi”. Sebagai satu catatan yang menyemangati, “banyak orang punya ide tetapi tidak memiliki faktor pendukung yang komplit untuk merealisasikannya, tetapi banyak pula orang yang punya faktor pendukung yang komplit tetapi tidak punya ide untuk mengoptimalkannya”. Artinya, ketika mereka jalan sendiri-sendiri maka tidak akan tercipta nilai tambah, tetapi ketika mereka bergabung menyatukan potensi maka akan terbentuk karya yang akan membahagiakan keduanya.   Untuk mendukung hal tersebut, seorang wirausahawan harus mampu mengendalikan ego pribadi dan lebih mengutamakan keterwujudan karya, ntah itu lewat dirinya sendiri atau harus ber-partner dengan orang lain. Ketika wirausahawan tersebut memiliki pribadi yang renyah dalam artian pergaulan yang luas, maka peluang-peluang kemitraan akan sangat memungkinkan untuk direalisasikan. Tentu langkah ini harus diikuti dengan rekam jejak kebaikan pribadi, sebab kerjasama hanya lahir dari kondisi “saling percaya”. Itulah sebabnya, kejujuran dalam menjalankan bisnis dan kerelaan saling berbagi harus menjadi karakter dari seorang wirausahawan.   





D. “Jeneng” dulu baru “Jenang”

Seperti dijelaskan sebelumnya, berwirausaha memerlukan kesabaran, keikhlasan dan keteguhan dalam berproses. Sesuatu yang besar berawal dari kecil dan pertumbuhan usaha adalah akibat positif dari akumulasi langkah-langkah efektif. Hanya saja, menemukan satu langkah efektif  terkadang harus melalui ratusan liku dan bahkan ribuan langkah. Oleh karena itu, seorang wirausahawan harus fokus pada penciptaan usaha yang berkualitas. Fokus semacam ini merupakan tiket untuk membentuk rekam jejak alias nama baik (jeneng) yang bila terakumulasi akan melahirkan kepercayaan (trust). Pada saat kepercayaan sudah terbentuk, maka potensi mendulang keuntungan mulai terbuka. Inilah yang dimaksud dengan “jeneng dulu baru jenang”, yang menekankan bahwa keuntungan/laba adalah imbas  dari kemampuan melahirkan usaha yang berkuallitas.    






E. Persepsi atas modal yang membelenggu

Seringkali “uang” diidentikkan dengan modal. Ironisnya, hal ini selalu menjadi alibi atas kebelum berkembangan. Persepsi semacam ini telah membelenggu banyak orang dalam menjalankan wirausaha. Bahkan, tak jarang  orang menghindarkan diri jadi wirausaha karena alasan modal (baca: uang). Dalam bahasa semangat, wirausaha itu tentang semangat berkreasi dengan atau tanpa uang sama sekali. Artinya, semangat berkreasi merupakan modal terbesar dalam membangun wirausaha. Uang sesungguhnya berposisi sebagai alat bantu, yang bisa datang dari diri sendiri atau lewat orang lain yang meyakini kreasi yang akan dikembangkan sebagai sebuah potensi yang menarik. Merubah “mindset” tentang modal sepertinya perlu menjadi sebuah bahan renungan, sebab bila terus dipelihara pemahaman bahwa modal itu adalah uang, maka keterbatasan atas kepemilikan uang bisa menjadi penghambat utama untuk berkreasi. Terlepas ada atau belum ada uang ditangan anda, pertanyaan menarik adalah apakah ketika ada segepok uang yang disiapkan otomatis akan menjadikan anda sebagai seorang pengusaha?.    





F. Spiritualitas Wirausahawan

Mereka yang meyakini keberadaan Tuhan (apapun agamanya) merupakan orang-orang  yang menyadari dan sekaligus membenarkan bahwa diluar dirinya masih  ada kekuatan yang maha, yaitu Tuhan. Orang-orang dari golongan ini bisanya menghamba dan memposisikan–Nya sebagai tempat mengadu dan juga tempat meminta daya dukung atas apa-apa yang dilakukannya di tingkatan horizontal. Spiritualitas semacam ini membuat seseorang tidak akan pernah merasa sendiri. Orang semacam ini akan akan selalu merasa ada yang mendampingi dan membimbing langkah-langkahnya dalam meraih mimpi. Dia selalu merasa tegar dalam ragam kesulitan dan menjadikan kalam-kalam Tuhan sebagai sumber inspirasi bergagasan dan juga sumber energi tidak terbatas.  Apa relevansinya dengan wirausaha?.



Tatkala seseorang melakukan kekeliruan, basanya  ada rasa bersalah, gusar dan lain sebagainya  yang senada dengan ketidaktenangan jiwa, Sementara itu, Pribadi yang dekat dengan Tuhannya  biasanya merasa selalu tenang dan tentram jiwanya, sehingga membuatnya lebih berkemampuan untuk berfikir jernih dan konsentrasi.  Nalarnya sederhana, mereka yang lebih konsentrasi dalam melakukan sesuatu tentu lebih berpeluang  mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebaliknya, sesuatu yang dikerjakan dengan fikiran yang tidak tenang dan jiwa yang gusar hampir bisa dipastikan hasilnya tidak optimal. Pada titik inilah terlihat jelas korelasi antara spiritualitas dengan produktivitas.     





F.  Bersandar dengan Sang Pencipta

Dinamika usaha itu unik dan sering tidak tertebak. Hal ini karena banyaknya faktor yang bisa berpengaruh dengan eksistensi bisnis, seperti regulasi (peraturan), geliat alam, pesaing dan lain sebagainya. Bergeraknya faktor-faktor ini terkadang diluar kekuasaan sang wirausahawan dan bahkan sering tidak terfikirkan sebelumnya, namun sang wirausahawan terkena imbasnya. Dalam kondisi semacam ini, kemampuan beradaptasi dengan  perubahan menjadi sebuah keharusan.  Adaptasi yang dimaksud tidak sebatas menyesuaikan, tetapi juga harus mampu membentuk pertahanan diri dan atau bahkan memobilisasinya menjadi peluang tambahan. Kalau demikian adanya, maka peluang survive (bertahan) dan berkembang (grow) menjadi lebih terbuka. Dinamika luar biasa dalam bisnis telah membentuk pribadi-pribadi para wirausahawan menjadi tahan banting dan terlatih dalam segala situasi. Namun, tak jarang seorang wirausahawan terjebak dalam satu kondisi di ketiadaan harapan atau di ketiadaan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Pada titik ini, seorang wirausahawan disadarkan bahwa manusia adalah makhluk yang lekat dengan keterbatasan dan jauh dari kesempurnaan. Pada saat tak satupun kolega bisa membantu atau bahkan tak satupun dari orang-orang dekat yang peduli, pada titik inilah sesungguhnya manusia membutuhkan pertolongan dari Tuhannya. Persoalannya adalah layakkah mendekatkan diri pada Tuhan hanya saat  memerlukan pertolongan?. Mungkin Tuhan hanya tersenyum dan atau bahkan mentertawakan do’a-do’a yang di kumandangkan.



Sekedar bersaran dan sekaligus belajar bersama, bagi wirausahawan yang masih mengaku sebagai ciptaan Tuhan, pelibatan Tuhan sejak awal mula berwirausaha adalah tindakan yang lebih mendukung hadirnya pertolongan, bimbingan dan arahan Tuhan. Untuk itu, pendefenisian niat, cita-cita atau mimpi seharusnya juga mereferensi pada kalam Tuhan, agar peluang kemudahan datang sejak awal dan di semua tahapan bisnis yang ada.



Sebagai bahan kontemplasi, ragam fakta menunjukkan bahwa dari sekian jumlah wirausahawan ternyata memiliki capaian yang berbeda-beda. Hal ini bukan saja karena berbeda jenis bisnisnya, tetapi juga sering hasil berbeda terjadi pada jenis bisnis yang sama. Fakta ini sebagai bahan belajar yang  luar biasa, baik untuk kepentingan perbaikan di tingkatan  langkah-langkah horizontal, maupun dalam memperbaiki kualitas spiritualitas usaha yang dijalankan. Terjebak dalam keberhasilan semu juga bukanlah hal mengasyikkan. Terjatuh sesudah melambung tinggi juga tidaklah diinginkan siapapun, tetapi tanpa disadari terkadang obsesi terhadap sebuah keberhasilan telah menggoda seorang wirausahawan menempuh langkah-langkah keliru. Ironisnya, semua kebaikan berbalas kebaikan dan semua keburukan akan mendatangkan keburukan pula. Hal ini juga menegaskan betapa penting kejujuran dan ketulusan dalam menjalankan usaha.       





G.  Penghujung

Ketika berwirausaha dimaknai sebagai upaya untuk membentuk kemandirian dan perluasan kebermaknaan diri bagi masyarakat, mungkin energi akan lebih berlipat untuk terus mengembangkan kreativitas. Ketika membahagiakan orang lain adalah sebuah kebahagiaan  pribadi, maka semangat tak pernah surut untuk terus berbuat yang terbaik. Dalam pembacaan semacam ini, wirausaha akan tampak menjadi pilihan yang mulia dan berpeluang mempertinggi nilai kebaikan dipandangan Sang Pencipta. Semoga, tulisan sederhana ini menginspirasi lompatan semangat untuk mengembangkan mimpi, memperbanyak gagasan dan membentuk ragam karya produktif. Amin.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved