MEMBANGUN KOPERASI YANG MENG-ANGGOTA

Sabtu, 26 Oktober 20130 komentar



MEMBANGUN KOPERASI YANG MENG-ANGGOTA


Disampaikan pada agenda “ Penggunaan Pengawet Organik Pada Pengrajin Gula Kelapa dan perkoperasian” yang dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi, Unsoed, Purwokerto, di Koperasi Nira Cilongok, Kab. Banyumas, Jawa Tengah, 26 Oktober 2013



A.  Pembuka
Dalam tinjauan ideal, koperasi lahir minimal oleh karena 2 (dua) alasan, yaitu : (i) adanya kesadaran bahwa bersama adalah cara memperkuat diri dan; (ii) adanya keyakinan  bahwa bersama akan melahirkan kontribusi positif bagi percepatan pencapaian cita-cita. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam barisan koperasi adalah orang-orang yang memiliki kesadaran dan keyakinan bahwa “bersama” adalah cara hidup yang lebih mensejahterakan dalam arti luas.

Modal terbesar koperasi sesungguhnya adalah “kebersamaan”,  yang dalam operasionalisasinya dilakukan dalam 3 (tiga) tahap yang terus
berulang , yaitu; (i) kebersamaan dalam merumuskan tujuan; (ii) kebersamaan dalam mencapai tujuan melalui distribusi peran efektif dan; (iii) kebersamaan dalam menilik pencapaian dan sekaligus melakukan  auto koreksi” guna melahirkan gagasan perbaikan dan re-fresh spirit  (penyegaran kembali semangat). Kebersamaan semacam inilah yang menegaskan bahwa hakekat koperasi sebagai kumpulan orang. Oleh karena itu, apabila sebuah koperasi berhasil maka yang menjadi kunci utamanya terletak pada kualitas kumpulan orang itu dan demikian pula sebaliknya. Dalam bahasa yang lebih
sederhana, berkoperasi itu identik dengan upaya-upaya menumbuhkembangkan atau memperluas kebermanfaatan dari sebuah “kumpulan orang” yang dalam operasionalisasinya merujuk pada dinamika “kebutuhan dan aspirasi” yang berkembang di setiap individu yang terlibat dalam koperasi. Hal inilah yang kemudian menjadi ciri khas dan sering menginspirasi banyak orang untuk mengidentikkan koperasi sebagai organisasi pemberdayaan, sebab semua orang di tuntut untuk bergerak bersama sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing.


B.  Mengenal Unsur-Unsur Dalam Koperasi

Koperasi selalu mendengungkan “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”. Hal ini sebagai penegasan bahwa koperasi  adalah kumpulan orang yang tidak membeda-bedakan status sosial, latar belakang, jenis kelamin, agama dan ras. Oleh karena itu, koperasi harus selalu  memupuk perasaan “kita”, agar terbentuk rasa dan keinginan saling mendukung melalui optimalisasi peran proporsional.  

Untuk mengefektifkan “kebersamaan”, maka perlu dilakukan distribusi peran sehingga  terdapat sinkronisasi gerak masing-masing unsur organisasi. Atas dasar itu pula, kemudian koperasi mengenal unsur-unsur organisasi, yaitu; pengurus, pengawas dan anggota. Dalam forum tertinggi, yaitu Rapat Anggota, ketiga unsur ini berkumpul dan bermusyawarah untuk mendefenisikan  perencanaan yang kemudian diputuskan sebagai “tujuan bersama” atau “arah koperasi”. Untuk mencapai tujuan tersebut, selanjutnya di susun peran masing-masing unsur, sehingga semangat ketercapaian sudah tergambarkan sejak awal mula. Pada akhirnya, dalam sesi proses pencapaian , “semua unsur” di dorong memainkan perannya masing-masing secara optimal demi terwujudnya mimpi bersama.



C.  Sejenak Mendeteksi Realitas Yang Berulang
Dalam konteks ideal, koperasi itu harusnya mengakar dan besar. Artinya, kebesaran koperasi merupakan akibat langsung dari mengakarnya anggota. Ke-mengakar-an anggota yang dimaksud adalah terlibatnya anggota dalam mendukung setiap aktivitas yang dijalankan koperasi. Dalam banyak fakta lapangan,  masih banyak koperasi yang kemajuannya sangat tergantung  dari kepiawaian dan kelihaian pengurus/pengelola dan pengawas. Artinya, anggota relatif passive dan cenderung memposisikan diri sebagai pengamat dan penikmat. Ironisnya, pengamatan sering dilakukan kurang obyektif (lebih sering didominasi subyektifitas), sehingga tidak berkontribusi positif bagi kemajuan koperasi. Lucunya lagi, yang dinikmatin pun tak kunjung memenuhi harapan segenap anggota, sehingga suara-suara yang sering muncul adalah nada tak sedap beraroma ketidakpuasan, ketidakpuasan dan ketidakpuasan. Namun demikian, diantara ketidakpuasan dan ragam subyektfitas yang sering mengemuka, sang anggota tidak kunjung keluar dan tetap menjadi bagian dari koperasi tersebut. Hal-hal semacam ini lah yang sering menjadi faktor penghambat kemajuan koperasi.   


D.  Menilik Muasal Persoalan
Satu hal yang menjadi catatan bahwa koperasi adalah kumpulan orang yang memiliki latar belakang dan sejarah hidup berbeda-beda. Hal ini pula yang menyebabkan banyaknya karakter dan perbedaan cara pandang di keseharian koperasi. Disatu sisi, ragam perbedaan adalah potensi untuk bisa lebih berkembang dan disisi lain perbedaan juga bisa menjadi bumerang ketika tidak terkelola dengan tepat.

Berdasarkan banyak pengalaman dan pengamatan di lapangan, rendahnya apresiasi dan partisipasi khususnya unsur anggota koperasi, sesungguhnya berawal dari ke-belum-ahaman. Mereka tidak mengerti apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Mereka belum disentuh dengan pendidikan perkoperasian  dan dibiarkan  masuk menjadi anggota hanya berdasarkan  kemampuan memenuhi persayaratan administratif saja. Akibatnya, setiap orang memiliki persepsi masing-masing  dalam memandang dan menilai  keberadaan koperasi. Mengingat setiap orang memiliki latar belakang dan sejarah hidup yang berbeda-beda, maka sangat dimungkinkan hadir ragam pemikiran dan gaya di dalam keseharian koperasi. Oleh karena itu, “penyelenggaraan pendidikan” adalah sebuah kebutuhan organisasi, yang mengajarkan pada setiap calon anggota tentang koperasi secara utuh dan nilai-nilai atau prinsi-prinsip yang diperjuangkan koperasi. Dengan demikian, setiap orang yang menjadi anggota koperasi, adalah insan-insan yang dipastikan memiliki persepsi atau pemahaman yang sama tentang koperasi. Pemahaman yang sama ini menjadi landasan untuk memerankan diri sesuai posisi dan porsinya masing-masing.


E.  Menilik Peran Strategis Anggota
Lahir untuk dan oleh anggota”, jargon ini sering di dengungkan ketika membicarakan koperasi. Tetapi, memang itulah semangat yang dibawa sejak kelahiran koperasi, yang berorientasi pada peningkatan kualitas kesejahteraan anggota dalam arti luas. Kesejahteraan yang dimaksud berupa keterpenuhan “kebutuhan dan aspirasi” ekonomi, sosial dan budaya. Satu hal  yang menjadi catatan penting adalah  keterpenuhan “kebutuhan dan aspirasi” yang dituju bukan terbatas ekonomi saja, tetapi juga menyangkut wilayah sosial dan budaya”. Keluasan tujuan koperasi ini pula yang memungkinkan koperasi menjadi media strategis dalam peningkatan kualitas hidup  dari segenap anggotanya. Sementara itu, “perusahaan koperasi” berposisi sebagai media/alat dalam mencapai tujuan-tujuan yang luas itu. Dengan demikian, fokus koperasi sesungguhnya adalah keterbangunan orang-orang di dalamnya dan bukan pada keterbangunan perusahaan.  Oleh karena itu, tumbuh dan berkembangnya perusahaan sesungguhnya tergantung pada keterbangunan “komitmen kolektif” anggota untuk ikut membesarkan perusahaan koperasi.

Oleh karena itu, peran anggota sangat menentukan dinamika koperasi. Disatu sisi anggota adalah pemilik sah  koperasi dan disisi lain anggota adalah pengguna jasa dari ragam aktivitas yang dijalankan perusahaan koperasi. Dualisme peran ini merupakan ciri khas  yang tidak ada pada jenis perusahaan lain. Pengelolaan anggota dalam memainkan dualisme peran  ini sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan kemampuan koperasi dalam melahirkan kemanfatan yang nyata. Untuk itu, kesadaran anggota  untuk berpartisiasi  perlu terus ditumbuhkembangkan lewat berbagai ragam pendekatan.


F. Peran Ideal Anggota Yang Diharapkan
Untuk mempertegas urgensi peran anggota dalam menentukan maju mundurnya koperasi, ada baiknya menelusur peran-peran bernada keberpihakan yang diharapkan lahir  dari setiap anggota koperasi, antara lain :
1.       Aktif dalam menyuarakan aspirasi atau gagasan. Koperasi adalah kumpulan orang untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan, sehingga letak keberhasilan berkoperasi itu ada pada kualitas kebahagiaan anggotanya. Untuk itu, penyuraan aspirasi atau gagasan akan mempermudah mendeteksi tingkat harapan anggota dan juga mempermudah dalam pemilihan aktivitas perusahaan koperasi. Dengan demikian, aktivitas yang dijalankan koperasi me-refresentasi-kan apa yang menjadi suara mayoritas anggota. Adanya kesesuaian ini diharapkan akan akan membentuk ikatan emosional yang kuat antara anggota dengan ragam aktivitas yang dijalankan koperasi. Artinya, peluang keterwujudan pemberdayaan (bergerak bersama) akan menjadi ebih terbuka.
2.       Partisipasi Ekonomi (Modal + transaksi). Koperasi itu mengusung kemandirian kolektif lewat penyatuan potensi dan komitmen. Salah satu penyatuan potensi itu adalah penyertaan modal   untuk menopang aktivitas perusahaan koperasi. Setelah akumulasi modal  bisa di kelola menjadi sebuah aktivitas, selanjutnya anggota wajib  mengkonsumsikan kebutuhannya di koperasi. Inilah salah satu bentuk praktek  bagaimana keterkaitan yang erat antara partisipasi anggota dengan keberdayaan koperasinya dalam membentuk aktivitas dan sekaligus melahirkan ragam manfaat.  
3.       Kontrol yang berujung dengan kritik dan Saran produktif. Sebagai pemilik, tentu anggota ingin koperasinya tetap eksis dan berkemampuan menjadi mesin penjawab  bagi ragam kebutuhan anggota yang terus berkembang. Untuk itu, kontrol, kritik dan saran juga merupakan salah satu bentuk loyalitas yang berdampak pada terjaganya koperasi dan terbentuknya perbaikan yang terus menerus (continous improvement).  
4.       Agen penyebaran nilai-nilai kebaikan koperasi. Nilai-nilai manfaat berkoperasi itu harus tersebarluaskan kepada segenap anggota. Oleh karena itu, disamping koperasi harus terus menyajikan informasi, setiap anggota juga harus mengambil tanggungjawab untuk menjadi agen penyebaran  dari kebaikan-kebaikan dan kemanfaatan-kemanfaatan berkoperasi, baik ke sesama anggota untuk kepentingan keterbangunan dan keterpeliharaan loyalitas, maupun kepada non-anggota dalam rangka memperluas kuantitas keanggotaan. Satu hal yang layak menjadi catatan, koperasi juga mengenal istilah efisiensi kolektif , yaitu efisiensi yang tercipta karena terbentuknya akumulasi komitmen dan transaksi. Dalam hal ini, semakin banyak jumlah anggota akan semakin tinggi nilai efisiensi kolektif yang akan tercipta.  


G. Membangun Loyalitas Anggota
Koperasi sangat tergantung dengan loyalitas anggotanya, sehingga ragam aktivitas yang dijalankan koperasi akan terus berjalan lancar dan menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang menggembirakan. Loyalitas tidak terbangun seketika, tetapi melalui tahapan-tahapan berkelanjutan yang pembentukannya memerlukan ragam alat (tools) yang dilakukan secara terus menerus dan berulang. Berikut ini, di jelaskan beberapa media yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk membangun loyalitas, yaitu:
1.       Pendidikan. Pendidikan adalah gerbang pengetahuan. Pengetahuan adalah dasar yang sahih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, minimnya partisipasi dan keberpihakan anggota terhadap koperasi berawal dari kebelum tahuan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kebutuhan mutlak  dan juga gerbang keterbangunan kesadaran dan loyalitas anggota.
2.       Pelibatan dalam perumusan tujuan. Pelibatan akan melahirkan ikatan emosional   terhadap keputusan-keputusan yang diambil. Ikatan emosional ini penting bagi lahirnya daya dukung, pembelaan, keberpihakan dan partisipasi dalam tahapan perwujudannya. Oleh karena itu, pendistribusian peran proporsional dalam proses pencapaian juga merupakan bagian dari pelibatan yang mendatangkan multy effect  bagi kehidupan koperasi.
3.       Pengelompokan.  Loyalitas tidak hanya dibangun tetapi juga harus di kelola (maintenance) dengan baik. Mengelompokkan anggota adalah salah satu cara penyebaran tanggungjawab dalam membangun dan memelihara loyalitas. Langkah ini juga merupakan bentuk pemberian kepercayaan kepada anggota dalam mengelola  di skala yang lebih mikro. Disamping itu, lewat pengelompokan anggota, penyerapan aspirasi dan gagasan lebih memungkinkan dilakukan.
4.       Rekam Jejak. Rekam jejak partisipasi adalah salah satu bentuk apresiasi dan juga kontrol terhadap anggota. Rekam jejak ini juga diperlukan sebagai alat ukur seberapa tingkat respon anggota atas aktivitas yang di selengggarakan oleh koperasi. Disamping itu, rekam jejak ini pun bisa berfungsi sebagai alat motivasi menumbuhkan kesadaran anggota untuk ikut membesarkan perusahaan koperasi. Inilah yang sering disebut apresiasi yang edukatif dan motivasional. 
5.       Media Informasi. Pada tingkat  dan penyebaran jumlah anggota tertentu, media informasi menjadi penyambung lidah yang efektif, disamping memperpendek jarak dan waktu. Lewat media informasi bisa dikabarkan kondisi-kondisi terkini dan juga ragam aspirasi  yang berkembang. Ketersediaan saluran-saluran informasi semacam ini akan bisa mendorong anggota lebih mengerti dan lebih termotivasi meningkatkan kinerjanya.
6.       Displin. Koperasi adalah kumpulan orang yang memiliki berbagai latar belakang dan karakter, sehingga memerlukan  aturan main (rule of game) yang disepakati bersama dan menjadi dasar bagi setiap orang menggunakan hak dan kewajibannya. Dengan demikian, apapun selisih faham yang terjadi dan apapun perilaku yang kurang mendukung, maka model penyelesaiannya harus merujuk pada aturan main yang sudah disepakati bersama. Kedisiplinan setiap orang menjadi kunci penting, agar semua faktor yang dipersyaratkan untuk bisa tumbuh dan berkembang hadir di keseharian koperasi. Bila perlu, pada tingkat  ke-tidak-taatan tertentu, anggota perlu di kenakan pen-disiplinan sebagai bagian dari pendidikan dan atau efek jera bagi pelakunya maupun bagi lainnya. 


H. Penghujung
Membangun koperasi yang meng-anggota men-syaratkan anggota yang memiliki loyalitas tinggi. Dengan demikian, kondisi yang mengakar di sisi anggota akan menjadi sumber energi untuk menumbuhkembangkan ragam aktivitas koperasi yang berujung pada lahirnya ragam manfaat bagi seluruh anggota koperasi. Oleh karena itu, pembangunan kesadaran anggota perlu terus dilakukan melalui pola-pola edukatif dan dinamis, pola-pola yang men-stimulan kesadaran dan inisiatif pisitif sehingga terbentuk sinergitas yang saling memperkuat dan memperbesar peluang koperasi mencapai
tujuan-tujuannya. Hal Inil yang didefenisikan sebagai kebersamaan produktif , kebersamaan yang berkontribusi nyata pada peningkatan kualitas hidup anggotanya dan juga per-besaran organisasi atau perusahaan. Artinya, pada saat koperasi sangat dekat atau tidak berjarak  dengan keseharian anggotanya, pada saat itu pula anggota merasa bahagia dan bangga menjadi bagian dari barisan sebuah koperasi.

Demikian beberapa pemikiran sederhana yang sekiranya mampu mendorong terciptanya koperasi yang meng-anggota dengan ragam kebermanfaatan yang mengikutinya. Semoga koperasi akan terus berkibar lewat keterbangunan pemahaman yang utuh tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya koperasi. Pada akhirnya, koperasi sebagai soko guru perekonomian negara adalah sesuatu yang pantas untuk diharapkan. 

I. Gallery 


Retno_Werdiningsih's NIRA CILONGOK album on Photobucket
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved