MEMBUDAYAKAN SIKAP KRITIS

Jumat, 22 Februari 20130 komentar


MENILIK REALITAS SOSIAL
DAN MEMBUDAYAKAN SIKAP KRITIS
DI KALANGAN KOMUNITAS INTELEKTUAL


Disampaikan pada acara Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Sapa Muda dengan tema ”Manifesto Gerakan Intelektual Sapa Muda KSiK Menuju Masyarakat Berkeadaban” yang dilaksanakan oleh Kelompok Kajian Islam dan Kemasyarakatan (KSiK) STAIN, Purwokerto, Jawa Tengah, 22 Februari 2013

A.  Pendahuluan : Sejenak Kilas Balik
 photo DSC09135_zps63ecd4b7.jpgDalam sejarah kehiduan bernegara Indonesia, kita pernah mengalami orde lama yang kemudian berganti dengan orde baru. Mahasiswa dengan ragam gerakannya sangat berjasa dalam mendorong terjadinya pergantian orde ini. Kemudian orde baru tumbang dan berganti dengan orde refomasi, lagi-lagi peran mahasiswa sangat kental dalam peralihan orde ini. Sebenarnya tak hanya pada tofik pergantian orde, gerakan-gerakan kaum muda pra- kemerdekaan sampai dengan terproklamasikannya kemerdekaan, mahasiswa dan kaum intelektual juga tak pernah ketinggalan  peran. Ragam fakta diatas menunjukkan bahwa mahasiswa telah membuktikan diri sebagai agen strategis pencipta perubahan.  Bagaimana dengan saat ini???. Akankah tercipta kembali perubahan melalui hasil pemikiran brilian dan gerakan mahasiswa yang murni didasari keinginan kuat keterciptaan hidup yang lebih sejahtera dalam arti luas??. Jawaban itu kembali ada pada mahasiswa itu sendiri.


B.  Kemapanan Melenakan
Perubahan lahir dari satu kondisi yang membuat tidak nyaman. Perubahan selalu didorong oleh keinginan atas iklim yang lebih baik dan berpengharapan. Perubahan selalu memuat agenda koreksi realitas yang disertai solusi integratif  yang didalamnya terkonsep secara sistematis tentang tujuan atau semacam impian. Persoalannya adalah, mungkinkah berharap perubahan datang dari situasi kemapanan?.

Pertanyaan ini menarik untuk dicari jawabnya, sebab hal ini membantu dalam tahapan auto koreksi seberapa jauh kaum intelektual bernama mahasiswa memiliki gairah untuk menjaga aura intelektualitasnya dalam bentuk kesadaran mengambil tanggungjawab moral atas realitas sosial kekinian. Jawab atas tanya itu  juga membantu dalam melakukan pemetaan obyektif apakah mahasiswa saat ini lebih memilih passive dan membiarkan diri sebagai obyek setiap perubahan atau mengambil inisiatif menciptakan keadaan-keadaan baru yang lebih berpengharapan bagi dirinya dan banyak orang.

Fakta menunjukkan,  realitas kekinian generasi muda (mahasiswa) banyak yang berada pada situasi mapan yang penuh dengan kemudahan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Era keterbukaan informasi membuat setiap orang bisa meng-akses satu kejadian di tempat nun jauh disana dalam waktu singkat dan berbiaya murah. Adakah ragam kemudahan telah membentuk mahasiswa menjadi karakter “serba instan” ??.  Apakah hal ini kemudian berpengaruh pada rendahnya “gairah” mahasiswa dalam membuat agenda-agenda perjuangan???.  Tanya ini layak menjadi bahan kontemplasi.


C.  Keluar Dari Zona  Zaman (Out From Comfort Zone).
 photo DSC09142_zps73b8942e.jpgAnak orang kaya yang memilih menikmati kemakmuran adalah orang yang potensial menderita dan hanya menjadi pengikut dimasa depan. Sementara itu, anak orang miskin yang hidup penuh keprihatinan, adalah orang yang potensial menjadi pemimpin dan pencipta perubahan di masa depan”.  Petikan kalimat ini layak didiskusikan untuk mencari pesan moral  yang ada di dalamnya.  Persoalan sesungguhnya bukan pada “miskin” atau “kaya”, tetapi pada keterlatihan dalam keadaan “keprihatinan”.  Dalam bahasa lugas, keprihatinan adalah mengikhlaskan diri dalam ketidaknyamanan yang disebabkan oleh keterbatasan keadaan ataupun karena keadaan yang diciptakan dengan sengaja. Keikhlasan yang dimaksud bukanlah identik dengan pasrah atau tak berbuat apa-apa, tetapi keikhlasan adalah sikap menerima kenyataan yang di ikuti semangat untuk menciptakan perubahan.  Sebagai catatan, tak ada perjuangan tanpa keprihatinan, karena keprihatinan adalah muasal dan sekaligus sumber energi untuk berjuang. Persoala                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             nnya adalah layakkah berharap daya juang datang dari seorang yang berada di zona nyaman???.  Sepertinya terlalu sulit menyusun solusi efektif persolan kemiskinan ketika mendiskusikannya di restoran mewah. Mungkin akan lebih baik bila konsepnya disusun di kampung kemiskinan dimana erangan lapar dari bocah kecil memekik rasa. Alasan utamanya adalah perlunya persoalan penghayatan dan chemistry untuk apa yang sedang diperjuangkan.

Perjuangan  lekat dengan keprihatinan. Ironisnya, terlalu sulit menemukan keprihatinan di zona nyaman (comfort zone), sebab  letaknya hampir selalu pada zona ketidaknyamanan. Kalau demikian adanya, pilihan terbaik untuk berjuang terdapat 3 (tiga) pilhan; (i) mendefenisikan ketidaknyamanan sebagai sebuah masalah yang harus ditemukan solusinya; (ii)  mendefenisikan kenyamanan sebagai sebuah ketidaknyamanan sehingga mengagendakan tema perjuangan; (ii)  keluar dari zona nyaman dan mengibarkan genderang perjuangan. Ini hanya persoalan pilihan dan pada poin manapun berketetapan semuanya memerlukan niat yang tulus dan upaya yang sungguh-sungguh.   


D.  Realitas Sosial dan Tanggungjawab Kaum Intelektual.
 photo DSC09147_zpsd1e067c3.jpgRealitas sosial adalah hasil akhir dari tarik menarik pengaruh ragam faktor yang  berujung dengan pilihan sikap dari masyarakat.  Proses yang demikian terus berulang dan membentuk dinamika hidup, sehingga hari kemarin menjadi sejarah, hari ini adalah realitas dan esok hari adalah masa depan. Tak ada yang bisa mengubah apa yang terjadi di hari kemarin, walau terkadang apa yang terjadi pada hari ini dan bahkan hari esok bisa dipengaruhi oleh apa yang terjadi hari esok. Namun demikian, hari ini dan hari esok sesungguhnya memberi pesan bahwa ada kesempatan membentuk keadaan seperti yang diinginkan lewat pengintegrasian instuisi, fikiran dan langkah konstruktif. Dalam situasi ini, kesadaran mengambil inisiatif menjadi penentu apakah semua akan mengalir seperti air ataukah terbentuk aliran air ke arah yang direncanakan. Ini pun persoalan pilihan saja.

Sebagai kaum muda intelektual, membiarkan keadaan tampaknya bukan pilihan menarik. Disamping memposisikan diri n menjadi obyek keadaan, pembiaran berpotensi membawa pada sesat fikir dan sesat perilaku. Artinya, sikap kritis diperlukan dalam mensikapi realitas dan hal-hal baru yang datang dalam kehidupan dirinya dan masyarakat. Sikap kritis bukanlah sebuah kejahatan, tetapi sebagai proses filterisasi (penyaringan) sebelum menentukan menerima sebagian, keseluruhan atau menolak sesuatu. Sikap kritis bukanlah bermakna anti perubahan, tetapi justru simbol semangat menggawangi perubahan agar bernilai kebaikan dan terhindar dari kemudhorotan. Sikap kritis tidak identik dengan ngeyel, sebab sikap kritis diwujudkan dalam sikap yang obyektif dan tidak berpihak pada kelompok tertentu yang memiliki hidden agenda yang bermuara pada hal-hal negatif.  Sikap kritis juga diperlukan dalam mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru bagi keterciptaan iklim masyarakat yang lebih positif. Sikap kritis diperlukan dalam segala aspek kehidupan. Sikap kritis juga diperlukan dalam rangka membudayakan keterbukaan. Sikap kritis juga diperlukan dalam membentuk budaya kreatif dan produktif dalam arti luas. Hanya saja, hasil pemikiran dan sikap kritis ini harus dikomunikasikan, di sosialisasikan dan di edukasikan dengan bijak, sehingga efektivitas dari maksud dan tujuan peng-kritisan berimplikasi positif bagi keterciptaan kebaikan-kebaikan baru. Disamping itu, pemikiran dan sikap kritis seharusnya bersih dari niat mambangun popularitas dan benar-benar dilandasi atas niat tulus untuk menyumbangkan kebaikan. Menjelma menjadi kelompok kecil eksklusif tanpa mem-bumi bukanlah sesuatu yang layak dibanggakan, sebab tak ada kebermaknaan bagi orang lain dengan cara itu. Bahkan eksklusifitas berpotensi membentuk kesombongan dan membawa pada keberhasilan semu. 

Oleh karena itu, sebagai kaum intelektual muda, mahasiswa harus membangun inisiatif  mewarnai realitas masyarakat agar lebih maju, lebih baik dan lebih bijaksana. Bagaimanapun juga, pada status mahasiswa terdapat tanggungjawab moral mencerdaskan masyarakat; khususnya golongan berpendidikan rendah. Langkah ini bukan hanya persoalan menyelesaikan tanggungjawab horizontal saja, tetapi juga menyelesaikan tanggungjawab keilmuannya di hadapan Tuhan. Ilmu dititipkan pada manusia untuk disebarluaskan. Ilmu yang dipercayakan Tuhan bukan hanya untuk mencerdaskan dirinya sendiri, tetapi juga harus bisa mencerdaskan orang lain dalam arti luas. Berilmu bukanlah alat untuk merendahkan orang lain, tetapi berilmu seharusnya membuat manusia lebih memiliki empati dan kebijaksanaan. Kalau ilmu yang ada bisa membuat seseorang hidup sejahtera, mengapa kemudian tidak menyebarluaskannya sehingga tercipta kesejahteraan ummat. Bukankah ada peluang kebaikan didalam langkah-langkah mempertinggi derajat orang lain???.

Sebagai mahasiswa, mulailah berfikir bijak dan menumbuhkembangkan kepedulian sosial. Sebab banyak hal-hal yang terjadi di kehidupan masyarakat yang memerlukan pencerahan agar mereka tidak salah melangkah dan terjerumus ke arah yang salah. Mahasiswa memiliki potensi besar pada penalaran dan keilmuan, sehingga mahasiswa bisa lebih jernih memetakan realitas dan juga melakukan serangkaian tindakan yang efektif. Saran ini bukan berarti tidak mempercayai struktur pemerintah  yang sudah komplit sedemikian rupa, tetapi lebih banyak yang peduli dan mengembangkan inisiatif, akan lebih cepat tercipta kesejahteraan masyarakat.


E.  Sekelumit Realitas Sosial Sebagai Inspirasi Awal Materi Perjuangan.
Perjuangan memerlukan obyek dan tema, sehingga terdefenisi fokus yang akan dibangun. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemetaan guna menentukan materi perjuangan yang akan dilakukan secara sistematis.  Sebagai stimulan, beberapa realitas sosial akan dijabarkan berikut ini  dalam pembacaan yang sangat sederhana, yaitu :
1.       Sikap Masyarakat Terhadap Perbedaan Ragam Aliran Islam. Saya tidak begitu faham bagaimana muasal lahirnya perbedaan faham yang kemudian didefenisikan sebagai aliran, tetapi yang menjadi perhatian dan bahkan keprihatinan saya adalah sikap masyarakat mensikapi sebuah perbedaan. Ini realitas sosial keagamaan yang memerlukan pembinaan, sehingga “perbedaan sebagai rahmat” diimplementasikan secara bijak sehingga tak ada golongan yang menganggap lebih benar ketimbang golongan lainnya, tak ada sikap meng-kafir kan orang lain dan yang terpenting tidak terjadi keresahan dan bahkan perpecahan  hanya karena akibat berbeda aliran. Sikap toleransi harus terbangun sehingga kondusifitas masyarakat terjaga.
2.       Konsumerisme. Dominasi kapitalisme dengan ragam produk yang ditawarkannya telah berhasil membangun konsumerisme di tengah masyarakat. Materialistis adalah sifat turunan berikutnya akibat suburnya budaya konsumtif . Hal ini tidak hanya pada pola konsumsi saja, tetapi berimplikasi luas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat, antara lain dijadikannya capaian materialitas sebagai indikator keberhasilan atau kesuksesan. Akibat berikutnya adalah individualisme, dimana semua orang  cenderung berlomba untuk saling mengalahkan. Bahkan tak jarang melakukan hal-hal tak tepuji hanya  untuk menjadi seorang pemenang  atau hebat. Lihatnlah mobil yang fungsi dasarnya adalah sebagai alat transportasi, sekarang sudah dikemas juga menjadi fungsi harga diri sehingga orang berlomba-lomba membeli mobil mewah. Lihatlah, bagaimana Hand Phone yang tadinya sebagai alat komunikasi dan sekarang dikombinasi menjadi fungsi gengsi. Tidak hanya di situ, rumah sakit dan bahkan pemakaman juga menerapkan kelas-kelas yang juga menggambarkan status sosial ekonomi masyarakat penghuninya. Kata “pemenang dan Hebat” telah berhasil menjadi  ikon yang menarik untuk dicapai  bagi kebanyakan orang.   Inilah propaganda sukses yang memang mereka ingin, sehingga masyarakat terjebak dalam konsumerisme yang berarti akan mendongkrak omzet dan keuntungan  dari industri yang mereka kelola.  Oleh karena itu, men-tema-kan solidaritas, kegotongroyongan, kesetiakawanan, mulai tampak menjadi aneh dan barang langka. Ini masalah serius yang memerlukan pengkritisan dan pensikapan yang  cerdas. 
3.       Modernisasi Hijab. Muasal hijab adalah persoalan menutup aurat kaum hawa, sehingga keterlindungan keindahan wanita terjaga dan potensi kriminalitas telah dicegah lebih dini. Namun demikian, hijab kemudian mengalami fase modernisasi begitu cepat. Secara ekonomi hal ini telah mendorong laju industri, namun disisi lain hal ini ber-efek pada penyuburan konsumerisme. Keindahan sepertinya telah disalah artikan, sehingga budaya narzisme menggejala dalam dunia hijab. Berpakaian baik dan indah yang seharusnya untuk suaminya telah berubah arah kepada persoalan ekspose dan eksistensi diri. Kesederhanaan berpakaian yang diagungkan islam tampaknya kian menjauh di realitas kaum perempuan. Adakah ini sebagai persoalan???. Yang jelas, pengungkapan hal ini bukan sebagai proklamasi anti modernisasi, tetapi sebuah ajakan untuk berfikir mensikapi realiras ini menjadi bijak. Adalah benar dalam tinjauan ekonomi kondisi ini menjadi peluang, tetapi mengambil keuntungan dan kemudian menciptakan kerusakan sosial juga bukanlah sesuatu yang bijak.
4.       Pola interaksi dan komunikasi antar jenis kelamin. Sinetron dan film telah sukses menjadi alat kampanye tentang komunikasi tak berjarak antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Kesakralan berduaan bagi insan berbeda jenis kelamin tanpa ikatan pernikahan telah luntur dan berubah menjadi serba bebas. Tak ada lagi kerikuhan dikalangan remaja atau dewasa atau kaum muda untuk bergandengan tangan, berkendaraan bermotor dengan posisi berdempetan dan bahkan lebih dari itu di depan khalayak umum. Ironisnya, masyarakat pun menerima hal ini sebagai sebuah perubahan iklim yang wajar. Adakah ini berawal dari lenturnya masyarakat menjaga nilia-nilai agama?. Ataukah efektivitas kaum ulama yang melemah dan melakukan pembiaran ?. Yang jelas, ini pun realitas sosial yang merupakan masalah serius.
5.       Ketergerusan Budaya Unggah Ungguh. Kampanye demokrasi dan perjuangan kesetaraan telah menyumbang tergerusnya paradigma unggah-ungguh. Disatu sisi demokrasi membuat hambatan komunikasi tergerus, tetapi disisi lain hal ini disalah artikan sebagai sebuah kebebasan tanpa batas dalam berpendapat dan berbuat. Demikian hal nya dengan pola komunikasi  antara yang lebih tua dan muda, sudah tidak terlihat batasan berlandaskan hormat, tetapi mengarah pada kesetaraan. Hal yang sama juga terjadi dalam hal komunikasi seorang anak dengan orang tua, seorang siswa dengan murid, seorang atasan dengan bawahan, seorang rakyat dengan pejabat, seorang menantu dengan mertua dan lain sebagainya. Disatu sisi perubahan iklim ini memiliki nilai positif, tetapi disisi lain menimbulkan keresahan sosial. Adalah benar bahwa “otoriterisme”  sangat mungkin subur dalam budaya unggah ungguh yang kuat, tetapi adalah sebuah masalah ketika rasa hormat hilang  hanya untuk alasan kesetaraan.  
-left: 18.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"> 6.       Sunatan. Sunatan adalah bagian dari kehidupan pemeluk islam, khususnya kaum laki-laki. Kalau zaman Rasulullah Muhammad SAW dilakukan dengan cara yang sangat tradisional, perkembangan ilmu kedokteran telah membuat proses pelaksanaan sunatan menjadi lebih modern. Bahkan pada perkembangan terkini, kita mendapatai adanya paduan hipnotis yang dikombinasi dengan ilmu kedokteran. Ini paduan formula kreatif yang tampaknya membuat proses sunatan lebih nyaman bagi yang menjalaninya. Persoalannya adalah apakah di tahapan-tahapan modernisasi proses sunatan ini ada yang berseberangan dengan kaidah Islam?. Beberapa anggota masyarakat juga bertanya pada saya, tetapi keterbatasan pengetahuan agama membuat saya tidak berani memberi jawaban dan kemudian menyarankan beliau untuk bertanya pada guru atau kyai yang mungkin lebih memahami persoalan ini.   
7.       Nikahan, Muallimahan dan resepsi. Ditinjau dari sudut tujuan, nikah adalah proses penghalalan hubungan dua insan berbeda jenis kelamin yang bukan muhrimnya. Sementara itu. Mu’allimahan adalah satu bentuk sosialisasi sehingga pasangan pengantin terhindar dari fitnah di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan resepsi adalah budaya yang di dalam agama islam tidak dipersyaratkan. Namun demikian, ntah mulai kapan respsi atau pesta yang merupakan budaya seolah menjadi rukun nikah, sehingga dianggap tidak afdhol kalau tidak dirayakan. Ironisnya, perayaan selalu di konversikan sebagai bagian dari harga diri keluarga, sehingga kemewahan respsi seolah menjadi tuntutan yang wajib hukumnya. Akibatnya, banyak yang menunda pernikahan karena belum siap menyelenggarakan pesta, artinya dalam hal ini budaya telah mengalahkan agama yang merupakan dasar utama berlangsungnya sebuah pernikahan. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau banyak anggota masyarakat yang memaksakan diri dalam menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan. Adakah ini untuk sebuah kata “hebat” ?. Ataukah harga “halal” kian mahal”.  Ataukah ini bentuk keberhasilan mengidentikkan skala pesta pernikahan dengan harga diri keluarga???. Ini pun masalah sosial yang memerlukan pengkritisan dan pensikapan yang bijak.
8.       Dan lain sebagainya.

Banyak lagi persoalan-persoalan yang menjadi realitas sosial yang meresahkan. Pengungkapan beberapa contoh diatas hanya stimulan bagi kaum muda intelektual agar termotivasi untuk menggali lebih dalam dan berinisiatif membentuk  solusi efektif.


F.  Penutup
 photo DSC09143_zpsb44149f0.jpgLuasnya kebermaknaan diri adalah referensi obyektif  bagi Tuhan dalam mendefenisikan seorang hamba baik atau tidak. Ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi dan semangat untuk berkarya, adalah modal penting dalam meningkatkan arti diri bagi masyarakat luas. Kehidupan hanyalah media untuk mengumpulkan bekal di hari akhir nanti dan kematian hanyalah menyisakan 3 (tiga) hal, yaitu; (i) anak yang soleh; (ii) sedekah jariyyah dan; (iii) ilmu bermanfaat yang diajarkan. Oleh karena itu,  mengpotimalkan waktu yang diberi Tuhan untuk melakukan hal-hal baik adalah sesuatu  yang layak di kembangkan. Satu hal yang menjadi catatan, ketauladanan adalah kunci efektivitas dalam membentuk pengaruh positif. Untuk itu, mari belajar bersama dalam meningkatkan kualitas diri dan sekaligus  berupaya memperluas kebermanfaatan bagi banyak orang sesuai dengan bakat yang ada pada diri kita masing-masing. Mulailah dari hal yang paling sederhana, sebab besar itu selalu berawal dari yang kecil. Pupuk lah keyakinan bahwa tak satu pun langkah kebaikan percuma, sebab Tuhan tak pernah tidur dan malaikat tak pernah lalai dalam mencatatnya.

Demikian disampaikan sebagai pengantar diskusi, semoga pemikiran sederhana ini menginspirasi gairah untuk melakukan hal-hal bernuansa kebermanfaatan bagi banyak orang. Amin Ya Robbal ‘alamin.



 GALLERY
arsaddalimunte's ksik album on Photobucket
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved