SETIAP ORANG BISA JADI WIRAUSAHA SEBAB HIDUP SESUNGGUHNYA DIKETIDAKPASTIAN

Senin, 01 Oktober 20120 komentar

tulisan ini di terbitkan dalam sebuah majalah inkubator bisnis

A.  Siapapun Menginginkan Kepastian

 Setiap orang ingin segala sesuatu dalam genggamannya. Semua orang berharap segala sesuatu seperti apa yang difikirannya. Semua orang menghendaki segala kebutuhannya terpenuhi secepat yang dia kehendaki.  Initinya, semua orang menginginkan kepastian untuk memperoleh kesempurnaan dalam hidupnya. Pertanyaannya adalah apakah semua orang mendapatkannya??

Terlepas seberapapun tingkat kesempurnaan yang telah di raih dan di rasakan, satu hal yang pasti bahwa tidak ada keberhasilan yang datang tiba-tiba. Keberhasilan adalah persembahan bagi mereka yang tepat dalam memilih langkah dan sungguh-sungguh dalam mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya. Demikian juga tentang kepastian, sesungguhnya tak satu pun manusia bisa memberi kepastian atas sesuatu, bahkan apa yang terjadi satu detik pun sesudah saat ini pun tak ada yang bisa tahu. Siapa yang bisa menduga datangnya tsunami di Aceh, siapa yang mengira gempa melanda yogay, siapa yang duga negara canggih seperti Jepan mengalami musibah alam yang luar biasa.

Manusia hanya bisa memprediksi/prakiraan  dengan mengoptimalkan akal fikirannya dan atau berdasarkan kebiasaan-kebiasaan. Orang selalu meyakini bahwa mendung adalah pertanda hujan, tetapi faktanya mendung tak berarti hujan.   Kita pun akrab dengan prakiraan cuaca, tetapi apakah semua terbukti???. Kita biasa mendengar  istilah proyeksi pertumbuhan ekonomi, tetapi adakah yang berani memastikannya?.  Hal ini juga bentuk pembenaran dan sekaligus pengakuan manusia bahwa sesungguhnya ada kekuatan yang lebih dahsyat diluar kemampuan manusia. Mungkin tak terlalu berlebihan untuk kemudian berkesimpulan  bahwa dalam ranah manusia, kepastian sesungguhnya terletak pada  ketidakpastian itu sendiri.  


B.  Nyaman Dalam Ketidakpastian
Seorang kuli bangunan yang dibayar harian menggantungkan hidupnya pada sang majikan. Bila majikannya sedang tidak ada pekerjaan maka dia libur dan atau mengerjakan apa saja yang menghasilkan dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Demikian juga tukang parkir yang   menggantungkan hidupnya dari jumlah kendaraan yang parkir. Demikian halnya penjual mainan yang selalu tongkrong di sekolah-sekolah SD atau di kerumunan orang. Tukang semir sepatu juga demikian, setiap harinya menggantungkan hidup pada ramai tidaknya pengunjung yang datang   memperbaiki sepatu yang rusak atau sekedar semir sepatu. Bakul rames juga demikian, setiap hari belanja dan menjajakan dagangannya tanpa pernah tahu berapa konsumen yang akan datang untuk membeli. Tidak beda dengan pedagang mie ayam atau bakso yang berkeliling setiap hari dari kampung ke kampung juga setia dengan rutinitasnya tanpa pernah tahu apakah dagangan hari ini habis atau tidak. Petani pun demikian, tetap setia pada profesinya tanpa tahu apakah besok bisa panen atau tanamannya akan di ganggu hama, wereng atau penyakit lainnya. Pedagang es pun tak berfikir besok akan mati ketika hari ini tiba-tiba hujan lebat sehingga sepi dari pembeli. Pedagang mainan pun tak kemudian putus asa  hanya karena pihak sekolah tidak mengizinkannya untuk berdagang lagi disekitar sekolah. Petani pun tidak kemudian berputus asa ketika sebagian dari tanaman mereka terganggu oleh hama atau wereng di satu musim.

fakta menarik adalah semua dari mereka tetap hidup tenang, dan nyaman. Hasil dari yang mereka kerjakan juga tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan makannya, bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan sebagian dari mereka bisa hidup melebihi dari rata-rata penduduk di sekitarnya yang memiliki pekerjaan tetap.

Satu persamaan dari ragam profesi itu adalah sama-sama menghadapi ketidakpastian dalam kesehariannya. Mereka melakukan dengan sepenuh hati dan kesungguhan, sementara itu untuk urusan hasil akhir mereka pasrahkan pada yang menguasai hidup alias Tuhan.  Mereka bisa hidup dengan tenang dan nyaman dalam ketidakpastian. Capaian-capaian dari perjalanan panjang  telah membentuk keyakinan tersendiri atas apa yang mereka lakukan di setiap harinya. Waktu mengajarkan mereka bahwa setiap upaya  yang didasarkan pada niat tulus dan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat mendukung keberlanjutan hidup mereka. Mereka terlatih oleh ragam kondisi  yang kian bervariasi dan selalu memilih untuk mensikapinya dengan bijak. Semakin beragam keadaan yang harus dihadapi, semakin kuat mental mereka untuk menjalani hidup. Kerugian berdagang hari ini tak membuat mereka berhenti berdagang ke esokan harinya. Ketergusuran mereka oleh ragam aksi penertiban menginspirasi mereka untuk berdagang ditempat lain. Kenyamanan terbentuk oleh kebiasaan, sebagaimana mereka pun terlatih nyaman untuk hidup dalam ketidakpastian tentang hari esok atau lusa. Ketidakpastian adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Satu hal lagi, setiap manusia sesungguhnya berada dalam ketidakpastian.


C.  Berwirausaha dan Ketidakpastian.
Berwirausaha adalah sebuah profesi yang sangat lekat dengan ketidakpastian. Dalam hal wirausaha dimaknai sebagai upaya memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita, faktanya tidak setiap upaya lantas uang orang (baca: konsumen) berpindah ke kantong sang wirausahawan. Oleh karena itu, sang wirausahawan adalah orang yang selalu dituntut belajar dari setiap keberhasilan dan mengambil hikmah dari setiap ke-belum berhasilan. Ketika auto koreksi semacam ini  dilakukan terus menerus, disamping memperkaya referensi berwirausaha juga efektif menjadi sumber inspirasi  di langkah-langkah selanjutnya. Disisi lain hal ini akan membentuk ketangguhan mental sang wirausahawan sehingga tidak pernah putus asa dalam setiap keadaan.

Adalah kewirausahaan memang identik dengan ketidakpastian, sehingga wirausahawan hanya cocok bagi mereka yang siap dan terlatih dengan ketidakpastian itu sendiri. Seorang wirausahawan tidak boleh kaget dengan hasil yang besar sebagaimana juga tidak perlu heran dengan ketiadaan hasil. Kala hari ini mendapatkan hasil yang besar, wirausahawan harus ingat bahwa esok hari bisa jadi rugi atau tidak ada penghasilan sama sekali. Demikian juga ketika mengalami kerugian, sang wirausahawan harus membangun optimisme bahwa masih ada harapan di esok hari. Kekayaan pandangan yang menyemangati atas setiap kenyataan perlu ditumbuhkembangkan, sebab kewirausahaan sesungguhnya adalah persoalan semangat untuk membentuk sesuatu yang produktif dan keberanian atas hasil akhir apapun diberikutnya.

Kalau wirausahawan layaknya sebuah pertaruhan, maka adalah sebuah keadilan ketika suatu waktu mendapati hasil berlipat jika dibandingkan dengan seorang yang berprofesi sebagai   karyawan yang menggantungkan hidupnya pada gaji atau kebijaksanaan sang majikan di tempatnya bekerja. Disatu sisi, sepanjang sang karyawan masih bekerja pasti akan memperoleh gaji  disetiap bulannya, di sisi lain jangan terlalu berharap lebih walau perusahaan sedang memperoleh laba yang besar. Itu adalah resiko memilih menjadi karyawan sebanding dengan resiko terburuknya yaitu di PHK (pemutusan hubungan kerja) bila melakukan kesalahan fatal dan atau karena perusahaan bangkrut. Pertanyaan menarik adalah siapakah yang menjamin kalau perusahaan itu akan terus eksis???. Sang pengusaha itu pun tak bisa menjawabnya sebagaimana karyawan pun tak mungkin bisa memastikannya. Artinya, sesungguhnya pengusaha dan karyawan sama-sama  berada di ketidakpastian, walau berbeda dalam kadar nikmat dan resiko nya. Disamping itu, karena karyawan tidak punya mental layaknya sang majikan (wirausahawan), maka pendapatan yang relatif stabil harus dipandang sebagai konsekuensi logis. Sementara itu, ketika sang majikan (wirausahawan) memperoleh bagian yang lebih besar, itu pun hadiah yang pantas atas keberaniannya mengambil keputusan menekuni sebuah usaha dan kesiapannya atas segala resiko yang mungkin muncul akibat keputusan itu. Oleh karena itu, sebuah kekeliruan besar ketika karyawan bertindak seolah-olah pemilik perusahaan sebagamana seorang pengusaha yang tak boleh memiliki mental seperti karyawan.


D.  Wirausaha dari Sisi Kebebasan dan Kebenaran
Setiap orang menginginkan kebebasan dalam artian seluas-luasnya. Setiap orang ingin bebas pergi kemana saja tanpa dibatasi oleh waktu, bebas  dalam memulai atau mengakhiri pekerjaan, bebas menentukan cuti tanpa harus meminta izin siapapun, bebas membuat aturan sepanjang tidak bertabrakan dengan aturan kenegaraan dan berseberangan dengan kepentingan umum serta aturan Tuhan manapun.  Kebebasan semacam ini sulit didapat ketika seseorang berposisi menjadi karyawan. Kebebasan semacam ini hanya mungkin bisa dinikmati  para wirausahawan. 

Seorang wirausahawan bebas menentukan kapanpun mau memulai ataupun mengakhirinya, sebab berwirausaha adalah hak setiap orang yang bisa dimulai kapanpun. Ketika sang wirausahawan sudah mencapai tahap tertentu dan memiliki karyawan, maka sang wirausahawan pun bebas membuat aturan yang diperuntukkan keterjagaan dan tumbuhkembangnya usaha.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau seorang karyawan harus mematuhi jam kerja dan hadir tepat waktu, sementara sang majikan bisa datang dan pergi kapanpun dia menginginkannya. Sekilas ini tampak tak adil, namun yang perlu diingat adalah seorang karyawan bisa lepas dari tanggungjawab selepas jam kerja, sementara wirausahawan harus berfikir sepanjang waktu. Oleh karena itu, kalau menginginkan peluang keberhasilan lebih besar,  seorang wirausahawan harus lebih memfokuskan waktunya pada jalannya usaha yang sedang ditekuni. Inilah yang disebut dengan kebebasan pribadi yang bertanggungjawab.

Sementara itu, kebenaran dalam dunia usaha sesungguhnya hanya ditentukan oleh hasil akhir dari rangakian proses. hasil positif mengindikasikan kebenaran cara dan sebaliknya hasil negatif adalah sebentuk pesan untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Dalam bahasa praktis, terserah mau sejuta cara dilakukan oleh wirausahawan dalam menjalankan usahanya, tetapi yang terpenting adalah hasil akhir dari rangkaian langkah tersebut.

E.  Memulai dengan Who..
Para pebisnis ulung sering berfatwa, mulailah dari kata "who" alias "siapa" bukan dengan kata "what" alias "apa". Disatu sisi Petuah ini menegaskan bahwa berwirausaha harus berorientasi pada  market ( pangsa pasar), disisi lain menegaskan bawa berwirausaha adalah aktivitas melayani atau menyenangkan orang lain (baca; konsumen). sesudah mendefenisikan siapa yang akan dilayani, lanjutkan dengan identifikasi peluang guna menentukan pilihan usaha apa yang akan di jalankan. Mulailah dari hal sederhana dan mungkin untuk dilakukan. Untuk memperbesar peluang memperoleh  repon positif dari calon konsumen, maka jual lah apa yang dibutuhkan, sehingga kehadiran produk difahami sebagai momen pemenuhan kebutuhan, bukan sesuatu yang mengada-ngada dan menambah pengeluaran mereka.  

F.  Bergulat dengan "how"...
"Cara" adalah jembatan antara mimpi dan kenyataan. Pada perumusan dan pengaplikasian "cara" ini, kepiawaian racikan dan ketahanan mental teruji. Banyak orang yang menggebu-gebu diawalnya kemudian banting setir ketika mengalami kebuntuan gagasan dalam membentuk respon positif calon konsumen. Pada titik inilah seorang wirausahawan diuji tingkat kemampuannya mengkombinasikan spirit dengan energi dan fikiran. Ketika kombinasi ketiganya melahirkan racikan berbentuk sajian penawaran yang menggiurkan, maka akumulasi keberpihakan konsumen akan membawa pada pertumbuhan dan perkembangan usaha tersebut. Oleh karena itu, dalam penyusunan cara ini, seorang wirausahawan harus terus dan terus belajar sampai menemukan feel yang tepat dalam melayani calon konsumen. Jawab atas "How" terus teruji kebenarannya  

G.  Mengelola “Ha Ha Ha”
“Ha Ha Ha” adalah sebentuk ungkapan mewakili sebuah kebahagiaan atas keberhasilan. Dalam wirausaha, persoalan mentalitas tidak hanya pada proses memutuskan memulai atau tidak dan atau mentalitas dalam proses pencapaiannya, tetapi juga menyangkut persoalan  mentalitas dalam mengelola keberhasilan. Banyak wirausahawan sukses melalui masa-masa sulit, tetapi tak jarang wirausahawan gagal dalam sesi kemenangan. Pada sesi berjuang, wirausahawan tersebut begitu gigih dan pantang menyerah dimana setiap kendala difahami sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Setiap kebelum berhasilan dibaca sebagai sesuatu yang harus dicari musababnya. Namun demikian, ketika berhasil meraih kesuksesan, beberapa wirausahawan tak jarang menjelma menjadi manusia super dan cenderung tak terkendali. Akibatnya, tanpa disadari kualitas kontrol mulai berkurang dan biasanya kesadaran muncul bila kondisi usaha mulai goyah dan atau bahkan menyentuh titik minus. Itulah sebabnya, mentalitas keberhasilan juga diperlukan, khususnya dalam menjaga, mempertahankan dan mengembangkan usaha yang sudah berjalan dengan baik.

H. Siapa Yang Hidup di Kepastian
Kalau merunut  kalimat bahwa kepastian itu terletak pada ketidakpastian itu senidri, maka setiap orang  tanpa terkecuali sesungguhnya berada di ketidakpastian. Artinya, setiap orang  di dunia ini pada akhirnya terlatih dan nyaman dalam ketidakpastian. Kenyataan-kenyataan hidup yang sering diluar prediksi, capaian-capaian yang terkadang diluar ekspektasi, keadaan-keadaan yang terjadi tanpa pernah di duga sebelumnya, membuat setiap orang  dipaksa keadaan hanya sebatas mengoptimalkan akal fikiran, talenta/bakat, energi dan waktu. Sementara itu, untuk urusan hasil sebaiknya berpasrah pada yang  menciptakan dan memiliki hidup manusia. Kalau pun ada semacam proyeksi atau prediksi, mutlak hanya berfungsi sebagai sumber inspirasi dan semangat melahirkan optimisme dari setiap langkah yang dilakukan.

Dalam cara baca yang demikian, maka pada tingkat horizontal, logika akan menggiring pada konsepsi keadilan  hidup, dimana mereka yang lebih bisa mengoptimalkan segala potensi adalah mereka yang berpotensi meraih keberhasilan yang lebih. Dengan demikian, mengingat wirausahawan  memiliki kebiasaan on fire tanpa mengenal waktu, maka adalah sebuah keadilan kalau wirausahawan lebih berpeluang mendapatkan hasil yang lebih banyak. Sementara itu, bagi mereka yang  menjebakkan diri pada rutinitas dengan memilih sebagai follower/pengikut, mereka adalah orang-orang yang harus ikhlas menerima apa yang sudah ditetapkan oleh pemilik keputusan.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing. Ketika menjebakkan diri pada ruang yang penuh batasan, maka seharusnya mimpi pun selayaknya sebatas ruang yang ada. Sementara itu, ketika berada diruang tanpa batas, maka bermimpi pun menjadi tak terbatas. Hal ini hanya mungkin ada pada profesi wirausaha.  

Sementara itu, dari perspektif vertikal dimana Tuhan masih diakui berpengaruh dalam hidup, kualitas dan kuantitas hasil akhir perjuangan juga terpatok pada prinsip-prinsip keadilan. Tuhan tidak menghadiahkan keberhasilan bagi pemalas. Tuhan pun tak melipatgandakan hasil bagi mereka yang menghindri tanggungjawab. Ketika seseorang mengambil tanggungjawab untuk menghidupi banyak orang (baca: karyawan), maka selayaknya Tuhan juga memberi hasil yang  lebih sehingga bisa untuk menghidupi para karyawan yang mengikutinya.

Kalau demikian adanya, dari sisi kualitas dan kuantitas sebuah akhir perjuangan,  lebih berpeluang manakah orang-orang yang memilih mengikuti dengan menjadi karyawan atau mereka yang mempersilahkan dirinya untuk diikuti dengan menjadi wirausahawan??. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved