MELIRIK PENGARUH DEPRESIASI RUPIAH TERHADAP PELAKU UMKM

Jumat, 06 September 20130 komentar



A. Proses Diskusi

PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Tengah mengangkat satu tema tentang “Depresiasi Rupiah Terhadap Pelaku UMKM”. Bertempat di Purwokerto, Jawa Tengah, Diskusi diselengggarakan di Basecamp Harian Suara Merdeka, Purwokerto. Diskusi kali ini mengghadirkan beberapa nara sumber, yaitu : 1. Pak Wowo dari BI (Bank Indonesia) Cabang Purwokerto; 2. Prof.DR. Agus Suroso dari Akademisi (Kampus Unsoed Purwokerto); 3. Pak Gunawan mewakili pelaku usaha; 4. Pak Sadar Subagyo dari anggota DPR RI Komisi XI dan; 5. Pak Jumeno dari Disperndagkop
Kab.Banyuumas dan ; 6. Pak Muhammad Arsad Dalimunte  mewakili Kadin (Kamar dagang Industri) Banyumas. Diskusi ini juga di hadiri kawan-kawan pewarta dari berbagai media anggota PWI. Diskusi ini di moderatori oleh Wakil Ketua PWI Jawa Tengah.

Diskusi diawali dengan presentasi BI yang menggambarkan history kondisi ekonomi dunia sampai Indonesia terkini yang berujung terjadinya depresiasi rupiah. Defisit Neraca pembayaran yang secara tidak langsung telah mendorong terjadinya
depresiasi nilai rupiah. Hal sama sesungguhnya dialami negara-negara diberbagai belahan dunia. BI juga menjelaskan adanya relevansi antara rencana kebijakan moneter Amerika untuk menghentikan kebijakan Quantitative Easing. Quantitative easing yang diterapkan Amerika digambarkan secara ringkas sebagai aktibitas mencetak uang  secara terus menerus dan juga pembelian emas dan surat-surat berharga lainnya. Sehingga “isu penghentian” kebijakan ini telah mendorong orang untuk segera menahan mata uang dollar yang
berakibatnya langkanya persediaan dollar. Namun demikian diakhir presentasinya, BI menyatakan bahwa kita harus optimis bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak perlu panik.



Presentasi berikutnya oleh Pak Sadar Subagyo. Anggota DPR RI Komisi XI ini mencoba mengktirisi realitas ekonomi dan kebijakan yang dinilai kurang pro dengan rakyat. Dalam bahasa kritis dan penuh semangat, Kader Gerindra ini menyampaikan beberapa hal yang memerlukan perbaikan kebijakan jika menginginkan ekonomi Indonesia lebih memiliki daya tahan. Beliau juga sempat mengatakan bahwa isu penghentian quantitative easing akan memiliki kepastian pada tanggal 19 September 2013 nanti.

Pak Gunawan urutan berikutnya. Secara singkat Beliau mengeluhkan kurang berpihaknya pemerintah terhadap pertumbuhan UMKM. Pengrajin Mie ini bertestimoni tentang kegagalan beliau untuk mendapatkan rekomendasi dari Disperindagkop Kab.Banyumas saat mengajukan permohonan BBM bersubsidi untuk mendukung produksi mie yang dikelolanya. Testimoni semacam ini memantik utusan Disperindagkop untuk memberikan klarifikasi bahwa gagalnya Pak Gunawan mendapatkan BBM bersubsidi semata-mata karena aturan yang ada, dimana secara administrasi klasifikasi usaha Pak Gunawan sudah tidak masuk dalam kategori mendapatkan BBM Subsidi. Pak Gunawan bisa menerima, tetapi tak kalah akal beliau menitipkan pesan “perlunya perubahan regulasi” kepada legislator senayan yang juga menjadi narasumber pada malam itu.
The last is KADIN Banyumas. Kadin memulai dengan mengajak semua pihak untuk memandang masalah “depresiasi rupiah” menjadi masalah bersamaa. Delegasi Kadin juga mengajak semua melihat ini secara jernih dalam bentuk auto koreksi berjama’ah dan tidak saling menyalahkan. Kemudian, beliau memberi saran yang sekiranya bisa menjadi titik awal semangat untuk membangun ekonomi yang lebih baik khususnya dikalangan pelaku UMKM.

1.  Kepada pelaku UMKM, beliau berpesan untuk merubah mindset bisnis dan melek teknologi, sehingga membuka peluang mendorong para pelaku UMKM memasuki ranah industri kreatif. Berkolaborasi dalam kerjasama yang saling menguntungkan adalah salah satu opsi yang sangat mungkin diambil sebagai cara memperkuat diri dalam mengembangkan industri yang ditekuni.

2.  Kadin juga mengajak pemerintah daerah , legislatif , perbankan  dan pihak akademisi (baca : universitas) untuk "membudayakan duduk bersama" untuk mere-view capaian-capaian ekonomi dan juga merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi yang pro rakyat. Duduk bersama ini diharapkan akan membentuk saling memahami dan sekaligus munculnya semangat yang sama dalam membangun daerah, khususnya bidang perekonomian. Segala bentuk subsidi atau proteksi hendaklah memiliki spirit edukatif, sehingga mendorong peningkatan level pelaku UMKM  secara bertahap dan berkesinambungan.
3. Kadin juga sempat menghimbau kepada akademisi untuk berinisiatif menjadi filter independen atas realitas yang ada di dunia usaha berikut pihak-pihak yang berkepentingan dan mempengaruhi akselerasi perekonomian. Dengan demikian, iklim investasi berbasis pemberdayaan benar-benar bisa diwujudkan dan dalam jangka panajang akan menjadi penyanggah perekenomian nasional. 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved