MEMBUMIKAN KEPEMIMPINAN

Senin, 25 Februari 20132komentar


Disampaikan pada Camp Leadership yang dilaksanakan oleh BEM  Fakultas Hukum Unsoed, 24-25 Februari 2013, di Fakultas Hukum Univ. Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia.

A. Pembuka
 photo DSC09247_zps39c41ee8.jpgDinamika di dunia ini dipengaruhi oleh orang-orang yang memiliki talenta kepemimpinan, baik dalam bentuk gagasan maupun melalui karya-karya unik dan tidak pernah terfikirkan sebelumnya oleh orang lain.

Sebagian orang mendefenisikan kepemimpinan adalah bawaan lahir, tetapi tampaknya menjadi tak asyik kalau meyakini cara baca ini, karena berpotensi membuat seseorang menyimpulkan dirinya tidak berbakat jadi seorang pemimpin. Semua orang bisa menjadi pemimpin, minimal bagi dirinya dan moga-moga bagi masyarakat luas. Cara baca ini lebih menarik untuk di anut, karena membangunkan semangat dan membangun peluang setiap orang menjadi pemimpin, sepanjang pada dirinya terdapat pra-syarat kepemimpinan yang merupakan hasil proses yang panjang.


B.  Mendefenisikan Kepemimpinan
Dlalam bahasa yang mudah di fahami, Kepemimpinan adalah pengaruh. Jadi siapapun yang mempunyai kemampuan mempengaruhi, maka dia sesungguhnya adalah pemimpin, baik pengaruh itu dalam sebuah organisasi formal, maupun pengaruh itu diaplikasikan dalam sebuah kelompok non formal. 

C.  Sekilas Mengintip Cara Kerja Pemimpin
 photo DSC09246_zpsbfd1b9a4.jpgDalam konteks kepemimpinan adalah pengaruh, maka memimpin sesungguhnya aktivitas brilian untuk membawa orang-orang yang dipimpin dari satu titik ke titik lain. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang baik memiliki kemampuan dalam mengemas pengaruh, memasuki ranah spirit dan rasionalitas pasukan yang dipimpin, sehingga mereka mau bergerak dan menyumbangkan yang terbaik dari apa yang mereka miliki demi ketercapaian tujuan kolektif. Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu mempersonifikasikan dirinya menjadi bagian penting dari orang-orang yang dipimpin dalam mencapai tujuan-tujuan kolektif maupun pribadi mereka. Ini bukan hal mudah, sebab seorang pemimpin dituntut mengerti apa yang mereka inginkan dan mengkorelasikannya dengan visi kepemimpinannya. Atas dasar itu, seorang pemimpin harus melakukan interaksi dan komunikasi intensif, baik dalam bentuk edukasi, sosialisasi, sharing, pengarahan maupun menyampaikan instruksi dengan gaya yang tepat sehingga mendatangkan efektivitas.

Pada saat keberhasilan digapai dimana visi kepemimpinan sukses membawa organisasi ke titik yang direncanakan, maka pada titik ini pula seorang pemimpin di uji kebijaksanaannya,  bagaimana keberhasilan dibahasakan sebagai karya kolektif dan bagaimana pula mengapresiasi dengan tepat kontribusi semua pihak dalam raihan tersebut. Pada titik ini pula, ego kepemimpinan bisa di ukur, karena seorang pemimpin tak jarang tergoda  kedalam euforia indivdual demi penandasan eksistensi dirinya di lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Padahal, seorang pemimpin tak perlu melakukan hal itu, karena saat dia ditetpkan menjadi pemimpin, sesungguhnya hal itu sebuah pernyataan sikap kolektif bahwa dia adalah refresentasi kepercayaan mayoritas dari orang-orang yang dipimpinnya.  

D.  Prosedural atau Natural dalam Menjadi Pemimpin
 photo DSC09245_zps98db162f.jpgDalam keseharian di lapangan, ada 2 (dua) jenis pemimpin yaitu pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpian formal biasanya lahir dari sebuah mekanisme yang sudah di sepakati atau di atur dalam sebuah organisasi, sedangkan pemimpin informal lahir dari proses alamiah.

Dalam kenyataannya, banyak orang yang berebut menjadi pemimpin formal dengan berbagai latar belakang yang melandasinya. Namun, dalam rangka belajar bersama, berikut ini dijelaskan raba-an muasal seringnya terjadi pergulatan demi menjadi seorang pemimpin formal:   
1.      kepemimpinan formal difahami sebagai sumber harga diri. Bagi sebagian orang, memiliki status sosial yang formal adalah sesuatu yang sangat penting. Bagaimanapun juga, dihormati atau di utamakan dalam satu komunitas adalah bagian dari kepuasan diri secara keduniawian.
2.      Kepemimpinan formal diyakini sebagai alat efektif mewujudkan visi. Cara baca ini wajar-wajar saja sebab biasanya  seorang pemimpin formal memiliki kewenangan yang luas men-drive  segala sumber daya organisasi untuk mewujudkan visi dan kepentingan nya. Cara baca ini lah yang sering membuat seseorang mau berspekulasi dan bahkan tak jarang berkorban apa saja demi terperolehnya tampuk kepemimpinan. Ironisnya, cara baca yang sama ada di kepala beberapa orang dari organisasi yang sama, sehingga hal ini kemudian menciptakan aura persaingan”, kalau kata pertarungan dirasa kurang tepat untuk menjelaskannya. Dalam situasi ini, demokrasi selalu diyakini sebagai jalan tengah walau faktanya sering menyisakan sakit hati berkepanjangan ketika kebesaran jiwa tidak bisa terjaga sebagaimana seharusnya.       

Hal bertolak belakang didapati ketika membicarakan kepemimpinan informal, karena kelahirannya melalui proses alamiah yang biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan karakter diri dari orang tersebut. Kepemimpinan informal lahir dari proses panjang, dari akumulasi konsistensi dan catatan kebaikan yang dirasakan oleh lingkungan. Bahkan dirinya sendiri hampir tidak berkepentingan dipandang sebagai pemimpin atau tidak. Kalau dalam tinjauan vertikalnya, orang semacam ini melakukan sesuatu hanya didasarkan keinginan kuat mendekatkan diri pada Tuhannya. Jadi,  tidak mengherankan kalau dia akan tetep dengan visinya, terlepas orang meyakini atau tidak meyakininya, mendukung atau tidak mendukungnya, mendengarkan atau tidak mendengarkannya. Sebab, kedekatannya pada Tuhan diyakini sebagai cara  untuk melahirkan karya-karya berdimensi kebermanfaatan yang luas bagi banyak orang. Kian banyak karya yang dihasilkannya, kian memperlebar pengaruhnya dalam arti luas. Pemimpin informal semacam ini bisanya bercirikan out of the box dalam melihat sebuah permasalahan. Semaksimal mungkin dia meminimalisir kepentingan dan dengan bijaksana selalu menghormati para pemimpin formal yang sedang berkuasa. 

E. Sekelumit Tawaran Ketika Tema Kepemimpinan di Diskusikan.
Berikut ini disampaikan beberapa hal yang layak dijadikan bahan kontemplasi  ketika men-temakan kepemimpinan, dengan harapan akan menginspirasi pemaknaan-pmaknaan bijak tentang sebuah kepemimpian. Adapun hal yang dimaksudkan dijelaskan sebagai berikut :  
 photo DSC09244_zpsadec2224.jpg1.      Memaknai kepemimpinan sebagai amanah dan bukan sebuah kendaraan. Pada pemaknaan sebagai amanah, kepemimpinan dibaca sebagai penugasan yang harus membawa organisasi yang dipimpinnya dari satu titik ke titik berikutnya. Artinya, tugas utamanya adalah membentuk iklim yang lebih baik dan berpengharapan. Sementara  itu, pemaknaan kepemimpinan sebagai kendaraan yang membawa dari satu titik ke titik yang dia kehendaki, rawan dengan post power sydrome di akhir kepemimpinannnya, sebab berakhirnya kepemimpinan identik dengan berindahnya kendaraan ke tangan orang lain. post power sydrome itu sesungguhnya akibat dari banyaknya kepentingan pribadi dalam kepemimpinan itu sendiri, seperti kepuasan bathin dan atau kepentingan materialitas.    
2.      Mengelola kepemimpinan formal dengan gaya informal. Memimpin dengan gaya informal dan jauh dari kekakuan sesungguhnya  lebih efektif membentuk iklim keterbukaan dan juga lebih mampu mendorong segenap unsur organisasi berkontribusi dalam pencapaian visi dan misi. Gaya informal lebih menggerus jarak dan membuat orang-orang yang dipimpin merasa nyaman untuk menyampaikan ragam gagasan maupun hambatan yang sedang mereka alami. Artinya, gaya informal lebih memudahkan pemimpin mendapatkan peta realitas yang obyektif dan sekaligus bisa mengukur rasionalitas dan efektivitas pengambilan sebuah keputusan. Namun demikian, tantangan terbesar pada pemimpin gaya ini adalah menjaga efektivitas. Sebab terlalu dekat berpotensi  menimbulkan turunnya tingkat kepatuhan terjadap arahan maupun perintah. Disinilah pemimpin di tuntut bisa dekat tapi jauh dan jauh  tapi dekat atau dengan  kalimat lain, merakyat tapi tidak dirakyatkan.     
3.      Mengangkat pemimpin dari orang  yang tidak menginginkannya. Memiliki visi dan misi yang luas, memiliki rekam jejak  amanah yang valid, senantiasa berorientasi pada perluasan kebermaknaan diri dan pertanggungjawaban vertikal adalah sebagian dari kriteria pemimpin yang ideal. Namun ada satu kriteria lagi yang sering luput, yaitu orang tersebut tidak menginginkan jabatan tersebut. Karakter ini makin langka di kekinian zaman, namun bukan berarti tidak ada kalau serius dalam mencarinya. Salah satu jawabannya adalah, pada orang yang tidak menginginkan sebuah jabatan, proses keterbentukan kepemimpinannya diawali dari keluasan visi hidup yang dibangunnya berbasis kesadaran dan tekun dalam mentahapi langkah-langkah mewujudkan visi tersebut. Artinya, tumbuhnya sikap-sikap kepemimpinan pada dirinya lahir dari proses perjuangan panjang yang dilaluinya dengan ikhlas dan tabah. Semua dia lakukan demi ketercapaian visinya yang luas, bukan untuk mendapat pujian dari orang lain. Langkah-langkah yang dia lalui dan capaian-capaian yang dia peroleh, telah melahirkan pengaruh atau menginspirasi banyak orang untuk menjadi lebih baik.        

Tampaknya Sulit mendapatkan pribadi-pribadi yang digambarkan diatas, tetapi bukan berarti tidak. Banyak sejarah menceritakan tentang kemakmuran sebuah negeri dan biasanya pada negeri tersebut terdapat pemimpin luar biasa. Terfikir melakukan kajian kritias terhadap efektifivitas demokrasi sebagai solusi menemukan pemimpin yang baik, tetapi khawatir sebagian orang memandang hal ini sebagai langkah mundur. Ter-ide untuk membuat  contoh  skala kecil dimana pemimpin lahir melaui proses musyawarah,  Sebab musyawarah dalam menentukan pemimpin bukan hanya persoalan siapa yang pada akhirnya menjadi pemimpin, tetapi juga menyangkut terbangunnya tanggungjawab setiap orang untuk mendukung kepemimpinan yang terpilih. Dengan demikian, kolektivitas di proses terbentuknya pemimpin juga akan diikuti dengan kolektivitas pula di proses jalannya kepemimpinan.

F. Penutup
 photo DSC09255_zpsdcb488ad.jpgKepemimpinan adalah sebuah amanah kepada yang memberi kesempatan menjadi pemimpin maupun kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, kalau pun kepemimpinan adalah media srategis karena didalamnya terdapat ragam sumber daya, ke-amanah-an seorang pemimpin sangat berpengaruh terhada efektivitas kepemimpinan dalam arti sesungguhnya.  

Oleh karena itu, ditinjau dari sudut tanggungjawabnya, menjadi pemimpin sebuah organisasi bukanlah perkara mudah, sebab disamping dia harus bisa berdiri ditengah banyak orang, dia juga harus mendatangkan rasa nyaman dan tentram serta terlindungi kepada segenap yang dipimpinnya.

Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi gairah untuk terus belajar mengembangkan kapasitas diri, khususnya tentang kepemimpinan. Jadikan bayang indah hikmah luas yang akan datang ke hidup anda ketika menjadi pemimpin yang sukses, sehingga selera untuk terus berbenah dan berbenah diri terjaga di keikhlasan, kesabaran dan kebijaksanaan. Sukses selalu untuk kita semua.  




GALLERY
arsaddalimunte's bem fh unsoed 240213 album on Photobucket
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

10 April 2013 19.25

ijin copy bg...

10 April 2013 19.57

siappp Ambo...makin disebarluaskan, Insya Allah makin banyak hikmahnya..amin

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved