BELAJAR BERSAMA MENGINTIP PERAN TUHAN DALAM URUSAN BISNIS

Selasa, 05 Maret 20130 komentar


BELAJAR BERSAMA
MENGINTIP PERAN TUHAN DALAM  URUSAN BISNIS
(disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan yang dilaksanakan oleh  KOWAPI (Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia) Kab.Banyumas, di Baturraden, Kab. Banyumas, 05 Maret 2013) 

A.  Pembuka
 photo DSC09280_zpsace28352.jpgMayoritas orang mengidentikkan bisnis dengan urusan uang, mulai dari persoalan permodalan sampai dengan perhitungan keuntungan.  Tetapi, benarkah begitu?. Haruskan selalu begitu?. Tanya ini memang sedikit aneh, semoga gairah mencari jawabnya akan membawa pada satu hikmah ke titik yang paling dasar yaitu;  mengapa anda berbisnis?. Dengan demikian, tanya berujung tanya akan berakhir dengan satu jawab yang akan me-refresh spirit di langkah-langkah berikutnya.



B.  Bisnis Identik Dengan Perjuangan
Perjuangan memerlukan filosofi yang kuat, sehingga meminimalisir terjadinya pelemahan semangat dalam proses mencapai tujuan dari perjuangan itu sendiri. Ragam tantangan pun seharusnya dimaknai sebagai dinamika dan jembatan memasuki fase keberhasilan. Intinya, segala dinamika suka maupun duka, akan selalu dijadikan sebagai sumber energi untuk tidak pernah berhenti sampai kesuksesan itu benar-benar datang. Demikian halnya dengan bisnis,  juga memerlukan filosofi yang selalu menjadi sumber inspirasi utama dalam membentuk visi, misi dan tahapan-tahapan perjuangan. Langkah-langkah yang dilakukan merupakan rangkaian heroisme demi ketercapaian tujuan. Pertanyaan menarik untuk bahan perenungan bersama adalah;
1.      adakah berbisnis untuk kebahagiaan dan kesuksesan diri sendiri?
2.      adakah berbisnis merupakan wujud dendam terhadap kenyataan yang serba       kekurangan?
3.      adakah berbisnis adalah upaya mengejar ketertinggalan dan mensejajarkan diri  
     dengan orang lain?
4.    ataukah ghiroh  berbisnis lahir di inspirasi semangat untuk memperluas 
     kebermaknaan bagi banyak orang?.  

Temukan lah jawaban atas pertanyaan itu sebagai landasan dalam memulai atau bertahan di lingkungan bisnis.

 C.  Jadilah Pebisnis Yang  Nyeleneh dan Selalu Optimistik
Logisnya, cara-cara biasa tidak mungkin berujung dengan hasil luar biasa. Oleh karena itu, walau menjadi berbeda (dengan bersikap luar biasa) bukanlah perkara mudah, tetapi meyakinkan diri mampu melakukannya adalah muasal keberanian untuk berbeda.  Hal ini demi hasil yang berbeda, kecuali anda memang tidak menginginkan perbedaan dan ikhlas dengan yang biasa-biasa saja.

Perjalanan waktu mengajarkan bahwa dinamika dunia ini bermula dari hanya sedikit orang  yang berani mengambil resiko dan bersikap berbeda. Ketika perbedaan itu mendatangkan nilai tambah baru, kepuasan-kepuasan baru, kenikmatan-kenikmatan tambahan, kebahagaian-kebahagiaan baru pada banyak orang, maka pada titik itu perbedaan telah berhasil mendorong sebuah perubahan pada masyarakat. Sebagaimana kita ketahui dan mungkin kita alami sendiri, adanya internet, facebook, twitter, smart phone, telah berhasil merubah budaya  masyarakat, khususnya dalam hal komunikasi dan interaksi. Intinya, semua berawal dari sedikit orang  yang memiliki mental yang kuat dan gairah menciptakan sebuah perbedaan.

Dalam perspsektif pemasaran pun demikian, ketika anda menawarkan sesuatu yang juga ditawarkan oleh orang lain, atau anda melakukan sesuatu yang bisa di duplikasi atau di tiru orang lain, maka anda akan terjebak pada persaingan yang mau tidak mau harus saling mengalahkan. Berbeda ketika anda menawarkan sesuatu yang berbeda dan hanya lakukan oleh sedikit orang dan atau bahkan hanya anda,  perbedaan akan membawa anda iklim bisnis yang miskin persaingan. Oleh karena itu, mulailah perbedaan dengan memikirkan sesuatu yang tidak  atau belum di fikirkan orang lain. Sebagai pengingat, ke tidak kreatifan bermula saat  anda mendefenisikan diri sebagai orang yang tidak kreatif.

Akankah anda terus menjadi orang biasa dan menjeburkan diri dalam persaingan berdarah-darah?. Ataukah anda bertekad untuk memilih jalan sunyi lewat berbeda dan kemudian tercipta keramaian?. Semua tergantung anda.

D.  Bisnis dan Peran Tuhan
 photo DSC09277_zps87269cda.jpgBagi pebisnis  yang masih mempercayai Tuhan dan masih memerlukan kehadiran-Nya, menjadi penting untuk  mengintip peran Tuhan dalam bisnis. Tuhan seperti prasangka hamba-Nya, maka mulailah belajar berprasangka baik terhadap Tuhan. Akan tetapi, betulkah Tuhan seperti prasangka hamba-Nya di tengah pengalaman sebagian orang tentang sederet fakta ke-belum terbuktian prediksi-prediksi di masa lalu??.

Satu hal yang menjadi catatan, kalimat itu sesungguhnya mengandung mantik dan memerlukan pemaknaan yang tepat. Adalah benar bahwa Tuhan selalu seperti prasangka hamba-Nya, hanya saja yang perlu menjadi bahan perenungan adalah; hamba seperti apa yang prasangkanya di ikuti Tuhan?.  Sebagai perumpamaan sederhana, Ibarat sorang anak yang meminta uang jajan pada ibunya, mungkin kah diberi bila sang anak tidak pernah mau patuh sama sang ibu,  kalau sang anak dikesehariannya selalu melanggar apa-apa yang diajarkan sang ibu,  bila sang anak dikesehariannya selalu menjauh dari ibu nya??.  Layakkah diberi ketika sang anak hanya mendekat atau bahkan merengek saat butuh saja???. Intinya, berjarak dengan Tuhan berpotensi menjauhkan dari keberpihakan Tuhan.

Oleh karena itu, ketika intervensi positif  Tuhan masih menjadi kebutuhan dalam membentuk atau menumbuhkembangkan bisnis, maka jalannya hanya satu, mari belajar bersama  mendekat dalam arti sungguh-sungguh kepada-Nya. Hal ini memerlukan keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur, 3 (tiga) kata yang mudah di sebutkan tetapi memerlukan semangat yang kuat dalam proses pembentukannya. Sebab inti dari ketiganya adalah tersatukannya dalam fikiran maupun tindakan manusia bahwa dunia dan akhirat adalah satu kesatuan yang  tidak terpisahkan. Dalam cara baca ini, laku dan lika liku manusia di dunia adalah referensi obyektif Tuhan untuk menetapkan tempat seorang manusia, apakah di sorga atau neraka. Semoga anda masih meyakini bahwa sorga dan neraka itu ada, sehingga perlu melanjutkan untuk membaca tulisan ini.

Dalam pemaknaan yang demikian, maka bisnis sebagai sebuah aktivitas di dunia seharusnya di baca sebagai  media strategis dalam membentuk ragam kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Kebaikan harus diterjemahkan secara tepat dengan tetap tidak meninggalkan dan menanggalkan kalam Tuhan di tahapan implementasinya.  Tentu hal ini berawal dari niat dan sumpah saat mulai menekuni bisnis.


E.  Menawarkan Untuk Berfikir Terbalik
Kita sering mendengar orang mengatakan, boro-boro mikir orang lain mikir sendiri aja susah. Dalam tinjauan logika, kalimat itu tak terbantahkan kebenarannya. Tetapi, bukanlah sebuah keburukan untuk merenungkan kalimat berikut ini: bangun lah niat dan lakukan langkah-langkah membahagiakan  orang lain maka kebahagiaan akan menghampirimu. Sejenak kalimat ini  berlawanan dengan kalimat pertama, tapi benar kah begitu??

Sebagai sebuah penawaran, di sajikan sebentuk penalaran dari kalimat ke-2 (dua) berikut ini :
Ketika anda berniat membahagaiakan orang lain, maka secara alamiah anda sedang  melipatgandakan energi untuk berbuat sesuatu.  Gagasan  anda pun otomatis meluas dibanding saat anda hanya fokus pada kebahagiaan diri sendiri. Pada saat lompatan energi terbentuk dan luasnya target menggiring pada perluasan gagasan,  pada saat yang sama sesungguhnya anda sedang mulai mengarah pada jalan pelipatan produktivitas. Artinya, saat anda mampu memenuhi kebutuhan orang lain secara otomatis sesungguhnya anda telah memenuhi kebutuhan anda sendiri. Kunci sesungguhnya adalah saat terjadi lipatan energi. Disamping itu, orang-orang yang membangun kepedulian, pada dirinya akan terbangun kadar spritualitas yang biasanya melahirkan rasa tenang dan bathin yang lebih tentram sehingga lebih konsentrasi dalam melakukan aktivitas .  Artinya, lipatan energi, keluasan gagasan, ketenangan dan konsentrasi yang lebih tinggi  menjadi pemicu produktivitas?.

Dalam tinjauan yang lain, setiap manusia lahir membawa rejeki, sehingga ketika seseorang mengambil tanggungjawab untuk menghidupi orang lain sesungguhnya identik dengan penyatuan rejeki. Bayangkan ketika hak anda  atas rezeki sesungguhnya adalah 10 (sepuluh), kemudian anda membangun kepedulian dengan mengambil tanggungjawab menghidupi 5 (lima) orang fakir miskin atau yatim  yang masing-masing memiliki hak rezeki 10 (sepuluh), maka secara matematis anda berpeluang untuk meraih 60 (enam puluh) rezeki. Kalau kemudian  ternyata menghidupi mereka hanya dibutuhkan 5 (lima) untuk masing-masing orang, maka  total untuk menghidupi mereka hanya 25 (dua puluh lima). Artinya, anda berpeluang mendapat rezeki tambahan sebesar 25 (dua puluh lima). Kalau anda menginginkan hal itu terjadi pada kehidupan anda,  anda pasti tahu apa yang harus dilakukan.

Mulai yakinkah anda bahwa membahagiakan orang lain sesungguhnya identik dengan membahagiakan diri sendiri???.  Adakah anda akan segera memulai berfikir terbalik??. Akankah anda merubah niat dan defenisi anda dalam berbisnis???.

F.  Memaknai Hasil Akhir Sebagai Pesan dan Bentuk Keadilan Tuhan
 photo DSC09283_zpsa7a1a139.jpgKetika dunia dan akhirat dipandang sebagai satu kesatuan tak terpisahkan, ketika berbisnis didefenisikan sebagai upaya mendapat restu dan berkah Tuhan, maka  dalam rangka mencapai tujuan dan cita-cita, manusia cukup berusaha semaksimal mungkin dalam mengkombinasikan instuisi, pengetahuan, pengalaman, energi dan waktu, selanjutnya pasrah dan menyerahkan segala urusan hasil akhir  kepada-Nya.  Jadi, pasrah adalah tahapan lanjutan sesudah manusia melakukan usaha yang terbaik. Dalam situasi ini, Tuhan akan mengambil sebagian  dari 3 (tiga) peran, yaitu :   (i) merestui atau tidak merestui; (ii) melipatgandakan hasil bagi yang bersyukur dan disukai-Nya dan; (iii) meniadakannya baik dalam rangka memberikan cobaan maupun dalam rangka menyajikan hukuman.  Bahkan Tuhan  secara tegas mengatakan bahwa Aku akan berikan kerajaan bagi yang Ku kehendaki dan Aku ambil  kerajaan dari orang yang Ku kehendaki. Artinya, menjadi disukai Tuhan, sesungguhnya adalah cara terbaik dalam mencapai sebuah tujuan.  
  
Oleh karena itu, sesungguhnya manusia tidak memiliki alasan yang pantas untuk stress, marah atau jengkel  saat mengalami kerugian, sebab hal itu tidak akan pernah bisa mengubah rugi menjadi laba.  Ketika benar-benar mengalami rugi, jadikan kondisi tersebut sebagai bahan auto koreksi mulai dari kebersihan niat dan tingkat efektivitas tindakan, Selayaknya rugi dimaknai sebagai pesan Tuhan untuk lebih baik di mendatang, sehingga  rasa ikhlas atas kenyataan, kesabaran, rasa syukur dan semangat untuk tetap berusaha akan senantiasa terjaga. Demikian pula  ketika mengalami untung, disamping hal tersebut sebagai bentuk keberpihakan Tuhan, juga harus dibaca sebagai cobaan sehingga kewaspadaan tetap terjaga.  Pengkaruniaan keberhasilan juga  bagian dari cara Tuhan untuk melihat keterjagaan kedekatan  manusia pada Nya.  Tuhan juga ingin melihat bagaimana cara orang tersebut mewujudkan rasa syukur atas limpahan nikmat. Keberhasilan sesungguhnya juga merupakan salah satu bentuk keadilan Tuhan. 

G.  Penutup
 photo DSC09281_zps7d1a8fec.jpgSemua orang ingin bahagia, tetapi nyatanya tidak semua orang bisa meraihnya. Semua orang ingin berhasil, tetapi sebenarnya tidak semua orang  menginginkan keberhasilan itu benar-benar datang di hidupnya.  Hal ini terlihat dari ketidakrelevanan langkah-langkah yang dilakukan dengan cita-cita yang ingin diraih. Akibatnya, Tuhan hanya tersenyum atas doa-doa yang dilantunkannya.

Sebagai catatan penghujung, kebahagiaan sesungguhnya terletak pada pemaknaan setiap yang datang ke dalam hidup kita, mulai dari hal-hal baik maupun hal-hal buruk. Dalam tinjauan vertikal, kebahagiaan merupakan bentuk keberpihakan Tuhan sekaligus imbalan logis dari konsistensi seorang manusia terus berusaha menjadi hamba yang baik di pandangan-Nya.

Demikian tulisan sederhana ini sebagai bahan dalam sesi belajar bersama dalam mengintip Peran Tuhan dalam Bisnis. Semoga menginspirasi energi untuk terus mengembangkan karya, sehingga semakin besar peluang memperluas kebermaknaan kepada sesama dan sekaligus memperluas peluang untuk di sukai Sang Pencipta. Sukses selalu untuk kita semua dan jangan pernah berhenti berusaha sampai Tuhan mencukupkan  waktu kita untuk bernafas. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved