MEMBANGUN KOLEKTVITAS PENGUSAHA

Selasa, 18 Desember 20120 komentar


Disampaikan pada acara “Temu Usaha Lintas Stakeholders”, 
  diselenggarakan oleh BPMPP Kab.Banyumas, tanggal 18 Agustus 2012,di Purwokerto, Kab.Banyumas, Jawa Tengah. 


MEMBANGUN KOLEKTVITAS PENGUSAHA
Sebatas Mimpi KAH ???


A.  Pembuka: sebentuk catatan kecil
PhotobucketBerbicara di hadapan para pelaku dunia usaha bukanlah satu perkara mudah, karena para pengusaha adalah orang-orang kreatif, kaya gagasan, sudah merasakan asam garam alias berpengalaman dan memiliki mental yang mapan dalam mensikapi segala suasana. Oleh karena itu, perkumpulan semacam ini adalah  momen strategis untuk saling menyemangati dan saling berbagi informasi dan pengalaman. Bahkan bukan hal mustahil, pertemuan semacam ini menginspirasi gagasan-gagasan baru yang mungkin dikembangkan kemudian. Mungkin, pertemuan ini lebih tepat didefenisikan sebagai ajang silaturrahmi dan sekaligus penjajagan terbentuknya satu kerjasama yang saling menguntungkan dalam makna luas. 

Berkontemplasi dan mencoba memandang tema yang diminta panitia dalam waktu  cukup lama, sepertinya tema “membangun kolektivitas” berisi satu pesan bijak yang layak menjadi bahan perenungan bersama. Sebab didalam thema tersebut mengandung  mimpi besar  berkaitan dengan pertumbuhan geliat dunia usaha di lingkungan Kabupaten Banyumas. Tampaknya, adalah  tema menarik untuk mengkaji kemungkinan melakukan penyatuan kepentingan dalam nuansa kebersamaan diantara para pelaku dunia usaha. Satu hal yang menjadi catatan penting, sesungguhnya hal ini bukan perkara mudah  walau bukan tidak mungkin mewujudkannya ketika semua memiliki keyakinan yang cukup dan belajar mempercayai satu sama lain.  


B. Efektivitas Gaung Investasi dan Sebentuk Tanya Besar
Untuk 5 (lima) tahun terakhir Pemkab Banyumas menggalakkan investasi, sebuah tema yang mendorong tumbuh kembangnya produktivitas masyarakat Banyumas dalam arti luas. Berbagai sarana dan prasarana disiapkan oleh pemkab dengan harapan mampu menggairahkan para pelaku usaha mengembangkan usahanya di wilayah Banyumas.

Tema ini tampaknya efektif dan mampu menggairahkan dunia usaha. Beberapa perusahaan berbenah dan disisi lain project berskala sedang  dan besar mulai berdiri dan bahkan sebagian sudah beroperasi. Situasi ini tentu menggembirakan, karena investasi bukan hanya sebatas berdirinya perusahaan-perusahaan ber-skala besar, tetapi juga melahirkan multiplier effect yang dalam satu kalimat dijelaskan sebagai media peningkatan kesejahteraan dalam arti luas.

Tanpa bermaksud bersikap primordialis, terbersit tanya seberapa besar prosentasi peran pemain lokal dari pertumbuhan  investasi tersebut..???. Sekali lagi, ini bukan primordialis atau fikiran sempit ditengah pemberlakuan AEC (Asian Economic Community) yang sudah di depan mata (diberlakukan tahun 2013), tetapi tanya ini dimaksudkan untuk membangun gairah produktif dari para pelaku usaha di Kab.Banyumas.  Adalah hal yang tidak lucu, ketika Kabupaten Banyumas yang dikaruniai banyak potensi tetapi para pemain lokal hanya menjadi penonton atau hanya mengambil bagian kecil dari hal besar yang sedang mereka lakukan di Kabupaten Banyumas. Sentimen semacam ini layak dijadikan sebagai sumber spirit bagi terbentuknya lompatan karya dari para pemain lokal. Hal ini menjadi penting  dan sesungguhnya berpeluang untuk  dicapai.


C. Ketika Semangat dan Mental Penentu Skala Usaha
Dalam banyak buku dan juga pengalaman empiris beberapa pengusaha sukses menyepakati bahwa bisnis sesungguhnya 95% persoalan semangat & mental  dan 5% tentang operasional teknis. Hal ini bisa dimenegrti, karena usaha tidak hanya tentang ketajaman instuisi tetapi juga menyangkut mental alias keberanian mengambil satu keputusan.  Sebab,    keberanian mengambil keputusan bukan hanya dikarenakan bayang indah sebuah keberhasilan tetapi juga tentang  kesiapan atas resiko yang mungkin muncul kemudian akibat dari sebuah keputusan. Cara baca inilah kemudian melekatkan dunia usaha dengan kata “spekulasi” yang didefenisikan sebagai pilihan sikap dari proses kombinasi ketajaman instuisi ,  akal terbaik dan nyali yang kuat.

Sesungguhnya, semua keberanian bukan tanpa kekhawatiran, tetapi kemampuan menepis kekhawatiran dan keberhasilan-keberhasilan yang  terakumulasi, secara alamiah memupuk dan mempertebal keberanian untuk melangkah ke level  yang lebih besar. Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan sesungguhnya merupakan imbas dari akumulasi efektivitas berbagai strategi dan langkah di sepanjang proses perjalanannya. Artinya, hampir semua yang  besar berawal dari kecil walau hal ini bukan bermakna peran semangat dan akal tak bisa mempercepat prosesnya.

Pada akhirnya, pertumbuhan semangat dan mental linier alias sejalan dengan pertumbuhan skala usaha.  Pertanyaan menarik adalah seberapa besar semangat dan upaya para pelaku usaha  di  Kab Banyumas????.


D. Mengintip “Peta dan Gaya”
Kapasitas pelaku usaha  memiliki hubungan erat dengan luas usaha  yang digarap. Kapasitas tidak hanya menyangkut persoalan kekuatan modal tetapi juga tentang keluasan visi dan pola pengelolaan usaha. Visi sebagai refresentasi semangat dan cita-cita  merupakan sumber inspirasi dan energi dalam  menata tahapan-tahapan dalam proses perwujudannya. Dengan kata lain, keluasan visi  dan  kualitas tahapan-tahapan memiliki relevansi kuat tentang luasan usaha yang akan tercipta. 

Oleh karena itu, menjadi menarik untuk mengintip peta dan gaya  perusahaan-perusahaan yang ada di purwokerto, sebagai bagian dari cara untuk memprediksi seberapa jauh “tema investasi”  linier terhadap pertumbuhan gairah pelaku usaha untuk menumbuhkembangkan usahanya.

Sebagai awalan, berikut  dipaparkan sebentuk hasil pengamatan (baca: bukan penelitian ilmiah) yang  mungkin bisa menjadi inspirasi awal . Sepanjang pengamatan dalam 5 (lima) tahun terakhir, perusahaan-perusahaan di lingkungan Kab. Banyumas (mulai dari skala mikro sampai besar) dapat di golongkan menjadi 2 (dua) gaya yaitu :
1.             Berbasis Instuisi. Golongan ini menempati porsi  mayoritas (lebih kurang 75%). Perusahan-perusahaan semacam ini lebih di dominasi oleh ketajaman instuisi bisnis sang pengusaha dan kemudian dioperasionalkan dengan pola yang belum teratur, seperti belum adanya perencanaan yang rigit, kontrol yang masih berbasis kepercayaan murni, hubungan dengan karyawan layaknya majikan–buruh dan lain sebagainya. Perusahaan semacam ini relatif tumbuh secara alamiah berdasarkan perkembangan ketajaman dan perkembangan instuisi bisnis sang pengusaha. Pola hubungan “majikan-buruh”, membuat sang pengusaha memiliki “powerfull” dan karyawan berposisi pelaksana murni yang hampir tidak memiliki  keberanian dan kesempatan  menyumbangkan gagasan dan pemikiran dalam melakukan inovasi-inovasi baru. Bila terjadi kegagalan dalam jenis ini sulit untuk dilakukan review, disamping terbatasnya data pendukung, juga disebabkan belum adanya konsep perencanaan yang matang dan bersipat jangka panjang. Akibatnya, kegagalan hanya bisa dievaluasi berdasarkan ingatan saja.  
2.             Berbasis Kombinasi Instuisi dan Manajemen. Golongan ini menempati posisi lebih kurang 25%  yang kemudian berdasarkan pelakunya dibagi  menjadi 2 (dua) yaitu; (i) perusahaan lokal sekitar 25% dan; (ii) 75% perusahaan-perusahaan cabang dari kota-kota besar di Indonesia. Pada pola ini, ketajaman instuisi dalam membaca atau membentuk peluang bisnis di ikuti dengan satu analisa dan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, biasanya perusahaan semacam ini melibatkan SDM-SDM berkualitas yang tergabung dalam manajemen. Dalam operasionalisasinya,  manajemen berperan sebagai intrepreter gagasan owner (baca: sang pengusaha) ke dalam tindakan-tindakan yang terencana dan terukur  serta teroperasionalkan secara sistematis. Pertumbuhan perusahaan jenis ini tentu lebih terukur dan pengembangan visi perusahaan lebih memungkinkan. Budaya pengelolaan pun memiliki ke-khas-an yang terbentuk melalui serangkaian tahapan yang berkesinambungan.
 
Sebenarnya, 2 (dua) gaya ini adalah persoalan pilihan saja, sebab tak ada satu pun yang berani menjamin kalau gaya yang satu lebih unggul dibanding gaya lainnya pada urusan hasil akhir. Hanya saja , ketika logika berkehendak untuk menilik dan sekaligus menganalisa detail proses sejak awal sampai ke akhir, gaya yang ke-2 (dua) lebih memberi bantuan kemudahan . Demikian juga dalam halnya ketika perusahaan ingin  mengembangkan mutual partnership (kerjasama saling menguntungkan) dengan berbagai pihak, tentu gaya ke-2 lebih berpeluang dikarenakan tersedianya data-data historis dan terukurnya performance perusahaan lewat capaian-capaian yang dilakukan oleh sang owner dan manajemen,


E. Menggagas Kolektivitas Sebagai Sebuah “Cara”
PhotobucketKolektivitas identik dengan kebersamaan. Kolektivitas merupakan tidakan penyatuan potensi untuk meng-akselerasi ketercapaian tujuan-tujuan pribadi masing-masing orang yang  tergabung di dalamnya. Keterbangunan kolektivitas membutuhkan keyakinan dan saling percaya.  Kolektivitas juga memerlukan komitmen semua pihak untuk saling menjaga, saling asah, saling asih, saling asuh. Intinya, kolektivitas terbentuk untuk mempertinggi nilai sebuah kerjasama. 

Dalam lingkungan usaha, kolektivitas merupakan salah satu cara alternatif dalam mengakslerasi dan sekaligus mengembangkan tujuan-tujuan yang lebih besar. Sebagai satu perhatian, dalam era bisnis yang hyper competitive seperti saat ini, bekerja sama (baca: kolektivitas)  adalah salah satu cara bentuk strategi bertahan (survive) dan atau  berkembang.

Fakta menunjukkan, banyak yang punya gagasan tetapi tidak memiliki sarana yang cukup untuk merealisasikannya dan disisi lain ada yang memiliki sumber daya yang cukup tetapi tidak memiliki gagasan untuk pemanfaatannya. Ketika kedua belah pihak  dipertemukan, maka peluang penciptaan sinergitas dari keduanya menjadi sangat mungkin. 

Pada perusahaan sejenis yang memiliki market sama, kerjasama bisa bermakna penyatuan pasar. Pola kerjasama semacam ini tidak hanya akan menghilangkan tensi persaingan, tetapi juga peluang peralihan energi dari saling mengalahkan menjadi saling memperkuat. Pada perusahaan yang memiliki hubungan siklus produksi, misalnya perusahaan bahan baku dengan perusahaan pengolahan lanjutan, kerjasama bisa berfungsi saling memperkuat dalam hal keterjaminan produksi. Pada perusahaan-perusahaan yang ingin membangun “mimpi besar” tetapi memiliki keterbatasan modal, maka kerjasama adalah alternatif yang sangat mungkin untuk ditempuh. Demikian seterusnya yang bisa dibentuk  berdasarkan kesamaan visi dan juga  kepentingan. 

Dalam tinjauan pra-syarat,   ada 2 (dua) hal minimal yang  harus terpenuhi sebelum membentuk kerja sama, yaitu :
1.       Saling mempercayai.  Kepercayaan adalah modal terpenting  dalam membangun kerja sama yang nyaman dan langgeng.  Kepercayaan tidak lahir dalam waktu singkat, tetapi merupakan akumulasi dari track record (rekam jejak) kebaikan dan konsistensi.  Oleh karena itu, setiap pengusaha secara sadar harus membangun mesin reputasi dalam bentuk karya-karya nyata. Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa  reputasi tidak bisa dibentuk lewat  manipulasi persepsi, sebab waktu akan menguji keabsahan reputasi itu sendiri.  
2.       Kebermanfaatan. Dalam perspektif  produktivitas,  kemitraan yang terbangun di antara pelaku usaha men-syaratkan adanya perekat berbentuk peningkatan nilai kebermanfaatan. Dengan demikian, bayang kebermanfaatan itu akan menjadi penyemangat dan sekaligus sumber energi dalam proses pencapaian hal-hal yang dikerjasamakan.    

Sementara itu, dalam tingkatan operasional dan kelanggengan,  kerjasama memerlukan beberapa kondisi yang antara lain :
Semua berharap kelanggengan sebuah kerjasama. Namun demikian, terkadang kenyataan tak seperti harapan. Ada beberapa hal yang sering menjadi faktor retaknya sebuah kerja sama, antara lain :
1.       Konsistensi. Terkadang sebelum kerjasama dua belah pihak bisa saling menjaga konsistensinya.  Namun demikian, pada tahapan  operasionalisasi kerja sama sering muncul in-konsistensi yang berakibat salah satu pihak merasa di rugikan. Pada titik inilah mulai muncul konflik yang tak jarang berujung pada berakhirnya sebuah kerjasama yang sebenarnya saling menguntungkan.
2.       Transparansi. Transparansi atau keterbukaan adalah persyaratan mutlak langgengnya sebuah kerjasama.  Namun demikian, terkadang hal ini sulit diwujudkan ketika salah satu pihak ingin mengambil keuntungan sepihak secara diam-diam.
3.       Permasalahan Ber-bagi. Inilah persoalan yang sering menjadi faktor utama retaknya sebuah kerjasama. Berbagi bukanlah perkara mudah, sebab berbagi tidak hanya sekedar urusan membagi yang adil, tetapi juga menyangkut keikhlasan menerima bagian, baik dalam hal tanggungjawab maupun dalam hal “menikmati hasil”. Ini persoalan mentalitas dan karakter.
4.       dan lain sebagainya

Sebagai stimulan berikut ini dijabarkan beberapa gagasan yang mungkin bisa menginspirasi dan atau memang sudah dilaksanakan diantara beberapa perusahaan di lingkungan Kab.Banyumas, yaitu :
1.       Kerjasama Internal. Gagasan ini tampak aneh, tetapi pola komunikasi dan interaksi owner dan karyawan seungguhnya memiliki nilai strategis bagi pengembangan perusahaan.  Sebagai sebuah catatan, pengusaha adalah individu kreatif yang selalu ber ide dan berkeputusan, namun tangannya tetap hanya 2 (dua). Artinya, dalam mengintrepretasikan ragam gagasan ke dalam satu tindakan terencana, teratur dan terukur, sang pengusaha membutuhkan orang lain yang kemudian biasa disebut karyawan atau manajemen. Kalau demikian adanya, hakekat pola interaksi pengusaha dan karyawan adalah kerjasama saling menguntungkan. Oleh karena itu,  keberadaan karyawan dari sekedar orang yg sering dipersepsikan menumpang hidup sepertinya lebih bijak ketika dijadikan partner yang saling memperkuat. Hal ini bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi cara baca semacam ini akan mempengaruhi pola komunikasi dan interaksi menjadi lebih apresiatif dan pada akhirnya berpengaruh pada penciptaan akselerasi  dalam pencapaian visi perusahaan. Pola komunikasi dan interaksi seperti  majikan-kuli sepertinya sudah saatnya di tinggalkan. Superioritas sudah saatnya diganti dengan super tim demi terciptanya akumulasi energi yang akan mempertinggi peluang peningkatan hasil akhir.
2.       Kerjasama dalam hal kualitas output dan kontinuitas produksi. Hal ini bisa diaplikasikan pada usaha-usaha yang sejenis, seperti penyedia bahan baku, pengolahan lanjutan dan bahkan pemasaran barang jadi.  Dengan demikian, kualitas dan kuantitas produksi menjadi lebih memungkinkan dan semua pihak yang terlibat dalam siklus produksi sampai penjualan akan besar bersama. 
3.      Kerjasama pemasaran. Sering kita mendengar bahwa banyak yang bisa melakukan produksi tetapi memiliki keterbatasan dalam hal memasarkan, baik karena terbatasnya informasi market, keterbatasan dalam hal sarana distribusi dan keterbatasan lainnya. Pada hal yang demikian, kerjasama pemasaran adalah solusi yang paling tepat untuk diambil. 
4.      Kerjasama Teknologi. Dalam zaman yang kian canggih seperti sekarang ini, pelibatan teknologi dalam siklus operasional usaha menjadi sebuah kebutuhan. Namun demikian, disisi lain, pelibatan teknologi terkadang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Disinilah peran kerjasama  berpeluang menciptakan apa yang di sebut “efisiensi kolektif”.  
5.      Kerjasama permodalan. Fakta menunjukkan bahwa sering seorang pengusaha mendapatkan satu peluang  jangka pendek tetapi memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan modal dan sarana pendukung lainnya. Namun disisi   lain,  terkadang ada pengusaha yang sedang memeiliki  idle cash alias uang nganggur. Kerjasama semacam ini efektif untuk saling mendukung.    
6.      Kerjasama investasi. Bicara investasi dalam skala menengah dan besar memang memerlukan modal yang tidak sedikit, sehingga terasa berat dan bahkan menjadi tidak mungkin bila di emban sendirian. Namun demikian, ketika di gotong rame-rame melaui satu ikatan kerjasama yang kuat, maka hal-hal besar menjadi sangat mungkin untuk dilakukan. Hal ini patut menjadi masukan bagi pra pelaku usaha, sehingga peluang melakukan lompatan karya lebih terbuka. 
7.       Dan lain sebagainya.  


F.  Penutup
Kolektivitas adalah sebuah pilihan strategis untuk masuk ke area bisnis yg lebih besar. Disamping berpotensi  saling memperkuat, penyatuan market, pengurangan tensi kompetisi yang berujung pada konflik berkepanjangan, menciptakan efisiensi,  kolektivitas juga bagian dari cara meminimalisasi resiko mungkin muncul kemudian. Kolektivitas juga meningkatkan peluang perusahaan-perusahaan lokal dalam menangkap peluang investasi berskala besar di lingkungan Kab.Banyumas.

Namun demikian, apakah menjadi pemain utama., menjadi penonton atau menjadi bagian kecil dari investasi yang dimainkan orang lain dan bahkan menjadi karyawan di daerah sendiri , sesungguhnya semua itu hanya persoalan pilihan. Semua pilihan terbuka dan tergantung cara memaknai dan mengintrepretasi setiap kondisi yang ada, sebab pilihan atas sesuatu sangat tergantung keyakinan dan mindset  masing-masing orang.

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga pemikiran sederhana ini menginspirasi kebaikan dan memantik gairah untuk melahirkan karya-karya spektakuler yang mempunyai efek luas bagi peningkatan kesejahteraan, khususnya rakyat Banyumas. Satu hal  yang menjadi catatan akhir, pertumbuhan perusahaan bukan hanya persoalan pertumbuhan laba saja, tetapi juga  perluasan kebermanfaatan bagi banyak orang. Amin. 


================================================================================

PROCEEDING PERTEMUAN



Pembukaan jam 10.30 wib

A. Peserta :

  1. Kepada BPMPP Banyumas (cq. Bapak Suryanto)
  2. Kabag.pemasaran Inevstasi BMPP (cq. Pak Haris)
  3. Kasubid kerjasama bid promosi (cq.Pak tasroh)
  4. Staff di linkungan BMPP Kab. Banyumas
  5. Staff di lingungan Disperindagkop Kab. Banyumas
  6. Assosiasi-Assosiasi dan pengusaha Kab. Banyumas
  7. Nara sumber :
    • Direktur Kredit Bank Surya Yudha (cq. Abdul Khoir)
    • Wakil ketua Kadin  (cq. Muhammad Arsad D)

B. Sambutan Kepala BPMPP Kab. Banyumas;
  • Ada 5000 pengusaha di purwokerto.
  • Agresivitas masih kurang dalam hal investasi.
  • Evaluasi atas kinerja investasi ; auto koreksi, mulai pelayanan maupun regulasi.
  • Peningkatan iklim investasi kondusif dan mengajak segenap pelaku dunia usaha meningkatkan gairahnya menanamkan modalnya di wilayah Banyumas.
  • Di kab banyumas sedang dibangun pabrik semen yang menyerap 2000 tenaga kerja.
  • Kawasan Industri di arahkan di wilayah wangon, ajibarang dan sebagian kemranjen dan tambak. Untuk industri kecil di pusatkan di Sokaraja.  
  • Berharap pelepasan tanah untuk kepentingan investasi tidak menggunakan pihak ke-3, tetapi langsung oleh pengusaha/perusahaan yang berinvestasi.
  • Tahun 2013 BPMPP akan membuat kebijakan tentang pembangunan perumahan dengan membuat peta sasaran lokasi pemukiman sesuai RURTK.  Oleh karena itu, kepada pengembang disarankan agar  jangan tergesah2 membeli tanah sebelum mengkomunikasikannya dengan pihak investasi pemkab banyumas.
  •  Banyak potensi Banyumas tetapi digarap oleh pihak eksternal, sementara pemain lokal hanya memainkan hal-hal  kecil. Seperti semen, kuliner dan lain sebagainya yang di lakukan oleh pengusaha luar.
  • Diharapkan kepada KADIN Banyumas untuk bisa membantu memberi pencerahan dan solusi agar gairah para pengusaha bisa tumbuh dalam hal berinvestasi. 

C. Testimonial Bank Surya Yudha (BSY)
Berdiri 1992, modal awal Rp 120 dan karyawan Rp 13 juta. Sang pendiri alumnus bank of Tokyo.per 29 sept 2012 assetnya lebih dari 1 triliun, 861 karyawan. Sebuah karya yang menginspirasi.

D. Diskusi
  1. Bu Ani, Pengusaha Gas Elspigi 3 kg.
    Antara wong dan uang. Apa yg kita dapat yang sesuai jatah yg ada. Bagaimana mengembangkan investasi di luar sektor migas yang sedang ditekuni. Mohon arahan dan gagasan.    
  2. Pak Yusron (Produsen Paving).
    Membangun komunikasi dengan kawan2 produsen paving. Perlu kebijakan pemda dalam membantu dan membina pelaku usaha di lingkungan banyumas, misalnya tentang spec pekerjaan di pemerintahan disesuaikan dengan kemampuan pengusaha lokal. 
  3. Bapak Mukhotif/ cilongok.
Produsen gula kelapa. Kami mengalami masalah persoalan perizinan, sebab hal ini menghambat dalam hal pemasaran.  
  1. Taufik Nur Rohman. Pengusaha Jamur. 
    Bagaimana cara menjaga spirit kolektif agar sebuah kelompok tetep terjaga sebagaimana niat awal pebentukannya.

E. Saran yang berkembang.
Kadin atau assosiasi layak memperjuangkan spec yang bisa dipenuhi oleh pemain lokal. Disamping itu, diikuti dengan pembinaan kualitas.    


Acara di tutup jam 14.00 wib


18122012 Bpm Pp
GALLERY
arsaddalimunte's BPMPP BANYUMAS album on Photobucket
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved