TENTANG dan UNTUK APA KAH??

Kamis, 28 Februari 20131komentar


Jumat ini menginspirasi  ragam tanya tanya sebagai bahan kontemplasi guna memperkaya bahan auto koreksi demi membentuk kebaikan-kebaikan baru di mendatang. Kesakralan Jum'at layak dimanfaatkan untuk belajar bersama meningkatkan kapasitas diri, khususnya dalam hal kualitas spritualitas sosial maupun vertikal.  


  1. Kalau bersekolah tinggi-tinggi hanya lah untuk selembar ijazah dan bagian penting dalam membentuk kehidupan perekonomian diri lebih sejahterah, adakah keluasan ilmu hanya lah untuk kepentingan diri sendiri ?. Adakah membiarkan orang lain dikebodohan akibat ketiadaan semangat untuk saling mencerdaskan?. Adakah ini indikator melemahnya sebuah kepedulian?. Tak ada lagikah keyakinan bahwa berbagi ilmu adalah juga bagian dari hal yang menolong ketika kematian telah datang?. Tak adakah lagi kepercayaan bahwa staretgi menambah ilmu adalah dengan cara membaginya habis? 
  2. Kalau menjadi seorang karyawan dipilih sebagai  upaya membentuk masa depan, haruskah kemudian menghamba pada sang pemilik merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia?. Adakah bekerja hanya untuk mematuhi dan menjalankan instruksi sang bos?. Tak berpeluangkah bekerja dipandang sebagai media pengembangan talenta diri bagi setiap orang yang terlibat, sehingga akan lahir karya-karya baru yang tak pernah terfikirkan sebelumnya?.Apakah ini bermuasal dari "kekuatan sang pemodal" sehingga tertutupnya celah bagi pengembangan kreatifitas sehingga terjadi kemandulan fikiran?. Adakah hal ini yang telah  mendorong manusia dipandang sebagai faktor produksi dan bukan lagi dipandang sebagai penentu masa depan perusahaan?. Ataukah kesadaran sebuah keterjajahan sebagai cara efektif membangunkan kesadaran bijak melakukan kebaikan-kebaikan baru di luar sana, saat dia keluar dari status karyawan dan memilih mandiri?. Ataukah ini akibat dari penghambaan terhadap hal-hal materialitas yang menggiring ketakutan ketiadaan harapan diluar apa yang dia kerjakan saat ini?. 
  3. Kalau menjadi pengusaha adalah sebagai upaya mandiri membentuk kemerdekaan dan kerajaan kecil yang melenakan, apakah tak mungkin lagi me-reset mindset tentang "pengusaha"?. Tak terfikirkan kah bahwa segala yang ada pada diri pengusaha semata-mata adalah titipan Tuhan yang harus diterjemahkan kedalam kebijaksanaan tindakan?. Tak tergodakah menterjemahkan talenta wirausaha kedalam perluasan kebermaknaan diri bagi banyak orang?. Adakah penetapan UMR (Upah Minimum Regional) di inspirasi oleh budaya rakus dari kebanyakan pengusaha, ataukah ini murni sebagai bentuk kepedulian negara dalam melahirkan kehidupan yang layak bagi masyarakat?. Bukankah menyiapkan wrisan tujuh turunan adalah sesungguhnya bentuk penegasan dini bahwa generasi berikutnya adalah orang-orang bodoh yang tak memilki kreativitas untuk membangun kekebalan hidupnya sendiri?.  Inikah yang dinamakan sayang yang membunuh?  
  4. Kalau menjadi abdi negara adalah bagian dari cara mendapatkan stabilitas hidup karena memiliki kepastian dalam hal pendapatan, mengapa sebagian masih melihat pendapatan sampingan sebagai sesuatu yang menarik dimana besar kecilnya jumlah  diyakini dipengaruhi oleh  posisi sehingga saling bersaing mendapatkannya?. Tak terfikirkankah abdi negara adalah sebagai  sumpah yang bermakna penjebakan  diri dikemliaan dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat di kesehariannya?. Ataukah ini hanya tentang kesempatan, sehingga setiap kali pandangan kritis muncul tak lagi difahami sebagai bagian dari tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara yang merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan itu sendiri?, ataukah hal ini tentang kenyamanan, sehingga saran yang berkembang tak diyakini lagi sebagai sebuah ketulusan untuk maksud terbentuknya tujuan?. Ataukah ini tentang naluri berkuasa dan penguasaan terhadap diri orang lain dan sejumlah sumber daya?.
  5. Kalau politisi didefenisikan refresentasi masyarakat, adakah kemudian kehadiran para demonstran di kantor parlemen mengindikasikan tersumbatnya komunikasi atau terlalu berjaraknya rakyat dengan wakilnya?. Ataukah politik adalah memang memiliku karakter unik dan selalu multi intrepretasi?. Kalau dibilang politik adalah kursi panas, tetapi mengapa masih banyak yang menginginkannya dan bahkan rela mengorbankan apa saja untuk meraihnya?. Ataukah mereka  sudah mendefenisikan  bahwa ketenangan hidup berada diketidaktenangan itu sendiri?. Ataukah karena  politik diyakini cara paling efektif mewujudkan  apa yang disebut visi dan misi membangun masyarakat madani?. Ataukah kekisruhan politik yang terjadi harus dibaca sebagai "masa transisi" menuju kedewasaan berdemokrasi?. Akhirnya, di ujung fikir terbersit tanya, sepenting apakah sesungguhnya demokrasi dalam membentuk sebuah masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera?. 
  6. Kalau artis adalah sebagai peredam ketegangan, mengapa kemewahan dan keglamoran selalu diidentikkan dalam profesi ini. Adakah mereka menemukan ketegangan dalam meredam ketegangan masyarakat, sehingga memilih solusi sendiri membentuk kebahagiaan dan ketenangan hidup?. Tak cukupkah kebahagiaan para penghibur saat menyaksikan masyarakat terhibur dengan kualitas sajian mereka?. Adakah pengkultusan mereka sebagai "selebriti" menuntut mereka dikeseragaman polah dan gaya hidup yang harus berbeda dan mengesankan sebuah elitisme?.  
Uniknya, mereka yang memilih menjadi karyawan, yang berperan sebagai abdi negara,yang mengambil pilihan sebagai pengusaha, yang memposisikan diri sebagai politisi maupun artis, dikesehariannya saling berhubungan dalam siklus kehidupan makro, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ironisnya, terjadinya praktek saling meniadakan satu sama lain, merendahkan satu untuk meninggikan lainnya dan ragam  praktek lainnya yang mengundang miris hati, masih kian lama kian tersajikan diragam mesia massa. Padahal, semua itu berlangsungdi tempat  yang sama yaitu bumi yang dipersembahkan oleh Sang Pencipta.




Kalau memang ini semua hanya demi keterkumpulan uang, lupakah mereka bahwa jumlah peredaran uang harus selalu sesuai dengan regulasi di sebuah negeri?. Artinya, yang mereka perebutkan sesungguhnya adalah pada jumlah yang sudah jelas batasannya. terlalu picikkah ini dikatakan sebagai dinamika kreatif dalam memindahkan uang ke pundinya masing-masing"?. Masih adakah pertimbangan kemanusiaan masuk dalam proses perpindahannya?. Masih Adakah keinginan menghormati orang lain sehingga tak ada yang terluka dalam tahapan pemindahan uang?. Inikah yang dinamakan dinamika hidup?. Adakah memaknai ini sebagai sebuah kewajaran menjadi sumber ketenangan dalam menyaksikan segala fenomena yang terjadi di tengah masyarakat atau yang sengaja diperdengarkan ditelinga kita atau diperlihatkan di andangkan kita?. Ataukah kepedulian sosial   tema yang sudah tidak layak lagi didiskusikan?. Ataukah pembiaran sampai ke titik lelah diyakini akan ,menginsipirasi semua pihak duduk bersama dan melakukan refleksi berjama'ah untuk merumuskan defenisi kebijakan hidup?. 

Atau sesungguhnya semua ini berasal dari pemaknaan tentang hidup yang terlalu dibiarkan, sehingga   ketidaknyamanan cukup dipandang sebagai bentuk sedang melemahnya iman tanpa kemudian memantik gairah untuk melakukan sesuatu?. Ataukah segala kekisruhan hidup ini  karena  melemahnya spirit pemuka  agama menyuarakan kalam-kalam Tuhan?. Semoga bukan karena para pemuka agama sedang mengalami kehabisan energi dan akal, sehingga mereka beranggapan apapun yang dilakukan tak akan menemui titik efektifitas.


   

Ntahlah...tetapi ketika memahami muasal keterciptaan manusia adalah untuk beribadah, keterlahiran manusia untuk saling melayani dengan hati, mungkin kedamaian dan kenyamanan menjalani sisa hidup masih pantas diharapkan dan masih layak menjadi bagian dari materi do'a dihadapan Tuhan. Terbersit keinginan melihat masyarakat berkumpul dalam rangka menemukan solusi atas kondisi kehidupan sebagian masyarakat yang kurang beruntung. Sepertinya, kepedulian-kepedulian semacam ini begitu mendamaikan, melahirkan kesetiakawanan dan juga membentuk kesalehan sosial. Hidup adalah tindakan, tetapi tidak semua orang berada diposisi yang nyaman. Semoga ini dipandang sebagai kesempatan untuk membangun kepedulian dan mengembangkan kebersamaan. 


Tulisan ini tidak sedang membandingkan ragam profesi, karena sesungguhnya itu tentang hak dalam memilih dan menekuninya. Semua peran dan pilihan adalah baik, sepanjang dilandasi niat baik dan diimplementasikan dalam langkah baik juga. Oleh karena itu, tulisan ini sesungguhnya mendorong setiap orang melakukan ref-resh, khususnya dalam memaknai kesempatan hidup yang disajikan Tuhan. 

Sebagai catatan akhir, kontemplasi ini memerlukan kekhusyu'an dan semoga berujung ada kejernihan jawaban. Semoga, tulisan ini efektif menjadi pengingat bahwa apapun yang ada pada diri kita sesungguhnya hanya  titipan maha kuasa yang sewaktu-waktu bisa  diambil sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk itu, apapun bentuk titipan itu, merupakan bentuk kepercayaan dan sekaligus pesan Tuhan bahwa kita sedang dipercaya untuk berbuat sesuatu bagi lainnya. Sukses selalu untuk kita semua di lingkar  hidup berkalang sabda Tuhan.  Amin.



===============SELAMAT BERKONTEMPLASI==================




          
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

12 Maret 2013 20.15

geeezz menohok banget om #berpikirkeras

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved