SEBUAH WAWANCARA

Rabu, 27 Februari 20130 komentar


Majalah PIP (Pusat Informasi Perkoperasian) Bersapa Dengan Anak Kampung 

1.       Sejak kapan Anda mengenal koperasi? Bagaimana persepsi Anda tentang koperasi, ketika pertama  
        kali mengenalanya?.
 photo DuaJalanMembangunKoperasiKonsumenGMKP-RI_Sehat_RSUDMargonoPurwokerto_zps7439f562.jpgSaya mengenal kata ”koperasi” itu sejak saya kecil, kebetulan di kampung saya ada sebuah gedung koperasi dimana saya dan kawan-kawan sering bermain di sekitar gedung itu. Di sekolah pun, mulai SD, SLTP, SLTA, saya mendapatkan pelajaran koperasi. Awalnya, persepsi saya koperasi itu  sebatas lembaga ekonomi biasa dan jauh dari manarik.  
2.       Sejak kapan Anda terlibat aktif di koperasi, di koperasi mana, apa motivasinya?
Saya mulai terlibat aktif sejak semester 02 saat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, sekitar tahun 1993. Awalnya, saya hanya ingin menjadi aktivis kampus saja dan kebetulan senior saya mengajak untuk aktif di koperasi mah asiswa. Saya iyakan ajakan senior tersebut, apalagi saat itu koperasi mahasiswa mengelola ragam usaha, sehingga saya berfikir di kopma ini saya bisa mengembangkan talenta wirausaha. Sebab, waktu di kampung dulu saya bersama orang tua pernah mengelola sebuah toko, peternakan ayam broiler dan juga kolam ikan. Jadi, sejak kecil saya memang tertarik pada kewirausahaan.    


3.       Ketika pertama kali menjadi pengurus koperasi, gebrakan apa yang Anda lakukan? Apa hasilnya?
Sebenarnya, saya mengalami 2 (dua) fase dalam menekuni dan belajar tentang koperasi. Fase I (1993 sampai dengan 2003) dan Fase II (2003 sampai sekarang). Pada fase I saya memahami koperasi dari perspektif ekonomi saja, sehingga selalu fokus pada penciptaan SHU yang tinggi. Ironisnya, pencapaiannya pun murni menggunakan prinsip-prinsip ekonomi ansih dan alfa dalam hal nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Oleh karena itu, saat saya diamanahi menjadi ketua koperasi mahasiswa Unsoed tahun 1996, arah kepemimpinan saya fokus pada pengembangan kewirausahaan, pola pengembangan profesionalisme ansih dan pengembangan kader.  Pada tahun 2004, saat junior-junior saya di koperma Unsoed getol mengkampanyekan tentang jati diri koperasi, pemikiran saya menjadi terguncang. Apalagi saat adek-adek junior mendefenisikan saya sebagai kapitalis yang berbaju koperasi. Namun demikian, setelah mengikuti berbagai diskusi pemikiran koperasi bersama para junior, bertahap saya mulai bisa menerima dan ikut mendukung gagasan perjuangan pengembalian koperasi ke konsepsi dasarnya. Kebetulan, saat masa transisi pemikiran itu terjadi,  saya sudah menjadi seorang profesional di koperasi (KPRI SEHAT RSUD Prof.Dr.margono Soekajo, Purwokerto yang dikenal dengan sebutan siSehat), sehingga mulai saat itu juga saya dan kawan-kawan di siSehat mulai mencari formula efektif mengimplementasikan Jati diri koperasi secara bertahap dan berkesinambungan. Sejak saat itu, saya mulai memasuki fase ke-2,  dimana saya memandang koperasi sebagai kumpulan orang yang berkomitmen untuk hidup bersama guna memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Pendalaman-pendalaman terus dilakukan dan diikuti dengan ragam uji coba lapangan guna mendapati keyakinan empiris tentang kedahsyatan konsepsi koperasi melalui peng-integrasian tujuan-tujuan ekonomi, sosial dan budaya ke dalam perusahaan koperasi . Oleh karena itu, pada saat didaulat kawan-kawan untuk memimpin Kopkun (Koperasi Kampus Unsoed) pada tahun 2006, saya langsung mengambil kebijakan radikal bahwa salah satu syarat wajib untuk menjadi anggota koperasi adalah lulus pendidikan dan pelatihan dasar koperasi.  Langkah ini dimaksudkan untuk membentuk pemahaman dan persepsi yang sama di segenap Unsur organisasi minimal dalam hal apa, mengapa dan bagaimana berkoperasi. Dengan demikian, disamping memiliki persepsi yang sama terhadap koperasi, setiap orang yang bergabung juga mengerti arah kebersamaan yang di tuju dan faham peran apa yang harus dilakukannya sebagai anggota. Alhamdulillah, walau masih jauh dari selesai, hal ini cukup efektif dalam membangun kolektivitas khususnya bagi pertumbuhan dan perkembangan Kopkun, baik secara organisasi maupun secara perusahaan.
4.       Mengapa (setelah lulus kuliah) Anda tertarik bekerja di koperasi?
Saya lulus kuliah Desember 1996, saat itu saya masih menjabat ketua koperma Unsoed untuk ke-2 kali sehingga harus menyelesaikan periode kepemimpinan sampai maret 1997. Alhamdulillah, berkat informasi dari seorang senior koperma Unsoed, pada akhir maret 1997 saya mulai bekerja di KPRI SEHAT RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto. Awalnya, pilihan bekerja di koperasi mengundang pro-kontra, mulai di keluarga sendiri, kawan-kawan kuliah dan para sahabat aktivis maupun calon mertua...(he2). Saya mencoba berbesar hati sekaligus melakukan ragam pendekatan. Hal tersulit adalah meyakinkan mereka bahwa di koperasi ada kehidupan dan masa depan. Saya mencoba meyakinkan mereka bahwa idealisme koperasi layak diperjuangkan. Saya tegas kan mereka bahwa saya masih penasaran membuktikan apakah defenisi ”koperasi sebagai sokoguru perekonomian” layak di lanjutkan atau hanya propaganda kosong. Bahkan saya berjanji kepada kawan-kawan aktivis, bila ternyata koperasi hanya propaganda kosong, maka saya akan memperjuangkan untuk menghapus ”koperasi” di negeri ini. Mereka hanya tersenyum hambar, tetapi saya mencoba belajar berbesar jiwa atas segala macam reaksi minir. Untuk menghibur diri, saya selalu mengatakan ”Ini tentang keyakinan, mempercayai sesuatu yang belum terlihat”  
5.       Ceritakan sekilas, bagaimana keadaan KPRI sebelum Anda masuk, dan setelah Anda bekerja sebagai manajer.
Saat pertama kali masuk di Maret 1997, KPRI SEHAT RSUD Margono Soekarjo   Purwokerto (biasa di sebuah siSehat) memiliki 11 (sebelas) orang karyawan dengan unit layanan simpan pinjam, toko kecil, foto kopi dan kiostel. Alhamdulillah, setelah berproses panjang dengan kawan-kawan (pengurus, pengawas, karyawan dan seluruh anggota) dan setelah melalui ragam dinamika, saat ini siSehat bisa mengembangkan organisasi dan perusahaannya. Unit-unit layanan yang dijalankan saat ini adalah unit simpan pinjam, toko swalayan 4 (empat) outlet, foto kopi 2 (dua) unit, unit layanan parkir 2 (dua) area, kantin 4 (empat) outlet dan Unit Perumahan Griya Shifa Alamanda 166 (seratus enam puluh enam) unit rumah dan 34 (tiga puluh empat) ruko. 2 (dua) hal yang menjadi catatan penting dari perjalanan siSehat; (1) semua ini bukan tentang uang, tetapi tentang upaya mempertinggi nilai kerja sama melalui belajar bersama untuk saling mempercayai satu sama lain dan; (2)  semua ini masih jauh dari selesai. Oleh karena itu, kalau ini disebut bagian dari capaian, maka semua ini merupakan capaian kolektif dan bukan capaian seorang manager saja. Sebab, koperasi tidak mengenal kata aku, kamu dan dia, tetapi koperasi mengajarkan tentang ”kita”.    
6.       Menurut Anda, apakah koperasi konsumen punya potensi untuk dikembangkan di Indonesia? Bagaimana upaya pengembangan itu harus dilakukan.
Saya meyakini bahwa koperasi konsumen memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, sepanjang koperasi berjalan di atas konsepsinya. Sayangnya, sebagian besar dari pegiat koperasi masih memandang koperasi sebagai perusahaan murni dan terjebak dengan pengejaran SHU sebesar-besarnya. Akibatnya, koperasi tergoda memainkan cara-cara non-koperasi dan ironisnya mayoritas belum menunjukkan keberhasilan dan bahkan tertinggal jauh dengan kawan-kawan non-koperasi, demikian juga hal nya koperasi konsumsi. Sebagai catatan penting, hal pertama yang perlu dibangun dari koperasi adalah ”keyakinan kolektif” dari segenap unsur organisasi. Hal ini bisa dilakukan lewat edukasi dan sosialisasi berkesinambungan dan bervariasi dengan mendasarkan diri pada defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Dengan demikian, akan terbangun kesadaran untuk bepartisipasi dan mengambil tanggungjawab untuk ikut membesarkan perusahaan yang di miliki bersama. Pertumbuhan kesadaran ini linier dengan pertumbuhan peluang koperasi konsumsi mengembangkan ragam unit layanan berbasis kebutuhan anggotanya. Apalagi ketika kesadaran anggota ini di drive sampai kepada tanggungjawab untuk mengembangkan keanggotaannya secara kuantitatif, maka penciptaan efisiensi kolektif  di unit-unit layanan koperasi akan semakin terbuka. Disamping metode  evolusioner berbasis edukasi dan kemandirian kolektif, sebenarnya ada cara lain yang bisa ditempuh yaitu metode revolusioner  berbentuk intervensi yang edukatif dari pemerintah . Misalnya, pemerintah mengajak satu atau beberapa koperasi yang concern dan berkomitmen pada pembangunan koperasi berbasis jati diri untuk  mendirikan sebuah supermarket yang besarnya sama dengan supermarket terbesar di daerah tersebut Untuk mendukung gagasan tersebut, pemerintah memberikan pinjaman modal berjangka untuk keperluan pembangunan supermarket tersebut dari A sampai Z.  Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari aplikasi pola ini; (1) pinjaman dikembalikan lewat schedulling yang disiplin; (2) pengelolaannya berbasis jati diri koperasi dengan menjunjung tinggi otonomi koperasi; (3) melibatkan para profesional yang faham pengelolaan supermarket modern dan bisa mengintegrasikan nilai-nilai ekonomi, sosial dan budaya ke dalam dataran teknis operasional layanan. Kebaikan pola ini adalah pada kecepatan, artinya kehadiran supermarket ini bisa dijadikan ikon efektif dalam mengkampanyekan dan sekaligus  menumbuhkembangkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi.  Namun demikian, ketika pola ini tidak diikuti dengan sosialisasi dan edukasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi, maka supermarket ini akan tampil layaknya non-koperasi. Keburukan pola ini adalah bila intervensi semacam ini diartikan sebagai momen ”bagi-bagi duit segar”. Kalau hal ini terjadi, maka jangan berharap supermarket itu akan berjalan sesuai konsepsinya dan hal ini juga akan mengulang ragam bantuan yang sering menuai masalah yang sama.   Namun demikian, idealnya koperasi harus  tumbuh dan berkembang melalui proses bertahap. Pola intervensi pemerintah hanyalah bersifat opsional saja.   
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved