KETIKA NASI BUNGKUS ITU TUMPAH...

Sabtu, 03 November 20120 komentar


Setelah menahan lapar karena ketanggungan kerjaan, kemudian  Mukzi  bergegas turun ke lantai 01 di mana cafe menawarkan ragam menu berselera. Mukzi memilih menu yang paling sederhana dan minta di bungkus. “Pakai sendok pak?”, tanya sang pelayan yang juga staffnya. Mukzi bilang;” ndak usah, saya kan orang kampung dan terbiasa makan pakai tangan”. Sesaat kemudian mukzi menyerahkan uang Rp 5.500,oo dan kemudian naik lagi ke lantai 02 menuju ruangannya.


Setelah menutup ruangan kerjanya, mukzi menuju kursi sofa dan saat mau duduk karet bungkusan makanan itu mau lepas dan mukzi terlambat bereaksi sehingga makanan itu pun tumpah ke lantai. Astaghfirullah....spontan kata itu keluar dari mulut mukzi.

Mukzi tersenyum menyaksikan hal itu, kemudian memunguti nasi  tumpah di lantai itu dan memungut dan mengumpulkannya  kembali ke daun pembungkusnya. Saat memungutnya, di memori mukzi terbayang para pemulung yang sering melakukan seperti apa yang sedang di lakukannya saat itu. Setelah terkumpul, kemudian dia makan nasi itu sambil membayangkan sedang berada di pojok tumpukan sampah.  

Sambi melahapnya,  air mata mukzi menetes. “Ini belum seberapa dari apa yang dilakukan oleh para pemulung itu setiap harinya demi mengisi perut yang lapar”, ujarnya dalam bathin sambil terus mengunyah makanan itu. Bayang anak kecil sedang lahap hasil mengumpulkan sisa makanan orang lain di samping tumpukan sampah menguat di ingatannya. Bayang itu membuat mukzi lebih lahap walau sesekali dia merasakan seperti mengunyah sesuatu yang keras. Mungkin itu dari tinggalan dari telapak sepatu tamu yang baru saja keluar dari ruangannya beberapa jam yang lalu. Dia nikmatin terus makanan itu  sampai butir nasi terakhir.

Setelah minum air putih segelas, dia terpaku memandangi bungkusan nasi yang sudah bersih itu. Air matanya keluar lagi...rasa syukur kepada Sang Pencipta dia kuatkan dalam hati. Dalam benaknya berkata “masih banyak orang lain di luar sana yang belum tentu bisa makan sekali sehari karena di himpit oleh masalah ekonomi atau kemiskinan yang akut”.

Tok..tok...tok..dan kemudian pintu ruangan mukzi terbuka, ternyata staff mukzi  masuk mau berpamitan pulang duluan. Saat mendapati lantai ada bekas tumpahan makanan, staff itu bertanya apakah ini tumpahan nasi. Mukzi menjawab iya dan saya sudah makan hasil tumpahannya. Astaghfirullah....spontan staffnya berujar dengan nada kaget. “Bapak kan bisa panggil saya untuk membersihkan lantai dan memesankan kembali makan siang di lantai 01”, kata staff nya dengan mimik yang serius. Kemudian mukzi berkata; “ndak papa kok mbak, pasti Tuhan punya pesan baik atas tumpahnya nasi itu. Disamping itu, saya memakannya sebagai salah satu cara  belajar untuk lebih memahami penderitaan sebagian orang di luar sana dan sekaligus membangun  rasa yukur atas kasih sayang Tuhan. Saya berharap, penghasilan karyawan terendah dari perusahaan ini benar-benar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya”. “Iya pak”, kata sang staff  yang terperangah dengan jawaban sang pimpinan. Sesaat kemudian, staff tersebut berpamitan pulang duluan dan meninggalkan ruangan dengan langkah gontai. Mungkin di benak staff itu masih tak percaya atas apa yang dia dengar dan lihat.   
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved