MBATIN SEORANG IBU

Sabtu, 10 November 20120 komentar

Sesaat kalian larut dalam tawa di keselarasan tema, sesaat kemudian kalian gontok2an di perbedaan pendapat atas sesuatu dan bahkan tak jarang berujung dengan erangan tangis yang memekakkan telinga.  

Kalian sering berantem dan saling meng-ekspresikan emosi, terkadang kubiarkan semua itu berlangsung  sampai tahap tertentu, karena ku fikir itu cara kalian berproses menjadi  lelaki gagah. Kadang ku biarkan kalian berantem sampai ada yang menangis, sebab aku ingin kalian belajar mengerti kata sakit di pukul, sehingga kalian pun tak sembarangan mengeluarkan pukulan. Aku pun ingin melihat, bagaimana satu dari kalian menikmati kemenangan bercampur rasa berdosa karena  ada yang menangis diatas kemenangan itu. Uniknya lagi, beberapa  menit kemudian kalian sudah berdamai  dan asik bercengkrama dalam canda tawa seolah kalian sudah melupakan perkelahian sengit yang baru saja berlangsung. Kalian memang anak kecil yang masih jauh dari mengenal apa itu kata"dendam".



Suatu waktu, tiba2 kalian menyusul ke dapur saat ku sibuk dengan piring2 kotor selepas kita makan berjama'ah. Saat kalian berinisiatif membantu, ku puji kalian walau sering berujung penyampaian permohonan atas mainan yang sangat ingin kalian miliki. Hmmm...akal cerdas berstrategi empati dalam bermohon, fikirku. Di suatu waktu lain, kalian mendekati  dan memelukku saat merebahkan badan sejenak   menghilangkan lelah...hmmm ternyata  satu dari kalian mau minta maaf karena di kertas ujian  salah 2 (dua) sehingga hanya mendapat nilai 8 (delapan)...akal kalian memang tak pernah habis  hingga aku hampir tak mempunyai kesempatan untuk marah. 




marahku pun sering berubah senyum tawa seketika  karena kalian   memilih untuk saling menyalahkan ketika aku protes  berantakannya kamar yang baru saja di rapikan, padahal secara nyata kalian bertiga lah pelakunya. Aku pun harus berperang dengan acara TV hanya untuk menggiring kalian belajar dan mengerjakan PR sekolah. Sering, aku harus menggelandang kalian dari depan layar TV menuju kamar mandi, karena jam sudah dekat dengan waktu keberangkatan sekolah. Ups..saat aku mendengar TV menyala lagi, si bontot mengatakan mumpung mas lagi giliran mandi. Hmm...kamu cerdas memanfaatkan peluang waktu, gumamku saat itu. Di kadang yang lain, aku harus merayu bangun untuk menghindari keterlambatan sekolah. Terkadang aku harus membiarkan kalian tak mandi seharian, karena acara TV di hari minggu tak putus2nya menawarkan acara yang menarik bagi kalian. Tak jarang aku harus mengalah dan tidak menonton infotainmen favouritku, karena saat bersamaan ada acara pavourite kalian. Gelinya lagi, satu dari kalian melepaskan fatwa  bahwa infotainmen tak di sukai Tuhan, sambil menggeser channel TV tanpa perasaan berdosa.  Aku fikir malam adalah saatnya  menikmati sinetron kesukaanku, tetapi saat sama ada pula  stasiun TV lain mempertontonlan film cartoon kesukaan kalian. Akhirnya, aku hanya memanfaatkan untuk memindahkan chanel saat berlangsung iklan di chanel pavourite kalian.  Tingkah kalian pun tak jarang  mengundang gelak tawa, celetukan lugu kalian sering membuatku  sakit perut karena tak terduga datangnya dan  di ucapkan oleh anak sesusia kalian. Mulai dari menirukan iklan TV, atau  ekspresi genuine dari khayal kalian tentang sebuah peran atau reaksi spontan kalian atas apa yang kalian lihat, kalian dengar dan atau kalian rasakan. Terkadang ada yang berdeklamasi dengan kalimat tidak berhubungan satu sama lain, kadang bernyanyi dengan nada yang jauh dari aslinya, kadang berpidato layaknya seorang orator ulung, kadang menjerit memekakkan telinga seisi rumah, kadang berbahasa inggris dengan vocabulary yang tak kutemukan di kamus. Terkadang kalian berebut makanan yang baru saja diangkat dari wajan hanya untuk memenangkan jumlah. Terkadang kalian bertanya sesuatu yang sulit aku jelaskan mengingat usia kalian.     Kalian benar-benar  makhluk titipan Tuhan yg unik dan telah  menjadi "bahan pelajaran" yang  up date setiap saat. 


Aku hanya belajar untuk selalu senyum dan mencoba menyampaikan pesan-pesan edukatif dan motivasional ketika  menemukan momen strategis seperti saat ada yang menangis karena kalah berantem, saat ada yang mendapat nilai jelek karena terlalu banyak main, saat  jalan-jalan  di akhir pekan dan atau saat wajah kalian menunjukkan aura siap  menerima nasehat dariku. 

Di saat-saat  kesabaranku hampir mencapai puncaknya, ku ingatkan diriku bahwa aku pun pernah menjadi seperti kalian, menjadi seorang anak dengan segala tingkahnya.  Ketika kalian bersekolah atau sedang ikut jalan-jalan bersama pakde ke tempat mbah , rumah terasa begitu sepi. Terasa begitu mendamaikan di jam pertama, tetapi kemudian berubah menjadi rindu dengan segala kebisingan rutin dan terlatih di telingaku. Terkadang, saat aku lelah dengan segala dinamika hidup, kecupan dan pelukan yang datang tiba-tiba  seketika menjadi sumber energi untuk terus melangkah menjalani hidup penuh liku. 


Kupandang kalian tertidur pulas.....aku berjanji akan menjadi Ibu terbaik bagi kalian di sepanjang hidupku.  Ku panjatkan pada Tuhan untuk diberi kesempatan membawa kalian ke titik keberhasilan, titik dimana kalian akan tumbuh menjadi insan soleh, bahagia dan membawa kebaikan bagi manusia lainnya. Amin... 


                                             Di sudut kamar berantakan
                                             Buah kenakalan dan kecerdasan 3 (tiga)  lelakiku


                                             Sekelumit suara bathin seorang ibu
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved