SISI LAIN DARI PERLOMBAAN MATEMATIKA

Minggu, 21 Oktober 20120 komentar



Berduyun-duyun  para orang tua bersama anaknya ke sebuah supermarket untuk mengikuti perhelatan sebuah lomba matematika.  Perlombaan kali ini pesertanya begitu membludak , baik yang mendaftarkan diri atas inisitaif sendiri, maupun mereka yang mengatasnamakan perwakilan sekolahnya.  Saking banyaknya peminat, panitia sepertinya sampai menolak peserta lomba.

Semua berkumpul, tumplek di halaman parkir Supermarket. Tempat duduk peserta lomba di isi para peserta dan juga tak ketinggalan para orang tua juga ikut nimbrung, sampai-sampai sebagian peserta tak dapat tempat duduk. Panitia sampai lelah menyuarakan pengumuman yang sama agar  orang tua peserta lomba keluar dari gelanggang dan membiarkan anaknya di lokasi perlombaan, namun tak kunjung berhasil. 
Setelah panitia mengeluarkan sedikit kalimat pedas, akhirnya para orang tua bergegas meninggalkan ruangan lomba sehingga perlombaan pun bisa di mulai. Paket Soal dibagi dan segenap peserta lomba mulai sibuk bercengkrama dengan 50 soal yg harus mereka selesaikan. Ada peserta yg tampak begitu serius hingga keringat bercucuran di wajahnya, ada pula sebagian yang tak mau repot berfikir sehingga mencari peluang untuk melihat jawaban sebelahnya alias nyontek. Sebuah situasi yang mengundang senyum ketika menyaksikannya. 
Perlombaan kian seru, ketika sebagian orang tua karut dalam suasana lomba. Ambisi untuk menang seertinya telah mendorong mereka untuk terus menyemangati anaknya walau harus mencuri kesempatan saat panitia lalai. Mereka selalu memberi semangat pada anaknya dengan beragam tanda. Reaksi anak pun bervariasi, ada yg tampak senang  dengan sikap orang tuanya, ada pula yg tampak kurang nyaman dengan sikap over aktif orang tuanya  yang seolah tak percaya dengan kemampuan anaknya sendiri. 

Cepetan, tinggal 10 menit lagi, kerjakan dulu yang mudah, di teliti mbok ada yg kosong...kalimat-kalimat  itu terdengar jelas dari sebagian orang tua tanpa memperdulikan orang tua peserta lain yang sedang mengamatinya. Sekilas tampak aneh, mungkin rasa sayang dan cinta terhadap anak telah membuat sebagian besar dari mereka begitu bersemangat. Ups..ada anak yg marah ketika mama nya terlalu bersemangat, untung saja sang anak tidak sampai mutung dan tetep di arena lomba.
Waktu tinggal 6 menit lagi”, kalimat panitia itu terdengar dari Toa. Sebagian orang tua pun mulai ikut panik dan kian menyemangati anaknya. Anaknya pun ada yang jadi ikutan panik dan ada pula yangtenang dan tetap  fokus  mengerjakan soal serta cuek dengan riuh sekitarnya. Suasana makin ramau ketika panitia mengumumkan waktu hitungan mundur di setiap menitnya.
Ayo dek..ayo..udah isi aja  walau ngarang dari pada kosong, teliti lagi jangan sampai ada yg kosong..suara2 itu kian terdengar...sampai akhirnya waktu habis dan pekerjaan wajib di kumpulkan.  
Para orang tua pun langsung menemuin anaknya masing-masing. Sesaat kemudian, sebagian memilih  langsung pulang walau panitia telah menyampaikan bahwa pengumuman akan dilaksanakan 1(satu) jam kemudian. Mungkin saja, mereka sudah pesimis kalau anaknya bukan pemenang dan atau bisa jadi mereka akan kembali pada hari selasa karena panitia berjanji menempelkannya di papan informasi  supermarket megah di kota mendoan ini. Sebagian lagi, mengajak anaknya jalan-jalan  di sekitar supermarket untuk sekedar mengisi waktu sambil menunggu pengumuman pemenang.  

Perlombaan semacam ini memang berhasil menyulut gairah orang tua untuk lebih bersemangat. Disisi lain, anak-anak juga berkesempatan melakukan uji nyali, kapasitas diri serta semangat berkompetisi dalam meraih sebuah prestasi.
Apakah ini semua tentang prestasi ??. Yang jelas, lomba semacam ini layak untuk ditingkatkan kuantitasnya sehingga mendorong lahirnya ragam potensi dan bakat dari anak-anak usia sekolah. 


Adalah sebuah keadaan yang menggembirakan dan pantas menjadi kebanggaan, ketika keikutsertaan  dalam lomba semacam ini di inspirasi oleh keinginan anak itu sendiri, bukan karena dorongan atau obsesi orang tua maupun sekolah. Sebab, basis kesadaran merupakan  muasal peluang munculnya capaian-capaian spektakuler, sebab setiap anak menemukan dirinya dan keasikan dalam setiap melalui tahapan lomba. Tetapi, mungkin saja pendapat ini kurang disepakati oleh orang tua yang menganut mazhab bahwa anak maju kalau di dorong oleh orang tua. Manapun konsep yang dipilih, semoga melahirkan anak-anak berkualitas yang akan memajukan bangsa di mendatang. Amin.


Purwokerto, 21 Oktober 2012


di sudut Sebuah Supermarket
dimana lomba terselenggara...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved